Share

BAB 4 PENJUAL ISTRI

Author: Lara Luka
last update Last Updated: 2026-01-27 09:51:47

Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.

Adrian belum pulang.

Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.

Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.

Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.

Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa.

"Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.

Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Tubuhnya gemetar hebat. Isak tangis tertahan terdengar dari dadanya.

"Maafkan aku, El... Maafkan aku..." rintihnya berulang kali, suaranya pecah dan menyedihkan.

Hatiku mencelos. Kemarahan dan ketakutanku tadi sore menguap, digantikan oleh naluri seorang istri yang melihat suaminya hancur. Aku memapahnya duduk di tepi ranjang, lalu berlari mengambil kotak P3K.

Dengan tangan gemetar, aku membersihkan luka di wajahnya. Adrian menatapku lekat-lekat sepanjang waktu, matanya basah dan penuh penyesalan. Tatapan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat. Tatapan yang membuatku jatuh cinta padanya dulu.

"Mereka memukulmu?" tanyaku lirih, mengoleskan antiseptik.

Adrian mengangguk lemah. Dia menangkap tanganku, mencium telapak tanganku dengan lembut, lalu menempelkannya ke pipinya yang basah.

"Aku bodoh, El. Aku gagal jadi suami," bisiknya parau. "Perusahaan hancur. Saham anjlok. Aku... aku meminjam uang dari orang yang salah untuk menutupi kerugian. Sekarang mereka minta uang itu kembali dalam dua hari. Lima puluh miliar."

Aku tercekat. "Lima puluh miliar?"

"Kalau tidak..." Adrian menunduk, bahunya terguncang lagi. "Mereka akan membunuhku. Mereka bilang akan memotong tubuhku dan mengirimnya padamu."

Air mata menetes dari mataku. Aku memeluk kepalanya. "Kita lapor polisi, Adrian. Kita bisa jual rumah ini. Kita jual mobil. Perhiasanku... ambil semuanya."

Adrian menggeleng kuat dalam pelukanku. Dia mendongak, menatapku dengan mata merah yang putus asa.

"Tidak bisa, Sayang. Rumah, mobil, semua sudah disita bank. Polisi? Rentenir ini punya koneksi di mana-mana. Lapor polisi sama saja mempercepat kematianku."

"Lalu kita harus bagaimana?" Aku mulai panik. Napasku sesak.

Adrian terdiam. Dia menunduk lagi, meremas tanganku semakin erat hingga terasa sakit. Keheningan yang panjang dan berat mengisi ruangan.

"Ada... ada satu jalan," ucapnya pelan, nyaris tak terdengar. "Ada satu investor. Dia musuh lamaku, tapi dia punya uang tunai sebanyak itu. Dia bisa melunasi semuanya besok pagi."

"Siapa? Kita temui dia! Aku akan bantu kamu memohon padanya!" seruku penuh harap.

Adrian menatapku. Kali ini ada sesuatu yang aneh di matanya. Sesuatu yang gelap dan penuh perhitungan, tersembunyi di balik air mata buayanya.

"Namanya Cakra Dirgantara."

"Cakra?" Aku mengernyit. Nama itu terdengar asing, tapi aura ketakutan Adrian menyebutnya membuatku merinding. "Apa syaratnya? Bunga tinggi? Saham?"

Adrian menggeleng pelan. Dia menggeser duduknya mendekatiku, memegang kedua bahuku. Jari-jarinya mencengkeram lengan atasku.

"Dia tidak mau saham, El. Dia mau... kamu."

Duniaku berhenti berputar.

Aku menatapnya, mencoba mencerna kalimat itu. Mungkin aku salah dengar. Mungkin bahasa Indonesianya sedang kacau karena gegar otak.

"Maksudmu...?"

"Satu malam," potong Adrian cepat, nadanya mulai mendesak. "Dia mau kamu menemaninya satu malam. Itu saja. Cuma tidur, El. Besok paginya, utang 50 miliar lunas. Kita bebas. Kita bisa mulai hidup baru."

Aku mundur perlahan, melepaskan diri dari tangannya seolah dia adalah api yang membakar. Rasa mual yang hebat naik ke tenggorokanku.

"Kamu..." suaraku bergetar, "kamu menyuruhku tidur dengan laki-laki lain?"

"Jangan sebut begitu!" sergah Adrian. Wajah memelasnya mulai retak, digantikan oleh frustrasi. "Ini bukan perselingkuhan, El! Ini transaksi! Ini pengorbanan! Kamu pikir aku rela? Aku juga sakit, El! Hatiku hancur!"

Dia memukul dadanya sendiri dengan dramatis.

"Tapi ini satu-satunya cara supaya aku tetap hidup! Apa kamu mau jadi janda lusa? Apa kamu mau lihat mayatku membusuk di selokan?"

"Kamu gila, Adrian!" teriakku, air mata tumpah membasahi pipi. Aku berdiri, melangkah mundur menjauhinya. "Aku istrimu! Bukan barang dagangan! Bagaimana kamu bisa... Ya Tuhan, bagaimana kamu bisa berpikir begitu?!"

"Elena, dengarkan aku!" Adrian ikut berdiri, mengejarku. Dia mencengkeram lenganku kasar. Topeng suami manisnya runtuh sepenuhnya.

"Ini cuma tubuh!" bentaknya tepat di depan wajahku. Napasnya bau alkohol dan ketakutan. "Cuma selangkangan, Elena! Jiwamu tetap milikku! Cintamu tetap buat aku! Anggap saja kamu digigit anjing gila, lalu besoknya kamu mandi dan semuanya bersih lagi! Demi Tuhan, 50 Miliar, Elena! Harga dirimu tidak sehamal itu!"

PLAK!

Tanganku melayang menampar pipinya. Keras. Panas menjalar di telapak tanganku.

Kami berdua terdiam. Napasku memburu. Adrian memegang pipinya yang merah, menatapku dengan kilatan amarah yang mengerikan.

"Aku tidak akan melakukannya," desisku tajam. "Biarpun kamu mati, aku tidak akan melacurkan diri."

Aku berbalik menuju pintu, berniat kabur dari kegilaan ini.

"Oh, begitu?" suara Adrian terdengar dingin di belakangku. "Baiklah. Kalau kamu memang mau aku mati, biar aku lakukan sendiri sekarang."

Aku mendengar suara laci nakas dibuka kasar. Lalu suara logam beradu.

Langkahku terhenti. Firasat buruk menghantamku.

Aku menoleh perlahan.

Adrian berdiri di balkon kamar yang pintunya terbuka lebar. Angin malam menerpa gorden putih hingga berkibar seperti hantu. Di tangannya, dia memegang sebuah pisau lipat berkilau. Ujungnya diarahkan tepat ke nadi lehernya sendiri.

"Selamat tinggal, Elena," ucapnya datar. "Semoga kamu bahagia dengan prinsip sucimu itu di atas kuburanku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 30 KAMAR GELAP & KANVAS PUTIH

    Gedung Dirgantara Tower bukan sekadar kantor. Di lantai paling atas, tersembunyi di balik pintu biometrik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Cakra, terdapat sebuah sanctuary.Bukan kamar tidur, melainkan sebuah studio lukis.Ruangan itu luas, berlantai beton ekspos dengan dinding kaca setinggi enam meter yang menghadap matahari terbenam. Di tengah ruangan, sebuah easel (penyangga kanvas) kayu jati berdiri kokoh, menopang kanvas putih besar yang masih kosong. Di sampingnya, meja penuh dengan cat minyak Old Holland—sama persis dengan yang dia kirimkan ke rumahku."Ini... ini kantormu?" tanyaku takjub, langkahku menggema di ruangan sunyi itu."Ini tempat pelarianku," koreksi Cakra. Dia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. "Dulu aku ingin jadi arsitek, tapi ayahku memaksaku jadi pebisnis. Jadi aku membangun ruangan ini untuk mengingatkanku bahwa aku masih punya sisi manusia."Dia berjalan menuju easel

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 29 KENCAN MAKAN SIANG

    Adrian berangkat ke bandara pukul enam pagi, menyeret koper Louis Vuitton-nya dengan wajah pucat sisa sakit perut semalam. Dia mencium pipiku sekilas—ciuman formalitas yang hambar—lalu masuk ke taksi online."Jaga rumah. Jangan keluyuran," pesan terakhirnya sebelum pintu mobil tertutup.Begitu taksi itu hilang di tikungan, senyumku mengembang.Aku tidak menjaga rumah. Dan aku pasti akan keluyuran.Pukul sebelas siang, aku sudah berdiri di depan cermin, mematut diri. Aku mengenakan gaun midi berwarna cream yang lembut dengan potongan leher sabrina, dipadukan dengan heels cokelat muda. Rambutku kigerai bebas, tidak digelung kaku seperti yang disukai Adrian. Aku menyemprotkan sedikit parfum—bukan yang dipilihkan Adrian, tapi Jo Malone aroma Pear & Freesia yang kubeli diam-diam. Wanginya segar, ringan, dan... bebas.Ponsel hitam di saku tasku bergetar.Cakra:

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 28 PONSEL KEDUA

    "Aduh... Sialan..."Suara erangan Adrian terdengar lagi dari balik pintu kamar mandi, diikuti bunyi flush toilet yang ketiga kalinya dalam satu jam. Rencana kopi "spesial"-ku bekerja lebih efektif dari dugaan. Adrian batal ke kantor, dan jadwal dinasnya ke Surabaya pun terancam mundur."Sayang, kamu masih di dalam?" tanyaku dari depan pintu, menahan senyum puas di balik nada suaraku yang dibuat cemas. "Perlu aku panggilkan dokter?""Nggak usah!" sahut Adrian ketus di sela-sela rintihan. "Cuma salah makan kayaknya. Perutku melilit banget. Tolong cariin obat diare di kotak obat dong!""Iya, sebentar aku carikan."Aku berbalik, melangkah santai menuju lemari di dekat ruang tamu. Rasanya lega sekali tidak melihat wajahnya berkeliaran di sekitarnya.Ting-tong.Bel pintu berbunyi.Aku melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Tidak ada jadwal tamu.Aku membuka pintu utama. Seorang kurir bermotor dengan jaket o

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 27 SANDIWARA ISTRI TELADAN

    Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah gorden ruang tamu, menyoroti kekacauan yang ada di sana.Adrian tertidur di sofa panjang dengan posisi meringkuk, masih mengenakan kemeja pestanya yang kusut dan bernoda tumpahan wine. Sepatu pantofelnya terlempar entah ke mana, satu di bawah meja kopi, satu lagi di dekat rak TV. Bau alkohol basi dan muntahan samar menguar di udara, mengubah ruang tamu mewah ini menjadi tempat sampah.Aku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun malamku yang kini terasa lengket. Aku baru saja menyelinap masuk lima menit yang lalu, mencuci muka sebentar di wastafel dapur agar terlihat "bangun tidur", lalu berjalan ke ruang tamu.Aku menatap suamiku.Dulu, pemandangan ini akan membuatku panik. Aku akan lari mengambil air hangat, memijat kepalanya, dan membuatkan sup pereda mabuk. Aku akan khawatir setengah mati pada kesehatannya.Tapi hari ini, aku hanya merasakan... kehampaan."Eungh..." Adrian me

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 26 PAGI SETELAH CIUMAN

    Kembang api terakhir telah padam di langit Jakarta, menyisakan asap tipis yang segera ditelan angin malam. Namun, api di dalam diriku masih menyala, membakar habis sisa-sisa kewarasanku.Cakra melepaskan pelukannya perlahan, memberiku ruang untuk bernapas, meski matanya enggan melepaskan tatapannya dariku.Aku mundur selangkah, menyandarkan punggung pada pagar balkon yang dingin. Tanganku gemetar saat menyentuh bibirku sendiri. Bibir yang baru saja melumat bibir pria lain dengan nafsu yang tidak pernah kuberikan pada suamiku.Realitas menghantamku seperti palu godam.Apa yang baru saja kulakukan?"Elena?" Cakra memanggil, suaranya rendah dan waspada. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh."Jangan," cicitku. Napasku memburu, panik mulai merambat naik ke tenggorokan. "Ya Tuhan... aku... aku berzina. Aku istri orang, Cakra. Aku baru saja mengkhianati Tuhan."Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Bayangan ib

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 25 GARIS BATAS DILANGGAR

    Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski malam ini berubah menjadi lautan topeng. Tema pesta perusahaan Adrian tahun ini adalah Venetian Masquerade. Ratusan tamu mengenakan topeng berbulu, berhias permata, dan berlapis emas, menyembunyikan wajah asli mereka di balik kemewahan palsu.Sangat cocok. Karena malam ini, hidupku juga penuh kepalsuan.Aku mengenakan gaun midnight blue yang elegan, wajahku tertutup separuh oleh topeng perak dengan hiasan renda hitam. Di sampingku, Adrian mengenakan topeng emas mencolok, seolah ingin berteriak pada dunia: Lihat aku! Aku raja malam ini!Dan dia memang merasa jadi raja.Sejak kami datang satu jam lalu, Adrian tidak berhenti minum. Dia berkeliling dari satu meja investor ke meja lain, memamerkan kesuksesan semunya, tertawa terlalu keras, dan merangkulku terlalu erat."Ini istriku, Pak Budi!" Adrian berseru dengan napas berbau whisky, menarik pinggangku kasar di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status