Home / Romansa / Kontrak Suci / 24~Sweet Dreams

Share

24~Sweet Dreams

Author: Kanietha
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-22 22:53:58
Muak.

Deswita benar-benar muak melihat kedekatan Suci dan putranya di depan mata saat makan malam tiba. Di mana Suci berada, di situlah Arif menempel dengan eratnya. Dan bagi Deswita, semua hal yang dilihatnya saat ini hanyalah sandiwara.

“Arif,” panggil Deswita datar. “Bunda mau tanya.”

“Ya, silakan,” ucap Arif sambil menikmati makan malam yang sudah disiapkan Suci. Gadis itu bahkan mengambilkannya nasi, lauk, dan menyiapkan air yang sudah dituang di gelas. Suci benar-benar memainkan perannya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (11)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
mari kita liat siapa yg salto
goodnovel comment avatar
Mom Kece
MBAAAKKK BEEBBHH...buruan up lagi banyak²
goodnovel comment avatar
Idadalia Mutiara79
nanti ujung ujung nya mrk pada salto dan kayang
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak Suci   69~Hidup Berdampingan

    Malam itu, Nurul masih belum bisa memejamkan mata. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tetapi pikirannya terus berputar pada rumah Suci yang siang tadi baru pertama kali ia datangi. Sambil melipat pakaian di depan televisi untuk mencari kesibukan, bayangan tentang rumah megah itu kembali memenuhi kepalanya. Semakin diingat, semakin sulit ia mempercayai bahwa keponakan yang dulu hidup apa adanya itu, kini tinggal di lingkungan elite.“Kenapa belum tidur?” tanya Bahlil begitu masuk ke rumah. Ia baru kembali dari pos ronda di ujung gang. Sarung yang semula diselempangkan di bahunya langsung dilepas dan dilemparkannya ke sandaran kursi.“Nggak bisa tidur,” jawab Nurul tidak melanjutkan melipat pakaian yang sudah berada di pangkuan. Pandangannya tertuju pada televisi yang masih menyala, tetapi tidak benar-benar ia tonton. “Kok bisa ya, Suci itu nikah sama Arif?”“Bukan itu masalahnya,” gerutu Bahlil sembari duduk di kursi dan menaikkan sebelah kakinya. “Aku jengkel karena mereka

  • Kontrak Suci   68~Jangan Diganggu

    “Ci, Tante mau ke kamar mandi,” ujar Nurul tidak kehabisan akal mencari alasan agar bisa masuk ke dalam rumah Suci. Kali ini, keponakannya itu tidak akan bisa mengelak, karena urusan ke kamar mandi bukanlah sesuatu yang bisa ditunda-tunda. “Kebelet habis minum es teh.”Suci membeku beberapa detik. Kali ini, ia benar-benar kalah dengan siasat Nurul. Tidak mungkin ia menolak seseorang yang mengaku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Pada akhirnya, Suci tidak punya pilihan selain mengalah.“Ayo masuk,” ujar Suci beranjak lebih dulu. Ia membukakan pintu, lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah. Dengan langkah pelan, ia memandu Nurul menuju kamar mandi yang berada di ruang keluarga. Nurul segera melangkah masuk dengan wajah semringah. Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menerpa wajah, lalu tubuhnya. Benar-benar luar biasa. Namun, alih-alih langsung menuju kamar mandi mengikuti Suci, ia justru sibuk menyapu setiap sudut rumah yang dilewatinya.Ruang tamu di bagian depan saja

  • Kontrak Suci   67~Kesempatan Langka

    “Kapan kira-kira kita beli perlengkapan bayi?” tanya Arif ikut memakan kuaci bersama Suci di kamar mereka. Padahal, ia tidak terlalu menyukai jenis makanan tersebut karena terlalu merepotkan untuk di makan. Namun, saat melihat Suci memakannya dengan wajah berbinar, maka Arif pun penasaran untuk mencobanya. Berawal dari sebutir kuaci, lalu bertambah menjadi beberapa butir lagi. Lama-kelamaan, tangannya justru lebih sering merogoh bungkus kuaci daripada berhenti.“Jenis kelaminnya aja belum tau, masa’ sudah mau beli?” Suci menepuk punggung tangan Arif yang kembali mengambil kuaci miliknya. “Mas itu kalau mau harusnya beli sendiri. Ini siapa yang pengen, siapa yang paling banyak ngabisin kuaci.”“Kamu kan, beli kacang juga,” ujar Arif menunjuk bungkus kacang kulit kemasan yang tergeletak di meja. Sepanjang perjalanan mengelilingi kompleks tadi, Suci sibuk mengunyah kacang tersebut hingga menghabiskan separuh isinya seorang diri. .“Jadi, lanjutin aja makan kacangnya. Habisin.”“Udah nggak

  • Kontrak Suci   66~Dijadiin Tumbal

    “Memangnya Bunda mau datang ke psikolog?” tanya Arif pada sang ayah yang duduk berseberangan dengannya. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa duduk berdua sambil makan siang sesudah mencocokkan jadwal.Mereka tidak melibatkan Deswita, karena ingin menikmati waktu dengan tenang tanpa ketegangan. “Bunda itu punya penghasilan sendiri,” lanjut Arif lalu menyeruput kuah soto tangkarnya. “Jadi, walau CC-nya diblokir, Bunda masih bisa shopping.”“Awal-awal memang masih bisa shopping pake uangnya sendiri,” balas Ivan sudah mempertimbangkan segalanya. “Tapi lama-lama? Bundamu pasti nggak rela kalau uang di rekeningnya terus berkurang. Ditambah dengan acara amalnya di mana-mana.”Arif tertawa pelan. Ia sampai lupa, kapan terakhir kali bisa duduk dengan damai seperti ini bersama ayahnya sendiri. Sepertinya, kehamilan Suci membawa berkah dan kebahagiaan tersendiri.“Tapi, sudah dapat psikolognya?” tanya Arif lagi.“Jose sudah dapat, tapi Bundamu yang belum mau datang.”“Ya, kita lihat aja na

  • Kontrak Suci   65~Beli Semua

    “Kabari kalau otewe pulang,” pesan Suci kembali mengingatkan ketika Hadi hendak berangkat sekolah. “Biar kutungguin di depan, kalau Irul datang lagi.”“Nggak usah,” sahut Sahli yang tengah mencuci motornya di carport. “Kamu pulangnya berhenti di pos satpam aja. Paling lima belas menitan aku dah di sini kayak kemarin. Nanti ke rumahnya sama aku.”“Aku di pos satpam aja,” ujar Hadi segera berdiri setelah memakai sepatunya. Ia menghampiri Suci, lalu berpamitan dengan kakak perempuannya lebih dulu karena ojeknya sudah standby di depan pagar. “Berangkat dulu.”“Hati-hati,” ucap Suci dan Sahli bersamaan. “Ibu yang mau kerja di sini itu jadi?” tanya Sahli.“Jadi,” jawab Suci mengangguk sambil menyapu dedaunan di taman depan. Udara pagi yang masih sejuk, membuat tubuhnya terasa lebih segar. “Datang jam tujuh, jam empat sudah pulang. Ingat, ya, kalau kamar bersihin masing-masing.”“Tau,” sahut Sahli sambil meraih kepala semprotan air lalu membilas motornya yang sudah penuh dengan sabun. “Ora

  • Kontrak Suci   64~Seperti Dulu Lagi

    “Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status