Share

Bab 121. Pergi!

last update publish date: 2026-06-10 20:54:11

Sementara itu, jauh dari kemegahan gedung tempat akad berlangsung, Fahri sedang duduk santai di ruang tamu rumah orang tua Nayla. Televisi menyala menemani suasana pagi, sementara Nayla dan ibunya sibuk di dapur menyiapkan makanan. Fahri tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik layar televisi tanpa minat. Namun tiba-tiba sebuah tayangan siaran langsung pernikahan menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai kamera menyorot wajah pengantin wanita.

Fahri langsung membek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 122. Hari bahagia khalisa

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 121. Pergi!

    Sementara itu, jauh dari kemegahan gedung tempat akad berlangsung, Fahri sedang duduk santai di ruang tamu rumah orang tua Nayla. Televisi menyala menemani suasana pagi, sementara Nayla dan ibunya sibuk di dapur menyiapkan makanan. Fahri tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik layar televisi tanpa minat. Namun tiba-tiba sebuah tayangan siaran langsung pernikahan menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai kamera menyorot wajah pengantin wanita.Fahri langsung membeku. Ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya."Tunggu..." gumamnya pelan sambil menyipitkan mata. "Nggak mungkin..."Ia duduk tegak dan menatap layar tanpa berkedip. Dadanya mulai berdebar kencang."Itu... itu Khalisa?"Fahri langsung berdiri dan mendekati televisi. Semakin dekat ia melihat, semakin jelas wajah perempuan itu, dan semakin sulit baginya menyangkal kenyataan."Itu Khalisa..." lirihnya. "Tidak mungkin."Matanya membesar saat melihat sosok perempuan yang pernah menjadi istrinya itu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 120. Haru

    Khalisa berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang masih terdengar di sekitarnya. Ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Hari ini bukan tentang penilaian orang lain. Hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Seorang wanita berpakaian rapi yang sejak tadi berdiri di dekat pelaminan berjalan mendekat. "Silakan, Bu Khalisa." Wanita itu tersenyum hangat lalu menuntunnya menuju tempat duduk yang telah disiapkan. Khalisa kembali dibuat terkejut. Tempat duduk itu berada di bagian depan ruangan dengan dekorasi yang sangat mewah. Bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Lampu kristal menggantung indah di atas kepala. Semuanya tampak elegan tanpa terlihat berlebihan. Ia duduk perlahan. Dari tempat itu, ia bisa melihat dengan jelas area akad yang berada tidak jauh di depannya. Sementara itu, Zidan berjalan menuju meja akad. Langkahnya tenang dan mantap. Pria itu mengenakan setelan putih gading yang membuat penampilannya semakin berwibawa. Para tamu memperh

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 119. Hari pernikahan

    Perjalanan menuju lokasi acara berlangsung dalam suasana yang penuh rasa penasaran.Khalisa duduk di kursi belakang mobil mewah itu bersama Tami, Nadia, Dinda, dan Tante Rina. Sejak meninggalkan rumah, jantungnya tidak pernah benar-benar tenang.Entah sudah berapa kali ia menatap keluar jendela.Entah sudah berapa kali pula ia mengingat kembali percakapannya dengan Zidan beberapa minggu terakhir.Bukankah mereka sudah sepakat?Akad sederhana.Hanya keluarga dan kerabat dekat.Tidak perlu berlebihan.Tidak perlu pesta besar.Namun semakin dekat ke hari pernikahan, semakin banyak kejutan yang muncul satu per satu.Mulai dari butik pengantin mahal.Tim MUA profesional.Mobil mewah yang menjemputnya pagi ini.Dan sekarang...Mobil yang mereka tumpangi perlahan memasuki area sebuah gedung megah yang berdiri di pusat kota.Khalisa langsung membelalakkan mata.Di halaman gedung itu sudah berjejer puluhan mobil mewah.Beberapa pria berjas dan wanita berpakaian elegan tampak berjalan keluar ma

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 118. Jemputan spesial

    Tim MUA itu benar-benar profesional. Sejak Khalisa duduk di depan meja rias, mereka bekerja dengan sangat hati-hati. Salah satu perias utama bahkan beberapa kali memuji kulit wajah Khalisa yang terawat alami. "Masyaallah, Mbak Khalisa cantik sekali. Jarang kami dapat pengantin dengan kulit sebersih ini," puji salah seorang anggota tim. Khalisa hanya tersenyum malu. "Ah, biasa saja." "Bukan biasa, Mbak. Wajah Mbak memang fotogenik. Bahkan tanpa make up pun sudah cantik." Ucapan itu membuat Tami yang berdiri di belakang ikut tersenyum bangga. Proses rias berlangsung hampir dua jam. Sedikit demi sedikit wajah Khalisa berubah semakin anggun. Namun para perias sengaja tidak membuat riasan yang berlebihan. Mereka mempertahankan kecantikan alami Khalisa sehingga hasil akhirnya terlihat elegan dan berkelas. Di tengah kesibukan itu, suara mobil kembali terdengar dari luar rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka. "Nad!" Khalisa langsung tersenyum lebar. Nadia masuk sambil me

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 117. MUA untuk khalisa

    Khalisa masih berdiri beberapa saat di halaman rumah. Udara malam terasa semakin sejuk setelah kepergian Laila dan Arini. Jalanan di depan rumah kembali sepi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas dari kejauhan. Di sampingnya, Zidan menatap lurus ke depan sebelum akhirnya membuka suara. "Jangan sedih." Khalisa menoleh pelan. "Dan jangan dengarkan omongan orang." Nada suara Zidan tetap tenang seperti biasanya. Tidak terdengar seperti sedang menasihati, apalagi menggurui. Ia hanya menyampaikan kalimat sederhana yang keluar dari ketulusannya. Khalisa tersenyum tipis. "Iya." Hanya itu jawabannya. Namun Zidan tahu perempuan itu mengerti maksudnya. Khalisa kemudian melangkah menuju teras rumah. Tami dan Yono yang sejak tadi memperhatikan dari depan pintu langsung menghampiri mereka. "Masuk dulu, Nak," ujar Tami hangat. Yono ikut mengangguk. "Iya, sudah malam juga." Namun Zidan menggeleng pelan. "Gak usah, Tante. Om. Saya mau langsung pulang."

  • Ku Miskinkan Suamiku   22. Silahkan pergi!

    Nayla masih terisak ketika Fahri tiba-tiba meledak.“Cukup!” bentaknya sambil melangkah ke tengah ruangan. Dadanya naik turun. Wajahnya memerah. “Ini urusan rumah tanggaku. Tante jangan ikut campur!”Bu Rina menatapnya lurus. Tidak terkejut. Tidak mundur.“Kalau kamu pikir ini masih sekadar urusan

  • Ku Miskinkan Suamiku   21. Perdebatan

    Khalisa berdiri di depan kulkas dengan pintu terbuka lebar. Ia menatap rak-rak kosong itu cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang terlewat oleh matanya. Padahal ia ingat betul, kemarin malam ia masih menyusun camilan—pudding, roti, beberapa kotak makanan ringan—semuanya ia simpan rapi.Pintu k

  • Ku Miskinkan Suamiku   20. Menunggu Fahri pulang

    Nayla melangkah cepat ke arah Laila. Tangannya mencengkeram lengan perempuan itu seolah mencari perlindungan. Wajahnya dibuat setengah pucat, setengah memelas.“Bu,” katanya dengan suara dilembutkan, “orang asing itu sudah bilangin aku macam-macam. Aku bisa stres, Bu. Padahal aku lagi hamil.”Ia me

  • Ku Miskinkan Suamiku   17. Diam!

    Keesokan paginya, rumah itu kembali hidup sejak subuh—bukan oleh kehangatan, tapi oleh kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar berubah. Khalisa turun dari kamar dengan langkah tenang. Ia sudah rapi. Gamis sederhana berwarna netral membalut tubuhnya, dipadukan dengan kerudung yang jatuh bersih m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status