LOGINHarlan menghentikan langkahnya di balik pilar beton area parkiran luar, matanya menyempit menembus tirai tipis gerimis pagi. Di dekat pintu masuk samping gedung rumah susun, sosok Clara berdiri anggun dengan gaun kasual sederhana yang dibalut mantel cokelat.Di hadapan Clara, tujuh pria bersetelan jas gelap yang beberapa menit lalu berada di lorong rumah susun kini berdiri berbaris rapi. Pria-pria berperekatan fisik tegap yang tampak berbahaya itu memiringkan kepala mereka, menunduk dalam-dalam dengan gestur kepatuhan mutlak.Harlan menahan napasnya, merapatkan tubuhnya ke dinding cold-storage parkiran agar keberadaannya sama sekali tidak terdeteksi oleh siapapun.Pria itu menyaksikan bagaimana salah satu dari gerombolan berjas tersebut menyerahkan sebuah folder tebal berselotip segel hitam kepada Clara dengan kedua tangannya.Clara menerima folder tersebut tanpa ada sedikit pun raut wajah terkejut, cemas, atau takut seperti yang selama ini ditunjukkannya. Jemari halus perempuan itu m
Harlan menarik napas dalam-dalam saat menyapu punggung Clara yang mulus, merasakan detak jantung perempuan itu yang berdegup kencang di atas dadanya. Di dalam kamar rumah susun yang remang-remang, sisa-sisa gairah malam masih menyelimuti udara dingin di antara mereka.Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Harlan, membiarkan jemarinya menelusuri bekas luka samar di bahu pria itu. keheningan malam terasa sangat berharga bagi mereka berdua di tengah pusaran konspirasi berdarah yang terus mengintai."Harlan, sebenarnya siapa kamu yang sebenarnya sebelum menjadi pengawal?" bisik Clara pelan, menatap wajah Harlan dari dekat dengan pandangan sarat akan rasa ingin tahu.Harlan menghentikan belaian jemarinya di rambut Clara, matanya yang tadi lembut mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar, dengan halus menghindari tatapan mata Clara."Ada hal-hal dari masa lalu yang tidak perlu kamu ketahui, Clara," jawab Harla
Brian mengacak-acak rambutnya yang kusut sembari membuang tumpukan surat tagihan berstempel merah ke atas meja kaca. Matanya yang merah akibat kurang tidur menatap layar gawai yang terus menerus bergetar menayangkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal."Anjing-anjing kasino itu tahu nomor pribadiku, Harlan!" teriak Brian dengan suara histeris yang dipenuhi rasa panik luar biasa.Harlan berdiri tegap di sudut ruangan, memperhatikan tubuh Brian yang gemetar hebat akibat kejaran utang dan merosotnya nilai saham pribadinya. Pria arogan yang dulu selalu bertindak sewenang-wenang itu kini hancur secara mental, terjerat oleh perangkap finansial yang dirancang dengan sangat rapi.Brian melangkah mendekati Harlan, mencengkeram kerah jas pengawalnya itu dengan jemari yang menegang ketakutan."Mulai detik ini, kau harus mengawalku dua puluh empat jam penuh, tidak boleh ada jarak satu meter pun di antara kita!"Harlan menepis tangan Brian dari kerah jasnya dengan gerakan lambat namun memancark
Cindy duduk di dalam mobil operasionalnya yang terparkir di sudut jalan gelap, jemarinya bergerak lincah menari di atas papan ketik gawai khususnya. Di layar monitor portabel, puluhan berkas silsilah keluarga dan catatan medis lama panti asuhan tempat Mirna Kusuma pernah dirawat mulai terpapar secara bertahap."Tinggal satu langkah lagi," gumam Cindy dengan mata menyempit, menatap kecocokan data domisili Mirna dengan riwayat masa kecil Harlan.Cindy tersenyum puas saat peretas kepercayaannya berhasil menembus barikade sistem arsip sipil regional yang mencatat kelahiran anak di wilayah pinggiran Jakarta.Dia yakin bahwa jika data ini berhasil ditarik penuh, bukti autentik yang menghubungkan Harlan sebagai putra biologis Mirna akan jatuh ke tangannya malam ini juga.Namun, di dalam markas tersembunyinya, Randy sudah memantau pergerakan lalu lintas data Cindy melalui protokol pemindaian otomatis berkecepatan tinggi. Randy menyunggingkan senyum sinis sembari mengunyah permen karetnya, mem
Ruang rapat utama Winata Group mendadak sunyi mencekam saat seluruh jajaran direksi dan komisaris senior duduk mengelilingi meja oval raksasa.Suasana ruangan bertambah tegang oleh kehadiran Antoni yang duduk di kursi roda utama dengan garis wajah sekeras batu karang.Di sisi kiri meja, Rinka duduk bersedekap dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan terselubung saat memandangi draf laporan keuangan yang memerah.Di sebelahnya, Brian berdiri mengepalkan tangan, berusaha memikirkan kalimat pembelaan atas kerugian besar yang baru saja dialami anak perusahaan logistik."Jelaskan padaku, Brian, bagaimana mungkin dua kontrak pengiriman terbesar kita di pelabuhan bisa melayang ke tangan kompetitor dalam waktu tiga hari?" tanya Antoni dengan suara bariton yang berat dan mengintimidasi.Brian menelan ludah dengan susah payah, membetulkan posisi dasinya yang mendadak terasa menyekik lehernya."Itu kesalahan teknis dari tim lapangan yang terlambat memperbarui dokumen akuisisi, Ayah, tapi saya
Antoni duduk di kursi rodanya di dalam ruang kerja pribadi yang terkunci rapat, menatap hujan deras yang mengguyur kaca jendela luar. Tangannya yang gemetar menekan tombol panggilan rahasia di telepon genggam lamanya, menghubungkan saluran terenkripsi ke pengacara senior setianya."Hendarto, datanglah ke rumah kediaman malam ini secara diam-diam tanpa memicu kecurigaan Rinka maupun Brian," bisik Antoni dengan nada suara yang penuh kehati-hatian.Kurang dari satu jam kemudian, pengacara Hendarto melangkah masuk melalui pintu samping ruang bawah tanah, membawa map dokumen berwarna cokelat tua. Pria paruh baya itu membungkuk hormat, menyadari beratnya situasi yang sedang dihadapi oleh sang komisaris utama Winata Group."Saya ingin mengubah draf surat wasiat keluarga," ujar Antoni tanpa basa-basi, menatap lurus ke arah mata pengacaranya dengan ketegasan yang tersisa.Hendarto membelalakkan matanya kaget, membetulkan letak kacamata tebalnya dengan jemari yang menegang. "Apakah Anda yakin,







