Share

50. Uang dari Arini

last update Tanggal publikasi: 2026-01-24 23:09:16
“Bu,” Fahri akhirnya angkat suara. “Khalisa ngancam. Kalau Ibu ke sana lagi, dia bakal lapor.” Laila tertawa pendek. Bukan geli—lebih ke meremehkan. “Hahaha… Fahri, Fahri.” Ia menggeleng. “Itulah bodohnya kamu. Masa mau percaya begitu saja?” Fahri menatap ibunya. “Aku cuma ngingetin.” “Serahin ke ibu,” jawab Laila cepat. “Perempuan itu cuma gertak sambal. Dulu juga takut apa-apa.” Fahri tidak menjawab. Tangannya mengepal di paha. Dari arah ruang tengah, Arman akhirnya bersuara. “Bu, mana makanan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 129. Ceraikan!

    "Kamu tambah kurang ajar ya, Nayla!"Fahri membentak keras.Wajahnya memerah karena emosi.Seumur hidupnya, tidak banyak orang yang berani mengusirnya secara terang-terangan seperti itu.Nayla yang masih menggendong bayinya langsung menatap tajam."Kurang ajar?""Iya!"Fahri melangkah mendekat."Kamu berani mengusir suamimu sendiri?""Suami?"Nayla tertawa pahit."Kamu masih ingat kalau kamu suamiku?"Fahri mengepalkan tangannya."Nayla!""Aku capek, Mas!"Air mata kembali mengalir di pipi Nayla."Aku capek selalu disalahkan!"Suasana semakin memanas.Namun sebelum Fahri sempat membalas, ibu Nayla tiba-tiba berdiri di depan putrinya.Wanita paruh baya itu menatap Fahri dengan wajah dingin."Cukup."Fahri langsung menoleh."Bu, lihat sendiri bagaimana anak Ibu bicara sama saya!""Saya lihat.""Dia kurang ajar!"Ibu Nayla menggeleng pelan."Bukan Nayla yang kurang ajar."Fahri membelalakkan mata."Apa?""Yang keterlaluan itu kamu."Ruangan langsung hening.Fahri tidak menyangka wanita y

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 128. Rasa haru.

    Setelah sarapan bersama di hotel, Zidan mengajak Khalisa pergi.Mereka meninggalkan hotel menjelang pagi yang semakin terang.Khalisa duduk di samping suaminya sambil sesekali melihat pemandangan di luar jendela mobil."Mas, kita mau ke mana?" tanyanya penasaran."Nanti juga tahu.""Kok dirahasiakan?""Biar jadi kejutan."Khalisa menghela napas pasrah.Beberapa puluh menit kemudian, mobil perlahan memasuki sebuah kawasan yang terasa sangat familiar.Khalisa yang sejak tadi santai mendadak menegang.Matanya membesar."Itu..."Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah.Rumah yang sangat ia kenal.Rumah peninggalan kedua orang tuanya.Rumah yang dulu pernah ia jual karena keadaan.Dan rumah yang kemudian dibeli oleh Zidan."Kita ke rumah ini lagi?" tanya Khalisa pelan.Zidan mematikan mesin mobil lalu menoleh kepadanya.Tatapannya lembut."Apa kamu membenci rumah ini karena masa lalumu dengan Fahri?"Pertanyaan itu membuat senyum Khalisa perlahan memudar.Ia menatap rumah terse

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 127. Siapa Zidan?

    Matahari pagi mulai menghangatkan ruangan melalui celah tirai kamar hotel. Setelah salat Subuh dan berdoa bersama, Khalisa dan Zidan masih duduk berdampingan di atas sajadah. Suasana terasa damai. Tidak ada suara selain pendingin ruangan yang berdengung pelan. Zidan memandangi wajah istrinya yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Khalisa dengan lembut. "Sayang." "Hm?" "Kamu nggak keberatan kan kalau aku ingin punya anak secepatnya?" Pertanyaan itu membuat Khalisa sedikit tertegun. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi hatinya mendadak dipenuhi kegelisahan yang sudah lama ia simpan. Ia teringat masa lalunya. Pernikahannya dengan Fahri. Bertahun-tahun bersama tanpa kehadiran seorang anak. Meski pada akhirnya hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya, luka dan keraguan itu masih tersisa di hatinya. Bagaimana kalau ternyata hasil pemeriksaan itu salah? Bagaiman

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 126. Suami istri

    Khalisa yang berada dalam pelukannya hanya tersenyum malu. Jujur saja, sampai sekarang ia masih sulit percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Bahwa dirinya kini telah menjadi istri Zidan. Bahwa pria yang selama ini terasa begitu misterius kini memeluknya dengan penuh rasa sayang. Zidan tidak melepaskan pelukannya. Seolah ingin memastikan bahwa Khalisa benar-benar ada di sisinya. "Khalisa." "Hm?" Panggilan itu terdengar begitu lembut. Khalisa mengangkat wajahnya sedikit. Ia mendapati Zidan sedang menatapnya. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Lebih hangat. Lebih dalam. Dan entah kenapa membuat jantungnya kembali berdebar. "Ada apa?" tanya Khalisa pelan. Zidan tersenyum tipis. "Aku mencintaimu." Khalisa membeku. Untuk beberapa detik ia hanya menatap suaminya tanpa berkedip. Mungkin karena ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Zidan malam ini. "Apa?" Senyum Zidan semakin lebar. "Aku mencintaimu, Khalisa." Mata Khalisa p

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 125. Malam pertama

    "Aku ingin jadi istri yang baik buat kamu." Senyum tulus mengembang di bibir Khalisa. Zidan menatapnya beberapa saat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya. "Jadi malam ini kita menunaikan hak dan kewajiban sebagai suami istri?" tanyanya pelan. Khalisa langsung menundukkan kepala. Pipinya kembali memerah. Perlahan ia mengangguk. "Iya." Senyum Zidan melebar. Namun bukan senyum jahil seperti biasanya, melainkan senyum penuh rasa syukur. "Alhamdulillah." Khalisa menahan malu lalu berdiri dari kursinya. "Tapi bersih-bersih dulu." "Siap." Jawaban Zidan begitu cepat hingga membuat Khalisa tertawa kecil. "Semangat sekali." "Tentu saja." Zidan langsung berdiri. "Perintah istri harus dilaksanakan." "Zidan." "Apa?" "Kamu nggak capek?" "Tadi capek." "Sekarang?" Zidan menatapnya sambil tersenyum. "Sekarang hilang." Khalisa langsung menggeleng geli. Pria itu benar-benar berbeda dari kesan dingin yang selama ini ia lihat. Tak lama kemudian Zidan berjalan menuju kamar mandi. Sebelu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 124. Cemburu

    Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena telah menemani Khalisa sampai hari pernikahan mereka.Bahkan sebuah jamuan makan malam khusus juga telah disiapkan untuk keluarga besar Khalisa sebelum mereka beristirahat.Malam mulai turun ketika Khalisa dan Zidan akhirnya masuk ke kamar mereka.Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk resepsi tadi.Khalisa berjalan masuk tanpa banyak bicara.Ia duduk di depan meja rias lalu mulai melepas satu per satu perhiasan yang menghiasi kepalanya sejak pagi.Anting.Mahkota kecil.Jepit rambut.Semua dilepas perlahan hingga yang tersisa hanya hijab yang masih menutupi kepalanya.Zidan yang sejak tadi memperhatikannya menyadari

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 76. Hinaan buat Khalisa

    Dua hari kemudian, uang itu akhirnya cair.Seratus lima puluh juta rupiah.Fahri menggenggam map berisi bukti pencairan dengan tangan yang masih terasa dingin. Sertifikat rumah sudah tergadai. Tidak ada jalan mundur. Jika ia gagal menebusnya nanti, rumah itu akan benar-benar lepas.Ia kembali ke ru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 74. Keseriusan?

    Khalisa menoleh pada Adit saat ia bertanya.“Aku suka,” ucapnya pelan tapi pasti. “Dan rumah ini nggak jauh dari toko yang aku sewa.”Kalimatnya terdengar mantap. Tidak ragu seperti tadi pagi.Pak Jaka tersenyum, tampak semakin yakin.“Baik, mau lanjut transaksi, Bu?” tanyanya hati-hati.Khalisa ti

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 72. Lihat rumah

    Sore itu toko mulai sepi. Pelanggan terakhir baru saja keluar. Nadia menutup pintu setengah, menyisakan celah untuk udara masuk. Dinda menghitung uang di laci kasir.Khalisa duduk di kursi kecil dekat meja lipat. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya lebih penuh dari biasanya.“Lis, gimana?” tanya

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 70. Adit

    “Ada Dinda sama Nadia,” lanjut Khalisa pelan. “Tapi tetap aja aku harus ikut ngawasin. Toko itu… ya satu-satunya yang benar-benar aku pegang sekarang.”Adit mengangguk, menatapnya dengan perhatian yang tidak berlebihan.Beberapa detik hening.Lalu tiba-tiba Adit bertanya, suaranya tetap santai tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status