Share

BAB 5 ULTIMATUM BERDARAH

Penulis: Lara Luka
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 09:52:21

Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.

Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.

Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata.

"Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"

Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap.

"Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yang kupunya."

Dia menekan pisau itu lebih dalam. Darah mengalir lebih deras, membasahi kerah kemeja putihnya yang sudah kotor.

"TIDAK!" Aku melangkah maju selangkah, tangan terulur gemetar. Jantungku rasanya mau meledak.

"JANGAN MENDEKAT!" bentak Adrian histeris. Dia memanjat pagar pembatas balkon, satu kakinya kini menggantung di udara kosong. "Satu langkah lagi kamu maju, aku loncat!"

Aku mematung. Napasku tercekat. Aku bisa melihat betapa rapuhnya keseimbangannya. Satu hembusan angin kencang, dan suamiku akan menjadi onggokan daging di aspal lobi apartemen.

"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Adrian?" isakku, air mata membanjiri wajahku. "Kenapa kamu memaksaku memilih antara harga diriku dan nyawamu?"

Adrian tertawa sumbang, air mata bercampur darah di lehernya. "Karena aku tidak punya pilihan lain, Elena! Aku sampah! Aku suami gagal! Dan kamu benar... kamu wanita suci. Kamu terlalu suci untuk berkorban demi suami brengsek sepertiku."

Dia memejamkan mata, wajahnya mendongak ke langit malam. "Maafkan aku, Mama... Maafkan Adrian..."

Tubuhnya condong ke depan. Kakinya mulai terangkat dari pijakan.

Dia benar-benar akan melakukannya.

Duniaku menyempit menjadi satu titik horor itu. Logikaku mati. Prinsip, moral, harga diri—semuanya hancur berkeping-keping dihantam ketakutan akan kehilangan dia. Aku tidak bisa membiarkan dia mati. Tidak di depanku. Tidak karena aku menolak menyelamatkannya.

"OKE!" jeritku sekuat tenaga, suaraku merobek tenggorokan. "AKU LAKUKAN! AKU AKAN LAKUKAN!"

Gerakan Adrian terhenti.

Dia menoleh, matanya menatapku dengan tatapan tak percaya yang menyakitkan. "Apa... apa katamu?"

Aku jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin, menutupi wajahku dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya. Aku merasa kotor. Aku merasa baru saja membunuh jiwaku sendiri.

"Aku akan melakukannya..." ucapku di sela isak tangis yang menyesakkan dada. "Aku akan tidur dengannya. Aku akan temui Cakra. Jadi tolong... tolong turun dari situ, Adrian. Jangan tinggalkan aku."

Hening sejenak. Hanya suara isak tangisku dan desau angin.

Lalu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Logam pisau terjatuh berdenting di lantai.

Sesaat kemudian, sepasang lengan memelukku erat. Adrian merengkuhku, mengangkatku dari posisi berlutut dan membenamkan wajahku ke dadanya yang berbau darah dan keringat.

"Terima kasih, Sayang... Terima kasih..." bisiknya berulang kali di rambutku. Suaranya terdengar lega luar biasa. "Kamu menyelamatkanku. Kamu malaikatku. Aku janji, El, aku janji ini yang terakhir. Setelah ini kita akan bahagia selamanya."

Aku tidak membalas pelukannya. Tanganku terkulai lemas di sisi tubuh. Aku merasa seperti boneka yang tali pengendalinya baru saja diputus. Tatapanku kosong menatap dinding kamar, sementara suamiku menangis haru di bahuku.

Aku baru saja menjual diriku. Aku baru saja menukar kesetiaanku dengan nyawanya.

Namun, di balik punggungku, di tempat yang tidak bisa kulihat...

Adrian membuka matanya.

Tidak ada lagi air mata di sana. Tidak ada lagi kepanikan atau keinginan mati.

Bibirnya yang sobek perlahan melengkung naik. Membentuk sebuah senyum tipis yang dingin dan penuh kemenangan. Dia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin lemari di seberang ruangan—wajah seorang aktor yang baru saja memenangkan piala Oscar untuk penampilan paling meyakinkan dalam hidupnya.

Luka di lehernya perih, tapi itu harga yang murah.

Dia mendapatkan 50 miliar.

Dan dia mendapatkan Elena yang kini hancur, tunduk, dan siap dikorbankan.

"Malam ini istirahatlah," bisik Adrian lembut, tapi matanya di cermin berkilat licik. "Besok, kau harus tampil cantik untuk Cakra."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 8 MENARA EMAS

    Lobi hotel bintang lima itu menjulang angkuh dengan pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan langit-langit berlapis emas. Aroma lili segar dan uang lama menguar di udara, menyambut siapa pun yang melangkah masuk.Bagi tamu lain, ini adalah surga kemewahan. Bagiku, ini adalah gerbang penjara."Jalan yang tegap," bisik Adrian di telingaku, tangannya menekan punggung bawahku, mendorongku maju. "Jangan terlihat seperti orang mau dihukum mati. Kamu sedang 'liburan'."Aku memaksakan kakiku melangkah di atas karpet tebal yang meredam suara heels-ku. Mantel panjangku kurapatkan, menutupi lingerie laknat yang melekat di kulitku seperti racun. Di balik saku mantel, tanganku meremas amplop hitam dari pengacara tadi siang hingga lecek.Kami masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk tamu Penthouse.Pintu emas menutup perlahan, memisahkan kami dari keramaian lobi. Kini, hanya ada kami berdua di dalam kotak besi berlapis cermin ini.Suasana hening. Mencekam.Aku melirik pantulan Adrian

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 7 PERSIAPAN BARANG DAGANGAN

    Di bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.Cantik. Sangat cantik.Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket."Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 6 KONTRAK SETAN

    Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis."Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.Aku menatap ker

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 5 ULTIMATUM BERDARAH

    Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata."Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap."Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yan

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 4 PENJUAL ISTRI

    Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.Adrian belum pulang.Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa."Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu er

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 3 IBLIS BERJAS HITAM

    Lift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, membawa Adrian menembus lantai demi lantai Gedung Dirgantara Tower. Setiap detiknya terasa menyiksa. Di dinding lift yang terbuat dari cermin perunggu, Adrian bisa melihat bayangannya sendiri: jas yang kusut, sudut bibir yang bengkak membiru, dan mata yang menyiratkan keputusasaan.Dia sudah mencoba merapikan diri di toilet lobi, tapi bau amis darah dan keringat dingin masih menempel samar di kemejanya.Ting.Pintu lift terbuka.Bukan ruang kantor biasa yang menyambutnya, melainkan sebuah penthouse luas dengan dinding kaca setinggi lima meter yang menyajikan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Indah, namun dingin.Suhu ruangan itu sepertinya disetel sepuluh derajat lebih rendah dari luar. Adrian menggigil, bukan hanya karena dinginnya AC, tapi karena aura ruangan itu. Semuanya bernuansa monokrom—hitam, abu-abu, dan perak. Tidak ada foto keluarga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status