LOGINHarlan menepi ke bahu jalan beberapa ratus meter dari area pemakaman, menahan niatnya untuk meluncur kencang setelah melihat pergerakan di spion tengah. Sebuah sedan mewah berpelat nomor khusus berhenti tepat di belakang mobilnya, disusul pintu penumpang yang terdorong pelan.Brian melangkah keluar dengan langkah gontai, pakaian serba hitamnya tampak kusut dan matanya sembab memerah akibat duka yang tertahan. Harlan mematikan mesin kendaraan, melangkah keluar dan menyandarkan tubuhnya pada kap mobil sembari menantikan ledakan amarah yang biasa dilontarkan pria muda itu.Namun, tidak ada bentakan melengking atau tuduhan kasar yang keluar dari bibir Brian seperti hari-hari biasanya. Pemuda itu berjalan mendekat dengan bahu terkulai layaknya pria yang hancur total, menyandarkan tubuhnya di samping Harlan tanpa sepatah kata pun."Aku tahu dari awal perusahaan itu tidak akan pernah jatuh ke tanganku, Harlan," bisik Brian dengan suara serak yang bergetar pelan.Harlan tetap membisu, membiar
Langit di atas pemakaman komersial elite itu tertutup awan kelabu tebal, menumpahkan rintik gerimis yang membasahi rumput hijau. Dari jarak beberapa ratus meter di tepi jalan raya, sebuah sedan hitam terparkir tenang di bawah rindangnya pepohonan besar.Harlan melangkah keluar dari kabin, menyandarkan tubuh tegapnya pada pintu mobil sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya yang tajam menembus barisan payung hitam yang mengelilingi liang kubur Antoni Winata.Di dalam mobil, Randy menurunkan kaca jendela hingga batas maksimal, mengawasi iring-iringan pelayat elite melalui teropong jarak jauh. "Aktor-aktor utama dari faksi Soerja berkumpul lengkap di sana, Harlan.""Biarkan mereka menikmati momen kemenangan semu ini," sahut Harlan dengan suara bariton yang dingin dan tanpa emosi.Prosesi penguburan berjalan sangat megah, dihadiri oleh puluhan pejabat tinggi dan pengusaha kelas atas yang mengenakan pakaian serba hitam. Di barisan paling depan, Rinka Septiani Soerja berdiri anggu
Kabar pembatalan pernikahan secara sepihak oleh Agnes Tanuwijaya meledak seperti bom waktu di seluruh jajaran direksi Winata Group. Tanpa peringatan, Tanuwijaya Group resmi menarik seluruh suntikan dana dan kepemilikan saham mereka dari konsorsium Winata Group.Keputusan ekstrem itu seketika memicu kepanikan massal di lantai bursa dan meruntuhkan nilai saham perusahaan hingga ke titik terendah. Kerjasama dua klan raksasa yang sudah dibangun berbulan-bulan musnah dalam hitungan jam, menyalakan kembali api permusuhan lama yang jauh lebih membara.Di ruang rapat utama lantai atas gedung direksi, Rinka Septiani Soerja menggebrak meja kaca hingga retak halus. Wajahnya memerah padam oleh amarah yang meledak, dikelilingi oleh para petinggi faksi Soerja yang saling berteriak panik."Cari Agnes Tanuwijaya sampai dapat!" raung Rinka dengan suara melengking yang memotong riuh suasana ruangan. "Wanita bajingan itu sengaja mempermalukan keluarga kita dan menusuk kita dari belakang!"Damian Soerja
Agnes berjalan mendekati meja kayu di tengah ruangan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja sembari menunduk dalam. Keheningan merayap di antara mereka berdua sebelum Agnes kembali mendongak dengan tatapan mata penuh keputusasaan."Besok adalah hari pernikahanku dengan Brian Winata," ujar Agnes dengan nada suara datar namun menyimpan beban yang teramat berat.Harlan menatap Agnes tanpa berkedip, membiarkan kalimat tersebut menggantung di udara malam yang dingin. Rencana pernikahan politik antara keluarga Tanuwijaya dan keluarga Winata memang sudah dirancang jauh-jauh hari untuk memperkuat dominasi bisnis kedua belah pihak."Tapi aku bersumpah, bahwa aku tidak akan menghadiri altar itu," lanjut Agnes, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat akan penolakan. "Aku memutuskan melarikan diri dari pernikahan konyol ini besok pagi."Harlan mencerutkan keningnya, melangkah satu pijakan mendekati Agnes."Jika kau kabur, posisimu di Tanuwijaya Group akan hancur dalam sekejap.""Aku
Harlan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap layar ponselnya yang memancarkan pendar cahaya di dalam kamar yang remang. Panggilan video terhubung, menampilkan wajah Clara yang tersenyum manis dengan latar belakang kamar rumah susunnya.Hubungan jarak jauh ini menjadi jembatan tipis di antara kesibukan mereka, mengobati rasa rindu yang tertahan di dada Harlan."Aku merindukanmu, Harlan," bisik Clara lembut dari balik layar."Aku juga, Clara," sahut Harlan dengan suara bariton yang hangat dan dalam. "Bagaimana pekerjaanmu di supermarket minggu ini?""Lancar seperti biasa, hanya saja sepi tanpa kehadiranmu yang sering menjemputku sore hari," jawab Clara sembari terkekeh pelan. "Tenang saja, akhir pekan ini aku libur dan janji akan datang menyusulmu ke selatan Bandung."Harlan menyunggingkan senyum lega, membayangkan kepedihan pengasingan ini akan terobati oleh kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu. Mereka mengakhiri panggilan malam itu dengan janji manis yang menggantun
Harlan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menatap pemandangan perbukitan yang membisu dari jendela rumah kecilnya di selatan Bandung.Kekesalan membakar dadanya, menyadari bahwa pengasingannya ke kota kecil ini secara drastis mempersempit ruang geraknya untuk memantau pergerakan keluarga Winata.Harlan sangat yakin Rinka dan Damian Soerja kini sedang melancarkan eksekusi tahap akhir untuk melemahkan posisi Antoni Soerja di rumah sakit secara perlahan.Jarak yang jauh dari ibu kota membuat tangannya seolah terikat untuk mengintervensi konspirasi berdarah yang makin memuncak tersebut.Suara derum mesin kendaraan memecah keheningan sore, disusul suara pintu mobil yang ditutup dengan hentakan pelan di halaman depan.Randy melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu, meletakkan ransel hitam tebalnya di atas meja dengan napas terengah-engah.Randy melangkah ke jendela samping, menyapu pandangannya ke arah hamparan lahan luas yang tersembunyi di balik pepoh







