ВойтиLift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, membawa Adrian menembus lantai demi lantai Gedung Dirgantara Tower. Setiap detiknya terasa menyiksa. Di dinding lift yang terbuat dari cermin perunggu, Adrian bisa melihat bayangannya sendiri: jas yang kusut, sudut bibir yang bengkak membiru, dan mata yang menyiratkan keputusasaan.
Dia sudah mencoba merapikan diri di toilet lobi, tapi bau amis darah dan keringat dingin masih menempel samar di kemejanya.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Bukan ruang kantor biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah penthouse luas dengan dinding kaca setinggi lima meter yang menyajikan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Indah, namun dingin.
Suhu ruangan itu sepertinya disetel sepuluh derajat lebih rendah dari luar. Adrian menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi karena aura ruangan itu. Semuanya bernuansa monokrom—hitam, abu-abu, dan perak. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tanaman hias. Hanya ada patung-patung abstrak dari logam dan lukisan-lukisan surealis yang tampak mengerikan.
"Tuan Cakra sudah menunggu."
Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi muncul dari balik bayangan. Pak Hadi. Asisten setia Cakra yang wajahnya sedatar tembok beton.
Adrian mengangguk kaku, mengikuti Pak Hadi menuju sebuah meja kerja besar dari kayu ebony hitam yang terletak di ujung ruangan, membelakangi dinding kaca.
Di balik meja itu, duduklah sosok yang menghantui mimpi buruk Adrian selama satu dekade terakhir.
Cakra Dirgantara.
Pria itu tidak menoleh saat Adrian mendekat. Dia sedang sibuk memotong ujung cerutu Kuba dengan pisau perak kecil. Gerakannya lambat, presisi, dan mematikan. Asap tipis mengepul dari asbak kristal di dekatnya.
"Duduk," perintah Cakra tanpa melihat. Suaranya rendah, bergetar di dada Adrian seperti bass yang terlalu kuat.
Adrian duduk di kursi tamu yang ternyata lebih rendah dari kursi Cakra—sebuah trik psikologis klasik untuk membuat lawan bicara merasa kerdil.
"Cakra... terima kasih sudah mau menemuiku. Aku tahu kita punya... sejarah," Adrian memulai, suaranya terdengar pecah. Dia berusaha memanggil sisa-sisa karisma penjualnya, tapi di hadapan predator ini, dia merasa telanjang.
Cakra akhirnya mengangkat wajah.
Tatapan itu.
Mata hitam legam yang tajam seperti elang yang sedang mengunci mangsa. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya ada ketenangan yang menakutkan. Cakra menyalakan pemantik api, membakar ujung cerutunya, lalu menghembuskan asap tebal ke arah Adrian.
"Aku tidak punya waktu untuk nostalgia, Adrian. Kau bilang kau punya penawaran bisnis yang 'menarik'. Kau punya lima menit sebelum sekuriti menyeretmu keluar."
Adrian menelan ludah. Tangannya yang gemetar merogoh tas kerjanya, mengeluarkan map berisi proposal yang sudah disiapkan Sisca.
"Aku... aku butuh suntikan dana. Lima puluh miliar. Likuid. Hari ini," Adrian menyodorkan map itu dengan tangan gemetar. "Sebagai gantinya, aku tawarkan 40% saham perusahaanku. Nilai aslinya tiga kali lipat dari pinjaman itu, Cakra. Ini bargain gila. Kau akan untung besar dalam setahun."
Cakra bahkan tidak menyentuh map itu. Dia hanya menatap Adrian dengan alis terangkat sebelah, sebuah senyum miring yang meremehkan tercetak di bibirnya.
"Perusahaanmu?" Cakra terkekeh pelan. "Maksudmu kapal karam yang sedang diaudit pajak itu? Sahammu cuma kertas sampah, Adrian. Aku tidak butuh sampah."
Jantung Adrian berhenti. Cakra tahu. Tentu saja dia tahu.
"Tapi... tapi aset propertiku..."
"Sudah digadaikan ke Bank Mandiri," potong Cakra cepat. "Mobil-mobilmu? Leasing. Rumahmu? Sertifikatnya sudah di tangan rentenir lain."
Cakra mematikan cerutunya dengan menekannya kuat-kuat ke asbak. Dia berdiri, menjulang tinggi dengan postur tubuhnya yang atletis dalam balutan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Dia berjalan memutari meja, mendekati Adrian.
"Kau bangkrut, Adrian. Miskin. Dan dilihat dari wajahmu yang babak belur..." Cakra menepuk pipi Adrian pelan, tepat di luka lebamnya. Adrian meringis. "...kau juga sedang di ujung tanduk."
Adrian merosot di kursinya. Tamat riwayatnya.
"Tolong, Cakra," Adrian akhirnya membuang harga dirinya. Dia menangkupkan kedua tangannya. "Aku akan lakukan apa saja. Aku bisa jadi informanmu. Aku bisa berikan koneksi politikku. Apa saja. Asal beri aku uang itu."
Cakra diam, menatap Adrian dengan jijik. Dia berbalik hendak kembali ke kursinya, menganggap pertemuan ini buang-buang waktu.
Saat itulah, dompet Adrian terjatuh dari saku jasnya yang miring karena posisinya yang membungkuk.
Dompet itu terbuka di lantai.
Isinya berhamburan sedikit. Kartu nama, beberapa lembar uang kusut, dan sebuah foto polaroid kecil yang terselip di mika bening.
Langkah Cakra terhenti.
Matanya terpaku ke lantai. Bukan pada kartu kredit platinum yang sudah mati, melainkan pada foto itu. Foto Elena.
Di foto itu, Elena sedang tertawa lepas di sebuah taman, rambut panjangnya tertiup angin, wajahnya tanpa make-up, terlihat begitu polos dan bercahaya. Foto yang diambil lima tahun lalu, sebelum Adrian mematikan cahaya di mata itu.
Ruangan mendadak hening. Suhu seolah turun lima derajat lagi.
Cakra membungkuk perlahan. Dia memungut dompet itu. Jari-jarinya yang panjang menyentuh permukaan foto Elena seolah menyentuh barang antik yang rapuh.
"Ini..." Cakra bergumam, suaranya terdengar aneh. Serak dan berat.
"Itu... istriku," jawab Adrian cepat, mencoba mengambil dompetnya kembali. "Maaf, berantakan."
Cakra menarik tangannya menjauh, menatap foto itu lekat-lekat. Rahangnya mengeras. Kilatan di matanya berubah. Dari dingin dan bosan, menjadi... lapar. Obsesif. Dan marah.
"Dia terlalu cantik untuk pecundang sepertimu," gumam Cakra, lebih pada dirinya sendiri. Dia menatap Adrian lagi, kali ini dengan sorot mata yang membuat bulu kuduk Adrian berdiri. Seolah Cakra baru saja menemukan mainan yang sudah lama dia cari.
Cakra berjalan kembali ke mejanya, masih memegang foto Elena (dia mengeluarkan foto itu dari dompet Adrian dan menyimpannya di genggamannya). Dia membuka laci, mengambil sebuah map kulit hitam dan melemparkannya ke hadapan Adrian.
BRAK!
"Aku tidak mau sahammu. Aku tidak butuh koneksimu," suara Cakra memecah keheningan, tegas dan mutlak.
Adrian menatap map itu bingung. "Lalu... apa yang kau mau?"
Cakra menyeringai. Seringai iblis yang menemukan jiwa untuk dibeli.
"Istrimu," jawab Cakra datar.
Adrian melongo. "A-apa?"
"Satu malam," lanjut Cakra tenang, seolah sedang memesan menu makan malam. "Biarkan aku memiliki istrimu untuk satu malam. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada penolakan. Dan besok pagi, lima puluh miliar akan ada di rekeningmu. Lunas. Tanpa bunga."
Dunia Adrian runtuh. Dia teringat ucapan Sisca. Tawarkan sesuatu yang lebih pribadi. Tapi mendengar langsung permintaan itu keluar dari mulut Cakra terasa seperti tamparan keras.
"Kau... kau gila," desis Adrian, separuh marah, separuh tergoda. "Dia istriku, Cakra! Bukan pelacur!"
"Kau yang membuatnya terdengar murah," balas Cakra dingin. Dia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Adrian tajam. "Pikirkan baik-baik, Adrian. Lima puluh miliar untuk dua belas jam. Itu bayaran termahal untuk seorang wanita dalam sejarah."
Cakra melirik jam tangannya yang mewah.
"Ambil kontrak itu, tanda tangan, dan bawa dia ke sini besok malam," Cakra memberi ultimatum. "Atau kau bisa keluar dari sini sekarang, dan biarkan preman-preman itu memotong tubuhmu besok pagi. Pilihanmu."
Cakra melempar dompet kosong Adrian ke dada pria itu.
"Ambil atau mati?"
Lobi hotel bintang lima itu menjulang angkuh dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan langit-langit berlapis emas. Aroma lili segar dan uang lama menguar di udara, menyambut siapa pun yang melangkah masuk.Bagi tamu lain, ini adalah surga kemewahan. Bagiku, ini adalah gerbang penjara."Jalan yang tegap," bisik Adrian di telingaku, tangannya menekan punggung bawahku, mendorongku maju. "Jangan terlihat seperti orang mau dihukum mati. Kamu sedang 'liburan'."Aku memaksakan kakiku melangkah di atas karpet tebal yang meredam suara heels-ku. Mantel panjangku kurapatkan, menutupi lingerie laknat yang melekat di kulitku seperti racun. Di balik saku mantel, tanganku meremas amplop hitam dari pengacara tadi siang hingga lecek.Kami masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk tamu Penthouse.Pintu emas menutup perlahan, memisahkan kami dari keramaian lobi. Kini, hanya ada kami berdua di dalam kotak besi berlapis cermin ini.Suasana hening. Mencekam.Aku melirik pantulan Adrian
Di bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.Cantik. Sangat cantik.Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket."Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap
Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis."Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.Aku menatap ker
Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata."Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap."Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yan
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.Adrian belum pulang.Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa."Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu er
Lift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, membawa Adrian menembus lantai demi lantai Gedung Dirgantara Tower. Setiap detiknya terasa menyiksa. Di dinding lift yang terbuat dari cermin perunggu, Adrian bisa melihat bayangannya sendiri: jas yang kusut, sudut bibir yang bengkak membiru, dan mata yang menyiratkan keputusasaan.Dia sudah mencoba merapikan diri di toilet lobi, tapi bau amis darah dan keringat dingin masih menempel samar di kemejanya.Ting.Pintu lift terbuka.Bukan ruang kantor biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah penthouse luas dengan dinding kaca setinggi lima meter yang menyajikan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Indah, namun dingin.Suhu ruangan itu sepertinya disetel sepuluh derajat lebih rendah dari luar. Adrian menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi karena aura ruangan itu. Semuanya bernuansa monokrom—hitam, abu-abu, dan perak. Tidak ada foto keluarga







