Beranda / Romansa / Kontrak Suci / 50~Sehari Lagi

Share

50~Sehari Lagi

Penulis: Kanietha
last update Tanggal publikasi: 2026-07-05 23:14:54

“Ini … kenapa rumahnya besar-besar semua?” ujar Suci menggeser layar ponsel Arif dengan perlahan. Ia melihat beberapa foto dan video yang dikirim oleh bagian marketing perusahaan milik istri Bias.

“Karena ada kita, Sahli, sama Hadi,” jawab Arif santai. Ia menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan memeluk tubuh Suci yang bersandar nyaman di dadanya. “Ke depannya juga ada ART buat bersih-bersih rumah.”

“ART?” Suci sedikit menggeser tubuhnya lalu mendongak. “Aku punya ART buat bersih-bersih rumah?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
makin makin mas arif, pengantin baru ya rif, sikat terosss
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
enak to masss
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
nambah sehari nanggung Rif sekalian seminggu.. hehehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kontrak Suci   51~Selesaikan Semuanya

    “Ini juga bagus, Mas!” Suci kembali menatap takjub pada rumah kedua yang mereka kunjungi hari ini. “Halaman depannya luas, terus ada jalan kecil di samping, sama ada halaman belakangnya juga.” “Jadi, kamu suka yang ini?” tanya Arif sambil melihat kamar mandi di kamar utama. “Suka semuanya,” jawab Suci ikut memasuki kamar mandi bersama Arif. “Tapi, harganya pasti em-eman kayak yang tadi, kan?”Arif mengangguk dengan senyum tipis. Matanya tertuju pada bathtub di sudut ruangan, yang ukurannya mengingatkan pada bathtub di hotel tempat mereka menginap.“Semua foto sama video rumah yang dikirim kemarin harganya di atas satu M,” balas Arif lalu menunjuk bathtub di sudut ruang. “Bathtub-nya pas! Sesuai dengan mauku, jadi nggak perlu renovasi.”Suci mengernyit dengan bibir yang mengerucut. Padahal, mereka sedang serius membahas masalah rumah, tetapi pikiran Arif ternyata tidak sama dengannya. “Mas, mikirnya jangan ke mana-mana dulu,” pinta Suci geleng-geleng. “Fokus!”“Mana bisa fokus,” jaw

  • Kontrak Suci   50~Sehari Lagi

    “Ini … kenapa rumahnya besar-besar semua?” ujar Suci menggeser layar ponsel Arif dengan perlahan. Ia melihat beberapa foto dan video yang dikirim oleh bagian marketing perusahaan milik istri Bias. “Karena ada kita, Sahli, sama Hadi,” jawab Arif santai. Ia menyandarkan tubuh di kepala ranjang dan memeluk tubuh Suci yang bersandar nyaman di dadanya. “Ke depannya juga ada ART buat bersih-bersih rumah.”“ART?” Suci sedikit menggeser tubuhnya lalu mendongak. “Aku punya ART buat bersih-bersih rumah?”Arif mengangguk. Mengecup puncak kepala Suci. “Nggak mungkin kamu bersihin rumah sendirian, kan?”Suci tersenyum simpul. Ia kembali bersandar nyaman, lalu menggeser layar untuk melihat foto-foto yang ada di galeri ponsel sang suami. Tidak pernah sekali pun terlintas di benak Suci, bahwa suatu hari nanti ia akan memiliki kehidupan seperti sekarang. Memiliki seorang suami yang bukan hanya tampan dan mapan, tetapi juga menyayanginya sepenuh hati.“Lusa kita keliling lihat rumahnya,” lanjut Arif

  • Kontrak Suci   49~Bersabar Dulu

    Pagi itu, Arif terjaga lebih dulu. Matanya menyipit, menyesuaikan diri dengan bias cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah tirai kamar.Selama beberapa saat, Arif hanya berbaring diam dan menikmati keheningan yang menyelimuti ruangan. Perlahan, senyum tipis mengembang di wajahnya saat kenangan semalam kembali memenuhi kepala.Arif lalu memiringkan tubuh, menatap wajah Suci yang masih terlelap nyaman di atas lengannya. Napas istrinya terdengar teratur, sementara wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah Arif lihat sebelumnya. Dengan hati-hati, Arif mengusap lembut pipi Suci dengan ujung jarinya, lalu menyelipkan rambut yang menghalangi wajah sang istri di belakang telinga. Cantik.Suci bukanlah tipe gadis yang bisa membuat pria jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, semakin lama mengenalnya, semakin sulit pula mengalihkan hati darinya. Di balik wajah yang sederhana itu, ada ketulusan, keberanian, dan kelembutan yang perlahan berhasil merebut hati Arif. Hingga

  • Kontrak Suci   48~Melepas Segala Batasan

    “Sorry,” ucap Arif begitu melihat Suci sudah duduk manis di ruang tengah. Sebuah koper juga telah siap di samping sofa. “Aku pulang agak telat.”Suci tersenyum. Menyimpan rasa gugupnya dalam-dalam. “Kan, Mas tadi juga sudah nelpon karena ada kerjaan mendadak. Jadi, nggak usah minta maaf.”Arif mengangguk. Menarik handle koper dan bersiap menariknya dengan terburu. “Sudah siap semua? Atau masih ada yang harus dibawa? Koper lain?”Suci menggeleng sambil berdiri. “Semua baju sudah di koper. Nggak ada yang ketinggalan.”“Lingeri?”“Mas!” Arif lantas tertawa. Akhirnya, hari itu datang juga. Hari di mana mereka akan menikmati malam pergantian tahun berdua, sekaligus menghabiskan waktu yang telah lama ia nantikan sebagai pasangan suami istri.“Aku cuma memastikan,” ujar Arif tersenyum jahil.“Nggak usah dipastikan.”“Berarti ada?”Wajah Suci seketika memerah. Ia buru-buru meraih tas selempangnya di sofa lalu berjalan lebih dulu menuju lift. “Ayo, berangkat. Nanti kena macet.”“Duh … yang su

  • Kontrak Suci   47~Kenangan Pertama

    “Mas, Hadi bilang nggak usah pindah sekolah karena nanggung,” ujar Suci segera mematikan televisi. “Sekolah juga tinggal lima bulanan lagi. Nggak terasa.”“Bentar, ya,” ucap Arif masih mondar-mandir di depan televisi dan sibuk dengan ponselnya. “Hmm.” Suci mengangguk.Tidak ingin mengganggu kesibukan sang suami, Suci pun beringsut ke dapur. Pikirannya masih saja tertuju pada malam tahun baru yang tinggal menghitung hari. Setiap kali mengingat ajakan staycation, wajahnya selalu terasa panas. Kata bulan madu yang diucap Arif saat itu, benar-benar tidak bisa hilang dari benaknya. “Fully booked,” gerutu Arif sambil melangkah ke dapur tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Aku sudah cek lima hotel dan semuanya penuh pas tahun baru.”Suci yang baru membuka lemari pendingin, lantas menutupnya kembali. Ia menggigit bibir, lalu berbalik. “Mas beneran mau nginap di hotel?”“Kita,” ralat Arif sembari duduk di stool bar dan kembali mencari hotel bintang lima yang bisa ia booking. “

  • Kontrak Suci   46~Bulan Madu

    “Kita nggak akan pergi, sebelum ada yang menjelaskan apa yang sudah terjadi?”Arif merubah posisi duduknya, agar bisa melihat Suci, Sahli, dan Hadi yang sudah berada di dalam mobil. Kendati bisa mengambil sedikit kesimpulan, tetapi Arif tetap ingin mendengar penjelasan dari ketiga kakak beradik itu. “Mereka nagih uang listrik sama air,” jawab Suci lalu bercerita singkat, tentang apa yang terjadi barusan.“Dan kenapa kamu biarkan Tantemu itu ngambil uang di dompetmu?” Arif menatap tegas pada Suci. “Biar dia lihat sendiri, kalau uangku di dompet itu nggak banyak,” jawab Suci. “Harusnya kamu nggak perlu ngelakuin itu.”“Kalau aku nolak, urusannya bakal lebih panjang, Mas. Mereka pasti tetap maksa.”Arif mengembuskan napas pelan sambil menggeleng. Bukan karena tidak percaya, tetapi ia tidak menduga jika hal seperti ini ternyata akan dialami keluarganya. Lebih tepatnya, istrinya sendiri.“Ci, dengerin aku.” Tatapannya kembali bertemu dengan mata Suci. “Aku nggak peduli berapa uang yang

  • Kontrak Suci   24~Sweet Dreams

    Muak.Deswita benar-benar muak melihat kedekatan Suci dan putranya di depan mata saat makan malam tiba. Di mana Suci berada, di situlah Arif menempel dengan eratnya. Dan bagi Deswita, semua hal yang dilihatnya saat ini hanyalah sandiwara. “Arif,” panggil Deswita datar. “Bunda mau tanya.”“Ya, sila

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status