Inicio / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 42. Support buat khalisa

Compartir

42. Support buat khalisa

last update Fecha de publicación: 2026-01-15 06:44:28

Malam itu Khalisa baru benar-benar berhenti bergerak ketika jam di ponselnya menunjukkan hampir sebelas. Ia duduk di lantai ruko, punggung bersandar ke dinding yang masih dingin. Tangannya pegal. Kakinya terasa berat. Tapi kepalanya justru terasa penuh oleh rencana-rencana yang belum selesai. Lelah, iya. Tapi jenis lelah yang membuat seseorang merasa hidup. Hari itu melelahkan sekaligus menyenangkan. Khalisa menatap sekeliling. Lemari kaca sudah berdiri. Gantungan baju tersusun rapi meski masih
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 106.

    Biasanya, setelah pertemuan penting seperti tadi, seseorang akan kembali menghubunginya. Sekadar bertanya apakah ia sudah makan, sudah beristirahat, atau memastikan keadaannya baik-baik saja.Namun Zidan tidak.Pria itu seolah menghilang begitu saja setelah menyampaikan keseriusannya.Khalisa mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan dagunya di atas lutut. Angin malam terasa semakin dingin menyapu teras lantai dua tempatnya duduk sendiri.Dari bawah masih terdengar suara Tami yang sedang berbicara di telepon dengan beberapa kerabat. Sesekali terdengar tawa kecil penuh kelegaan.Sementara Khalisa justru sibuk dengan pikirannya sendiri.Ia kembali membuka profil Zidan.Tetap sama.Foto profil kosong.Tidak ada bio.Tidak ada status.Bahkan unggahan media sosialnya pun hampir tidak ada.“Ini orang hidupnya isinya kerja doang apa gimana…” gumamnya pelan.Tanpa sadar, rasa penasarannya justru semakin besar.Jemarinya sempat berhenti di kolom chat. Beberapa kali ia ingin mengetik lebih dul

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 105. Menghargai

    Percakapan di ruang tamu masih berlanjut, tetapi suasananya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Sesekali terdengar suara Tami dan Ibu Halimah yang mulai membahas hal-hal sederhana tentang persiapan acara. Yono lebih banyak diam sambil sesekali mengangguk, mendengarkan pembicaraan dengan wajah serius namun lebih rileks.Sementara itu, Khalisa hanya duduk memperhatikan.Pikirannya perlahan mengikuti arah pembicaraan yang sejak tadi terasa begitu nyata.Pernikahan.Kata itu kini bukan lagi sesuatu yang jauh atau sekadar bayangan.Di tengah obrolan, Zidan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara.“Baik, Bu… Om, Tante,” ucapnya tenang.Semua langsung menoleh ke arahnya.“Kali ini biarkan saya yang menentukan konsep pernikahan kami.”Kalimat itu diucapkan sederhana, tanpa nada berlebihan. Namun cukup membuat suasana hening sesaat.Khalisa ikut menoleh. Tatapannya tertahan pada Zidan beberapa detik. Ia tidak menyangka pria itu akan mengatakan hal seperti itu.Yono terseny

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 104. Terima dengan ikhlas

    Yono memecah keheningan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu.“Bagaimana dengan Khalisa?”Suasana kembali hening. Semua mata tertuju pada Khalisa.Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha menenangkan gugup yang sejak tadi ia sembunyikan. Tatapannya jatuh pada Zidan.Pria itu juga sedang menatapnya.Tenang.Lurus.Tidak mendesak, tetapi penuh keseriusan.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Seolah hanya ada tatapan mereka berdua di tengah ruangan itu.Khalisa mencoba mencari keraguan di wajah Zidan.Namun yang ia temukan justru keteguhan.Tidak ada janji manis.Tidak ada rayuan berlebihan.Tetapi cara Zidan menatapnya membuat Khalisa merasa dihargai dan diperlakukan dengan sungguh-sungguh.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian menghadapi hidupnya.Khalisa menarik napas perlahan.Lalu dengan suara pelan, tetapi jelas, ia berkata,“Aku terima, Om.”Hening sesaat memenuhi ruangan.Tatapan Khalisa belum le

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 103. Meminang

    Khalisa masih menggenggam lengan Zidan. Tatapannya tertuju pada wajah pria itu—ada luka tipis di sudut bibirnya, tetapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada amarah, tidak pula emosi yang berlebihan. Justru ketenangan itu membuat Khalisa terdiam lebih lama. Ia menyadari, sikap Zidan bukan sekadar diam, melainkan bentuk kendali diri yang ia pilih.“Ayo masuk,” ucap Khalisa pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut. Ia kemudian menoleh ke arah ibu Zidan. “Tante, silakan.”Ibu Zidan mengangguk kecil. Raut wajahnya tetap tenang, meski jelas ia menyaksikan semua yang terjadi sejak awal. Tanpa banyak bicara, Zidan melangkah masuk. Sebelum itu, ia sempat melirik sekilas ke arah Adit—singkat, datar, lalu berlalu begitu saja.“Cemen lu!”Suara Adit terdengar keras dari belakang, sengaja dilontarkan untuk memancing. Langkah Khalisa sempat terhenti. Ia menoleh.Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Khalisa benar-benar melihat Adit dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sosok yang pernah ia tungg

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 102. Perkelahian

    Adit membeku di tempatnya.Wajahnya yang tadi tegang perlahan memucat. Tatapannya berpindah dari meja yang penuh hidangan… ke Khalisa… lalu ke Yono.“Khalisa… aku minta maaf,” ucapnya cepat. “Kemarin keadaannya mendesak.”Tidak ada yang langsung menjawab.Sebelum Khalisa sempat berbicara—“Cukup.”Suara Yono tegas. Tidak keras, tapi langsung menghentikan suasana.“Sekarang kamu pergi dari sini.”Adit menelan ludah, tapi tidak mundur.“Om, saya tahu saya salah. Tapi saya harus jelasin semuanya.”“Tidak perlu penjelasan lagi,” potong Yono, lebih dingin.Adit mengepalkan tangan. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia tetap bertahan.“Khalisa belum dengar dari saya, Om. Dia berhak tahu.”Yono melangkah satu langkah mendekat.“Yang dia butuh itu kehadiran kamu kemarin. Bukan penjelasan hari ini.”Adit terdiam sesaat.Lalu suaranya mulai naik. “Kemarin itu bukan hal sepele. Saya gak mungkin ninggalin semuanya kalau bukan karena penting.”Tami menggeleng kesal. “Semua orang punya masalah. Tap

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 101. Terlambat

    Setelah pembicaraan tentang lamaran selesai, suasana ruang tamu kembali tenang. Tidak ada lagi yang dibahas, tetapi semua orang memahami satu hal—keputusan sudah ditetapkan.Zidan berdiri dari duduknya.“Om, Tante, Khalisa… aku pamit,” ucapnya sopan. “Insyaallah besok aku datang bersama ibu.”Yono mengangguk. “Iya, Nak. Kami tunggu kedatangan kamu besok dengan niat yang baik.”“Iya, Om, insyaallah,” jawab Zidan singkat.Ia melangkah menuju pintu. Tidak ada tatapan ke arah Khalisa, tidak ada kalimat tambahan. Seperti biasa—tegas, seperlunya, dan langsung.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali setelah ia keluar.Khalisa masih duduk di tempatnya. Matanya mengikuti arah pintu, meski sosok itu sudah tidak terlihat. Ia berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.Semua terasa cepat. Terlalu cepat. Seolah semuanya sudah disiapkan tanpa sepengetahuannya.“Om…” suara Khalisa akhirnya terdengar pelan.Yono dan Tami menoleh ke arahnya.“Apa semua ini… rencana Om sama Tante?” tanyanya langsung.Y

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 90. Kamu pilihanku

    “Kayla! Apa-apaan sih kamu ke sini?”Suara Adit terdengar keras begitu ia mendekat.Langkahnya cepat, wajahnya terlihat jelas menahan emosi.Kayla menoleh dengan tatapan tidak kalah tajam.“Itu urusan aku, Dit,” balasnya dingin. “Lagipula kamu ngapain ke sini lagi? Mau aku laporin kamu ke mama kamu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 89. Kayla

    “Akhirnya kamu datang.”Suara perempuan itu terdengar dingin.Khalisa yang masih berdiri di dekat mobil menatapnya beberapa detik, mencoba mengingat wajah itu.Lalu ia sedikit mengernyit.“Kamu Kayla, kan?” tanya Khalisa pelan.Perempuan itu mengangkat dagunya sedikit, seolah bangga dengan pengakua

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 84. Fahri memohon

    Khalisa masih memegang ponselnya beberapa detik setelah percakapan itu berakhir. Layarnya sudah gelap, tetapi pikirannya belum benar-benar tenang.Tami yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bertanya pelan.“Siapa, Lis?”Khalisa mengangkat wajahnya sedikit.“Adit, Tan,” jawabnya pelan. “Khalisa ken

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 81. Pilihan

    Ruangan itu terasa semakin sempit.Khalisa menarik napas pelan, lalu menunduk sopan.“Kalau gitu… aku permisi,” ujarnya lirih.Adit langsung melangkah maju.“Jangan pulang, Lis. Aku yang mengundang kamu makan. Dan kita belum selesai.”“Adit, jaga perasaan Kayla!” bentak Bu Reni tajam.“Ma, cukup!”

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status