LOGINAgnes berjalan mendekati meja kayu di tengah ruangan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja sembari menunduk dalam. Keheningan merayap di antara mereka berdua sebelum Agnes kembali mendongak dengan tatapan mata penuh keputusasaan."Besok adalah hari pernikahanku dengan Brian Winata," ujar Agnes dengan nada suara datar namun menyimpan beban yang teramat berat.Harlan menatap Agnes tanpa berkedip, membiarkan kalimat tersebut menggantung di udara malam yang dingin. Rencana pernikahan politik antara keluarga Tanuwijaya dan keluarga Winata memang sudah dirancang jauh-jauh hari untuk memperkuat dominasi bisnis kedua belah pihak."Tapi aku bersumpah, bahwa aku tidak akan menghadiri altar itu," lanjut Agnes, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat akan penolakan. "Aku memutuskan melarikan diri dari pernikahan konyol ini besok pagi."Harlan mencerutkan keningnya, melangkah satu pijakan mendekati Agnes."Jika kau kabur, posisimu di Tanuwijaya Group akan hancur dalam sekejap.""Aku
Harlan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap layar ponselnya yang memancarkan pendar cahaya di dalam kamar yang remang. Panggilan video terhubung, menampilkan wajah Clara yang tersenyum manis dengan latar belakang kamar rumah susunnya.Hubungan jarak jauh ini menjadi jembatan tipis di antara kesibukan mereka, mengobati rasa rindu yang tertahan di dada Harlan."Aku merindukanmu, Harlan," bisik Clara lembut dari balik layar."Aku juga, Clara," sahut Harlan dengan suara bariton yang hangat dan dalam. "Bagaimana pekerjaanmu di supermarket minggu ini?""Lancar seperti biasa, hanya saja sepi tanpa kehadiranmu yang sering menjemputku sore hari," jawab Clara sembari terkekeh pelan. "Tenang saja, akhir pekan ini aku libur dan janji akan datang menyusulmu ke selatan Bandung."Harlan menyunggingkan senyum lega, membayangkan kepedihan pengasingan ini akan terobati oleh kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu. Mereka mengakhiri panggilan malam itu dengan janji manis yang menggantun
Harlan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menatap pemandangan perbukitan yang membisu dari jendela rumah kecilnya di selatan Bandung.Kekesalan membakar dadanya, menyadari bahwa pengasingannya ke kota kecil ini secara drastis mempersempit ruang geraknya untuk memantau pergerakan keluarga Winata.Harlan sangat yakin Rinka dan Damian Soerja kini sedang melancarkan eksekusi tahap akhir untuk melemahkan posisi Antoni Soerja di rumah sakit secara perlahan.Jarak yang jauh dari ibu kota membuat tangannya seolah terikat untuk mengintervensi konspirasi berdarah yang makin memuncak tersebut.Suara derum mesin kendaraan memecah keheningan sore, disusul suara pintu mobil yang ditutup dengan hentakan pelan di halaman depan.Randy melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu, meletakkan ransel hitam tebalnya di atas meja dengan napas terengah-engah.Randy melangkah ke jendela samping, menyapu pandangannya ke arah hamparan lahan luas yang tersembunyi di balik pepoh
Bunyi moniter detak jantung di dalam ruang perawatan intensif berbunyi bip berulang kali dengan nada yang makin lemah. Antoni terbaring kaku di atas tempat tidur medis dengan pelbagai selang menancap di tubuhnya, memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali kritis secara mendadak.Brian berdiri di samping ranjang dengan raut wajah pucat pasi dan mata yang memerah akibat kurang tidur. Sesekali, pria muda itu berjalan bolak-balik di lantai marmer, jemarinya memegang kepala yang terasa pening dihantam rentetan masalah.Teror dari kelompok suruhan keluarga Santoso, sub-keluarga mafia berbahaya di bawah naungan keluarga Sandekala, membuat paranoia Brian mencapai titik tertinggi. Brian makin senewen dan murka setiap kali menyadari Harlan tidak berdiri tepat di samping tubuhnya untuk mengawal."Kau dari mana saja, Harlan?!" bentak Brian dengan suara melengking saat Harlan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. "Di saat bajingan-bajingan mafia itu mengincarku, kamu malah sering menghi
Aroma lantai yang baru dipel dan denting samar musik latar melingkupi udara retail supermarket tempat Clara bekerja. Pelanggan berlalu-lalang menuntun troli, sementara barisan lampu neon memantulkan cahaya terang ke atas rak-rak produk yang tertata rapi.Di lorong bagian makanan kemasan, Randy berjalan pelan bersama kekasihnya, Lidya, sembari mendorong troli belanjaan. Harlan sengaja belum pernah mempertemukan Clara dengan Randy secara langsung, membuat penyamaran kecil ini berjalan sangat mulus tanpa memicu kecurigaan."Yang itu pegawai kasirnya, kan?" bisik Lidya berpura-pura mengambil kotak sereal dari rak tinggi.Randy menoleh tipis, matanya melirik ke arah lorong kasir tempat seorang perempuan berseragam retail sedang melayani pembeli. Clara tersenyum ramah, mengoperasikan mesin pemindai harga dengan gerakan cekatan dan menyapa setiap pelanggan dengan kehangatan murni.Lidya mengambil dua kaleng minuman, berpura-pura membandingkan nutrisi di label belakangnya. "Dia kelihatan mani
Harlan memilih membisu, menyimpan rapat-rapat keraguan di dadanya tanpa pernah melontarkan satu pertanyaan pun kepada Clara. Pria itu menolak merusak kehangatan manis yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bersandar di tengah kejamnya perang konspirasi.Hari-hari berikutnya berjalan seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka berdua. Harlan tetap setia menjemput Clara di depan gedung kantor tempat perempuan itu bekerja setiap sore hari.Rintik hujan dan hembusan angin malam sering kali membawa mereka kembali ke kamar rumah susun yang remang dan tenang.Di atas ranjang yang sama, Harlan dan Clara kembali menumpahkan seluruh rasa lelah, saling mendekap erat dalam balutan gairah yang intens. Cumbuan mereka begitu panas dan terus membangkitkan berahi cinta yang selalu menunjukkan keinginan untuk saling melindungi.Namun, di balik kehangatan setiap sentuhan dan tatapan mata Clara, pikiran Harlan terus berkecamuk membayangkan sekelompok pria berjas yang tunduk patuh hari itu. Tak ha







