Share

Menerima Tawaran

Author: Arish-girl
last update publish date: 2026-06-07 15:56:44

Aroma cerutu Kuba bercampur wangi sandalwood yang mahal memenuhi ruang kerja utama di penthouse lantai teratas Gedung Pratama VVIP. Di balik meja kayu ek besar yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit kota melalui dinding kaca transparan, seorang pria duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi.

Pria itu adalah Xavier.

Garis wajahnya tegas, perpaduan sempurna antara rahang kokoh dan sepasang mata elang berwarna abu-abu tajam yang mencerminkan darah asalnya—Italia. Sebagai seorang keturunan langsung dari salah satu keluarga terpandang di Milan yang menguasai jaringan sindikat Eropa, Xavier bukanlah mafia biasa yang hanya mengandalkan otot. Jaringannya di dunia bawah sangat luas dan terstruktur rapi. Selain bisnis kasino dan pengamanan, salah satu pilar kekuatan finansial utama Xavier adalah bisnis farmasi rahasia berskala internasional. Dia memiliki akses penuh terhadap obat-obatan eksperimental, laboratorium medis tercanggih, hingga dokter-dokter bedah terbaik di dunia yang tidak bisa dibeli dengan uang biasa.

Di depan meja kerjanya, Bastian berdiri dengan sikap hormat yang sempurna, memegang sebuah gawai tablet berisi data laporan harian.

"Tuan, mengenai wanita yang Anda minta kemarin... Ibu Citra," Bastian membuka suara, memecah kesunyian ruangan yang dingin. "Tadi siang dia mendatangi saya ke sini setelah melihat isi kontrak resmi yang kita ajukan."

Xavier tidak langsung merespons. Jemarinya yang dihiasi cincin batu hitam legam mengetuk pinggiran meja secara konstan. Dia mengembuskan asap cerutunya lambat-lambat ke udara, membiarkan kabut tipis menghalangi pandangan mereka sejenak.

"Lalu?" tanya Xavier, suaranya bariton, berat, dan terdengar begitu tenang namun sarat akan tekanan yang menuntut.

"Seperti dugaan Anda, dia menolak dengan sangat keras, Tuan," lapor Bastian jujur. "Dia merasa terhina saat tahu bahwa kontrak ratusan juta itu mewajibkannya untuk menghidupkan sendiri alur cerita dewasa di depan kamera. Dia sempat marah, menegaskan bahwa dirinya adalah penulis romansa, bukan seorang aktris, lalu pergi begitu saja setelah berjanji akan mengembalikan sisa uang muka yang telanjur dia gunakan."

Mendengar laporan itu, tidak ada kilatan amarah di mata abu-abu Xavier. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang dingin sekaligus penuh kemenangan.

Xavier memutar kursi kulitnya, menatap lurus ke luar jendela besar, memandangi kesibukan kota di bawah sana yang tampak sekecil semut. Di matanya, semua orang di kota ini tak lebih dari sekadar bidak catur yang pergerakannya sudah bisa ia tebak. Termasuk seorang wanita malang bernama Citra.

"Dia pasti akan kembali, Bastian," ucap Xavier dengan nada suara yang teramat dingin namun penuh keyakinan yang mutlak.

Bastian sedikit menundukkan kepalanya. Sebagai orang kepercayaan Xavier selama bertahun-tahun, dia tahu betul bahwa tuannya tidak pernah salah dalam menilai mangsa. "Anda begitu yakin, Tuan? Wanita itu tampak memiliki harga diri yang sangat tinggi sebagai seorang ibu dan seorang istri."

Xavier terkekeh rendah, suara tawanya terdengar berbahaya. "Harga diri adalah hal pertama yang akan digadaikan seorang manusia ketika mereka dihadapkan pada kematian. Aku sudah membaca seluruh rekam medis putrinya pagi ini, bahkan sebelum dokter rumah sakit itu membacakannya pada Citra."

Xavier mematikan ujung cerutunya pada asbak kristal di atas meja. Tatapannya mendadak menggelap, penuh kilat obsesi yang tak terbaca.

"Dia tidak punya pilihan lain di dunia ini, Bastian. Suaminya yang tidak berguna itu tidak akan bisa menghasilkan uang setengah miliar dalam waktu semalam demi mengobati kanker darah anaknya. Hanya aku yang memiliki uang itu. Dan hanya jaringan farmasiku yang memiliki akses untuk mendatangkan donor sumsum tulang belakang terbaik demi menyelamatkan nyawa putrinya," lanjut Xavier mantap.

Xavier kembali membalikkan kursinya, menatap draf kontrak hitam yang masih tergeletak di atas meja kerjanya. Jari telunjuknya mengusap nama 'Citra' yang tertera di sana.

"Dia adalah penulis yang berbakat. Alur cerita romansa yang ia bangun di kepalanya begitu indah, namun sayangnya, dunia nyatanya terlalu kejam. Aku hanya ingin membantunya mewujudkan fantasinya secara nyata, di tempat ini, bersamaku," bisik Xavier dengan nada posesif yang kental. "Tunggu saja. Dalam hitungan jam, keputusasaan akan menuntun kakinya sendiri untuk berjalan kembali masuk ke dalam sangkarku."

Tepat setelah Xavier menyelesaikan kalimatnya, lampu indikator pada telepon interkom di meja kerja Bastian berkedip merah. Bastian segera mengangkatnya, mendengarkan suara resepsionis lobi bawah selama beberapa detik sebelum matanya sedikit melebar.

Bastian memutus sambungan telepon, lalu menatap Xavier dengan pandangan takjub sekaligus ngeri atas ketepatan prediksi tuannya.

"Tuan... Ibu Citra saat ini sudah berada di lobi bawah. Dia meminta izin untuk naik dan menemui Anda sekarang juga."

Xavier menyandarkan punggungnya yang tegap pada kursi kebesarannya. Senyum kemenangan terukir jelas di wajah bulenya yang tampan namun mematikan. Gerbang kontrak terlarang itu akhirnya resmi terbuka.

"Bawa dia masuk, Bastian. Biarkan sang penulis menandatangani takdirnya sendiri."

Di bawah gedung, Citra melangkah memasuki lift khusus dengan kedua kaki yang terasa lemas dan bergetar hebat. Setiap detak jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam dadanya dengan rasa sesak yang luar biasa. Di dalam bilik lift yang berdinding cermin mengilat itu, Citra memandangi pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pias tanpa warna.

Ia tahu, begitu pintu lift ini terbuka di lantai teratas, tidak akan ada lagi jalan pulang untuknya. Ia telah membuang seluruh harga diri dan idealismenya di bawah kaki keputusasaan. Demi napas Nayla, demi melihat putri kecilnya hidup, Citra rela melangkah masuk ke dalam neraka ini.

*Ting.*

Pintu lift terbuka. Citra menarik napas dalam-dalam, menguatkan persendian kakinya yang goyah saat melangkah keluar menuju ruang kerja luas berdesain minimalis mewah itu.

Di balik meja ek tua, Bastian sudah berdiri menyambutnya dengan ekspresi tenang yang sama seperti beberapa jam lalu—seolah ia memang sudah tahu bahwa Citra akan kembali bersujud pada uang mereka.

Namun, di ruangan itu, Citra hanya berhadapan dengan Bastian. Di balik dinding kaca tebal di sudut ruangan yang menggelap, ada sesosok pria yang mengawasinya dalam diam, tanpa berniat untuk menampakkan diri. Citra tidak bertemu langsung dengan Xavier.

Bastian menggeser map kulit hitam yang sama ke hadapan Citra. "Saya senang Anda berpikir realistis, Bu Citra. Silakan ditandatangani di atas meterai."

Dengan tangan yang gemetar hebat hingga nyaris tak mampu memegang pena, Citra membuka lembar demi lembar kontrak terlarang itu. Matanya menyisir cepat poin-poin hukum yang mengikatnya. Di dalam draf tersebut, tidak ada satu pun nama 'Xavier' yang tertulis sebagai pihak yang akan mendampinginya di depan kamera. Dokumen itu hanya menyebutkan bahwa Citra akan dipasangkan dengan 'Model Pria Dewasa Profesional' yang ditunjuk oleh pihak agensi.

Citra mengembuskan napas panjang, sedikit merasa lega. Setidaknya, ia mengira hanya akan berhadapan dengan aktor bayaran biasa yang melakukan ini murni demi pekerjaan, bukan dengan pria berkuasa yang mengintimidasi. Citra tidak pernah tahu bahwa bisnis digital video dewasa milik Xavier ini dikelola dengan sangat rahasia, tertutup, dan hanya diakses oleh kalangan elite dunia bawah tanah yang membayar dengan harga selangit.

*Sret. Sret.*

Tanda tangan itu akhirnya terpatri. Detik itu juga, Citra tahu hidupnya sudah berubah total.

Bastian menarik kembali map tersebut setelah memastikan semuanya sah. Ia lalu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Citra dengan tatapan profesional yang dingin.

"Baik. Karena kontrak sudah sah, mari kita bicarakan arah naskah cerita pertama yang harus Anda tulis, Bu Citra. Tuan Besar kami menginginkan sesuatu yang sangat organik, nyata, dan menyentuh emosi terdalam penonton," ujar Bastian datar.

Citra menghapus sisa air mata di pipinya, mencoba fokus. "Cerita... seperti apa yang Tuan Xavier inginkan?"

Bastian menatap lurus ke dalam manik mata Citra yang rapuh, lalu mengucapkan kalimat yang seketika membuat darah Citra berdesir sedingin es.

"Tuliskan tentang kehidupan Anda sendiri, Bu Citra. Buatlah naskah tentang seorang ibu muda berwajah lugu yang sedang berada di titik paling sekarat dalam hidupnya. Seorang istri yang diabaikan oleh suaminya yang bejat, yang terpaksa menjual tubuh dan kehormatannya kepada seorang pria asing berkuasa demi membeli kembali nyawa putrinya yang sedang digerogoti penyakit mematikan di rumah sakit."

Citra tertegun, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"K-kenapa..." suara Citra tercekat di tenggorokan. "Kenapa harus cerita hidup saya?"

"Karena rasa sakit dan keputusasaan yang nyata tidak akan pernah bisa didebat oleh akting apa pun, Bu Citra. Tulis draf pertamanya malam ini, jalani alurnya, dan bersiaplah untuk menghidupkan kata-kata yang Anda tulis sendiri di depan lensa kamera kami dalam dua hari ke depan," jawab Bastian tanpa belas kasihan.

Citra berdiri dengan tubuh yang limbung, memeluk tas kainnya erat-erat seolah benda itu adalah perisai terakhirnya. Ia melangkah mundur menuju lift, membiarkan dirinya tenggelam dalam ironi paling kejam: dia adalah seorang penulis romansa yang kini dipaksa menulis dan memainkan naskah kehancuran hidupnya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Adegan di hentikan

    "Mulai!" teriak sutradara memberikan aba-aba mutlak dari balik monitor, sementara lensa kamera bergeser mendekat, menangkap setiap detail keringat dingin di pelipis Citra. Mau tak mau, Citra harus tunduk di bawah kendali sutradara dan cengkeraman tak kasat mata dari sang penguasa sindikat. Harga dirinya telah terkoyak habis, menyisakan keputusasaan yang teramat pekat di dalam dadanya. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga nyaris tak mampu mengendalikan jemarinya sendiri, Citra perlahan menarik kain tipis *lingerie* hitam yang membalut tubuhnya—menggesernya ke atas hingga menyingkap pahanya yang mulus. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit sebelum melafalkan dialog yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. "Kemarilah, Tuan... mari saya puaskan Anda," ucap Citra dengan suara bergetar parau, menatap nanar ke arah Xavier. "Asal... asal saya bisa membawa uang dalam koper ini untuk menyelamatkan anak saya." Xavier menikmati setiap detik pemandangan di hadapannya.

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Kenapa dia?

    Citra bangkit dengan tertatih. Wajahnya sembab, pucat, dan kusut berantakan. Ini sama sekali bukan ekspresi yang dibuat-buat demi tuntutan naskah; ini adalah retakan jiwa yang sesungguhnya dari seorang ibu yang terperangkap di dalam mimpi buruk. Matanya menyiratkan kepedihan yang teramat dalam, menatap kosong ke lantai studio yang dingin.Sutradara tidak menyia-nyiakan momen langka dan berharga tersebut. Melihat emosi mentah yang begitu nyata terpancar dari wajah Citra, ia segera memberikan instruksi tegas kepada juru kamera."Kamera tetap rolling! Jangan di-cut! Tangkap setiap detik ekspresi itu!" teriak sutradara dengan suara menggelegar di dalam studio.Mendengar aba-aba tersebut, aktor pria yang memerankan sang suami langsung kembali masuk ke dalam karakternya. Dengan gestur yang beringas, ia mencengkeram lengan atas Citra dengan kasar, menarik tubuh wanita yang lemas itu hingga kembali berdiri.Tanpa memberi kesempatan bagi Citra untuk menarik napas, tangan besar sang aktor merab

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Sakit dalam adegan

    Sutradara mengangkat tangannya kembali, memberikan aba-aba tegang kepada seluruh kru. "Kamera satu dan dua, siap... action!"Aktor pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang rasa gentarnya demi mengikuti instruksi mutlak dari sang pemilik gedung. Dengan ekspresi beringas yang dipaksakan, ia kembali melangkah mendekati Citra. Sebelum wanita itu sempat menghindar, tangan besar sang aktor melayang lebih cepat dan jauh lebih keras dari sebelumnya.*Plak!*Hantaman pukulan kedua itu telak mengenai sisi wajah Citra. Kali ini kekuatannya jauh melampaui batas wajar sebuah adegan sandiwara. Rasa sakit yang teramat sangat meledak di kepalanya, membuat telinganya berdenging hebat dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Citra kembali terjatuh ke lantai panggung yang keras, mengecap rasa amis darah segar yang kini mengalir semakin deras dari sudut bibirnya yang robek.Di balik monitor pengawas, Xavier menyandarkan punggungnya dengan santai. Senyuman tipis dan dingin terukir jelas di wajahn

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Adegan Kekerasan

    Tiba-tiba, pintu samping ruangan terbuka. Dua orang perempuan berpenampilan menarik dengan gaun malam yang pas badan melangkah masuk, mendorong sebuah gantungan baju beroda yang dipenuhi oleh berbagai pilihan pakaian minim dan tembus pandang.Citra menoleh dengan cepat ke arah mereka. Napasnya tertahan. "Apa ini?" tanyanya, suaranya mengeras karena tidak percaya.Salah satu wanita berambut panjang itu tersenyum tipis, merapikan gantungan baju di depannya. "Ini adalah beberapa pakaian yang akan Anda pakai nanti selama *shooting*, Bu Citra."Citra memandangi koleksi pakaian yang tergantung itu dengan mata membelalak. Bahan satin tipis, renda hitam yang provokatif, hingga potongan gaun yang teramat terbuka. "Apa? Kau tidak salah membawa baju-baju itu kan?" Citra menoleh tajam ke arah Xavier, napasnya mulai memburu. "Aku penulis naskah! Aku bukan model pakaian dalam!"Xavier, yang sejak tadi berdiri melipat tangan di dada, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. "Tentu saja tidak, *Sig

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    Penyerahan Naskah

    Suasana di depan ruang ICU terasa begitu mencekam. Waktu seolah berhenti berputar. Setelah perjuangan panjang tim medis di dalam, pintu ruangan akhirnya terbuka dan dokter spesialis penanggung jawab Nayla melangkah keluar dengan wajah kuyu dan penuh peluh. "Bu Citra..." suara dokter paruh baya itu terdengar berat. "Kondisi Nayla kritis. Racun dari sel kanker dan kegagalan fungsi organ tubuhnya menuntut tindakan operasi darurat malam ini juga. Kita butuh obat pengencer darah khusus dan prosedur medis lanjutan yang biayanya harus segera dilunasi pihak keluarga malam ini, atau kita akan kehilangan dia." Dunia Citra seakan runtuh seketika. Lututnya yang lemas membuatnya jatuh terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa menyakitkan. *Malam ini. Saat itu juga.* Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, Citra teringat pada laptop yang ia bawa dari rumah kontrakan. Benda ti

  • Kontrak Terlarang sang Penulis    cemas

    Citra melamun saat berada di depan ruang perawatan putrinya. Dia menatap Nayla yang berbaring dengan wajah pucat tak berdaya. Air matanya menetes. Membayangkan betapa sakit penderitaan yang dialami oleh anak kecil seusia 5 tahun. Dia yang seharusnya lincah dan aktif akan masuk ke taman sekolah kanak-kanak namun justru takdir berkata lain.Citra menghapus jejak air matanya yang terus mengalir. Berusaha menenangkan jiwanya lalu duduk di tepi ranjang Nayla."Sayang... maafkan mama. Mama belum bisa menjadi ibu yang terbaik buat kamu."Citra mengelus lembut puncak kepala Nayla. Dadanya begitu sesak saat mengingat perlakuan suaminya sendiri yang seakan tak peduli pada nasib anaknya. Citra juga kembali teringat pada kontrak terlarang yang sudah ia tanda-tangani.Ia mengusap pelan air matanya lalu bangkit keluar ruangan itu. Citra pulang untuk mengambil laptopnya di rumah. secepatnya ia harus membuat naskah yang di inginkan Bastian.Di rumah, Citra kembali bertemu dengan suaminya yang tengah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status