Compartir

Bab 7

Autor: Nine
Sejak hari itu, Izzy hampir selalu mengurung diri di kamarnya.

Hingga pada suatu malam saat makan malam, Lyra tiba-tiba memegangi perutnya sambil berteriak kesakitan. Wajahnya pucat pasi sebelum akhirnya terjatuh ke dalam pelukan Arsa.

"Ada apa?" Arsa langsung panik dan segera memanggil dokter pribadi.

Setelah melakukan pemeriksaan, wajah dokter menjadi serius. "Keracunan."

Seluruh vila langsung kacau.

Para pelayan berdiri di samping dengan gemetar, sementara kepala pelayan mulai menginterogasi semua orang yang terlibat dalam persiapan makan malam.

"A ... aku melihat ...."

Seorang pelayan muda tiba-tiba angkat bicara dengan gugup, "Aku melihat Nona Izzy memasukkan sesuatu ke dalam sup ...."

Tatapan Arsa langsung membeku. Dia melangkah menuju Izzy dan mencengkeram pergelangan tangannya. Tenaganya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulang. "Cuma karena liontin giok itu, kamu sampai ingin membunuh Lyra?"

Suaranya penuh amarah. "Izzy, sejak kapan kamu berubah jadi begini?"

Izzy mengangkat kepala dan menatapnya. Suaranya sangat pelan, "Aku nggak melakukannya."

"Masih berani menyangkal?" Tatapan Arsa menjadi semakin dingin. Dia menoleh kepada para pelayan. "Bawa sisa supnya ke sini."

Pupil mata Izzy mengecil. "Kamu mau apa?"

"Supaya kamu belajar dari kesalahanmu." Arsa mencengkeram dagunya dan berkata dengan nada dingin, "Setelah ini kamu akan tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang nggak."

Para pelayan membawa sisa sup itu. Atas perintah Arsa, mereka memaksa menuangkannya ke mulut Izzy. Izzy berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, dua pengawal menahannya dengan erat.

Sup hangat itu dipaksa masuk ke tenggorokannya. Dia tersedak hebat hingga terus batuk. Efek racunnya muncul sangat cepat. Izzy langsung jatuh berlutut di lantai karena rasa sakit yang luar biasa.

Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya dalam sekejap. Tubuhnya meringkuk menjadi satu. Kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan hingga hampir melukai kulit. Namun, dia tetap bersikeras mengulang kalimat yang sama.

"Aku nggak meracuninya ...."

"Aku nggak meracuninya ...."

Arsa bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Sepanjang waktu, dia hanya berada di sisi tempat tidur Lyra. Dengan hati-hati dia menyuapkan air minum kepada Lyra. Sesekali, dia mengusap keringat di dahi Lyra dengan handuk basah.

Tatapannya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Sementara Izzy yang menggigil kesakitan di lantai tidak pernah diliriknya sama sekali.

"Arsa ...." Lyra dengan lemah menggenggam tangannya. "Izzy ...."

"Jangan bela dia." Arsa menenangkannya dengan suara lembut, "Kamu istirahat saja yang baik."

Kesadaran Izzy mulai kabur. Rasa sakit yang luar biasa membuat pandangannya semakin gelap. Hal terakhir yang dia ingat hanyalah tubuhnya diangkat dengan kasar ke atas ambulans. Dia terbaring di rumah sakit sepanjang malam. Tidak ada seorang pun yang datang menjenguknya.

Ketika kembali ke vila keesokan harinya, seluruh rumah terasa kosong dan sunyi. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah foto dikirim oleh Lyra. Di bawah langit biru dan lautan yang luas, Arsa merangkul pinggang Lyra. Keduanya tersenyum cerah ke arah kamera.

Di bawah foto itu terdapat sebuah keterangan:

[ Seseorang membawaku ke pantai untuk menenangkan diri. Katanya aku terlalu terkejut dan perlu bersantai .... ]

Izzy mematikan layar ponselnya dengan tenang, lalu dia mulai membereskan barang-barangnya. Saat menarik ritsleting koper hingga tertutup, dia tiba-tiba menyadari sesuatu.

Setelah tinggal di rumah ini selama tiga tahun ... ternyata barang-barang yang benar-benar miliknya sangat sedikit. Satu koper berukuran 24 inci sudah cukup untuk memuat seluruh jejak keberadaannya.

Ternyata dia memang tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari rumah ini. Sama seperti dia yang tidak pernah benar-benar masuk ke dalam hati Arsa.

"Sudah sadar kalau kamu salah?" Suara Arsa tiba-tiba terdengar dari belakang.

Izzy berbalik. Dia melihat Arsa berdiri tegak di ambang pintu dengan setelan jas yang rapi. Alisnya sedikit berkerut, sementara tatapannya menilai dirinya.

"Aku sudah sadar," jawab Izzy pelan.

Yang salah adalah mencintaimu. Yang salah adalah bertahan di sisimu selama bertahun-tahun dengan keras kepala.

Ekspresi Arsa sedikit melunak. "Bagus kalau begitu. Ganti pakaian. Kita pergi ke acara kumpul-kumpul."

"Acara kumpul-kumpul?" Izzy sedikit tertegun. "Kamu lupa kalau hari ini ulang tahunku?"

Kerutan di kening Arsa semakin dalam. Nada bicaranya mengandung sedikit ketidakpercayaan, seolah melupakan hari ulang tahunnya adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

Barulah Izzy tersadar.

Benar. Hari ini adalah ulang tahun Arsa.

Pada tahun-tahun sebelumnya, di waktu seperti ini dia pasti sudah menyiapkan kue ulang tahun. Dia juga akan memilih hadiah dengan sangat hati-hati, bahkan mengatur seluruh dekorasi sendiri. Dia hafal rasa makanan favorit Arsa. Dia tahu dekorasi apa yang tidak disukai pria itu.

Bahkan, dia mengingat setiap harapan ulang tahun yang pernah diucapkan Arsa dari tahun ke tahun. Namun, sekarang ... dia malah melupakannya.

"Pergilah dulu," kata Izzy pelan. Suaranya begitu ringan hingga nyaris tak terdengar. "Aku akan ganti baju, lalu menyiapkan hadiah dan menyusul ke sana."

"Arsa!" Suara Lyra terdengar dari lantai bawah dengan manja. "Semua orang sudah menunggumu!"

Arsa mengangguk. Dia menatap Izzy sekali lagi. "Cepat menyusul."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi. Suara langkah kakinya perlahan menjauh hingga menghilang.

Izzy tetap berdiri di tempat. Dia memandangi punggung Arsa yang menghilang di ujung lorong. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum mengejek diri sendiri.

'Arsa .... Kali ini, hadiah ulang tahun yang kuberikan kepadamu adalah menghilang selamanya dari duniamu. Aku akan memenuhi keinginanmu dan Lyra. Sekaligus membebaskan diriku sendiri.'

Dia mengangkat koper yang sebenarnya sudah lama dibereskannya. Untuk terakhir kalinya, dia memandang sekeliling rumah yang telah ditinggalinya selama tiga tahun. Lalu, dia pergi tanpa menoleh kembali.

Bandara dipenuhi lalu-lalang manusia. Saat berdiri di depan gerbang keberangkatan, Izzy mengeluarkan ponselnya. Dia mengirim pesan terakhir kepada Arsa.

[ Arsa, aku pergi. Semoga kamu dan Lyra selalu saling mencintai, setia satu sama lain, dan menua bersama dalam kebahagiaan. ]

Setelah itu, dia mematikan ponselnya. Lalu melangkah menuju gerbang keberangkatan.

Tiga tahun cinta yang begitu dalam. Kini terbangun dari mimpi dalam sekejap.

Mulai hari ini, gunung dan sungai akan memisahkan jalan mereka dan mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 23

    Izzy tetap pergi, dengan tanpa keraguan sedikit pun. Kepergiannya juga sesuai dengan apa yang telah diduga semua orang. Bahkan Tano dan yang lainnya tanpa sadar menghela napas lega saat melihatnya pergi.Mereka semua tahu bahwa jika Izzy benar-benar dipaksa untuk tetap tinggal, maka hari-hari berikutnya mungkin akan terus seperti hari ini. Dia akan terus dipaksa menerima cinta Arsa. Namun, tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.Mungkin inilah yang disebut memiliki takdir untuk bertemu, tetapi tidak memiliki takdir untuk bersama.Mereka pernah saling mencintai. Sayangnya, hati mereka tidak pernah berada pada waktu yang sama.Saat Izzy paling mencintainya, Arsa hanya memikirkan harga dirinya sendiri. Bahkan dia lebih memilih memberikan seluruh perhatian kepada seseorang yang pernah meninggalkannya. Daripada melihat orang yang benar-benar layak dihargai dan selama ini berada di sisinya.Lalu ketika Izzy pergi ... dia baru menyesal. Baru ingin memperbaiki semuanya.Na

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 22

    "Izzy, selamat ulang tahun." Suara Arsa menariknya kembali dari lamunannya.Izzy menarik sudut bibirnya tipis. Dia menundukkan pandangan, menyembunyikan semua emosi di matanya, lalu menjawab pelan, "Terima kasih."Saat pikirannya masih melayang ke mana-mana, sepotong kue tiba-tiba disodorkan ke hadapannya. Ketika mengangkat kepala, dia melihat wajah Arsa yang dipenuhi senyum."Izzy, nggak perlu terima kasih sama aku. Kali ini semuanya memang terlalu mendadak, jadi persiapannya masih kurang. Tahun depan aku pasti akan mengadakan pesta ulang tahun yang lebih cocok dan lebih megah untukmu.""Gimana?"Izzy tidak menjawab. Dia mengambil sesuap kue. Krim mahal itu terasa lembut di mulut, manis tanpa membuat enek. Namun entah mengapa, rasanya tetap hambar baginya.Tanpa sadar, dia menggenggam gelang batu kecubung di tangannya sedikit lebih erat. Butiran kristal saling beradu dan mengeluarkan bunyi pelan. Sebenarnya, dia tidak menyukai satu pun hadiah itu.Yang benar-benar dia inginkan hanyala

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 21

    Dua hari kemudian, tibalah hari ulang tahun Izzy. Arsa sengaja membatalkan semua jadwal pekerjaannya. Namun baru saat hendak menyiapkan kue ulang tahun, dia menyadari betapa sedikitnya dia mengenal Izzy. Dia bahkan tidak tahu rasa kue apa yang disukai Izzy.Karena tidak punya pilihan lain, dia akhirnya membeli semua jenis dan semua rasa yang tersedia. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya dia benar-benar merayakan ulang tahun Izzy dengan serius.Sebelum kecelakaannya, sebagai putra kebanggaan Keluarga Radhika, Arsa bahkan tidak pernah memperhatikan ulang tahun seorang siswi miskin yang dibiayai keluarganya. Kemudian setelah Izzy datang ke sisinya, Arsa malah sedang berada dalam masa paling kelam setelah lumpuh.Saat itu, pikirannya hanya dipenuhi rasa malu karena kondisinya dilihat orang lain dan hampir setiap hari dia melampiaskan emosinya kepada Izzy. Belakangan, berkat perhatian dan dorongan yang terus diberikan Izzy, kondisinya perlahan membaik.Arsa akhirnya belajar men

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 20

    Izzy benar-benar tidak mengerti.Untuk apa semua ini? Arsa tidak mungkin bisa menahannya di sini seumur hidup. Cepat atau lambat, dia tetap akan pergi. Kalau begitu, untuk apa terus melakukan hal-hal yang sia-sia seperti ini?Namun, Arsa tidak pernah peduli berapa lama waktu akan berlalu. Yang dia takutkan hanyalah satu hal. Bahwa suatu hari nanti Izzy akan pergi lagi. Sama seperti terakhir kali, menghilang begitu saja dari hidupnya.Karena itulah, selama masih ada kesempatan untuk berada di sisinya, baik kesempatan itu sekecil apa pun, Arsa tidak ingin melepaskannya.Ketika Izzy menghitung matahari terbenam untuk ketiga kalinya sejak berada di vila itu, Arsa kembali pulang. Kali ini, dia membawa sesuatu bersamanya. Sekelompok besar anggrek kupu-kupu.Bunga itu adalah permintaan Izzy beberapa hari sebelumnya. Saat Arsa bertanya apakah ada sesuatu yang dia sukai dan ingin dibawakan lain kali, itulah yang dia minta.Sebenarnya, cuaca di ibu kota tidak terlalu cocok untuk menanam anggrek

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 19

    Sama seperti dulu saat dia menyukai Arsa.Ketika mendengar Arsa terpuruk setelah lumpuh akibat kecelakaan, Izzy langsung datang ke sisinya tanpa ragu. Meskipun saat itu Arsa mudah marah, sulit ditebak, bahkan sering memaki dan melampiaskan emosinya kepadanya, Izzy tidak pernah berpikir untuk mundur.Begitu pula dengan Marco.Meski Izzy berkali-kali menolak dan menjaga jarak, Marco tetap sama seperti sebelumnya. Dia tidak pernah menyerah. Dia terus bertahan dengan ketulusan dan kesabarannya hingga akhirnya berhasil menyentuh hati Izzy.Namun selama bersama Arsa, Izzy tidak pernah merasakan hal seperti itu. Bahkan pada masa-masa menjelang kesembuhannya, ketika sikap Arsa perlahan berubah dari kasar menjadi lebih tenang, perubahan itu hanya sebatas tidak lagi seburuk dulu.Tidak lebih dari itu."Kalau begitu, Lyra gimana?"Izzy menundukkan pandangan, menyembunyikan emosi di matanya. Suaranya tetap tenang.Arsa sama sekali tidak merasa kecewa dengan sikapnya. Sebaliknya setelah mendengar p

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 18

    Di sisi lain, Izzy sama sekali tidak mengetahui semua itu. Sebenarnya, ide untuk mengadakan pernikahan di tanah air datang dari ayah Marco.Meskipun sekarang ayah Marco telah menetap di luar negeri, para sesepuh keluarga besar mereka masih tinggal di dalam negeri. Selain itu, kakek dan nenek Marco juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu mereka. Ditambah lagi, sebagian besar teman dan kerabat keluarga juga berada di sini.Karena itulah, pada akhirnya lokasi pernikahan tetap diputuskan di tanah air.Mempersiapkan pernikahan adalah pekerjaan yang rumit dan sangat menyita waktu. Karena tanggal pernikahan ditetapkan cukup mendadak, ada begitu banyak hal yang harus mereka urus.Setiap hari mereka sibuk ke sana kemari hingga Izzy kewalahan. Dia bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain. Nama Arsa pun sudah lama terlempar dari pikirannya.Namun yang tidak dia sangka adalah, meskipun dia telah melupakan Arsa, Arsa tidak melupakannya. Bahkan pria itu langsung muncul di hadapannya.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status