تسجيل الدخولTernyata selain makan malam, suamiku ini ingin memberikan hadiah kejutan untuk selingkuhannya. Lucunya, hadiah untuk wanita lain justru ditemukan olehku. Istri sah yang selalu berdiri di belakangnya, tapi ia khianati dengan perselingkuhan.
Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan amarahku. Raut wajahku tak bisa aku ajak untuk berpura-pura lagi. “Apa kamu menyukainya, sayang?” tanyanya yang langsung membuatku mau tak mau harus menahan amarahku lagi. Aku tersenyum tipis, lalu mengangguk. David berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiriku. Dia mengambil kalung di tanganku, lalu memakaikannya di leherku. Dan setelah itu dia memelukku dari belakang. “Sebenarnya, inilah kejutan sesungguhnya. Maafkan aku jika tadi sengaja membuatmu marah terlebih dulu, sebelum kejutan ini kamu temukan.” Ya Tuhan, kenapa suamiku begitu pintar membohongiku. Bahkan kesalahannya bisa ia ubah menjadi sebuah ide baru dengan begitu cepat. Aku hanya tersenyum. Sumpah, kali ini aku tidak bisa menyembunyikan rasa muakku. Jika saja aku punya kekuatan super, mungkin aku sudah membanting pria yang sedang memelukku dengan tak tahu malunya ini. Dan aku lempar ke mesin pemotong kayu di pabrik ayahku. Aku mengambil ponsel. Meski sedikit ingin muntah saat David memelukku sambil mengatakan bualannya ini, tapi aku juga punya ide yang tak kalah menariknya. Aku mengambil foto kami. Aku mencium pipinya agar foto itu terlihat mesra. “Kenapa harus di foto?” tanyanya. “Buat kenang-kenangan, karena momen yang indah ini jarang terjadi, kan? Aku akan menjadikannya story di wall-ku.” “Seharusnya aku membeli kalung yang lebih mahal dari ini jika tahu kamu akan menguploadnya ke sosmedmu.” Tahu aku yang akan memakainya, atau tahu akan kepergok olehku? Aku tersenyum ke arahnya yang kini sudah duduk kembali di depanku. “Aku tidak peduli harga barang yang kamu berikan padaku, karena aku bisa membeli apapun yang aku mau. Tapi apa kamu tahu, meski aku bisa membeli apapun yang aku inginkan, tapi aku jauh lebih bahagia jika kamu yang membelinya dan dengan full effort seperti ini. Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung, memiliki suami yang begitu mencintaiku hingga hal kecil seperti ini ia siapkan di tengah kesibukannya. Ya, meski dengan sedikit bantuan staf kantor.” Aku kembali menatap layar ponselku. Tersenyum puas saat melihat si Doggy yang sudah melihat storyku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya setelah melihat foto ini, apalagi aku menuliskan caption— “Terimakasih atas effortmu, sayang. Nggak nyangka banget kamu akan memberikan kejutan yang begitu indah malam ini. Makan malam yang begitu romantis, dan hadiah yang kamu siapkan sebagai kejutan berikutnya. Kalung cantik ini, kini milikku. Ternyata apa yang seharusnya menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku.” tulisku dengan tambahan emoji senyum penuh cinta. Vanessa lama tak komentar apapun, tapi aku pastikan dia sedang tantrum sendiri. Hingga akhirnya aku melihat ia sedang mengetik sesuatu, tapi aku langsung memasukan ponselku kembali ke dalam tasku. Aku menikmati tiramisu itu dengan mood yang lebih baik sekarang. “Carol, David.” Suara ayahku terdengar memanggil saat kami berjalan keluar restoran. Mereka menghampiri kami. “Pa, Ma,” panggilku yang langsung menghampiri mereka. Aku pun sempat melirik ke arah Faris di belakang mereka. Aku tersenyum sebagai tanda terimakasihku, karena dia banyak membantuku malam ini hingga rencanaku berjalan mulus. Terlebih ia juga mengatur agar saat aku dan David keluar, saat itu juga papa dan mama keluar. “Pa, Ma. Ternyata kalian masih di sini?” tanya David. Ia menyalami kedua orang tuaku, menunjukan betapa baik dan sopannya ia sebagai menantu. Namun ibuku yang memang kurang suka pada David hanya tersenyum tipis, lalu menatap ke arahku. Dia menggapai kalung di leherku, melihatnya sekilas lalu melirik ke arah David. “Kamu membelikan kalung murahan ini untuk anakku? Kamu kemanakan uang bulananmu dari perusahaan, David? Bahkan kalung ini harganya tidak sampai separo uang bulananmu dari kami.” “Ma, jangan begitu,” ucapku sebelum David sempat menanggapi ucapan ibu. “Jangan hanya melihat harganya, tapi lihat bagaimana suamiku ini berusaha keras membahagiakan aku. Selain itu, yang terpenting benda kecil ini menjadi milikku, bukan milik orang lain.” Aku menoleh ke arah David. “Iya kan, sayang?” tanyaku. Ia terlihat pucat, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum kikuk. Mama menghela nafas. “Ya sudahlah, lain kali kalau mau membelikan hadiah, sesuaikan juga dengan selera Carol. jangan barang murahan seperti ini.” Aku tersenyum kecil. "Ma, sudah. Aku suka, kok." Mama hanya menghela napas pelan, lalu berdecak. Papa yang sejak tadi diam akhirnya menatapku. "Sayang." "Iya, Pa?" "Kemarin Faris bilang kamu beberapa kali menanyakan laporan perusahaan." Aku sempat melirik Faris yang berdiri beberapa langkah di belakang Papa. Pria itu hanya menundukkan kepala, seolah tak merasa bersalah. Padahal aku sudah mengatakan padanya, agar tidak membicarakan ini dulu dengan Papa. "Emm, cuma iseng baca-baca, Pa. Bosen saja di rumah nggak ada kerjaan." Papa tersenyum tipis. “Bosan…? Atau kamu sudah mulai ingin kembali ke kantor?" Aku sedikit terdiam. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, apalagi di depan Davin. "Emmm, aku belum tahu, Pa,” jawabku akhirnya. "Kalau memang belum siap, tidak perlu dipaksakan. Tapi Papa akan sangat senang jika kamu kembali ke perusahaan. Apalagi Papa sudah tidak muda lagi, papa juga ingin beristirahat menikmati hari tua." Papa menepuk pelan bahuku. "Karena bagaimanapun juga perusahaan itu nantinya akan menjadi tanggung jawabmu. Sesekali datang juga tidak masalah. Anggap saja melepas rindu dengan orang-orang kantor." Aku mengangguk pelan. "Nanti aku pikirkan, Pa." Papa mengangguk sambil tersenyum, lalu menggenggam tangan Mama. "Kalau begitu kami pulang dulu." Aku memeluk mereka bergantian sebelum akhirnya Papa dan Mama berjalan menuju lift. Mereka sama sekali tak berpamitan pada David, bahkan sekedar menoleh sebelum pergi pun mereka terlihat enggan. Saat pintu lift tertutup, suasana mendadak menjadi hening. Aku kembali menoleh ke arah David. Tatapannya terlihat tenang, tetapi aku mengenalnya terlalu baik untuk tidak menyadari kegelisahan yang sedang ia sembunyikan. “Ayo pulang,” ucapku. >>>>>>> "Sayang..." panggil David saat kami sudah ada di kamar. "Hm?" "Tentang ucapanmu di restoran tadi… apa kamu benar-benar ingin kembali ke kantor?" Aku menatapnya datar. “Nggak tahu juga. Memangnya kenapa?" "Nggak kenapa-kenapa." Ia tersenyum kecil. "Aku cuma kaget. Bukannya dulu kamu bilang sudah nyaman di rumah?" Aku ikut tersenyum. “Ya, lagipula aku juga belum memutuskannya, dan masih betah jadi ibu rumah tangga. Tapi…, nggak ada salahnya juga, kan? jika sesekali aku datang ke kantor dan ingin tahu perkembangannya? Selain itu…, kita juga belum punya anak yang menghalangiku untuk kembali berkarir.” David mengangguk dengan senyum yang tetap terpasang. Namun entah kenapa, kali ini senyum itu terlihat begitu dipaksakan. Aku memalingkan wajah agar ia tak melihat senyum tipis yang mulai muncul di bibirku. Tenang saja, Mas. Aku akan kembali ke kantor. Bukan karena tiba-tiba aku merindukan pekerjaanku. Tapi aku hanya ingin melihat, seberapa lama kalian masih bisa bermain di belakangku saat aku berada tepat di depan mata kalian setiap hari. Tiba-tiba David memelukku dari belakang setelah menutup pintu kamar. Ia menyingkirkan rambutku di belakang leher, lalu dengan lembut mengecupnya. Aneh. Seingatku, selama hampir setengah tahun ini ia tak begitu menunjukan sisi romantisnya saat ingin bermain di ranjang. Bahkan sering aku yang merayunya terlebih dulu, meski ujung-ujungnya ia menolak dengan alasan capek. Sebelum aku tahu jika ternyata alasannya menolak, itu karena ia sudah punya simpanan yang mungkin lebih membuatnya bergairah. “Sayang, bagaimana jika kita coba untuk punya anak lagi?” Aku terbelalak. Ucapan David benar-benar mengagetkanku. Kenapa tiba-tiba dia bicara tentang anak? apa dia menginginkanku malam ini?Senyum Rian benar-benar hilang, terlebih ia melihat kekasih adiknya justru bersama teman lamanya. Ia menatap Faris penuh selidik.“Maaf, saya rasa anda sudah salah paham. Bahkan saya tidak mengenal anda, ataupun adik anda,” ucap Faris. Ia masih berdiri tenang menatap Rian.“Kamu tidak mengenal adikku?” Rian menggeleng pelan sambil menghela nafas. “Maya akan tersakiti jika dia mendengarnya, Faris.”“Maya?” tanya Caroline memastikan.“Ya, Maya, adikku.”“Tunggu, Maya adik anda?” Faris ikut bertanya.“Tentu saja, dan kemarin kamu menjemputnya untuk pergi ke suatu tempat,” sahut Rian.“Tapi Maya bukan pacar saya,” bantah Faris.Rian melipat kedua tangannya. tatapannya berubah penuh kekesalan pada Faris. “Jangan bilang sekarang kamu mau pura-pura tidak punya pacar hanya karena datang ke reuni bersama Caroline.”“Saya tidak pura-pura. Saya memang tidak—”“Faris,” potong Caroline. Ia tahu jika ia tetap merahasiakan siapa Faris sebenarnya, masalahnya pasti akan runyam. “Kemarin kamu bilang pa
Caroline menatap hotel itu cukup lama. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus berusaha mencari alasan yang masuk akal.Mungkin wanita itu memang keluarganya. Mungkin mereka hanya datang untuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin ada urusan penting yang tidak bisa dilakukan di tempat lain.Namun satu hal yang tidak bisa Caroline jelaskan adalah, alasan mengapa hatinya justru terasa begitu tidak nyaman.“Kenapa aku harus peduli?” Ia menghembuskan napas kasar. “Dia bukan kekasihku apalagi suamiku. Lalu kenapa aku harus penasaran dengan apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu?”Kalimat itu justru membuat Caroline terdiam. ‘Benar. Faris hanyalah seorang ajudan yang selama ini bekerja untuk keluargaku. Seseorang yang bertugas menjagaku, memastikan kebutuhanku terpenuhi, melindungiku, dan membantuku dalam pekerjaan. Tidak lebih.’Caroline kembali menatap ke arah hotel. ‘Jadi kenapa aku merasa seperti perempuan bodoh yang sedang memata-matai pacarnya sendiri?’Carolin
“Kamu tidak akan bertanya tentang Faris, jika tidak ada tujuannya. Iya kan?” ucap Ayu kembali.“Ma, aku hanya tanya saja. Sedikit penasaran.”“Benarkah?” Ayu ragu dengan jawaban Caroline.“Ma… Faris ajudanku, dan aku rasa tidak ada salahnya juga aku bertanya tentangnya, kan?”“Ok ok ok.” Ayu hanya terkekeh pelan, lalu mereka melanjutkan makan malam tanpa membahas Faris lagi.Sejak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya semalam, Caroline tak lagi ingin tahu tentang adik yang dimaksud Faris. Sebagai pemilik perusahaan furnitur keluarga, ia tak ingin memikirkan hal yang baginya bukalah hal penting. Apalagi sekarang ia mulai lebih sering turun langsung ke lapangan. Ia ingin mengetahui sendiri bagaimana perkembangan proyek-proyek yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.Pagi itu, Caroline bersama Faris pergi meninjau salah satu proyek produksi furnitur yang sedang dikerjakan untuk sebuah hotel baru.Begitu turun dari mobil, suara mesin pemotong kayu dan aktivitas para pekerja lang
Sudah satu minggu sejak Caroline meninggalkan pernikahan David dan Vanessa, ia merasa hidup dengan udara kebebasan.Pagi itu Caroline berdiri di depan cermin, mengenakan blazer putih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya ditata sederhana. Tidak ada lagi cincin pernikahan di jari manisnya. Statusnya sudah resmi berubah. Ia sempat menatap jari itu beberapa detik. Dulu, benda kecil itu membuatnya merasa memiliki seseorang. Namun sekarang…, ia justru merasa lebih ringan setelah benda itu tidak lagi ada.Ia kembali menatap ke arah cermin. “Aku tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, wanita yang menyandang status janda itu…, adalah aku.”Caroline menghela nafas, lalu mengambil tasnya. Ia keluar dari kamar dengan senyum yang akan menemaninya melewati hari ini."Selamat pagi, Nona," sapa Faris yang sudah menunggu di ruang depan.Caroline berhenti."Sepagi ini kamu sudah datang?"Faris melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul tujuh."Caroline tertawa kecil. "Rasanya
Suara pertengkaran terdengar sampai ke luar. David mendekat perlahan, memastikan apa yang sedang terjadi."Mudah sekali kamu bilang akan bertanggung jawab setelah semua ini terjadi? Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mempermalukan kami!!" bentak ayah Vanessa.David mengernyit. “Bertanggung jawab tentang apa? Dan siapa yang ayah Vanessa maksud?” lirihnya.Ia berjalan cepat menuju pintu yang terbuka. Begitu masuk, matanya langsung membelalak. Pria yang ada di video bersama Vanessa, kini sedang berdiri di ruang tamu.“Pa, Hendri siap tanggung jawab. Bisa nggak Papa jangan marah-marah terus,” ucap Vanessa berdiri di depan pria bernama Hendri, seolah menjadi tameng untuk pria itu saat ayahnya marah.“Kamu ini, sama saja! Bikin malu keluarga! Sekarang kamu sudah terikat pernikahan dengan David, dan sekarang David meninggalkanmu karena bajingan ini.”“Cukup, Pa! David pergi karena dia lebih memilih untuk mengemis pada istri lamanya itu. Bukan karena Hendri!” PLAK!!Tangan ibu Vanessa m
Di ruang tamu, Caroline duduk tenang di sofa. Gaun hitam yang ia kenakan saat menghadiri pesta itu masih melekat di tubuhnya. Bahkan riasan di wajahnya belum sempat ia hapus, seolah ia memang sudah memperkirakan seseorang akan datang malam ini.Di sampingnya, Faris berdiri dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Tatapannya langsung terarah ke pintu begitu pintu terbuka."Aku benar, kan, Faris?" ucap Caroline tanpa sedikit pun terkejut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia benar-benar meninggalkan pesta itu dan langsung datang ke sini. Lihatlah, dia terlihat sangat kacau. Dan sepertinya aku bisa menebak.., dia datang untuk memohon kesempatan dariku."David menatap ke arah Caroline yang duduk tenang menatap ke arahnya. Ia tak lagi peduli harga dirinya. Ia berlari menghampiri Caroline, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu."Caroline,” ucapnya dengan suara yang terdengar parau. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia mencoba menggapai tangan Caroline, tapi wanita







