LOGINSuasana di ruang bawah tanah itu terasa sangat tipis. Cahaya dari layar ponsel Aiko adalah satu-satunya sumber penerangan, memantulkan binar keberanian di matanya yang tak gentar. Di lantai atas, suara benturan pintu dan teriakan tim keamanan terdengar semakin dekat. Angka penonton siaran langsungnya melonjak drastis—1 juta, 3 juta, hingga menembus 5 juta penonton dalam hitungan menit."Aku tidak bercanda," suara Aiko tetap stabil meski keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menunjukkan sekilas dokumen di dalam kotak kayu itu ke arah kamera, cukup untuk membuat para petinggi yang namanya tertulis di sana berkeringat dingin di rumah mereka masing-masing. "Kalian punya waktu lima menit untuk memerintahkan anjing-anjing kalian mundur, atau sejarah Jepang akan berubah malam ini."Tiba-tiba, suara tembakan di lantai atas berhenti. Kesunyian yang lebih menakutkan menyelimuti rumah itu. Hiroshi menarik napas tajam, telinganya menangkap langkah kaki tunggal yang tenang—bukan langkah sepatu
Suasana haru di kamar rumah sakit seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Aiko berdiri tegak, melindungi kursi roda Hiroshi, sementara Nyonya Sato menyerahkan sebuah foto yang diambil oleh informan kepolisian dari dalam sel penjara Watanabe.Di dinding sel yang kusam, tertulis sebuah kalimat menggunakan cairan merah yang mengerikan: "Bukan aku yang memulai, bukan aku yang mengakhiri. Naga telah terbangun, Aiko."Hiroshi yang melihat foto itu seketika mencengkeram lengan kursi rodanya hingga buku jarinya memutih. Wajahnya yang tadinya mulai membaik, kini kembali pucat pasi, lebih pucat daripada saat ia baru sadar dari koma. "Naga... tidak mungkin. Mereka seharusnya sudah tidak ada," gumam Hiroshi dengan suara yang bergetar hebat."Siapa mereka, Hiroshi? Apa maksud dari pesan ini?" tanya Aiko sembari menggenggam tangan suaminya yang dingin. Ia bisa merasakan ketakutan yang murni dari pria yang biasanya sangat tenang menghadapi badai bisnis sekalipun.Hiroshi menatap
Kabar kehamilan Aiko yang dibisikkannya di telinga Hiroshi seolah menjadi mukjizat medis yang paling kuat. Mesin pendeteksi jantung yang tadinya berbunyi datar dan lemah, kini menunjukkan irama yang lebih stabil dan kuat. Meskipun Hiroshi belum mampu bicara banyak, tatapan matanya yang sayu seolah memberikan seluruh sisa kekuatannya kepada Aiko untuk menjaga kerajaan mereka.Seminggu berlalu sejak penangkapan Watanabe. Pagi ini, Aiko berdiri di depan cermin besar di kamar utama mereka. Ia tidak lagi mengenakan daster atau pakaian rumah yang sederhana. Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang tajam, rambutnya disanggul rapi, dan di jarinya melingkar kembali cincin pernikahan mereka—bukan sebagai simbol kepatuhan, melainkan sebagai simbol otoritas."Nyonya, mobil sudah siap. Seluruh dewan komisaris dan media sudah berkumpul di aula utama Tanaka Group," lapor Nyonya Sato yang kini bukan hanya menjadi pengacaranya, tapi juga tangan kanannya. "Mereka menanti penjelasan tentan
Aiko meletakkan ponselnya dengan tangan yang dingin namun mantap. Informasi dari ayahnya tentang adanya 'dalang' lain di Tanaka Group membuat sisa-sisa kesedihannya menguap, berganti dengan kemarahan yang membeku. Ia menatap wajah Hiroshi yang pucat di balik masker oksigen untuk terakhir kalinya sebelum ia keluar dari ruang ICU."Nyonya Sato," panggil Aiko saat ia melangkah keluar, suaranya kini terdengar seperti perintah militer yang tidak menerima bantahan. "Siapkan mobil. Kita tidak akan pulang ke rumah. Kita akan pergi ke kantor pusat Tanaka Group. Sekarang juga.""Tapi Nyonya, ini sudah hampir tengah malam. Kantor sedang dalam masa pembersihan pasca ledakan," Nyonya Sato mencoba mengingatkan, namun ia segera terdiam saat melihat sorot mata Aiko yang berkilat tajam."Justru karena itulah kita harus ke sana. Pengkhianat sejati selalu kembali ke tempat kejadian perkara untuk menghapus jejak terakhirnya," jawab Aiko sembari memakai jaket hitamnya. "Dan panggil tim audit indepen
Jari-jari Aiko gemetar saat ia menyentuh layar ponselnya. Pesan dari pengacara pribadi Hiroshi terasa seperti beban ribuan ton yang menindih dadanya. Di balik pintu ruang operasi yang tertutup rapat, suaminya sedang berjuang melawan maut, sementara di tangannya kini terdapat kunci menuju rahasia terdalam pria itu."Nyonya Tanaka, ini dokumen fisiknya," ujar Nyonya Sato yang tiba-tiba muncul di rumah sakit, membawa sebuah amplop tersegel dengan cap resmi firma hukum Tanaka Group. "Tuan Hiroshi menyerahkan ini pada saya satu minggu yang lalu, tepat saat Anda memberikan Kontrak Penebusan itu kepadanya. Beliau berkata, jika ia tidak selamat dari 'badai' ini, Anda harus membacanya."Aiko merobek amplop itu dengan kasar. Di dalamnya terdapat surat wasiat resmi dan sebuah surat tulisan tangan yang tintanya sedikit luntur, seolah terkena tetesan air. Aiko mulai membaca baris demi baris, dan jantungnya seolah berhenti berdetak."Aiko, istriku yang kucintai lebih dari nyawaku sendiri... Jika ka
Pandangan Hiroshi mengabur. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi jok mobil yang ringsek. Di depannya, moncong senjata Kenji tampak begitu hitam dan dingin. Hiroshi mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau."Kau selalu menjadi penghalang, Hiroshi. Sejak ayah lebih memilihmu untuk memimpin perusahaan, aku sudah bersumpah akan melihatmu berakhir di selokan seperti ini," geram Kenji dengan jari yang mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal, adik kecil. Sampaikan salamku pada ayah di neraka."DOR!Suara tembakan meledak, namun bukan dari senjata Kenji. Sebuah peluru mengenai bahu Kenji, membuatnya terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas ke aspal. Di ujung jalan, sebuah sedan merah melaju kencang dan berhenti dengan manuver tajam, menghalangi jalan Kenji.Aiko keluar dari mobil itu dengan napas memburu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol kecil—senjata y







