MasukAngin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.
Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.
Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata.
"Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"
Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap.
"Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yang kupunya."
Dia menekan pisau itu lebih dalam. Darah mengalir lebih deras, membasahi kerah kemeja putihnya yang sudah kotor.
"TIDAK!" Aku melangkah maju selangkah, tangan terulur gemetar. Jantungku rasanya mau meledak.
"JANGAN MENDEKAT!" bentak Adrian histeris. Dia memanjat pagar pembatas balkon, satu kakinya kini menggantung di udara kosong. "Satu langkah lagi kamu maju, aku loncat!"
Aku mematung. Napasku tercekat. Aku bisa melihat betapa rapuhnya keseimbangannya. Satu hembusan angin kencang, dan suamiku akan menjadi onggokan daging di aspal lobi apartemen.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Adrian?" isakku, air mata membanjiri wajahku. "Kenapa kamu memaksaku memilih antara harga diriku dan nyawamu?"
Adrian tertawa sumbang, air mata bercampur darah di lehernya. "Karena aku tidak punya pilihan lain, Elena! Aku sampah! Aku suami gagal! Dan kamu benar... kamu wanita suci. Kamu terlalu suci untuk berkorban demi suami brengsek sepertiku."
Dia memejamkan mata, wajahnya mendongak ke langit malam. "Maafkan aku, Mama... Maafkan Adrian..."
Tubuhnya condong ke depan. Kakinya mulai terangkat dari pijakan.
Dia benar-benar akan melakukannya.
Duniaku menyempit menjadi satu titik horor itu. Logikaku mati. Prinsip, moral, harga diri—semuanya hancur berkeping-keping dihantam ketakutan akan kehilangan dia. Aku tidak bisa membiarkan dia mati. Tidak di depanku. Tidak karena aku menolak menyelamatkannya.
"OKE!" jeritku sekuat tenaga, suaraku merobek tenggorokan. "AKU LAKUKAN! AKU AKAN LAKUKAN!"
Gerakan Adrian terhenti.
Dia menoleh, matanya menatapku dengan tatapan tak percaya yang menyakitkan. "Apa... apa katamu?"
Aku jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin, menutupi wajahku dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya. Aku merasa kotor. Aku merasa baru saja membunuh jiwaku sendiri.
"Aku akan melakukannya..." ucapku di sela isak tangis yang menyesakkan dada. "Aku akan tidur dengannya. Aku akan temui Cakra. Jadi tolong... tolong turun dari situ, Adrian. Jangan tinggalkan aku."
Hening sejenak. Hanya suara isak tangisku dan desau angin.
Lalu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Logam pisau terjatuh berdenting di lantai.
Sesaat kemudian, sepasang lengan memelukku erat. Adrian merengkuhku, mengangkatku dari posisi berlutut dan membenamkan wajahku ke dadanya yang berbau darah dan keringat.
"Terima kasih, Sayang... Terima kasih..." bisiknya berulang kali di rambutku. Suaranya terdengar lega luar biasa. "Kamu menyelamatkanku. Kamu malaikatku. Aku janji, El, aku janji ini yang terakhir. Setelah ini kita akan bahagia selamanya."
Aku tidak membalas pelukannya. Tanganku terkulai lemas di sisi tubuh. Aku merasa seperti boneka yang tali pengendalinya baru saja diputus. Tatapanku kosong menatap dinding kamar, sementara suamiku menangis haru di bahuku.
Aku baru saja menjual diriku. Aku baru saja menukar kesetiaanku dengan nyawanya.
Namun, di balik punggungku, di tempat yang tidak bisa kulihat...
Adrian membuka matanya.
Tidak ada lagi air mata di sana. Tidak ada lagi kepanikan atau keinginan mati.
Bibirnya yang sobek perlahan melengkung naik. Membentuk sebuah senyum tipis yang dingin dan penuh kemenangan. Dia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin lemari di seberang ruangan—wajah seorang aktor yang baru saja memenangkan piala Oscar untuk penampilan paling meyakinkan dalam hidupnya.
Luka di lehernya perih, tapi itu harga yang murah.
Dia mendapatkan 50 miliar.
Dan dia mendapatkan Elena yang kini hancur, tunduk, dan siap dikorbankan.
"Malam ini istirahatlah," bisik Adrian lembut, tapi matanya di cermin berkilat licik. "Besok, kau harus tampil cantik untuk Cakra."
Gedung Dirgantara Tower bukan sekadar kantor. Di lantai paling atas, tersembunyi di balik pintu biometrik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Cakra, terdapat sebuah sanctuary.Bukan kamar tidur, melainkan sebuah studio lukis.Ruangan itu luas, berlantai beton ekspos dengan dinding kaca setinggi enam meter yang menghadap matahari terbenam. Di tengah ruangan, sebuah easel (penyangga kanvas) kayu jati berdiri kokoh, menopang kanvas putih besar yang masih kosong. Di sampingnya, meja penuh dengan cat minyak Old Holland—sama persis dengan yang dia kirimkan ke rumahku."Ini... ini kantormu?" tanyaku takjub, langkahku menggema di ruangan sunyi itu."Ini tempat pelarianku," koreksi Cakra. Dia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. "Dulu aku ingin jadi arsitek, tapi ayahku memaksaku jadi pebisnis. Jadi aku membangun ruangan ini untuk mengingatkanku bahwa aku masih punya sisi manusia."Dia berjalan menuju easel
Adrian berangkat ke bandara pukul enam pagi, menyeret koper Louis Vuitton-nya dengan wajah pucat sisa sakit perut semalam. Dia mencium pipiku sekilas—ciuman formalitas yang hambar—lalu masuk ke taksi online."Jaga rumah. Jangan keluyuran," pesan terakhirnya sebelum pintu mobil tertutup.Begitu taksi itu hilang di tikungan, senyumku mengembang.Aku tidak menjaga rumah. Dan aku pasti akan keluyuran.Pukul sebelas siang, aku sudah berdiri di depan cermin, mematut diri. Aku mengenakan gaun midi berwarna cream yang lembut dengan potongan leher sabrina, dipadukan dengan heels cokelat muda. Rambutku kigerai bebas, tidak digelung kaku seperti yang disukai Adrian. Aku menyemprotkan sedikit parfum—bukan yang dipilihkan Adrian, tapi Jo Malone aroma Pear & Freesia yang kubeli diam-diam. Wanginya segar, ringan, dan... bebas.Ponsel hitam di saku tasku bergetar.Cakra:
"Aduh... Sialan..."Suara erangan Adrian terdengar lagi dari balik pintu kamar mandi, diikuti bunyi flush toilet yang ketiga kalinya dalam satu jam. Rencana kopi "spesial"-ku bekerja lebih efektif dari dugaan. Adrian batal ke kantor, dan jadwal dinasnya ke Surabaya pun terancam mundur."Sayang, kamu masih di dalam?" tanyaku dari depan pintu, menahan senyum puas di balik nada suaraku yang dibuat cemas. "Perlu aku panggilkan dokter?""Nggak usah!" sahut Adrian ketus di sela-sela rintihan. "Cuma salah makan kayaknya. Perutku melilit banget. Tolong cariin obat diare di kotak obat dong!""Iya, sebentar aku carikan."Aku berbalik, melangkah santai menuju lemari di dekat ruang tamu. Rasanya lega sekali tidak melihat wajahnya berkeliaran di sekitarnya.Ting-tong.Bel pintu berbunyi.Aku melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Tidak ada jadwal tamu.Aku membuka pintu utama. Seorang kurir bermotor dengan jaket o
Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah gorden ruang tamu, menyoroti kekacauan yang ada di sana.Adrian tertidur di sofa panjang dengan posisi meringkuk, masih mengenakan kemeja pestanya yang kusut dan bernoda tumpahan wine. Sepatu pantofelnya terlempar entah ke mana, satu di bawah meja kopi, satu lagi di dekat rak TV. Bau alkohol basi dan muntahan samar menguar di udara, mengubah ruang tamu mewah ini menjadi tempat sampah.Aku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun malamku yang kini terasa lengket. Aku baru saja menyelinap masuk lima menit yang lalu, mencuci muka sebentar di wastafel dapur agar terlihat "bangun tidur", lalu berjalan ke ruang tamu.Aku menatap suamiku.Dulu, pemandangan ini akan membuatku panik. Aku akan lari mengambil air hangat, memijat kepalanya, dan membuatkan sup pereda mabuk. Aku akan khawatir setengah mati pada kesehatannya.Tapi hari ini, aku hanya merasakan... kehampaan."Eungh..." Adrian me
Kembang api terakhir telah padam di langit Jakarta, menyisakan asap tipis yang segera ditelan angin malam. Namun, api di dalam diriku masih menyala, membakar habis sisa-sisa kewarasanku.Cakra melepaskan pelukannya perlahan, memberiku ruang untuk bernapas, meski matanya enggan melepaskan tatapannya dariku.Aku mundur selangkah, menyandarkan punggung pada pagar balkon yang dingin. Tanganku gemetar saat menyentuh bibirku sendiri. Bibir yang baru saja melumat bibir pria lain dengan nafsu yang tidak pernah kuberikan pada suamiku.Realitas menghantamku seperti palu godam.Apa yang baru saja kulakukan?"Elena?" Cakra memanggil, suaranya rendah dan waspada. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh."Jangan," cicitku. Napasku memburu, panik mulai merambat naik ke tenggorokan. "Ya Tuhan... aku... aku berzina. Aku istri orang, Cakra. Aku baru saja mengkhianati Tuhan."Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Bayangan ib
Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski malam ini berubah menjadi lautan topeng. Tema pesta perusahaan Adrian tahun ini adalah Venetian Masquerade. Ratusan tamu mengenakan topeng berbulu, berhias permata, dan berlapis emas, menyembunyikan wajah asli mereka di balik kemewahan palsu.Sangat cocok. Karena malam ini, hidupku juga penuh kepalsuan.Aku mengenakan gaun midnight blue yang elegan, wajahku tertutup separuh oleh topeng perak dengan hiasan renda hitam. Di sampingku, Adrian mengenakan topeng emas mencolok, seolah ingin berteriak pada dunia: Lihat aku! Aku raja malam ini!Dan dia memang merasa jadi raja.Sejak kami datang satu jam lalu, Adrian tidak berhenti minum. Dia berkeliling dari satu meja investor ke meja lain, memamerkan kesuksesan semunya, tertawa terlalu keras, dan merangkulku terlalu erat."Ini istriku, Pak Budi!" Adrian berseru dengan napas berbau whisky, menarik pinggangku kasar di depan







