MasukPagi itu, sinar matahari menembus celah gorden ruang rawat inap, membawa kehangatan yang sedikit menenangkan hati Citra. Setelah memastikan Nayla menghabiskan bubur rumah sakit dan meminum obat penurun panasnya dengan benar, Citra mengusap lembut rambut putri kecilnya yang kini sudah mulai bisa tersenyum.
"Nayla pintar ya, Sayang. Mama harus pergi sebentar untuk urusan pekerjaan. Suster baik ini yang akan menjaga Nayla sementara waktu. Ibu tidak akan lama," bisik Citra lembut, mengecup kening putrinya. "Mama mau pergi ke mana?" suara cempreng itu keluar membuat Citra mengelus lembut kepala putrinya. "Mama ada kerjaan, sayang. Nayla di sini sama suster dulu ya? jangan nakal, tunggu mama kembali." "iya, ma," kata Nayla dengan suara yang masih lemah. Meski dalam keadaan berat, namun Citra harus segera pergi untuk mengurus pekerjaan baru nya. Citra sudah menitipkan Nayla kepada suster jaga di ruang perawat, memastikan bahwa sang buah hati tidak akan ditinggalkan sendirian. Dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan penuh harap, Citra melangkah keluar dari rumah sakit. Hari ini, langkah kakinya terasa begitu ringan. Ada letup antusiasme yang membuncah di dalam dadanya. Sepanjang jalan menuju alamat gedung yang dikirimkan oleh asisten misterius itu, Citra tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan indah yang akan terjadi. Dia sangat yakin bahwa ini adalah jawaban atas segala doa dan kerja kerasnya selama ini. Sebagai seorang penulis amatir yang selalu memegang teguh idealisme cerita romansa tulus dan emosional, dilirik oleh pihak eksklusif seperti Tuan Xavier adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Citra merasa bangga; dia percaya bahwa naskah romansanya memiliki potensi yang sangat besar, hingga seorang investor kaya raya bersedia memberikan uang muka sebesar dua ratus juta rupiah demi memintanya menulis naskah cerita eksklusif untuk beliau. Gedung Pratama VVIP berdiri kokoh mencakar langit kota, dilapisi kaca-kaca gelap yang memantulkan cahaya matahari pagi. Kemegahan gedung itu seolah menyambut masa depan baru yang cerah bagi perekonomian keluarga Citra. Sambil mendekap tas kainnya yang berisi catatan ide-ide cerita romansa terbaiknya, Citra melangkah masuk ke dalam lobi dengan senyuman yang merekah. Setelah menyebutkan namanya di meja resepsionis, Citra langsung diarahkan menuju lift khusus yang membawanya lurus ke lantai teratas—penthouse pribadi sekaligus ruang kerja Tuan Xavier. *Ting.* Pintu lift terbuka, langsung menghadap ke sebuah ruangan luas berdesain minimalis mewah dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan aksen kayu jati tua. Di balik sebuah meja kerja besar, seorang pria berpakaian setelan jas rapi berwajah formal sudah berdiri menyambutnya. "Ibu Citra? Saya Bastian, asisten pribadi Tuan Xavier yang menghubungi Anda semalam," ucap pria itu dengan suara datar namun penuh sopan santun profesional. "Benar, Pak Bastian. Terima kasih banyak atas kebaikan Tuan Xavier semalam. Berkat dana darurat itu, putri saya sudah mendapatkan penanganan terbaik," jawab Citra dengan mata berbinar penuh rasa syukur. "Saya sangat bersemangat untuk proyek ini. Saya sudah menyiapkan beberapa premis cerita romansa yang sangat kuat. Kira-kira naskah cerita seperti apa yang Tuan Xavier inginkan untuk saya tulis?" Bastian tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Citra datar, lalu menyodorkan sebuah map kulit hitam tebal yang tampak sangat eksklusif ke atas meja. "Sebelum kita membahas detail naskahnya secara mendalam, silakan Anda baca dan tanda tangani draf kontrak kerja sama resmi ini terlebih dahulu, Bu Citra. Karena uang muka dua ratus juta rupiah sudah masuk ke rekening Anda, secara hukum Anda sudah terikat dengan proyek ini," ujar Bastian tenang. "Tentu saja, Pak," jawab Citra tangkas. Dengan hati yang berbunga-bunga, Citra membuka map tersebut. Dia bersiap memandangi pasal-pasal yang dia kira akan meresmikan statusnya sebagai penulis naskah hebat. Namun, begitu matanya membaca lembar pertama, dahi Citra berkerut. Senyum di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh rasa bingung yang perlahan berubah menjadi kengerian. Di sana, pada salah satu pasal utama, tertulis dengan sangat jelas: 'Pihak Kedua wajib memvisualisasikan, memerankan, dan menghidupkan setiap adegan intim yang ditulis dalam naskah secara nyata di depan lensa kamera bersama perwakilan Pihak Pertama.' Citra mengerutkan kening, menatap Bastian dengan tawa canggung yang dipaksakan. "Maaf, Pak Bastian... saya rasa ada kesalahan cetak yang sangat fatal di dalam kontrak ini. Di sini tertulis... saya harus memerankan adegan intim di depan kamera? Saya ini seorang penulis novel romansa biasa, bukan seorang aktris. Dan saya tidak pernah menulis adegan dewasa." Bastian memperbaiki posisi duduknya, menatap Citra dengan tatapan dingin tanpa ada riak candaan sedikit pun. "Tidak ada kesalahan cetak, Bu Citra. Kontrak itu sudah sangat jelas. Proyek eksklusif yang diinginkan Tuan Xavier bukanlah sebuah novel romansa manis. Tuan Xavier menginginkan sebuah naskah film dewasa yang ditulis berdasarkan fantasi Anda, dan Anda sendiri yang harus menjadi pemeran utamanya." *DEG.* Bagai dihantam godam besar di siang bolong, seluruh dunia Citra serasa runtuh seketika. Antusiasme dan kebanggaan yang ia bawa sejak pagi menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa syok yang membuat tubuhnya mendadak kaku dan mual. "Maaf Pak Bastian, saya tidak bisa menerima pekerjaan ini. Ini bukan pekerjaan saya!" tolak Citra dengan keras. Suaranya bergetar, menahan kombinasi antara syok dan harga diri yang merasa terinjak-injak. Bastian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewah miliknya. Alih-alih marah, pria itu justru melayangkan senyuman tipis dan menjawabnya dengan santai. "Baik, Bu Citra. Kami tidak akan memaksa. Tuan Xavier sangat menyukai tulisan dan karya Anda yang sangat imajinatif. Karena itulah beliau memilih Anda. Ini bukan paksaan. Jika Anda tidak menerimanya, juga tidak apa-apa," ujar Bastian sembari mengetukkan jemarinya di atas meja ek tua. "Kembalikan saja dua ratus juta rupiah yang sudah kami transfer semalam." Mendengar hal itu, Citra sedikit mendongak, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Tentu saja, Pak. Saya akan mengembalikan uangnya. Saya baru menggunakan uang itu sebesar satu juta rupiah untuk biaya awal rumah sakit, dan saya akan segera mengembalikan seluruh sisanya sekarang juga." Citra langsung menyambar tas kainnya, hendak beranjak pergi dari tempat itu. Jiwa ambisius dan binar antusias yang semula menyertainya sejak pagi hari kini perlahan menguap, berubah sepenuhnya menjadi rasa kesal dan amarah yang membakar dada. Wanita itu benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa orang-orang kaya ini berpikir bahwa seorang penulis novel bisa dibeli untuk melakukan hal serendah itu? Menghidupkan visualisasi tulisannya sendiri di depan kamera? "Enak saja! Aku ini bukan artis!" ketus Citra, tidak mampu lagi menahan kejengkelannya sebelum melangkah ke pintu keluar. "Seharusnya kalian membayar artis atau model majalah dewasa untuk memerankannya! Anda salah alamat, Pak!" Bastian hanya menanggapi dengan raut wajah datar, seolah penolakan keras Citra sama sekali tidak memengaruhi harinya. "Baik, Bu Citra. Anda menolak, itu tidak masalah." Citra membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan ruang kerja megah itu. Pintu lift tertutup di belakangnya, mengakhiri pertemuan yang terasa seperti mimpi buruk tersebut. Begitu keluar dari area Gedung Pratama VVIP, angin siang langsung menerpa wajah Citra yang memerah karena emosi. Perasaan kesal bercampur dongkol masih berkecamuk di dalam hatinya. Ia memutuskan untuk segera kembali ke rumah sakit tempat Nayla dirawat. Sembari berjalan menuju halte angkutan umum, pikiran Citra mulai terbagi. Kemarahan di dadanya perlahan menyusut, digantikan oleh rasa pening yang mulai mendera. Sekarang, fokusnya adalah bagaimana cara tercepat untuk mencari pinjaman uang sebesar satu juta rupiah demi menggenapi angka dua ratus juta yang harus ia kembalikan ke rekening Tuan Xavier. Dia harus bersih dari urusan orang-orang aneh itu secepatnya."Mulai!" teriak sutradara memberikan aba-aba mutlak dari balik monitor, sementara lensa kamera bergeser mendekat, menangkap setiap detail keringat dingin di pelipis Citra. Mau tak mau, Citra harus tunduk di bawah kendali sutradara dan cengkeraman tak kasat mata dari sang penguasa sindikat. Harga dirinya telah terkoyak habis, menyisakan keputusasaan yang teramat pekat di dalam dadanya. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga nyaris tak mampu mengendalikan jemarinya sendiri, Citra perlahan menarik kain tipis *lingerie* hitam yang membalut tubuhnya—menggesernya ke atas hingga menyingkap pahanya yang mulus. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit sebelum melafalkan dialog yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. "Kemarilah, Tuan... mari saya puaskan Anda," ucap Citra dengan suara bergetar parau, menatap nanar ke arah Xavier. "Asal... asal saya bisa membawa uang dalam koper ini untuk menyelamatkan anak saya." Xavier menikmati setiap detik pemandangan di hadapannya.
Citra bangkit dengan tertatih. Wajahnya sembab, pucat, dan kusut berantakan. Ini sama sekali bukan ekspresi yang dibuat-buat demi tuntutan naskah; ini adalah retakan jiwa yang sesungguhnya dari seorang ibu yang terperangkap di dalam mimpi buruk. Matanya menyiratkan kepedihan yang teramat dalam, menatap kosong ke lantai studio yang dingin.Sutradara tidak menyia-nyiakan momen langka dan berharga tersebut. Melihat emosi mentah yang begitu nyata terpancar dari wajah Citra, ia segera memberikan instruksi tegas kepada juru kamera."Kamera tetap rolling! Jangan di-cut! Tangkap setiap detik ekspresi itu!" teriak sutradara dengan suara menggelegar di dalam studio.Mendengar aba-aba tersebut, aktor pria yang memerankan sang suami langsung kembali masuk ke dalam karakternya. Dengan gestur yang beringas, ia mencengkeram lengan atas Citra dengan kasar, menarik tubuh wanita yang lemas itu hingga kembali berdiri.Tanpa memberi kesempatan bagi Citra untuk menarik napas, tangan besar sang aktor merab
Sutradara mengangkat tangannya kembali, memberikan aba-aba tegang kepada seluruh kru. "Kamera satu dan dua, siap... action!"Aktor pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang rasa gentarnya demi mengikuti instruksi mutlak dari sang pemilik gedung. Dengan ekspresi beringas yang dipaksakan, ia kembali melangkah mendekati Citra. Sebelum wanita itu sempat menghindar, tangan besar sang aktor melayang lebih cepat dan jauh lebih keras dari sebelumnya.*Plak!*Hantaman pukulan kedua itu telak mengenai sisi wajah Citra. Kali ini kekuatannya jauh melampaui batas wajar sebuah adegan sandiwara. Rasa sakit yang teramat sangat meledak di kepalanya, membuat telinganya berdenging hebat dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Citra kembali terjatuh ke lantai panggung yang keras, mengecap rasa amis darah segar yang kini mengalir semakin deras dari sudut bibirnya yang robek.Di balik monitor pengawas, Xavier menyandarkan punggungnya dengan santai. Senyuman tipis dan dingin terukir jelas di wajahn
Tiba-tiba, pintu samping ruangan terbuka. Dua orang perempuan berpenampilan menarik dengan gaun malam yang pas badan melangkah masuk, mendorong sebuah gantungan baju beroda yang dipenuhi oleh berbagai pilihan pakaian minim dan tembus pandang.Citra menoleh dengan cepat ke arah mereka. Napasnya tertahan. "Apa ini?" tanyanya, suaranya mengeras karena tidak percaya.Salah satu wanita berambut panjang itu tersenyum tipis, merapikan gantungan baju di depannya. "Ini adalah beberapa pakaian yang akan Anda pakai nanti selama *shooting*, Bu Citra."Citra memandangi koleksi pakaian yang tergantung itu dengan mata membelalak. Bahan satin tipis, renda hitam yang provokatif, hingga potongan gaun yang teramat terbuka. "Apa? Kau tidak salah membawa baju-baju itu kan?" Citra menoleh tajam ke arah Xavier, napasnya mulai memburu. "Aku penulis naskah! Aku bukan model pakaian dalam!"Xavier, yang sejak tadi berdiri melipat tangan di dada, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. "Tentu saja tidak, *Sig
Suasana di depan ruang ICU terasa begitu mencekam. Waktu seolah berhenti berputar. Setelah perjuangan panjang tim medis di dalam, pintu ruangan akhirnya terbuka dan dokter spesialis penanggung jawab Nayla melangkah keluar dengan wajah kuyu dan penuh peluh. "Bu Citra..." suara dokter paruh baya itu terdengar berat. "Kondisi Nayla kritis. Racun dari sel kanker dan kegagalan fungsi organ tubuhnya menuntut tindakan operasi darurat malam ini juga. Kita butuh obat pengencer darah khusus dan prosedur medis lanjutan yang biayanya harus segera dilunasi pihak keluarga malam ini, atau kita akan kehilangan dia." Dunia Citra seakan runtuh seketika. Lututnya yang lemas membuatnya jatuh terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa menyakitkan. *Malam ini. Saat itu juga.* Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, Citra teringat pada laptop yang ia bawa dari rumah kontrakan. Benda ti
Citra melamun saat berada di depan ruang perawatan putrinya. Dia menatap Nayla yang berbaring dengan wajah pucat tak berdaya. Air matanya menetes. Membayangkan betapa sakit penderitaan yang dialami oleh anak kecil seusia 5 tahun. Dia yang seharusnya lincah dan aktif akan masuk ke taman sekolah kanak-kanak namun justru takdir berkata lain.Citra menghapus jejak air matanya yang terus mengalir. Berusaha menenangkan jiwanya lalu duduk di tepi ranjang Nayla."Sayang... maafkan mama. Mama belum bisa menjadi ibu yang terbaik buat kamu."Citra mengelus lembut puncak kepala Nayla. Dadanya begitu sesak saat mengingat perlakuan suaminya sendiri yang seakan tak peduli pada nasib anaknya. Citra juga kembali teringat pada kontrak terlarang yang sudah ia tanda-tangani.Ia mengusap pelan air matanya lalu bangkit keluar ruangan itu. Citra pulang untuk mengambil laptopnya di rumah. secepatnya ia harus membuat naskah yang di inginkan Bastian.Di rumah, Citra kembali bertemu dengan suaminya yang tengah







