MasukPOV: David
Aku menatap Caroline yang berlari ke balkon ruang VIP ini. Dia terlihat senang dengan makan malam yang ia pikir adalah kejutan untuknya. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah karena menolaknya untuk makan malam bersama, dan justru mengajak Vanesa ke tempat ini. Tempat yang sangat diharapkan Caroline agar bisa berduaan denganku. Caroline tidak salah menginginkannya, karena memang kita sudah lama tak pergi berdua. Dan sebagai istri yang penurut juga begitu mencintaiku, dia pasti sangat merindukan saat-saat seperti ini. Ah, seharusnya aku lebih memikirkan Vanesa sekarang. Dia pasti sangat sedih, karena makan malam yang aku janjikan justru direbut oleh Caroline. Apalagi Caroline bersikap angkuh dan seakan paling berkuasa di hadapannya tadi. Itu pasti sangat menyakitkan Vanessa. Aku akan menggantinya nanti, mungkin dengan hadiah yang lebih indah. Sekarang aku harus berada di peranku agar hubunganku dengan Caroline baik-baik saja, hingga tua bangka Abraham itu menyerahkan 60% sahamnya pada anaknya yang bodoh ini. Setelah itu aku akan lebih mudah mengambil alih saham itu jika sudah jatuh di tangan Caroline. Barulah aku bisa menikahi Vanesa dan hidup bahagia dengannya. Aku menghela nafas sebelum melangkah mendekati Caroline yang berdiri di balkon restoran. Aku memeluknya dari belakang dengan mesra. “Sayang, aku sangat merindukanmu,” ucapku. Namun aku tak mendapat jawaban dari Caroline. Ia masih memejamkan mata sambil tersenyum, menikmati angin malam yang dengan lembut meniup rambut ke wajahnya. Jujur, sebenarnya Caroline sangat cantik. Dia begitu cantik dilihat dari sudut manapun. Hanya saja dia tidak memiliki apa yang Vanesa miliki. Bersama Caroline, aku seperti hidup dalam peraturan. Aku dituntut untuk selalu peduli padanya, menunjukkan cinta padanya, dan memahaminya. Apalagi ayahnya yang selalu mengancam akan menghancurkan hidupku, jika Caroline sampai menangis karena sakit hati olehku. Dan untungnya, aku bisa mengendalikan semuanya, hingga kedekatanku dengan Vanesa pun tak dicurigai siapa pun. “Sayang, kenapa diam saja? Apa kamu tidak merindukanku juga?” ulangku saat tak kunjung mendapat jawaban. “Jika aku tidak merindukanmu, aku tidak akan berada di sini bersamamu. Aku sangat merindukanmu sampai aku ingin menghibur diriku bersama orang tuaku, karena kamu yang belum bisa bersamaku. Tapi ternyata, kamu masih secinta itu sama aku hingga membuat kejutan seperti ini. Terima kasih.” Jawaban Caroline membuat aku ingin tertawa. Bagaimana bisa ia menganggap jika makan malam ini adalah bukti cintaku padanya? Padahal sebenarnya semua ini karena aku yang begitu mencintai Vanesa. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak menyangka jika dia datang ke restoran ini untuk makan malam bersama keluarganya. Sebaiknya aku menikmati saja malam ini dengan Caroline. Memeluknya tidak akan membuatku rugi juga. Dia cantik dan dia istriku. “Apa kamu senang sekarang, sayang?” tanyaku. Aku sengaja mengecup lehernya dengan mesra. Caroline langsung melepaskan pelukanku, solah menghindar dari ciumanku. Ia mengangguk. “Aku senang sekali. Em, sayang, apa kamu sudah pesan makanan? Aku lapar.” Matilah aku. Aku sudah memesan makanan, tapi makanan yang kupesan adalah kesukaan Vanesa. Bagaimana aku mencari alasan untuk menjelaskan nanti. “Sayang?” Caroline memanggilku lagi, membuat aku panik setengah mati. “Aku sudah pesan. Dan aku ingin kamu mencobanya. Ayo, sebentar lagi makanan pasti dihidangkan.” Caroline mengangguk, lalu ia melangkah dan duduk. Benar saja, tak lama kemudian hidangan makan malam disajikan. Caroline mengernyitkan dahi saat hidangan di atas meja mulai tersaji satu per satu. Aku memesan fettuccine alfredo dengan truffle oil, disajikan hangat dengan aroma keju parmesan yang kuat. Di sampingnya, grilled salmon dengan lemon butter sauce tertata rapi, lengkap dengan sayuran panggang berwarna cerah. Dan di tengah meja, pelayan meletakkan tiramisu klasik Italia sebagai hidangan penutup. Makanan tersebut mewah dan pastinya sangat enak, tapi tidak untuk Caroline. Aku menelan ludah pelan, berusaha tetap terlihat tenang. Sementara Caroline tidak langsung menyentuh makanannya. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatapku. “Kamu yakin makanan yang kamu pesan ini buat aku?” Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Pertanyaan itu benar-benar membuat aku hampir mati kutu. Itu karena aku tahu persis jika Caroline tidak menyukai keju dan salmon. Andai saja dia tidak merebut makan malam romantisku dengan Vanesa? Ah…sudahlah. Caroline menyandarkan tubuhnya di kursi. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya, tapi aku juga tidak tahu harus berkata apa. Hari ini aku benar-benar sial. Sebelumnya aku pikir memesan makanan saat memesan meja ini adalah keputusan yang tepat, karena ingin menghabiskan waktu bersama Vanesa. Tapi semua justru di luar prediksi. “Sayang, aku—,” “Sudahlah.” Caroline memotong ucapanku. Sekarang dia mengambil ponselnya. Apa dia akan langsung mengadu pada ayahnya? “Aku tidak akan mempermasalahkan tentang makanan ini. Kita bisa memesan makanan lain, kan?” ucapnya lagi. Dan itu membuatku lega, terlebih saat ia kembali meletakkan ponselnya ketika jantungku hampir berhenti berdetak. Bahkan ia tersenyum. Tunggu…, dia tidak marah? Bukankah itu aneh? “Sayang, apa kamu tidak marah karena aku salah pesan makanan?” tanyaku. Dia menggeleng. “Kita jarang bisa bersama. Aku hanya tidak mau merusak momen kebersamaan kita, hanya karena kamu yang mungkin mengingat orang lain saat memesan makanan ini.” Dia tersenyum, tapi ucapannya seperti sebuah sindiran untukku. Apa ini hanya perasaanku, atau jangan-jangan… Tiba-tiba ia menjauhkan dua piring makanan itu, lalu menarik tiramisu ke arahnya. Setidaknya makanan manis itu bisa menyelamatkanku kali ini. “Sayang, apa kamu mau pesan makanan lagi? Kamu mau pesan apa? aku akan memesankannya?” tanyaku. “Tidak perlu, cukup tiramisu ini saja. Lagi pula aku sudah tidak berselera makan lagi,” jawabnya terdengar dingin. Itu lebih baik, karena itu membuktikan dia marah. Dan itu artinya, dia tidak mencurigaiku. Aku aman. “Aku minta maaf, sayang. Aku tahu kamu sangat kecewa dengan pesananku yang salah. Bagaimana kalau aku yang pesankan lagi saja, aku pastikan kali ini tidak akan—” “Tidak perlu.” Dia memotong ucapanku. “Tapi kamu belum makan, dan tadi kamu juga bilang laper, kan? Aku nggak mau kamu sakit.” “Itu tadi, sekarang tidak terlalu. Nanti saja saat kita pulang, kita mampir makan nasi goreng langganan kita dulu.” Aku mengangguk pelan. Sebaiknya aku jangan terlalu memaksa. Turuti saja apa maunya, maka semua akan baik-baik saja. “Ah,” pekiknya pelan saat mengunyah tiramisu, lalu mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Astaga! Aku baru ingat. Aku meminta pelayan meletakan hadiah untuk Vanessa sebagai kejutan di tiramisu itu. Matilah aku, alasan apalagi yang harus aku berikan sekarang? Ia membuka bungkusan kecil itu, lalu menatap ke arahku. “Apa ini juga kejutan untukku?” tanyanya semakin membuat aku panik. Terlebih tatapannya yang tajam benar-benar mengintimidasiku. Apa dia tidak akan curiga jika aku mengatakan ini adalah kejutan untuknya? Apa dia akan percaya dengan alasan itu? Sedangkan dia baru saja aku buat kecewa dengan makanan yang aku pesan.Senyum Rian benar-benar hilang, terlebih ia melihat kekasih adiknya justru bersama teman lamanya. Ia menatap Faris penuh selidik.“Maaf, saya rasa anda sudah salah paham. Bahkan saya tidak mengenal anda, ataupun adik anda,” ucap Faris. Ia masih berdiri tenang menatap Rian.“Kamu tidak mengenal adikku?” Rian menggeleng pelan sambil menghela nafas. “Maya akan tersakiti jika dia mendengarnya, Faris.”“Maya?” tanya Caroline memastikan.“Ya, Maya, adikku.”“Tunggu, Maya adik anda?” Faris ikut bertanya.“Tentu saja, dan kemarin kamu menjemputnya untuk pergi ke suatu tempat,” sahut Rian.“Tapi Maya bukan pacar saya,” bantah Faris.Rian melipat kedua tangannya. tatapannya berubah penuh kekesalan pada Faris. “Jangan bilang sekarang kamu mau pura-pura tidak punya pacar hanya karena datang ke reuni bersama Caroline.”“Saya tidak pura-pura. Saya memang tidak—”“Faris,” potong Caroline. Ia tahu jika ia tetap merahasiakan siapa Faris sebenarnya, masalahnya pasti akan runyam. “Kemarin kamu bilang pa
Caroline menatap hotel itu cukup lama. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.Mungkin wanita itu memang keluarganya. Mungkin mereka hanya datang untuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin ada urusan penting yang tidak bisa dilakukan di tempat lain.Namun satu hal yang tidak bisa Caroline jelaskan adalah, alasan mengapa hatinya justru terasa begitu tidak nyaman.“Kenapa aku harus peduli?” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia bukan kekasihku apalagi suamiku. Lalu kenapa aku harus penasaran dengan apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu?”Kalimat itu justru membuat Caroline terdiam. ‘Benar. Faris hanyalah seorang ajudan yang selama ini bekerja untuk keluargaku. Seseorang yang bertugas menjagaku, memastikan kebutuhanku terpenuhi, melindungiku, dan membantuku dalam pekerjaan. Tidak lebih.’Caroline kembali menatap ke arah hotel. ‘Jadi kenapa aku merasa seperti perempuan bodoh yang sedang memata-matai pacarnya sendiri?’Carolin
“Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang
Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya
Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m
Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita







