Share

Bab 5: Badai di Ruang Rapat

Penulis: Founna Math
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 18:29:16

Layar raksasa di lobi Tanaka Group biasanya menampilkan grafik pertumbuhan saham, namun pagi ini, layar itu menjadi saksi bisu kehancuran harga diri Hiroshi. Potongan video skandal yang dikirimkan Miyuki telah menyebar layaknya api di musim kering, memicu bisik-bisik riuh di antara karyawan yang biasanya menunduk hormat saat sang CEO lewat. Hiroshi berdiri mematung di tengah lobi, merasa setiap tatapan mata adalah belati yang menusuk langsung ke jantung kekuasaannya.

"Ini yang kau inginkan, Hiroshi? Menjadi bahan tontonan seluruh kota?" suara Aiko memecah kekakuan Hiroshi, nadanya tenang namun tajam. Ia tidak tampak panik; sebaliknya, Aiko berjalan dengan dagu terangkat, seolah-olah ia sudah memprediksi langkah putus asa Miyuki. Ia merogoh ponselnya dan memberikan perintah singkat kepada tim keamanan untuk mematikan semua monitor publik di gedung tersebut.

"Ini bukan ulahku, Aiko! Miyuki telah gila! Dia ingin menghancurkanku jika dia tidak bisa memilikiku!" teriak Hiroshi dengan suara serak, wajahnya pucat pasi karena ketakutan akan kehilangan segalanya. Ia merasa dunianya runtuh, namun ia baru menyadari bahwa satu-satunya orang yang masih berdiri di sampingnya—meskipun dengan kontrak dingin—adalah istri yang ia khianati.

"Berhenti merengek dan bertindaklah seperti CEO, jika kau masih ingin memegang jabatan itu," balas Aiko sembari menarik lengan Hiroshi menuju lift eksekutif. "Dewan komisaris sudah menunggu di lantai paling atas. Mereka tidak butuh permintaan maafmu; mereka butuh solusi agar saham kita tidak terjun bebas dalam satu jam ke depan.".

Di dalam lift yang bergerak cepat, keheningan di antara mereka terasa menyesakkan. Hiroshi menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap, melihat pria yang dulu sangat sombong kini harus bergantung pada kecerdasan istrinya untuk menyelamatkan kariernya. "Kenapa kau membantuku, Aiko? Setelah apa yang kulakukan, kau bisa saja membiarkanku hancur," bisik Hiroshi pelan.

Aiko melirik suaminya melalui sudut matanya, tatapannya tidak lagi menyimpan kebencian yang meledak-ledak, melainkan ketegasan seorang penguasa baru. "Aku tidak membantumu, Hiroshi. Aku menyelamatkan asetku. Ingat kontrak semalam? Separuh dari apa yang kau miliki adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan seorang wanita simpanan membakar harta yang sudah kubangun dengan kesabaranku selama lima tahun.".

Begitu pintu lift terbuka di lantai 50, suasana terasa sangat mencekam. Sepuluh orang anggota dewan komisaris sudah duduk melingkar di meja mahoni besar, wajah mereka keras dan penuh tuntutan. Miyuki tidak ada di sana, namun bayang-bayang sabotase yang ia lakukan terasa sangat nyata di udara.

"Tuan Tanaka, kami butuh penjelasan segera mengenai video yang mencoreng citra keluarga dan perusahaan ini," ujar salah satu komisaris senior dengan nada menghakimi. "Jika masalah moral ini tidak segera diselesaikan, kami akan memungut suara untuk mosi tidak percaya pagi ini juga.".

Hiroshi membuka mulut untuk bicara, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Sebelum ia sempat mempermalukan dirinya sendiri lebih jauh, Aiko melangkah maju ke depan meja, meletakkan map hitam yang dibawanya dengan suara dentuman yang meyakinkan.

"Video tersebut adalah hasil manipulasi dan pemerasan oleh mantan karyawan yang sudah diberhentikan karena penggelapan dana," ujar Aiko dengan suara yang memenuhi ruangan, berbohong dengan sangat tenang demi melindungi kepentingan mereka. "Saya, Aiko Tanaka, selaku penasihat strategis yang baru ditunjuk, sudah menyiapkan tuntutan hukum atas pencemaran nama baik dan sabotase perusahaan.".

Para komisaris saling berpandangan, terkejut dengan kehadiran Aiko yang tiba-tiba mengambil alih panggung. Hiroshi hanya bisa duduk tertegun, melihat bagaimana istrinya yang dulu ia anggap 'membosankan' kini mampu mengendalikan sepuluh pria paling berpengaruh di perusahaan tersebut dengan satu narasi yang kuat.

"Apa buktinya bahwa ini adalah pemerasan?" tanya komisaris lainnya, masih menyimpan keraguan. Aiko segera menyalakan layar proyektor, menampilkan bukti-bukti transfer yang dilakukan Miyuki ke rekening pihak ketiga untuk menyebarkan video tersebut—data yang ia dapatkan dari Reiko tadi malam.

"Kami tidak hanya punya bukti pemerasan, tapi kami juga punya bukti bahwa pelaku mencoba mencuri data sensitif perusahaan," tambah Aiko, membelokkan isu perselingkuhan menjadi masalah keamanan korporat yang jauh lebih serius bagi para pemegang saham. Strategi ini membuat para komisaris mulai mengangguk setuju, beralih dari kemarahan menjadi kecemasan atas aset mereka.

Pertemuan berakhir dengan keputusan dewan untuk memberikan waktu 24 jam bagi Hiroshi untuk membersihkan skandal ini secara total di bawah pengawasan Aiko. Begitu ruangan kosong, Hiroshi hampir jatuh terduduk karena lega, namun ia segera menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan lehernya ke tangan Aiko sepenuhnya.

"Kau menyelamatkanku, Aiko," ujar Hiroshi sembari mencoba meraih tangan istrinya, namun Aiko segera menariknya menjauh. "Jangan salah paham. Aku menyelamatkan Tanaka Group. Sekarang, kau akan ikut denganku menemui Miyuki. Kita akan mengakhiri ini dengan cara yang tidak akan pernah ia lupakan.".

Sementara itu, di sebuah hotel murah di pinggiran kota, Miyuki sedang merayakan keberhasilannya menyebarkan video tersebut sembari meneguk sampanye. Ia menunggu telepon dari dewan komisaris yang mengabarkan pemecatan Hiroshi, namun ponselnya justru menampilkan berita baru yang membuatnya menjatuhkan gelasnya hingga pecah.

"Tanaka Group Mengumumkan Penunjukan Aiko Tanaka sebagai Penasihat Strategis; Memulai Investigasi Kriminal atas Sabotase Digital." Mata Miyuki membelalak tidak percaya. Ia tidak menyangka Aiko akan menyerang balik melalui jalur korporat, bukan sekadar drama rumah tangga.

Bel pintu kamar hotel Miyuki berbunyi dengan keras. Melalui lubang intip, ia melihat dua orang petugas keamanan berseragam Tanaka Group berdiri bersama seorang pengacara yang sangat ia kenal: Nyonya Sato. Di belakang mereka, Aiko berdiri dengan tatapan kemenangan yang dingin.

"Buka pintunya, Miyuki. Kau punya dua pilihan: keluar dengan borgol polisi, atau keluar dengan surat perjanjian yang akan membuatmu menghilang dari kota ini tanpa membawa sepeser pun uang milik Hiroshi," suara Nyonya Sato terdengar dari balik pintu, membuat nyali Miyuki menciut seketika.

Aiko menatap pintu yang tertutup itu dengan senyum tipis. Ia tahu bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani meremehkannya. "Ini adalah akhir dari permainanmu, Miyuki. Dan ini adalah awal dari neraka yang sebenarnya bagi Hiroshi," gumam Aiko sembari memberikan tanda pada petugas keamanan untuk mendobrak pintu..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 11: Kartu As di Balik Jemari

    Pandangan Hiroshi mengabur. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi jok mobil yang ringsek. Di depannya, moncong senjata Kenji tampak begitu hitam dan dingin. Hiroshi mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau."Kau selalu menjadi penghalang, Hiroshi. Sejak ayah lebih memilihmu untuk memimpin perusahaan, aku sudah bersumpah akan melihatmu berakhir di selokan seperti ini," geram Kenji dengan jari yang mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal, adik kecil. Sampaikan salamku pada ayah di neraka."DOR!Suara tembakan meledak, namun bukan dari senjata Kenji. Sebuah peluru mengenai bahu Kenji, membuatnya terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas ke aspal. Di ujung jalan, sebuah sedan merah melaju kencang dan berhenti dengan manuver tajam, menghalangi jalan Kenji.Aiko keluar dari mobil itu dengan napas memburu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol kecil—senjata y

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 10: Peluru Penebusan

    Detik itu juga, waktu seolah melambat bagi Aiko. Titik merah yang menari di dadanya terasa seperti tatapan malaikat maut. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di lantai balkon. Namun, sebelum suara dentuman peluru terdengar, sebuah bayangan menerjangnya dengan kasar dari arah belakang.PRANG!Kaca pintu balkon hancur berantakan saat peluru kaliber tinggi menembus ruang tempat Aiko berdiri sedetik yang lalu. Hiroshi telah melompat, mendekap tubuh Aiko, dan menggulingkannya ke lantai ruang tamu yang gelap. Mereka berdua terengah-engah di atas pecahan kaca, sementara suara desingan peluru kedua menghantam dinding apartemen tepat di atas kepala mereka."Tetap di bawah! Jangan bergerak!" perintah Hiroshi dengan suara yang rendah dan penuh wibawa—suara yang sudah lama tidak Aiko dengar sejak perselingkuhan itu terungkap. Hiroshi tidak lagi tampak seperti pelayan yang pecundang; insting pelindungnya bangkit saat melihat wanita yang ia cintai hampir tewas di depan matanya.Aiko merasakan detak

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 9: Jebakan dalam Api

    📢 Catatan Penulis (Penting!)Halo, Pembaca Setia!Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Sebelumnya, cerita ini sempat menggunakan nama karakter Queen dan Tama. Namun, setelah melalui proses diskusi dengan editor dan evaluasi naskah untuk kontrak, saya memutuskan untuk mengembalikan nama karakter menjadi Aiko dan Hiroshi serta melakukan revisi total pada plot agar cerita ini jauh lebih seru, emosional, dan penuh ketegangan.Bagi kalian yang sudah membaca hingga bab 8 versi sebelumnya, saya sangat menyarankan untuk membaca ulang dari Bab 1. Banyak detail baru, konflik yang lebih tajam, dan alur "Kontrak Ranjang" yang telah diubah total untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik.Terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Selamat menikmati kelanjutan kisah Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat!📖 Bab 9: Jebakan dalam ApiSuara ledakan yang mengguncang gedung pusat Tanaka Group masih terngiang di telinga Hiroshi saat ia memacu mobilnya kem

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 8: Pertaruhan di Dermaga Tua

    Udara malam di dermaga tua pelabuhan Tokyo terasa menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Aiko berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, menggenggam tas kecilnya yang berisi flashdisk rahasia milik Hiroshi. Ia tidak memberitahu siapa pun, bahkan tidak kepada Reiko, karena ancaman terhadap nyawa dan nama baik ayahnya terlalu besar untuk dipertaruhkan.Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan suara ban yang mencicit di atas beton basah. Seorang pria keluar dari sana. Tubuhnya jangkung, mengenakan parit panjang berwarna gelap, dengan wajah yang sekilas mirip dengan Hiroshi namun memiliki tatapan yang jauh lebih dingin dan bengis. Itulah Kenji Tanaka, sang "hantu" dari masa lalu keluarga Tanaka."Adik iparku yang cantik... kau jauh lebih berani daripada pengecut yang kau nikahi itu," sapa Kenji dengan suara bariton yang serak. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya memberikan tekanan intimidasi yang kuat. "Mana Hiroshi? Apa dia terlalu sibuk menyika

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 7: Rahasia di Balik Brankas Kamar

    Aiko berdiri mematung di tengah kamar utama, menatap foto pernikahan yang dicoret tinta merah itu dengan napas tersengal. Ancaman tentang ayahnya—sosok yang selalu ia puja sebagai pahlawan integritas—terasa seperti racun yang merayap di nadinya. Ia melirik ke arah pintu kamar pelayan di bawah, tempat Hiroshi meringkuk dalam kehinaan, dan menyadari bahwa suaminya adalah kunci sekaligus kotak pandora bagi semua ini.Tanpa membuang waktu, Aiko menuruni tangga dengan langkah yang mantap. Ia tidak mengetuk; ia langsung menendang pintu kamar sempit itu hingga terbuka. Di sana, di atas kasur tipis tanpa sprei, Hiroshi sedang terduduk lemas, mencoba memejamkan mata di tengah udara pengap yang hanya dibantu oleh sebuah kipas angin kecil yang berderit."Bangun, Hiroshi!" seru Aiko sembari melemparkan foto yang dicoret itu tepat ke wajah suaminya. "Katakan padaku, siapa lagi selain Miyuki yang kau beri akses untuk menghancurkan hidupku? Dan apa hubungannya ayahku dengan pendanaan awal perusahaanm

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 6: Kejatuhan Sang Simpanan

    Pintu kamar hotel itu terbuka dengan paksa, menampilkan Miyuki yang tampak berantakan dengan botol sampanye di tangannya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat saat melihat Aiko melangkah masuk dengan ketenangan yang mematikan, diikuti oleh Nyonya Sato yang langsung membentangkan dokumen di atas meja kecil yang penuh dengan sisa makanan."Kau pikir kau bisa menang, Miyuki? Dengan video murah itu?" Aiko bertanya sembari menatap sekeliling kamar hotel yang kumuh, sangat kontras dengan apartemen mewah yang dulu diberikan Hiroshi kepadanya. "Kau sudah mempertaruhkan segalanya pada satu kartu, dan kau lupa bahwa aku yang memegang seluruh deknya."Miyuki mencoba tertawa sinis, meskipun tangannya gemetar. "Hiroshi tidak akan pernah mencintaimu, Aiko! Dia datang padaku karena kau membosankan! Video itu adalah bukti betapa dia menginginkanku!" teriak Miyuki, mencoba menggunakan sisa-sisa senjatanya untuk melukai hati Aiko.Aiko hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Miyuki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status