Beranda / Romansa / Kontrak Suci / 60~Nurut Apa Kata Suami

Share

60~Nurut Apa Kata Suami

Penulis: Kanietha
last update Tanggal publikasi: 2026-07-20 23:05:04

“Mas, ditunggu Bapak di mobil.”

Arif menatap Jose yang merentangkan satu tangan ke arah parkiran mobil pengadilan. Tidak perlu ditanya tentang keperluannya, karena ia sudah bisa menebaknya.

“Mobilnya di ujung,” ucap Jose menambahkan informasi sebelum Arif bertanya lebih lanjut.

Napas Arif terbuang pelan. Cepat atau lambat, gosip mengenai syukuran rumah baru Arif sekaligus kabar mengenai dirinya yang telah memperkenalkan Suci sebagai istri, pasti akan sampai juga ke telinga Ivan.

Tidak hanya Iv
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
Suci cepetan ke dokter keknya kamu hamil deh...
goodnovel comment avatar
wanita biasa
di dunia nyata mah emang ga mungkin sih seorg Arif bisa nikah sama seorg suci..ya tau sendiri lah..perbedaan kasta itu sulit emang
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
masih m teriva ivan sama keputusan arif, wajarjuga sih sebenarnya krn kalangan mereka kan beda ya sama suci
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kontrak Suci   85~Rasa Tenang

    Ivan baru saja mematikan lampu kamar dan hendak merebahkan diri, ketika ponsel yang berada di atas nakas bergetar singkat. Tadinya, ia berniat mengabaikan notifikasi tersebut dan membacanya besok pagi. Namun, begitu melihat nama Arif muncul di layar, Ivan segera meraih ponselnya dan membuka pesan dari putranya.“Suci mulai mulas-mulas dari tadi. Apa sudah waktunya lahiran?”Ivan menarik napas pelan. Ia bergeming menatap layar sambil berpikir. Mengingat-ingat kembali, bagaimana proses ketika Deswita hamil dahulu kala. Terutama saat mendekati hari persalinan.“Mas, tidur,” tegur Deswita saat melihat Ivan masih memegang ponselnya dalam gelap. “Besok lagi balas pesannya.”“Iya, sebentar,” ujar Ivan tanpa menoleh. “Kalau nggak salah, hamil itu ada kontraksi palsu, kan? Mulas, sakit perut, tapi bukan mau lahiran.”“Kenapa?” Deswita merapatkan diri. Sedikit menaikkan posisi tubuhnya agar bisa melihat layar ponsel Ivan. Ketika melihat nama Arif di sana, Deswita langsung menegakkan tubuh. “Ari

  • Kontrak Suci   84~Menenangkan Diri

    “Nih.” Sahli menyerahkan semangkuk bubur kacang merah pada Suci yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Beberapa saat sebelumnya, kakaknya itu memang memintanya mengambilkan bubur dengan tambahan es batu. “Bu Mas lagi masak sayur asam sama goreng ikan nila buat makan siang. Tambahin sambal terasi, beeeh … Nggak kenyang-kenyang aku nanti.”Suci terkekeh. Melihat sekilas pada Sahli yang duduk di sampingnya setelah menerima mangkuk buburnya. “Li, cariin Hadi motor second buat kuliah,” pinta Suci kembali menatap televisi. “Tapi, cari yang harganya lima jutaan. Ada nggak kira-kira? Tapi yang masih bagus.”“Nanti aku coba tanya-tanya,” jawab Sahli kemudian duduk bersila sambil menatap perut Suci. Ia sengaja menunggu sampai keponakannya bergerak agar bisa merasakan tendangan kecil dari dalam sana. “Tapi, kalau lima jutaan, kayaknya tahunnya tua, sama kilometernya juga sudah tinggi.”“Yang penting masih bisa dipake, sama mesinnya nggak rewel,” ujar Suci sambil menyantap buburnya. “P

  • Kontrak Suci   83~Nurut Aja

    “Kuliah yang bener, ya,” pesan Suci kepada Hadi, di hari pertamanya masuk kuliah setelah masa orientasi berakhir. Tidak terasa, masa putih abu-abu itu akhirnya usai juga. Waktu benar-benar terasa berlalu begitu cepat karena satu lagi adiknya telah meninggalkan bangku sekolah dan memulai kehidupan sebagai mahasiswa.Namun, kali ini keadaannya sudah berbeda. Mereka tidak lagi kesulitan secara finansial dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan biaya kuliah maupun kebutuhan sehari-hari.“Maksimal empat tahun,” ujarnya menambahkan pesan yang sama, seperti yang pernah dikatakan pada Sahli. “Lebih dari itu, bayar kuliahmu sendiri.”“Iya, Kak.” Hadi mengangguk. Senyum lebar terukir di wajahnya saat menatap sepatu, celana, hingga kemeja yang dikenakannya pagi itu. Semuanya baru, bukan lagi lungsuran dari Sahli seperti yang biasa ia kenakan.“Nggak usah pacaran.” Suci kembali mengingatkan. “Fokus dulu sama kuliah. Pokoknya nggak usah cinta-cintaan.”“Iyaaa,” jawab Hadi mulai bosan mendengar ocehan

  • Kontrak Suci   82~Suatu Saat Nanti

    “Koper yang itu nggak usah dibuka,” larang Ivan ketika Deswita baru menarik koper kecil dan berniat merebahkannya di tengah kamar. Setelah beberapa hari menikmati liburan di Dubai, Ivan dan Deswita akhirnya kembali ke rumah. Semua barang bawaan sudah mereka pilah di kamar, kecuali satu koper kecil yang belum dibuka karena berisi berbagai hadiah untuk Arif, Suci, dan calon cucunya. Ivan memang menyiapkannya khusus, hingga tidak perlu lagi repot-repot memilahnya ketika sampai di rumah. “Besok biar langsung kubawa ke rumah Arif,” tambah Ivan sambil menunjuk sekilas pada koper tersebut. “Jadi nggak usah dibuka.”“Ohh …” Deswita tersenyum canggung. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka koper itu, lalu melepaskan pegangannya.Deswita tahu persis, apa saja barang-barang yang ada di dalam koper tersebut. Namun, ia tidak menduga jika semua isi di dalamnya ternyata akan diberikan pada keluarga putranya. Deswita tidak berani protes, membantah, atau marah akan hal itu. Setelah hubungan mereka

  • Kontrak Suci   81~Pilihan yang Salah

    “Ngapain aku disuruh pulang siang-siang begini?” tanya Bahlil begitu turun dari motor. Ia melihat Nurul langsung berdiri dan menghampirinya, lalu buru-buru menariknya masuk ke dalam rumah.“Ada bingkisan!” seru Nurul begitu mereka masuk. Tangannya menunjuk sebuah parsel besar yang dibungkus dengan plastik transparan di atas meja tamu. Namun, ia sudah membukanya lebih dulu. “Coba tebak dari siapa?”Dahi Bahlil langsung berkerut. Semakin dipikirkan, semakin ia tidak menemukan jawabannya. Mereka bukan orang penting dan sedang tidak mengadakan hajatan apa pun, sehingga ia benar-benar tidak tahu siapa yang mengirimkan bingkisan yang terlihat sangat mahal itu.“Dari siapa?” tanya Bahlil langsung duduk di lantai. Ia memindahkan bingkisan yang ternyata cukup berat itu ke bawah. Ternyata, isi di dalamnya bukan barang imitasi.“Dari Ariiif!” ujar Nurul juga duduk di lantai, di samping bingkisan tersebut. Senyumnya langsung tersemat lebar dan matanya pun berbinar-binar. Nurul mengambil sebuah k

  • Kontrak Suci   80~Menunggu

    “Mereka sudah pergi,” ujar Arif. Sejak tadi, ia menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV di depan rumahnya. Untuk sementara, kebohongannya tentang kepindahan ke apartemen mungkin bisa membuat Nurul dan Bahlil berhenti mencari keberadaan Suci. Setidaknya, mereka tidak akan datang ke rumah dan mengganggu ketenangan Suci yang baru saja pulang dari rumah sakit.“Tapi, sampai kapan kita harus bohong?” tanya Suci. Ia duduk santai di sofa dan tengah menikmati potongan buah. “Lama-lama mereka pasti curiga karena nggak ada yang mau nerima telpon atau balas chatnya kayak dulu.”“Biarkan.” Arif berbalik, lalu ikut duduk di samping Suci. “Orang seperti mereka itu, bakal minta jantung kalau dikasih hati. Tapi, biar besok aku kirim bingkisan ke rumahnya.”“Buat apa?” tanya Suci tidak mengerti. “Sebagai ucapan terima kasih,” jawab Arif sambil menyomot potongan apel dari piring Suci. “Karena tiap Te Nurul ke rumah sakit, dia selalu bawa masakan yang lumayan enak. Aku nggak mau berutang, jadi, ak

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status