MasukZidan lebih dulu membawa dua koper besar masuk ke dalam rumah.Sementara itu, Khalisa melangkah pelan menuju teras.Begitu sampai di sana, ia langsung terdiam.Di hadapannya terbentang pemandangan yang begitu menenangkan.Perbukitan hijau memanjang sejauh mata memandang.Beberapa rumah batu berdiri berjauhan, masing-masing dikelilingi taman kecil dan pepohonan.Jarak antar rumah cukup jauh sehingga suasana terasa sangat tenang.Yang terdengar hanya semilir angin dan kicauan burung.Khalisa menarik napas dalam."Masya Allah..."Ia tersenyum sendiri."Aku baru tahu ada tempat setenang ini."Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam rumah.Zidan keluar setelah selesai meletakkan koper.Melihat Khalisa yang masih menikmati pemandangan, ia menghampiri tanpa banyak bicara.Perlahan, kedua tangannya melingkar dari belakang, memeluk pinggang sang istri.Khalisa sempat tersentak kecil.Namun begitu merasakan pelukan hangat itu, ia langsung tersenyum.Ia tahu siapa yang memeluknya.Z
Setelah menempuh perjalanan panjang dengan transit beberapa kali, akhirnya pesawat yang membawa Zidan dan Khalisa mendarat di Prancis. Setelah proses imigrasi dan mengambil koper selesai, mereka melanjutkan perjalanan darat menuju sebuah desa yang sudah dipilih Zidan. Semakin jauh meninggalkan kota, pemandangan di luar jendela berubah. Hamparan ladang hijau membentang luas. Rumah-rumah batu dengan atap cokelat berdiri berjajar rapi. Jalanan kecil yang bersih membelah perkampungan dengan pepohonan yang mulai menguning. Khalisa tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan kiri. "Mas..." "Iya?" "Indah banget." Zidan hanya tersenyum tipis. "Masih ada yang lebih indah." Khalisa mengernyit. "Masih?" "Sebentar lagi." Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah area parkir kecil. Sopir membantu menurunkan koper mereka. Begitu pintu mobil dibuka, udara sejuk langsung menyambut. Khalisa menarik napas panjang. "Masya Allah..." "Udaranya enak
Setelah berpamitan dengan Ibu Zidan, mereka akhirnya berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ibu Zidan ikut mengantar mereka sampai ke bandara. Sementara koper-koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup santai. Zidan sesekali berbicara dengan ibunya yang duduk di kursi depan, sementara Khalisa duduk di belakang sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela. Namun, saat mobil sudah memasuki jalan tol, Khalisa tiba-tiba menepuk dahinya pelan. "Ya ampun..." Zidan yang sedang fokus mengemudi meliriknya melalui kaca spion. "Kenapa?" "Aku lupa pamitan sama Tante Rina." Zidan tersenyum tipis. "Ya sudah, telepon saja." Khalisa segera mengambil ponselnya. "Masih ingat nomornya?" "Masih." Ia kemudian mencari nama Tante Rina di kontak ponselnya lalu menekan tombol panggilan. Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. "Assalamualaikum, Tante." Suara Khalisa langsung terdengar lebih ceria. "Waalai
Setelah tengah malam, satu per satu teman-teman Zidan akhirnya berpamitan. "Terima kasih sudah menerima kami malam-malam begini," ujar Reza sambil tersenyum. Zidan menggeleng pelan. "Kalau lain kali mau datang, kabari dulu." "Kalau dikabari, nanti bukan kejutan lagi," sahut salah satu temannya. Zidan hanya tersenyum tipis. "Ya sudah. Hati-hati di jalan." Setelah semua temannya pergi, Zidan menutup pintu rumah lalu memastikan pintu sudah terkunci. Rumah kembali sunyi. Ia kemudian berjalan menuju kamar. Begitu pintu dibuka, Zidan mendapati Khalisa sudah tertidur. Perempuan itu berbaring menyamping dengan wajah yang terlihat tenang. Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur. Pikirannya kembali teringat pada percakapan bersama teman-temannya malam itu. Tentang Fatimah. Zidan menghela napas pelan. Ia tidak tahu kenapa nama itu masih sempat terlintas di pikirannya. Padahal selama ini, ia sudah tidak pernah memikirkan perempuan itu. Zidan menatap waj
Zidan membalas pelukan Khalisa sebentar, lalu mengusap pelan punggung istrinya. "Sudah?" Khalisa tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mas." "Mas bikin aku kaget." Zidan tersenyum tipis. "Memang sengaja." "Biar ada yang diingat." Khalisa kembali melihat e-ticket di tangannya. "Mas, ini benar-benar sudah dibayar?" "Sudah." "Nggak bisa dibatalin lagi?" Zidan menggeleng pelan. "Bisa saja." "Tapi kenapa harus dibatalkan?" Khalisa tertawa kecil. "Soalnya masih terasa seperti mimpi." Zidan mengambil map itu lalu menaruhnya di atas meja. "Kita berangkat beberapa hari lagi." "Besok mulai siapkan barang yang perlu dibawa." "Kalau ada yang kurang, kita beli." Khalisa mengangguk. "Iya, Mas." "Tapi aku belum pernah ke negara yang dingin." "Aku juga nggak tahu harus bawa apa." "Nanti kita belanja secukupnya." "Nggak perlu berlebihan." Khalisa tersenyum. "Baik." Zidan melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah hampir malam." "Ayo makan dul
Mobil yang dikendarai Zidan akhirnya memasuki halaman rumah. Begitu mesin dimatikan, suasana langsung terasa berbeda. Rumah yang beberapa hari terakhir ramai oleh kehadiran Tante Tami dan Om Yono kini kembali sunyi. Khalisa memandang sekeliling rumah beberapa saat. Lalu ia mengembuskan napas pelan. "Rumah jadi sepi ya, Mas." Zidan tersenyum kecil sambil membuka sabuk pengamannya. "Iya." "Om Yono dan Tante Tami kan langsung pulang ke kampung." "Jadi rumah terasa kosong lagi." Khalisa mengangguk pelan. "Padahal baru beberapa hari bersama." "Rasanya sudah terbiasa ada mereka." Zidan menggenggam lembut tangan istrinya. "Nggak apa-apa." "Nanti rumah ini juga bakal ramai lagi." Khalisa menoleh sambil tersenyum tipis. "Ramai bagaimana, Mas?" Zidan menyeringai jahil. "Ya sama anak-anak kita nanti." Pipi Khalisa langsung memerah. "Ih... Mas." Zidan tertawa pelan. "Aamiin." "Semoga Allah segera mengabulkan doa kita." Khalisa mengangguk pelan. "
Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi k
“Bu, memang semua ini punya Khalisa,” kata Fahri akhirnya, suaranya terdengar terburu-buru, seolah ingin segera menutup situasi yang makin menekan. “Tapi selama ini aku yang menafkahi.”Kalimat itu jatuh begitu saja di ruangan yang sudah tegang.Khalisa terdiam.Bukan karena tidak punya jawaban, ta
Khalisa belum sempat menjawab ketika dari sudut ruang keluarga terdengar suara tawa kecil. Arini dan Arlina masih duduk santai di sofa, mata mereka terpaku ke layar televisi. Sinetron sore diputar cukup keras. Sesekali mereka saling melirik, tersenyum, bahkan terkekeh kecil seolah kegaduhan di ruma
Khalisa menoleh perlahan, menatap lurus ke mata Nayla. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum tulus, melainkan senyum getir. “Kita lihat nanti saja. Siapa yang benar-benar sendirian pada akhirnya.” Nayla terdiam, tak menyangka Khalisa bisa balik menohok. Malam itu, Khalisa duduk di kursi empuk r







