ホーム / Romansa / Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat / Bab 16: Di Balik Topeng sang Naga

共有

Bab 16: Di Balik Topeng sang Naga

作者: Founna Math
last update 最終更新日: 2026-01-07 19:04:30

Suasana di ruang bawah tanah itu terasa sangat tipis. Cahaya dari layar ponsel Aiko adalah satu-satunya sumber penerangan, memantulkan binar keberanian di matanya yang tak gentar. Di lantai atas, suara benturan pintu dan teriakan tim keamanan terdengar semakin dekat. Angka penonton siaran langsungnya melonjak drastis—1 juta, 3 juta, hingga menembus 5 juta penonton dalam hitungan menit.

"Aku tidak bercanda," suara Aiko tetap stabil meski keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menunjukkan sekilas dokumen di dalam kotak kayu itu ke arah kamera, cukup untuk membuat para petinggi yang namanya tertulis di sana berkeringat dingin di rumah mereka masing-masing. "Kalian punya waktu lima menit untuk memerintahkan anjing-anjing kalian mundur, atau sejarah Jepang akan berubah malam ini."

Tiba-tiba, suara tembakan di lantai atas berhenti. Kesunyian yang lebih menakutkan menyelimuti rumah itu. Hiroshi menarik napas tajam, telinganya menangkap langkah kaki tunggal yang tenang—bukan langkah sepatu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 19: Penyelamat di Kegelapan

    Langkah kaki itu semakin dekat, menginjak ranting kering dengan suara yang berderak tajam. Hiroshi segera memposisikan dirinya sebagai perisai di depan pintu mobil yang terbuka. Tangannya yang masih bersimbah darah terkepal kuat, meskipun tubuhnya sendiri gemetar karena kelelahan dan lonjakan adrenalin yang luar biasa."Siapa di sana?! Jangan mendekat!" teriak Hiroshi sekali lagi. Cahaya senter itu menyinari wajahnya, membuatnya silau sesaat."Tenang, anak muda. Aku bukan musuhmu," sebuah suara berat dan serak terdengar. Dari balik bayang-bayang pohon cemara, muncul seorang pria tua mengenakan jubah biksu abu-abu yang sederhana. Ia membawa tas kulit tua yang tampak seperti peralatan medis kuno."Aku biksu dari kuil di atas sana. Aku mendengar suara benturan dan tangisan bayi," ujar pria itu sembari menurunkan senternya agar tidak menyilaukan Hiroshi. Matanya yang bijak beralih ke arah Aiko yang terbaring lemas dengan bayi Kaito di pelukannya. "Istrimu mengalami pendarahan hebat. Jika

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 18: Kelahiran di Tengah Api

    Bau menyengat bensin seketika menyeruak masuk melalui celah ventilasi mobil. Di bawah siraman lampu jauh yang menyilaukan, Miyuki tampak seperti iblis yang merangkak keluar dari neraka. Wajahnya yang dulu cantik kini hancur oleh kebencian, tangannya yang gemetar terus menyiramkan cairan bahan bakar ke arah kap mobil SUV yang dikendarai Hiroshi."Miyuki, berhenti! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!" teriak Hiroshi dari balik kemudi. Ia melirik ke kursi belakang melalui spion tengah; Aiko tampak bersimbah peluh, wajahnya memucat menahan kontraksi yang kini datang setiap dua menit sekali."Aku tahu persis apa yang kulakukan, Hiroshi!" jerit Miyuki, suaranya melengking di tengah kesunyian malam Kyoto. "Kau menjadikanku sampah! Kau membuangku demi wanita membosankan ini setelah aku memberikan segalanya untukmu! Jika aku harus hancur, kalian tidak boleh bahagia!""Ahh... Hiroshi... Kaito... dia tidak bisa menunggu lagi..." erangan Aiko memecah konsentrasi Hiroshi. Aiko mencengkeram jok m

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 17: Penebusan di Ambang Kelahiran

    Enam bulan telah berlalu sejak malam berdarah di kediaman utama Tanaka. Tokyo, dengan segala kebisingan dan intrik bisnisnya, kini terasa seperti ribuan mil jauhnya. Di sebuah vila tersembunyi di pinggiran Kyoto, waktu seolah berhenti berputar. Udara di sini tidak berbau asap knalpot atau ambisi, melainkan aroma tanah basah dan kayu cedar yang menenangkan.Aiko duduk di kursi kayu jati di teras vila, memandangi guguran bunga sakura yang mulai menghiasi kolam ikan koi di bawahnya. Sinar matahari senja yang berwarna keemasan menerpa wajahnya, memberikan rona hangat pada kulitnya yang kini tampak lebih bercahaya. Tangannya yang lembut tak henti-hentinya mengusap perutnya yang sudah sangat besar, sebuah beban indah yang kini menjadi pusat semestanya.Ia tidak lagi mengenakan blazer tajam yang menunjukkan otoritasnya sebagai CEO. Kini, ia hanya mengenakan terusan hamil berbahan sutra lembut berwarna putih gading. Rambutnya dibiarkan tergerai tertiup angin sepoi-sepoi. Di matanya, tidak ada

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 16: Di Balik Topeng sang Naga

    Suasana di ruang bawah tanah itu terasa sangat tipis. Cahaya dari layar ponsel Aiko adalah satu-satunya sumber penerangan, memantulkan binar keberanian di matanya yang tak gentar. Di lantai atas, suara benturan pintu dan teriakan tim keamanan terdengar semakin dekat. Angka penonton siaran langsungnya melonjak drastis—1 juta, 3 juta, hingga menembus 5 juta penonton dalam hitungan menit."Aku tidak bercanda," suara Aiko tetap stabil meski keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menunjukkan sekilas dokumen di dalam kotak kayu itu ke arah kamera, cukup untuk membuat para petinggi yang namanya tertulis di sana berkeringat dingin di rumah mereka masing-masing. "Kalian punya waktu lima menit untuk memerintahkan anjing-anjing kalian mundur, atau sejarah Jepang akan berubah malam ini."Tiba-tiba, suara tembakan di lantai atas berhenti. Kesunyian yang lebih menakutkan menyelimuti rumah itu. Hiroshi menarik napas tajam, telinganya menangkap langkah kaki tunggal yang tenang—bukan langkah sepatu

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 15: Warisan yang Terkutuk

    Suasana haru di kamar rumah sakit seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Aiko berdiri tegak, melindungi kursi roda Hiroshi, sementara Nyonya Sato menyerahkan sebuah foto yang diambil oleh informan kepolisian dari dalam sel penjara Watanabe.Di dinding sel yang kusam, tertulis sebuah kalimat menggunakan cairan merah yang mengerikan: "Bukan aku yang memulai, bukan aku yang mengakhiri. Naga telah terbangun, Aiko."Hiroshi yang melihat foto itu seketika mencengkeram lengan kursi rodanya hingga buku jarinya memutih. Wajahnya yang tadinya mulai membaik, kini kembali pucat pasi, lebih pucat daripada saat ia baru sadar dari koma. "Naga... tidak mungkin. Mereka seharusnya sudah tidak ada," gumam Hiroshi dengan suara yang bergetar hebat."Siapa mereka, Hiroshi? Apa maksud dari pesan ini?" tanya Aiko sembari menggenggam tangan suaminya yang dingin. Ia bisa merasakan ketakutan yang murni dari pria yang biasanya sangat tenang menghadapi badai bisnis sekalipun.Hiroshi menatap

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 14: Mahkota sang Ratu

    Kabar kehamilan Aiko yang dibisikkannya di telinga Hiroshi seolah menjadi mukjizat medis yang paling kuat. Mesin pendeteksi jantung yang tadinya berbunyi datar dan lemah, kini menunjukkan irama yang lebih stabil dan kuat. Meskipun Hiroshi belum mampu bicara banyak, tatapan matanya yang sayu seolah memberikan seluruh sisa kekuatannya kepada Aiko untuk menjaga kerajaan mereka.Seminggu berlalu sejak penangkapan Watanabe. Pagi ini, Aiko berdiri di depan cermin besar di kamar utama mereka. Ia tidak lagi mengenakan daster atau pakaian rumah yang sederhana. Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang tajam, rambutnya disanggul rapi, dan di jarinya melingkar kembali cincin pernikahan mereka—bukan sebagai simbol kepatuhan, melainkan sebagai simbol otoritas."Nyonya, mobil sudah siap. Seluruh dewan komisaris dan media sudah berkumpul di aula utama Tanaka Group," lapor Nyonya Sato yang kini bukan hanya menjadi pengacaranya, tapi juga tangan kanannya. "Mereka menanti penjelasan tentan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status