Masuk
“Pernikahan kita batal. Aku tidak bisa menikahimu.”
“Apa maksudmu?” Suara Gladys pecah, meski ia berusaha menahannya. Kedua tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku jarinya memucat. Gaun putihnya yang indah tiba-tiba terasa mencekik. “Jangan bercanda, Rafa. Aku sudah menunggumu di aula pernikahan–”
“Aku tidak peduli.” Suara di seberang saluran telepon itu menyela dengan dingin. “Mau sampai kapan pun kamu menunggu, aku tidak akan datang.”
Tubuh Gladys membeku. Otaknya masih tidak bisa mencerna ucapan calon suaminya tersebut.
“Ini tidak lucu, Rafa,” ucap Gladys lagi. Suaranya bergetar. “Ini hari pernikahan kita. Semua undangan sudah disebar, penghulu pun sudah datang. Kamu tidak bisa membatalkan pernikahan begitu saja.”
“Terserah bagaimana kamu mengurusi mereka. Mau kamu bubarkan, atau mau kamu pakai untuk menikah dengan pria yang bisa memuaskan nafsumu itu.”
Gladys mengernyit, tidak mengerti dengan maksud Rafael. “Apa maksudmu?”
Rafael mendengus mendengar respons Gladys. “Ternyata kamu tidak sebaik yang aku kira, Gladys. Setelah semua yang kita lalui … bisa-bisanya kamu mengkhianatiku seperti ini.”
“Apa? Maksudmu aku selingkuh?” tanya Gladys, masih tidak paham. “Rafa, aku tidak pernah–”
Tuuttt.
Rafael memutus panggilan begitu saja. Sepihak. Padahal Gladys butuh penjelasan dan menjelaskan.
Bagaimana mungkin Rafael menuduhnya selingkuh, padahal Gladys sama sekali tidak pernah berhubungan dengan pria lain bahkan saat tunangannya tersebut berada di luar negeri selama beberapa tahun?
Dengan tangan gemetar, ia mencoba menelepon kembali, berkali-kali. Namun, gagal. Nomor Rafael tidak aktif.
Dadanya sesak, kepalanya berdenyut. Ia ingin menjerit, tapi suara itu tertahan di tenggorokan. Air mata mendesak keluar, namun ia paksa untuk tetap bertahan. “Tidak… ini pasti salah. Rafa tidak mungkin—”
“Dys?”
Suara ayahnya, Satrio, membuatnya mendongak. Mata tajam pria paruh baya itu kini dipenuhi cemas. “Ada apa?”
Gladys membuka mulut, tapi suaranya tercekat. Hanya satu kata yang bisa ia paksa keluar, lirih, “Rafa…”
Satrio langsung meraih bahunya. “Kenapa dengan Rafael?”
“Rafa… tidak akan datang, Pi.”
Sejenak hening. Dunia runtuh di hadapan Satrio. Wajahnya mengeras. Ia meraih ponsel dari tangan Gladys, mencoba menelepon Rafael. Berkali-kali. Hasilnya sama: nomor tidak aktif.
Nafasnya memburu, wajahnya merah padam, tapi di balik amarah itu jelas terlihat luka yang dalam.
“Berengsek!”
BRAK!
Ponsel itu dilemparkannya ke lantai hingga hancur berantakan. Puing-puingnya terlempar ke sembarang arah. Seperti itulah hati anak perempuannya saat ini.
Tubuh Gladys bergetar hebat. Kepalanya menggeleng seperti orang linglung. Kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia jatuh berlutut. Gaun pengantinnya mengembang di sekelilingnya. Isaknya tertahan, seperti tidak diizinkan menangis. Tapi air matanya mengalir juga—diam-diam, tanpa suara.
“Sat, ada apa? Kenapa kamu mengamuk seperti ini?” Tiba-tiba Rajendra, paman Gladys, datang didampingi istri dan putranya. “Apa yang terjadi?”
Baik Satrio maupun Gladys tidak menjawab. Gladys menunduk di lantai dalam penyangkalan hatinya. Sementara Satrio sibuk meredakan amarah yang membumbung tinggi. Hingga akhirnya, keluarga sepupunya itu mendapatkan jawaban dari orang lain yang kebetulan ada di sana.
“Astaga, pria berengsek itu.” Rajendra mendengus. “Memang dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Wiradarma.”
Lalu, tiba-tiba, bibir Rajendra melengkung. “Kalau begitu, supaya pesta ini tidak sia-sia, bagaimana kalau Alvin saja yang menggantikan Rafael?”
Ruangan sontak menjadi sepi setelah ucapan itu terlontar. Ayah Gladys dan semua orang yang ada di sana terdiam.
Pun dengan Gladys yang mendadak menghentikan tangis. Seperti disambar petir kedua kalinya.
“Apa?” Gladys tercekat. Menatap tak percaya sang paman. “Menikah dengan Alvin?”
Jendra mengangguk. Ia menatap Gladys dan kembali berujar, “Daripada tamu pulang membawa aib, bukankah lebih baik begitu? Kalian sudah dekat sejak kecil. Tidak ada alasan menolak, Dys.”
Gladys menoleh pada Alvin. Pria itu mengangkat alis, tersenyum tipis. Bukan senyum menghibur, tapi senyum penuh ego.
“Ya,” ujarnya dengan suara tenang namun angkuh. “Aku bersedia menikahimu, Dys. Jangan khawatir, aku akan membereskan kekacauan yang ditinggalkan Rafael.”
Gladys tiba-tiba merasa mual. Ada perasaan asing yang menohok perutnya saat melihat betapa antusiasnya sang paman dengan idenya tersebut. Ditambah lagi, ia merasa ada sesuatu di balik tatapan Alvin yang membuat kulitnya merinding.
Seakan… memang inilah yang mereka tunggu.
“Oke.” Jendra bertepuk tangan. “Tunggu apa lagi? Cepat–”
“Tidak.” Suara Satrio menyela. Pria paruh baya itu tampak marah, tapi berusaha mengontrol dirinya. “Putriku tidak akan menikah dengan Alvin.”
“Melainkan dengan pengawalku, Tyo.”
“Nyonya… maaf mengganggu,” Semua orang melepaskan pelukan.“Ada apa?” Metha langsung bertanya.“Ada tamu mencari Tuan Muda Bintang.”Semua orang saling berpandangan dengan kening berkerut. Hanya Bintang yang tidak menunjukkan keterkejutan.“Oh, ya udah, aku temui dulu.” Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Bintang langsung berlalu, bahkan setengah berlari menuju teras.Tyo, Gladys, dan Metha saling menatap heran. Apa Bintang sedang menunggu seseorang? Kenapa reaksinya berbeda sekali? Mereka akhirnya memutuskan menyusul, langkah-langkah mereka terdengar cepat namun penuh rasa ingin tahu.Di teras, seorang perempuan berkerudung biru muda berdiri gugup. Tangannya memegang kotak kecil yang terbungkus rapi. Wajahnya teduh, lembut, dengan mata yang langsung berbinar ketika melihat Bintang datang.Begitu Bintang menghampiri, senyum perempuan itu mekar pelan. Ada ketenangan yang menguar dari kehadirannya, seakan ia membawa cahaya sendiri.“Kamu sudah datang?” tanya Bintang, suaranya sangat akrab,
Pengajian dimulai. Para jamaah melantunkan doa tahlil untuk Billy, suaranya mengalun lembut memenuhi rumah. Metha duduk di barisan paling depan, kedua tangannya menangkup kitab kecil di pangkuannya. Dadanya sesak oleh banyak rasa yang bertumpuk: kehilangan, syukur, kelegaan… semua bercampur menjadi satu.Setelah satu jam, acara berlanjut dengan doa syukur untuk kelahiran Princy. Seorang ustaz memimpin doa, memohonkan keberkahan untuk keluarga itu.Tyo duduk tepat di sebelah Metha, sementara Gladys duduk di barisan wanita, mengusap lembut kepala Gavin yang sudah mulai mengantuk.Saat doa mengalun, Gladys memejamkan mata. Ia merasa damai. Ini pertama kalinya dalam hidup ia merasa benar-benar menjadi bagian dari sesuatu—bagian dari keluarga yang mencintainya, menerimanya tanpa syarat.Setelah pengajian selesai, makan-makan dimulai. Para tamu mengobrol, memuji masakan katering, dan memberi selamat pada keluarga.Metha tersenyum ramah pada semua tamu, meski sesekali ia kembali memeriksa de
Satu tahun berlalu …Rumah Metha pagi itu terasa begitu hidup. Udara dipenuhi wangi kue basah yang baru selesai ditata di meja panjang, bercampur aroma gulai dari dapur katering yang sejak subuh sudah sibuk menghangatkan hidangan. Suara orang-orang mondar-mandir, kursi yang digeser, dan tawa kecil para ibu-ibu pengajian menciptakan suasana riuh namun damai.Metha berdiri di tengah ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruangan pengajian. Karpet baru digelar. Sound system sudah dicek berkali-kali. Kursi-kursi putih berjajar rapi, dihias pita emas, dekorasi sederhana namun elegan, pilihan Gladys. Di meja sebelah, kotak-kotak souvenir tertata cantik, semuanya dilabeli “Tahlilan 1 Tahun & Syukuran Kelahiran Princy Purnama Aksara.”Bajunya—gamis hijau mint kesukaannya—sedikit berkedut karena ia terlalu sering menunduk dan bergerak cepat memeriksa satu per satu detail.“Ma, cukup. Nanti Mama capek sendiri.” Bintang berdiri di sampingnya, membawa clipboard berisi daftar pekerjaan yang sebenar
“Pasti kamu ingin bertanya kenapa Mama harus menunggu selama ini untuk berpisah, padahal ayah kalian sudah membuat surat itu, bukan?”Seolah mengerti dengan tepat isi kepala kedua anaknya, Metha lebih dulu membuka suara. Ia menatap Tyo dan Bintang bergantian, lalu menarik napas panjang yang terdengar berat.Tyo hendak menjawab, namun gerakannya tertahan ketika satu lembar terakhir tiba-tiba terjatuh dari map.Kertasnya agak menguning, tintanya mulai memudar dimakan waktu.Bintang bahkan sampai memanjangkan lehernya karena penasaran.Tyo meraihnya, membalik kertas itu perlahan. Dan seketika napasnya tersendat.Sebuah surat pernyataan, ditandatangani kedua orang tua Billy.Tyo membaca keras-keras, meski suaranya semakin tenggelam di akhir kalimat:“‘Seluruh aset keluarga Aksara… akan menjadi milik Metha dan anak-anaknya apabila Billy kembali melanggar komitmen rumah tangga dan terbukti terlibat dengan perempuan lain.’”Ruang itu tiba-tiba serasa dibungkam.Sunyi. Terlalu sunyi, seolah d
Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang bercampur wangi bunga kamboja. Langit mulai memucat, seolah turut berduka atas seseorang yang baru saja diturunkan ke peristirahatannya yang terakhir. Para pelayat sudah meninggalkan area pemakaman sejak tadi, namun satu sosok masih berdiri tegak, membeku seolah menyatu dengan nisan di depannya.Metha berdiri di sana, tubuhnya diselimuti gaun hitam polos yang jatuh sampai mata kaki. Selendang tipis menutupi rambutnya, ditiup angin hingga berkibar pelan-pelan. Kacamata hitam besar menutupi hampir seluruh wajahnya.Tidak ada air mata. Tidak ada isak. Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya sejak pemakaman dimulai hingga para pelayat pulang satu per satu.Di depan Metha, gundukan tanah merah masih baru. Papan kayu kecil di ujungnya bertuliskan:Billy Aksara1965–2025Tyo berdiri di belakangnya, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku, napasnya berat. Ia menatap punggung ibunya yang tampak semakin kecil dan rapuh, na
Koridor rumah sakit malam itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Bau obat-obatan bercampur aroma antiseptik menusuk hidung, seolah menguatkan kenyataan bahwa mereka sedang menunggu sesuatu yang besar.Tyo berdiri dengan kedua tangan mengepal, wajahnya pucat menegang. Di sampingnya, Bintang duduk di bangku panjang, merunduk sambil mengusap wajahnya berulang kali. Sementara itu, Metha berdiri mematung, tubuhnya sedikit bergetar, seolah hanya berdiri karena dipaksa oleh kekuatan yang hingga kini belum runtuh dari dirinya: menjadi istri yang sah.Mereka bertiga berdiri di depan pintu ruang tindakan gawat darurat, menunggu kabar tentang Billy—suami, ayah, kepala keluarga yang selama ini membawa badai ke rumah mereka, namun tetap saja… darah mereka, bagian dari hidup yang tidak bisa begitu saja dicabut.“Dokternya belum keluar juga,” gumam Bintang, suaranya serak.Tyo tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai mengilat yang memantulkan bayangan lampu-lampu koridor, seperti garis-garis caha







