로그인Citra tidak langsung membalas pesan di ponselnya. Pikirannya masih waras untuk mendahulukan nyawa Nayla di atas segalanya. Sambil mendekap erat tubuh putrinya yang semakin lemas, Citra mempercepat langkah, setengah berlari menuju rumah Pak RT di ujung kompleks. Air mata kemarahan dan ketakutan menyatu, membasahi wajahnya yang pucat.
Sesampainya di depan rumah Pak RT, Citra langsung menggedor pagar besi dengan sisa-sisa tenaganya. "Pak RT! Tolong, Pak! Ini Citra... Nayla sakit parah!" jerit Citra dengan suara serak. Beruntung, Pak RT yang memang dikenal cekatan dan berjiwa sosial tinggi belum sepenuhnya terlelap karena baru saja selesai meronda. Mendengar teriakan panik dari warganya, beliau segera membuka pintu dan terkejut melihat kondisi Citra yang berantakan dengan anak dalam dekapannya. "Astaga, Mbak Citra! Ini anaknya kenapa? Panas sekali badannya!" ujar Pak RT panik setelah menyentuh lengan kecil Nayla yang meracau. Tanpa banyak tanya mengenai keberadaan Rian, Pak RT langsung mengambil kunci mobilnya di dalam rumah. "Ayo, Mbak, cepat masuk ke mobil. Kita bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah sekarang. Kalau ke klinik jam segini takutnya dokternya tidak ada." Kebaikan Pak RT menjadi malaikat pelindung bagi Citra malam itu. Sepanjang perjalanan, Pak RT memacu mobilnya membelah jalanan kota yang sepi. Sementara Citra tak henti-hentinya membisikkan doa dan kata-kata penenang di telinga Nayla, berharap putri kecilnya bisa bertahan sedikit lagi. Sesampainya di ruang Unit Gawat Darurat (UGD), tim medis langsung bergerak cepat. Nayla segera dipasangi kompres, infus, dan diberikan obat penurun panas melalui suntikan. Dokter menjelaskan bahwa Nayla mengalami kejang demam akibat infeksi akut dan harus menjalani rawat inap intensif untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah mengurus administrasi awal—yang untungnya dibantu terlebih dahulu oleh jaminan Pak RT, Citra akhirnya bisa bernapas sedikit lega. Di dalam ruang rawat inap yang sunyi, ia memandangi wajah putrinya yang kini mulai tertidur pulas dengan selang infus menempel di tangan mungilnya. Pak RT yang melihat situasi sudah terkendali kemudian berpamitan. "Mbak Citra, saya pamit pulang dulu, ya. Uang muka administrasi tadi pakai uang kas RT dulu, jangan dipikirkan sekarang. Yang penting Nayla ditangani. Kalau ada apa-apa, hubungi saya." "Terima kasih banyak, Pak RT. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bapak," ucap Citra tulus sambil membungkuk hormat. Setelah pintu kamar rawat tertutup dan menyisakan kesunyian, Citra terduduk lemas di sofa samping ranjang pasien. Rasa lelah yang luar biasa menghantam tubuhnya, namun pikirannya justru semakin berputar kencang. Ia tahu, biaya rawat inap, penebusan obat, dan tes laboratorium lanjutan akan memakan biaya yang sangat besar. Uang kas RT tentu tidak akan cukup untuk menutupi semuanya, dan ia tidak mungkin terus-menerus merepotkan tetangga. Citra meraba saku gamisnya, mengeluarkan ponsel usang berlayar retak yang sejak tadi bergetar. Ia menatap deretan pesan dari nomor misterius yang mengaku sebagai asisten dari agensi/pihak investor itu. Di kepalanya, Citra masih berpikir positif. Pria misterius itu pasti menyukai gaya penulisan novel romansanya yang penuh dengan idealisme dan ketulusan rasa. Citra yakin, kemampuan menulisnya yang memenangkan hati mereka. Dengan jemari yang kini lebih tenang, Citra mengetik balasan: "Maaf baru membalas, tadi saya harus mengurus putri saya di rumah sakit. Saya tertarik dengan penawaran Anda mengenai penulisan naskah. Bisakah kita bicarakan lebih lanjut naskah cerita seperti apa yang Anda inginkan dari saya?" Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponsel Citra kembali bergetar. Sebuah balasan masuk dari sang asisten, namun isinya masih sangat samar dan penuh rahasia. "Detail mengenai genre, jalan cerita, dan konsep naskah tidak bisa kami bicarakan melalui pesan singkat. Ini adalah proyek eksklusif dan rahasia berskala besar. Atasan kami, Tuan Xavier, yang akan menjelaskan langsung naskah seperti apa yang harus Anda tulis." Sebelum Citra sempat mengetik pertanyaan lanjutan, sebuah pesan baru masuk lagi dari nomor tersebut. "Sebagai tanda keseriusan awal dari pihak kami untuk mengikat kerja sama ini, uang muka sebesar Rp 200 juta telah kami transfer ke rekening Anda. Anggap saja ini dana darurat untuk pengobatan putri Anda. Besok pagi jam 10.00, datanglah ke Penthouse lantai teratas Gedung Pratama VVIP untuk menemui saya terlebih dahulu sebelum menghadap Tuan Xavier. Jangan terlambat." Citra tertegun. Sebuah notifikasi m-banking tiba-tiba muncul di layar atas ponselnya, menunjukkan saldo masuk dengan angka nol yang sangat banyak. Dua ratus juta rupiah nyata berada di rekeningnya. Jantung Citra berdegup kencang. Ada rasa lega yang luar biasa karena biaya rumah sakit anaknya kini terjamin, namun ada kilatan firasat aneh yang menyelinap di hatinya. Mengapa ada orang yang sudi memberikan uang sebesar ini hanya untuk sebuah naskah yang bahkan belum ditentukan judul dan temanya? Citra meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini mungkin hanya metode kerja orang-orang kaya yang eksentrik. Citra benar-benar buta. Dia mengira dia hanya dikontrak untuk duduk di depan laptop dan mengetik sebuah cerita romansa baru yang indah. "Aku harus positif thinking, aku yakin ini adalah rejeki yang Tuhan kirimkan untuk kami. Mas Rian menjauhi kami bahkan dia lepas tanggung jawab. Dan, Alhamdulillah... setidaknya Tuhan mengirimkan rejeki melalui jalan lain," batinnya. citra melangkah mendekati putrinya yang masih terbaring lemah dengan selang infus menempel di hidung. "Cepat sembuh sayang. Jangan buat mama panik. Kamu adalah satu satunya cinta yang mama punya." Tangis Citra pecah, tangannya meraih tangan mungil Nayla dan menciumnya. "Nayla jangan takut, mama akan terus berjuang untuk Nay... sampai Nay benar benar sembuh. Doain Mama ya, nak." Citra mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan ciuman hangat di kepala Nayla. Namun bocah itu masih diam tanpa banyak bergerak. Dokter baru saja memberikan suntikan penenang melalui selang infus yang terpasang di tangannya. Setelah kondisi Nayla sedikit membaik, pikiran Citra kembali tertuju pada kesepakatan misterius itu. Uang muka sebesar dua ratus juta rupiah telah masuk ke rekeningnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka layar ponsel sekali lagi, memastikan bahwa nominal itu benar-benar ada. Matanya membelalak pelan. Saldo rekeningnya bertambah drastis. "Terima kasih, Ya Tuhan... Engkau sudah menyelamatkan putriku," gumamnya lirih dalam doa. Citra menggenggam tangan kecil Nayla dengan erat. Jemarinya dingin, namun napas anak itu kini jauh lebih teratur dibanding beberapa jam lalu. "Mama janji, Sayang... demi kesembuhan Nayla, mama akan melakukan apa saja. Asal Nayla bisa sembuh. Kalau bukan mama yang memperjuangkan kamu, lalu siapa lagi?" suaranya bergetar. "Mama sudah tidak bisa mengandalkan papa kamu lagi. Semoga kita bisa melewati semua ini." Setitik air mata jatuh di pipi sendu wanita itu. Raut lelah begitu jelas menghiasi wajahnya akibat kurang tidur selama berhari-hari. Bahkan lingkar hitam di bawah matanya tak lagi mampu disembunyikan. Ruang rawat itu kembali sunyi. Hanya suara detak monitor dan tetesan infus yang terdengar pelan memenuhi ruangan. Tak lama, ia pun terlelap di samping ranjang putrinya."Mulai!" teriak sutradara memberikan aba-aba mutlak dari balik monitor, sementara lensa kamera bergeser mendekat, menangkap setiap detail keringat dingin di pelipis Citra. Mau tak mau, Citra harus tunduk di bawah kendali sutradara dan cengkeraman tak kasat mata dari sang penguasa sindikat. Harga dirinya telah terkoyak habis, menyisakan keputusasaan yang teramat pekat di dalam dadanya. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga nyaris tak mampu mengendalikan jemarinya sendiri, Citra perlahan menarik kain tipis *lingerie* hitam yang membalut tubuhnya—menggesernya ke atas hingga menyingkap pahanya yang mulus. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit sebelum melafalkan dialog yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. "Kemarilah, Tuan... mari saya puaskan Anda," ucap Citra dengan suara bergetar parau, menatap nanar ke arah Xavier. "Asal... asal saya bisa membawa uang dalam koper ini untuk menyelamatkan anak saya." Xavier menikmati setiap detik pemandangan di hadapannya.
Citra bangkit dengan tertatih. Wajahnya sembab, pucat, dan kusut berantakan. Ini sama sekali bukan ekspresi yang dibuat-buat demi tuntutan naskah; ini adalah retakan jiwa yang sesungguhnya dari seorang ibu yang terperangkap di dalam mimpi buruk. Matanya menyiratkan kepedihan yang teramat dalam, menatap kosong ke lantai studio yang dingin.Sutradara tidak menyia-nyiakan momen langka dan berharga tersebut. Melihat emosi mentah yang begitu nyata terpancar dari wajah Citra, ia segera memberikan instruksi tegas kepada juru kamera."Kamera tetap rolling! Jangan di-cut! Tangkap setiap detik ekspresi itu!" teriak sutradara dengan suara menggelegar di dalam studio.Mendengar aba-aba tersebut, aktor pria yang memerankan sang suami langsung kembali masuk ke dalam karakternya. Dengan gestur yang beringas, ia mencengkeram lengan atas Citra dengan kasar, menarik tubuh wanita yang lemas itu hingga kembali berdiri.Tanpa memberi kesempatan bagi Citra untuk menarik napas, tangan besar sang aktor merab
Sutradara mengangkat tangannya kembali, memberikan aba-aba tegang kepada seluruh kru. "Kamera satu dan dua, siap... action!"Aktor pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang rasa gentarnya demi mengikuti instruksi mutlak dari sang pemilik gedung. Dengan ekspresi beringas yang dipaksakan, ia kembali melangkah mendekati Citra. Sebelum wanita itu sempat menghindar, tangan besar sang aktor melayang lebih cepat dan jauh lebih keras dari sebelumnya.*Plak!*Hantaman pukulan kedua itu telak mengenai sisi wajah Citra. Kali ini kekuatannya jauh melampaui batas wajar sebuah adegan sandiwara. Rasa sakit yang teramat sangat meledak di kepalanya, membuat telinganya berdenging hebat dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Citra kembali terjatuh ke lantai panggung yang keras, mengecap rasa amis darah segar yang kini mengalir semakin deras dari sudut bibirnya yang robek.Di balik monitor pengawas, Xavier menyandarkan punggungnya dengan santai. Senyuman tipis dan dingin terukir jelas di wajahn
Tiba-tiba, pintu samping ruangan terbuka. Dua orang perempuan berpenampilan menarik dengan gaun malam yang pas badan melangkah masuk, mendorong sebuah gantungan baju beroda yang dipenuhi oleh berbagai pilihan pakaian minim dan tembus pandang.Citra menoleh dengan cepat ke arah mereka. Napasnya tertahan. "Apa ini?" tanyanya, suaranya mengeras karena tidak percaya.Salah satu wanita berambut panjang itu tersenyum tipis, merapikan gantungan baju di depannya. "Ini adalah beberapa pakaian yang akan Anda pakai nanti selama *shooting*, Bu Citra."Citra memandangi koleksi pakaian yang tergantung itu dengan mata membelalak. Bahan satin tipis, renda hitam yang provokatif, hingga potongan gaun yang teramat terbuka. "Apa? Kau tidak salah membawa baju-baju itu kan?" Citra menoleh tajam ke arah Xavier, napasnya mulai memburu. "Aku penulis naskah! Aku bukan model pakaian dalam!"Xavier, yang sejak tadi berdiri melipat tangan di dada, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. "Tentu saja tidak, *Sig
Suasana di depan ruang ICU terasa begitu mencekam. Waktu seolah berhenti berputar. Setelah perjuangan panjang tim medis di dalam, pintu ruangan akhirnya terbuka dan dokter spesialis penanggung jawab Nayla melangkah keluar dengan wajah kuyu dan penuh peluh. "Bu Citra..." suara dokter paruh baya itu terdengar berat. "Kondisi Nayla kritis. Racun dari sel kanker dan kegagalan fungsi organ tubuhnya menuntut tindakan operasi darurat malam ini juga. Kita butuh obat pengencer darah khusus dan prosedur medis lanjutan yang biayanya harus segera dilunasi pihak keluarga malam ini, atau kita akan kehilangan dia." Dunia Citra seakan runtuh seketika. Lututnya yang lemas membuatnya jatuh terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa menyakitkan. *Malam ini. Saat itu juga.* Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, Citra teringat pada laptop yang ia bawa dari rumah kontrakan. Benda ti
Citra melamun saat berada di depan ruang perawatan putrinya. Dia menatap Nayla yang berbaring dengan wajah pucat tak berdaya. Air matanya menetes. Membayangkan betapa sakit penderitaan yang dialami oleh anak kecil seusia 5 tahun. Dia yang seharusnya lincah dan aktif akan masuk ke taman sekolah kanak-kanak namun justru takdir berkata lain.Citra menghapus jejak air matanya yang terus mengalir. Berusaha menenangkan jiwanya lalu duduk di tepi ranjang Nayla."Sayang... maafkan mama. Mama belum bisa menjadi ibu yang terbaik buat kamu."Citra mengelus lembut puncak kepala Nayla. Dadanya begitu sesak saat mengingat perlakuan suaminya sendiri yang seakan tak peduli pada nasib anaknya. Citra juga kembali teringat pada kontrak terlarang yang sudah ia tanda-tangani.Ia mengusap pelan air matanya lalu bangkit keluar ruangan itu. Citra pulang untuk mengambil laptopnya di rumah. secepatnya ia harus membuat naskah yang di inginkan Bastian.Di rumah, Citra kembali bertemu dengan suaminya yang tengah







