Home / Romansa / Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat / Bab 3: Retaknya Takhta Sang CEO

Share

Bab 3: Retaknya Takhta Sang CEO

Author: Founna Math
last update Last Updated: 2025-12-21 12:35:20

Gedung Tanaka Group berdiri megah di pusat distrik bisnis Tokyo, sebuah simbol kekuasaan yang selama ini dikendalikan Hiroshi dengan tangan besi. Namun, pagi ini, langkah Hiroshi saat melewati lobi tidak seangkuh biasanya; kepalanya dipenuhi oleh bayangan draf perceraian dan ancaman pembekuan aset yang dilakukan Aiko. Ia merasa seolah setiap pasang mata karyawannya sedang menguliti rahasia gelap yang baru saja meledak di rumahnya.

Begitu sampai di lantai eksekutif, Miyuki sudah menunggu di depan pintu ruang kerjanya dengan senyum manja yang biasanya menjadi obat penat bagi Hiroshi. Wanita itu tampak mempesona dengan rok span ketat dan blus sutra, namun bagi Hiroshi yang sedang terpojok, kehadiran Miyuki pagi ini justru terasa seperti pengingat akan kebodohannya sendiri.

"Selamat pagi, Sayang. Kau tampak sangat tegang hari ini," sapa Miyuki sembari mengikuti Hiroshi masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu rapat-rapat. Ia mencoba menyentuh bahu Hiroshi, namun pria itu menepisnya dengan kasar, sebuah reaksi yang membuat Miyuki tersentak kaget. "Ada apa? Apakah ada masalah dengan rapat investor nanti?"

"Aiko tahu, Miyuki. Dia tahu segalanya," desis Hiroshi sembari menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran yang kini terasa panas. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Dia menemukan cincin itu, dia tahu tentang Kyoto, dan dia punya bukti aliran dana yang kukirimkan ke rekeningmu. Pengacara paling kejam di kota ini, Nyonya Sato, sudah berdiri di belakangnya."

Wajah cantik Miyuki berubah pucat sesaat, namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi wajah yang memelas dan penuh manipulasi. "Lalu bagaimana dengan kita? Kau bilang kau akan segera menceraikannya dan menjadikan aku nyonya di rumah itu, Hiroshi. Kau tidak bisa membiarkan wanita membosankan itu menghancurkan masa depan kita hanya karena sepotong perhiasan!"

"Masa depan kita?" Hiroshi tertawa hampa, suara tawanya mengandung kepahitan yang nyata. "Masa depanku terancam hancur, Miyuki! Jika skandal ini bocor sebelum kontrak investasi ditandatangani, saham perusahaan akan terjun bebas dan dewan komisaris akan mendepakku dari kursi ini. Kau tidak mengerti betapa berbahayanya posisi kita sekarang."

Miyuki terdiam, namun otaknya bekerja cepat mencari cara agar ia tidak ikut tenggelam bersama kehancuran Hiroshi. Ia tidak mencintai Hiroshi; ia mencintai kemewahan yang diberikan pria itu. "Jika dia menginginkan perang, berikan dia perang," ujar Miyuki dengan nada yang kini berubah menjadi tajam dan licik. "Kau punya kekuasaan, Hiroshi. Gunakan tim legal perusahaan untuk membungkamnya. Katakan padanya bahwa dia tidak akan mendapatkan satu yen pun jika dia berani mempermalukanmu."

"Kau pikir itu semudah itu?" tantang Hiroshi, ia teringat pada ketegasan mata Aiko pagi tadi. "Dia sudah membekukan aksesku ke beberapa rekening pribadi. Dia bukan lagi Aiko yang bisa kupengaruhi dengan kata-kata manis. Dia sedang dibimbing oleh Reiko, dan kau tahu betapa liarnya sahabatnya itu jika menyangkut masalah harga diri wanita."

Saat ketegangan di dalam ruangan meningkat, sekretaris senior Hiroshi mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, mengabarkan bahwa ada kiriman dokumen penting bertanda 'Mendesak' dari sebuah firma hukum. Hiroshi merobek amplop itu dengan tangan gemetar, dan di dalamnya terdapat surat somasi resmi yang melarangnya memindahtangankan aset apa pun milik perusahaan yang berafiliasi dengan harta bersama.

"Sial!" umpat Hiroshi sembari melempar dokumen itu ke meja. "Dia benar-benar ingin mengikat tanganku. Dia ingin aku berlutut di depannya hanya untuk mendapatkan uang operasional harianku sendiri. Ini benar-benar penghinaan yang tidak bisa dimaafkan!"

Miyuki mendekat, kali ini ia tidak mencoba merayu, melainkan memberikan saran yang lebih gelap. "Jika kau tidak bisa menghentikan pengacaranya, hentikan sumber kekuatannya. Bukankah Reiko sedang menjalankan proyek interior besar untuk salah satu klien Tanaka Group? Batalkan kontraknya secara sepihak. Berikan tekanan pada Aiko melalui orang-orang di sekitarnya."

Hiroshi terdiam, saran Miyuki sangat berisiko namun terasa seperti satu-satunya jalan untuk menyerang balik. Ia mulai melihat Aiko bukan lagi sebagai istri, melainkan sebagai musuh bisnis yang harus dilumpuhkan. "Lakukan, Miyuki. Hubungi departemen pengadaan, minta mereka mencari alasan teknis untuk membatalkan kontrak firma Reiko. Aku ingin mereka tahu bahwa menantangku adalah kesalahan fatal."

Namun, belum sempat Miyuki keluar dari ruangan, ponsel Hiroshi berdering. Itu adalah panggilan dari pengacara pribadinya. Wajah Hiroshi yang awalnya penuh amarah perlahan berubah menjadi ketakutan yang murni saat mendengarkan penjelasan di seberang telepon.

"Apa maksudmu?" suara Hiroshi bergetar. "Dia sudah melaporkan dugaan penggelapan dana perusahaan ke otoritas keuangan? Tanpa peringatan lebih dulu? Bagaimana dia bisa mendapatkan data sedalam itu dalam satu malam?"

Aiko ternyata lebih cerdas dari yang dibayangkan Hiroshi. Dengan bantuan Reiko dan akses yang selama ini Hiroshi remehkan, Aiko telah mengamankan salinan digital laporan keuangan yang menunjukkan aliran dana tidak wajar. Aiko tidak hanya ingin bercerai; ia ingin memastikan Hiroshi kehilangan takhtanya jika tidak mau bekerja sama secara kooperatif.

Hiroshi terduduk lemas, ia menatap Miyuki yang kini tampak sangat asing baginya. Segala gairah yang dulu ia agung-agungkan kini terasa seperti beban yang menyeretnya ke dasar jurang. "Keluar, Miyuki. Keluar sekarang juga! Aku harus menemui tim legal sendirian. Jangan hubungi aku sampai aku yang memintanya!" teriak Hiroshi, emosinya meledak tak terkendali.

Miyuki mendengus kesal, ia mengambil tas mahalnya dan berjalan keluar dengan hentakan kaki yang keras, menyadari bahwa kapal yang ia tumpangi mulai bocor. Di koridor kantor, ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan rahasia kepada seseorang: "Rencana gagal. Hiroshi mulai hancur. Kita harus segera mengamankan bagian kita sebelum semuanya disita pengadilan."

Sementara itu, di sebuah kafe tersembunyi, Aiko duduk bersama Reiko dan Nyonya Sato. Di depan mereka berjejer dokumen yang akan menjadi peluru terakhir untuk melumpuhkan Hiroshi. Aiko tidak lagi menangis; ia menyesap tehnya dengan sangat tenang, menunjukkan transformasi karakter yang luar biasa sesuai saran editor untuk menghindari tokoh yang lemah.

"Dia sudah menerima surat somasinya," lapor Nyonya Sato dengan senyum profesional. "Langkah selanjutnya adalah menunggunya datang memohon. Pria seperti Hiroshi akan mencoba segala cara yang kotor sebelum akhirnya menyadari bahwa dia tidak punya pilihan selain berlutut."

Aiko menatap gedung Tanaka Group dari kejauhan melalui jendela kafe. "Dia pikir dia bisa mengendalikan segalanya dengan uang dan kekuasaan," gumam Aiko pelan. "Malam ini, aku akan kembali ke rumah itu untuk terakhir kalinya, bukan untuk memasak makan malam, tapi untuk menyerahkan surat kesepakatan yang akan mengubah hidupnya selamanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 11: Kartu As di Balik Jemari

    Pandangan Hiroshi mengabur. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi jok mobil yang ringsek. Di depannya, moncong senjata Kenji tampak begitu hitam dan dingin. Hiroshi mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau."Kau selalu menjadi penghalang, Hiroshi. Sejak ayah lebih memilihmu untuk memimpin perusahaan, aku sudah bersumpah akan melihatmu berakhir di selokan seperti ini," geram Kenji dengan jari yang mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal, adik kecil. Sampaikan salamku pada ayah di neraka."DOR!Suara tembakan meledak, namun bukan dari senjata Kenji. Sebuah peluru mengenai bahu Kenji, membuatnya terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas ke aspal. Di ujung jalan, sebuah sedan merah melaju kencang dan berhenti dengan manuver tajam, menghalangi jalan Kenji.Aiko keluar dari mobil itu dengan napas memburu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol kecil—senjata y

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 10: Peluru Penebusan

    Detik itu juga, waktu seolah melambat bagi Aiko. Titik merah yang menari di dadanya terasa seperti tatapan malaikat maut. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di lantai balkon. Namun, sebelum suara dentuman peluru terdengar, sebuah bayangan menerjangnya dengan kasar dari arah belakang.PRANG!Kaca pintu balkon hancur berantakan saat peluru kaliber tinggi menembus ruang tempat Aiko berdiri sedetik yang lalu. Hiroshi telah melompat, mendekap tubuh Aiko, dan menggulingkannya ke lantai ruang tamu yang gelap. Mereka berdua terengah-engah di atas pecahan kaca, sementara suara desingan peluru kedua menghantam dinding apartemen tepat di atas kepala mereka."Tetap di bawah! Jangan bergerak!" perintah Hiroshi dengan suara yang rendah dan penuh wibawa—suara yang sudah lama tidak Aiko dengar sejak perselingkuhan itu terungkap. Hiroshi tidak lagi tampak seperti pelayan yang pecundang; insting pelindungnya bangkit saat melihat wanita yang ia cintai hampir tewas di depan matanya.Aiko merasakan detak

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 9: Jebakan dalam Api

    📢 Catatan Penulis (Penting!)Halo, Pembaca Setia!Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Sebelumnya, cerita ini sempat menggunakan nama karakter Queen dan Tama. Namun, setelah melalui proses diskusi dengan editor dan evaluasi naskah untuk kontrak, saya memutuskan untuk mengembalikan nama karakter menjadi Aiko dan Hiroshi serta melakukan revisi total pada plot agar cerita ini jauh lebih seru, emosional, dan penuh ketegangan.Bagi kalian yang sudah membaca hingga bab 8 versi sebelumnya, saya sangat menyarankan untuk membaca ulang dari Bab 1. Banyak detail baru, konflik yang lebih tajam, dan alur "Kontrak Ranjang" yang telah diubah total untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik.Terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Selamat menikmati kelanjutan kisah Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat!📖 Bab 9: Jebakan dalam ApiSuara ledakan yang mengguncang gedung pusat Tanaka Group masih terngiang di telinga Hiroshi saat ia memacu mobilnya kem

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 8: Pertaruhan di Dermaga Tua

    Udara malam di dermaga tua pelabuhan Tokyo terasa menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Aiko berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, menggenggam tas kecilnya yang berisi flashdisk rahasia milik Hiroshi. Ia tidak memberitahu siapa pun, bahkan tidak kepada Reiko, karena ancaman terhadap nyawa dan nama baik ayahnya terlalu besar untuk dipertaruhkan.Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan suara ban yang mencicit di atas beton basah. Seorang pria keluar dari sana. Tubuhnya jangkung, mengenakan parit panjang berwarna gelap, dengan wajah yang sekilas mirip dengan Hiroshi namun memiliki tatapan yang jauh lebih dingin dan bengis. Itulah Kenji Tanaka, sang "hantu" dari masa lalu keluarga Tanaka."Adik iparku yang cantik... kau jauh lebih berani daripada pengecut yang kau nikahi itu," sapa Kenji dengan suara bariton yang serak. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya memberikan tekanan intimidasi yang kuat. "Mana Hiroshi? Apa dia terlalu sibuk menyika

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 7: Rahasia di Balik Brankas Kamar

    Aiko berdiri mematung di tengah kamar utama, menatap foto pernikahan yang dicoret tinta merah itu dengan napas tersengal. Ancaman tentang ayahnya—sosok yang selalu ia puja sebagai pahlawan integritas—terasa seperti racun yang merayap di nadinya. Ia melirik ke arah pintu kamar pelayan di bawah, tempat Hiroshi meringkuk dalam kehinaan, dan menyadari bahwa suaminya adalah kunci sekaligus kotak pandora bagi semua ini.Tanpa membuang waktu, Aiko menuruni tangga dengan langkah yang mantap. Ia tidak mengetuk; ia langsung menendang pintu kamar sempit itu hingga terbuka. Di sana, di atas kasur tipis tanpa sprei, Hiroshi sedang terduduk lemas, mencoba memejamkan mata di tengah udara pengap yang hanya dibantu oleh sebuah kipas angin kecil yang berderit."Bangun, Hiroshi!" seru Aiko sembari melemparkan foto yang dicoret itu tepat ke wajah suaminya. "Katakan padaku, siapa lagi selain Miyuki yang kau beri akses untuk menghancurkan hidupku? Dan apa hubungannya ayahku dengan pendanaan awal perusahaanm

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 6: Kejatuhan Sang Simpanan

    Pintu kamar hotel itu terbuka dengan paksa, menampilkan Miyuki yang tampak berantakan dengan botol sampanye di tangannya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat saat melihat Aiko melangkah masuk dengan ketenangan yang mematikan, diikuti oleh Nyonya Sato yang langsung membentangkan dokumen di atas meja kecil yang penuh dengan sisa makanan."Kau pikir kau bisa menang, Miyuki? Dengan video murah itu?" Aiko bertanya sembari menatap sekeliling kamar hotel yang kumuh, sangat kontras dengan apartemen mewah yang dulu diberikan Hiroshi kepadanya. "Kau sudah mempertaruhkan segalanya pada satu kartu, dan kau lupa bahwa aku yang memegang seluruh deknya."Miyuki mencoba tertawa sinis, meskipun tangannya gemetar. "Hiroshi tidak akan pernah mencintaimu, Aiko! Dia datang padaku karena kau membosankan! Video itu adalah bukti betapa dia menginginkanku!" teriak Miyuki, mencoba menggunakan sisa-sisa senjatanya untuk melukai hati Aiko.Aiko hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Miyuki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status