تسجيل الدخولJam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.
Adrian belum pulang.
Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.
Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.
Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.
Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa.
"Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.
Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Tubuhnya gemetar hebat. Isak tangis tertahan terdengar dari dadanya.
"Maafkan aku, El... Maafkan aku..." rintihnya berulang kali, suaranya pecah dan menyedihkan.
Hatiku mencelos. Kemarahan dan ketakutanku tadi sore menguap, digantikan oleh naluri seorang istri yang melihat suaminya hancur. Aku memapahnya duduk di tepi ranjang, lalu berlari mengambil kotak P3K.
Dengan tangan gemetar, aku membersihkan luka di wajahnya. Adrian menatapku lekat-lekat sepanjang waktu, matanya basah dan penuh penyesalan. Tatapan yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat. Tatapan yang membuatku jatuh cinta padanya dulu.
"Mereka memukulmu?" tanyaku lirih, mengoleskan antiseptik.
Adrian mengangguk lemah. Dia menangkap tanganku, mencium telapak tanganku dengan lembut, lalu menempelkannya ke pipinya yang basah.
"Aku bodoh, El. Aku gagal jadi suami," bisiknya parau. "Perusahaan hancur. Saham anjlok. Aku... aku meminjam uang dari orang yang salah untuk menutupi kerugian. Sekarang mereka minta uang itu kembali dalam dua hari. Lima puluh miliar."
Aku tercekat. "Lima puluh miliar?"
"Kalau tidak..." Adrian menunduk, bahunya terguncang lagi. "Mereka akan membunuhku. Mereka bilang akan memotong tubuhku dan mengirimnya padamu."
Air mata menetes dari mataku. Aku memeluk kepalanya. "Kita lapor polisi, Adrian. Kita bisa jual rumah ini. Kita jual mobil. Perhiasanku... ambil semuanya."
Adrian menggeleng kuat dalam pelukanku. Dia mendongak, menatapku dengan mata merah yang putus asa.
"Tidak bisa, Sayang. Rumah, mobil, semua sudah disita bank. Polisi? Rentenir ini punya koneksi di mana-mana. Lapor polisi sama saja mempercepat kematianku."
"Lalu kita harus bagaimana?" Aku mulai panik. Napasku sesak.
Adrian terdiam. Dia menunduk lagi, meremas tanganku semakin erat hingga terasa sakit. Keheningan yang panjang dan berat mengisi ruangan.
"Ada... ada satu jalan," ucapnya pelan, nyaris tak terdengar. "Ada satu investor. Dia musuh lamaku, tapi dia punya uang tunai sebanyak itu. Dia bisa melunasi semuanya besok pagi."
"Siapa? Kita temui dia! Aku akan bantu kamu memohon padanya!" seruku penuh harap.
Adrian menatapku. Kali ini ada sesuatu yang aneh di matanya. Sesuatu yang gelap dan penuh perhitungan, tersembunyi di balik air mata buayanya.
"Namanya Cakra Dirgantara."
"Cakra?" Aku mengernyit. Nama itu terdengar asing, tapi aura ketakutan Adrian menyebutnya membuatku merinding. "Apa syaratnya? Bunga tinggi? Saham?"
Adrian menggeleng pelan. Dia menggeser duduknya mendekatiku, memegang kedua bahuku. Jari-jarinya mencengkeram lengan atasku.
"Dia tidak mau saham, El. Dia mau... kamu."
Duniaku berhenti berputar.
Aku menatapnya, mencoba mencerna kalimat itu. Mungkin aku salah dengar. Mungkin bahasa Indonesianya sedang kacau karena gegar otak.
"Maksudmu...?"
"Satu malam," potong Adrian cepat, nadanya mulai mendesak. "Dia mau kamu menemaninya satu malam. Itu saja. Cuma tidur, El. Besok paginya, utang 50 miliar lunas. Kita bebas. Kita bisa mulai hidup baru."
Aku mundur perlahan, melepaskan diri dari tangannya seolah dia adalah api yang membakar. Rasa mual yang hebat naik ke tenggorokanku.
"Kamu..." suaraku bergetar, "kamu menyuruhku tidur dengan laki-laki lain?"
"Jangan sebut begitu!" sergah Adrian. Wajah memelasnya mulai retak, digantikan oleh frustrasi. "Ini bukan perselingkuhan, El! Ini transaksi! Ini pengorbanan! Kamu pikir aku rela? Aku juga sakit, El! Hatiku hancur!"
Dia memukul dadanya sendiri dengan dramatis.
"Tapi ini satu-satunya cara supaya aku tetap hidup! Apa kamu mau jadi janda lusa? Apa kamu mau lihat mayatku membusuk di selokan?"
"Kamu gila, Adrian!" teriakku, air mata tumpah membasahi pipi. Aku berdiri, melangkah mundur menjauhinya. "Aku istrimu! Bukan barang dagangan! Bagaimana kamu bisa... Ya Tuhan, bagaimana kamu bisa berpikir begitu?!"
"Elena, dengarkan aku!" Adrian ikut berdiri, mengejarku. Dia mencengkeram lenganku kasar. Topeng suami manisnya runtuh sepenuhnya.
"Ini cuma tubuh!" bentaknya tepat di depan wajahku. Napasnya bau alkohol dan ketakutan. "Cuma selangkangan, Elena! Jiwamu tetap milikku! Cintamu tetap buat aku! Anggap saja kamu digigit anjing gila, lalu besoknya kamu mandi dan semuanya bersih lagi! Demi Tuhan, 50 Miliar, Elena! Harga dirimu tidak sehamal itu!"
PLAK!
Tanganku melayang menampar pipinya. Keras. Panas menjalar di telapak tanganku.
Kami berdua terdiam. Napasku memburu. Adrian memegang pipinya yang merah, menatapku dengan kilatan amarah yang mengerikan.
"Aku tidak akan melakukannya," desisku tajam. "Biarpun kamu mati, aku tidak akan melacurkan diri."
Aku berbalik menuju pintu, berniat kabur dari kegilaan ini.
"Oh, begitu?" suara Adrian terdengar dingin di belakangku. "Baiklah. Kalau kamu memang mau aku mati, biar aku lakukan sendiri sekarang."
Aku mendengar suara laci nakas dibuka kasar. Lalu suara logam beradu.
Langkahku terhenti. Firasat buruk menghantamku.
Aku menoleh perlahan.
Adrian berdiri di balkon kamar yang pintunya terbuka lebar. Angin malam menerpa gorden putih hingga berkibar seperti hantu. Di tangannya, dia memegang sebuah pisau lipat berkilau. Ujungnya diarahkan tepat ke nadi lehernya sendiri.
"Selamat tinggal, Elena," ucapnya datar. "Semoga kamu bahagia dengan prinsip sucimu itu di atas kuburanku."
Lobi hotel bintang lima itu menjulang angkuh dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan langit-langit berlapis emas. Aroma lili segar dan uang lama menguar di udara, menyambut siapa pun yang melangkah masuk.Bagi tamu lain, ini adalah surga kemewahan. Bagiku, ini adalah gerbang penjara."Jalan yang tegap," bisik Adrian di telingaku, tangannya menekan punggung bawahku, mendorongku maju. "Jangan terlihat seperti orang mau dihukum mati. Kamu sedang 'liburan'."Aku memaksakan kakiku melangkah di atas karpet tebal yang meredam suara heels-ku. Mantel panjangku kurapatkan, menutupi lingerie laknat yang melekat di kulitku seperti racun. Di balik saku mantel, tanganku meremas amplop hitam dari pengacara tadi siang hingga lecek.Kami masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk tamu Penthouse.Pintu emas menutup perlahan, memisahkan kami dari keramaian lobi. Kini, hanya ada kami berdua di dalam kotak besi berlapis cermin ini.Suasana hening. Mencekam.Aku melirik pantulan Adrian
Di bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.Cantik. Sangat cantik.Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket."Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap
Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis."Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.Aku menatap ker
Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata."Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap."Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yan
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.Adrian belum pulang.Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa."Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu er
Lift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, membawa Adrian menembus lantai demi lantai Gedung Dirgantara Tower. Setiap detiknya terasa menyiksa. Di dinding lift yang terbuat dari cermin perunggu, Adrian bisa melihat bayangannya sendiri: jas yang kusut, sudut bibir yang bengkak membiru, dan mata yang menyiratkan keputusasaan.Dia sudah mencoba merapikan diri di toilet lobi, tapi bau amis darah dan keringat dingin masih menempel samar di kemejanya.Ting.Pintu lift terbuka.Bukan ruang kantor biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah penthouse luas dengan dinding kaca setinggi lima meter yang menyajikan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Indah, namun dingin.Suhu ruangan itu sepertinya disetel sepuluh derajat lebih rendah dari luar. Adrian menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi karena aura ruangan itu. Semuanya bernuansa monokrom—hitam, abu-abu, dan perak. Tidak ada foto keluarga







