Home / Urban / Kudeta Sang Bodyguard / 37. Teror Pembukaan

Share

37. Teror Pembukaan

Author: Ardianda K
last update publish date: 2026-09-29 14:03:38

Brian mengacak-acak rambutnya yang kusut sembari membuang tumpukan surat tagihan berstempel merah ke atas meja kaca. Matanya yang merah akibat kurang tidur menatap layar gawai yang terus menerus bergetar menayangkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal.

"Anjing-anjing kasino itu tahu nomor pribadiku, Harlan!" teriak Brian dengan suara histeris yang dipenuhi rasa panik luar biasa.

Harlan berdiri tegap di sudut ruangan, memperhatikan tubuh Brian yang gemetar hebat akibat kejaran utang dan meros
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kudeta Sang Bodyguard   38. Perang Saraf

    Harlan menarik napas dalam-dalam saat menyapu punggung Clara yang mulus, merasakan detak jantung perempuan itu yang berdegup kencang di atas dadanya. Di dalam kamar rumah susun yang remang-remang, sisa-sisa gairah malam masih menyelimuti udara dingin di antara mereka.Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Harlan, membiarkan jemarinya menelusuri bekas luka samar di bahu pria itu. keheningan malam terasa sangat berharga bagi mereka berdua di tengah pusaran konspirasi berdarah yang terus mengintai."Harlan, sebenarnya siapa kamu yang sebenarnya sebelum menjadi pengawal?" bisik Clara pelan, menatap wajah Harlan dari dekat dengan pandangan sarat akan rasa ingin tahu.Harlan menghentikan belaian jemarinya di rambut Clara, matanya yang tadi lembut mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar, dengan halus menghindari tatapan mata Clara."Ada hal-hal dari masa lalu yang tidak perlu kamu ketahui, Clara," jawab Harla

  • Kudeta Sang Bodyguard   37. Teror Pembukaan

    Brian mengacak-acak rambutnya yang kusut sembari membuang tumpukan surat tagihan berstempel merah ke atas meja kaca. Matanya yang merah akibat kurang tidur menatap layar gawai yang terus menerus bergetar menayangkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal."Anjing-anjing kasino itu tahu nomor pribadiku, Harlan!" teriak Brian dengan suara histeris yang dipenuhi rasa panik luar biasa.Harlan berdiri tegap di sudut ruangan, memperhatikan tubuh Brian yang gemetar hebat akibat kejaran utang dan merosotnya nilai saham pribadinya. Pria arogan yang dulu selalu bertindak sewenang-wenang itu kini hancur secara mental, terjerat oleh perangkap finansial yang dirancang dengan sangat rapi.Brian melangkah mendekati Harlan, mencengkeram kerah jas pengawalnya itu dengan jemari yang menegang ketakutan."Mulai detik ini, kau harus mengawalku dua puluh empat jam penuh, tidak boleh ada jarak satu meter pun di antara kita!"Harlan menepis tangan Brian dari kerah jasnya dengan gerakan lambat namun memancark

  • Kudeta Sang Bodyguard   36. Scenario Decoy

    Cindy duduk di dalam mobil operasionalnya yang terparkir di sudut jalan gelap, jemarinya bergerak lincah menari di atas papan ketik gawai khususnya. Di layar monitor portabel, puluhan berkas silsilah keluarga dan catatan medis lama panti asuhan tempat Mirna Kusuma pernah dirawat mulai terpapar secara bertahap."Tinggal satu langkah lagi," gumam Cindy dengan mata menyempit, menatap kecocokan data domisili Mirna dengan riwayat masa kecil Harlan.Cindy tersenyum puas saat peretas kepercayaannya berhasil menembus barikade sistem arsip sipil regional yang mencatat kelahiran anak di wilayah pinggiran Jakarta.Dia yakin bahwa jika data ini berhasil ditarik penuh, bukti autentik yang menghubungkan Harlan sebagai putra biologis Mirna akan jatuh ke tangannya malam ini juga.Namun, di dalam markas tersembunyinya, Randy sudah memantau pergerakan lalu lintas data Cindy melalui protokol pemindaian otomatis berkecepatan tinggi. Randy menyunggingkan senyum sinis sembari mengunyah permen karetnya, mem

  • Kudeta Sang Bodyguard   35. Mengetes Darah Daging

    Ruang rapat utama Winata Group mendadak sunyi mencekam saat seluruh jajaran direksi dan komisaris senior duduk mengelilingi meja oval raksasa.Suasana ruangan bertambah tegang oleh kehadiran Antoni yang duduk di kursi roda utama dengan garis wajah sekeras batu karang.Di sisi kiri meja, Rinka duduk bersedekap dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan terselubung saat memandangi draf laporan keuangan yang memerah.Di sebelahnya, Brian berdiri mengepalkan tangan, berusaha memikirkan kalimat pembelaan atas kerugian besar yang baru saja dialami anak perusahaan logistik."Jelaskan padaku, Brian, bagaimana mungkin dua kontrak pengiriman terbesar kita di pelabuhan bisa melayang ke tangan kompetitor dalam waktu tiga hari?" tanya Antoni dengan suara bariton yang berat dan mengintimidasi.Brian menelan ludah dengan susah payah, membetulkan posisi dasinya yang mendadak terasa menyekik lehernya."Itu kesalahan teknis dari tim lapangan yang terlambat memperbarui dokumen akuisisi, Ayah, tapi saya

  • Kudeta Sang Bodyguard   34. Babak yang Akan Paling Berdarah?

    Antoni duduk di kursi rodanya di dalam ruang kerja pribadi yang terkunci rapat, menatap hujan deras yang mengguyur kaca jendela luar. Tangannya yang gemetar menekan tombol panggilan rahasia di telepon genggam lamanya, menghubungkan saluran terenkripsi ke pengacara senior setianya."Hendarto, datanglah ke rumah kediaman malam ini secara diam-diam tanpa memicu kecurigaan Rinka maupun Brian," bisik Antoni dengan nada suara yang penuh kehati-hatian.Kurang dari satu jam kemudian, pengacara Hendarto melangkah masuk melalui pintu samping ruang bawah tanah, membawa map dokumen berwarna cokelat tua. Pria paruh baya itu membungkuk hormat, menyadari beratnya situasi yang sedang dihadapi oleh sang komisaris utama Winata Group."Saya ingin mengubah draf surat wasiat keluarga," ujar Antoni tanpa basa-basi, menatap lurus ke arah mata pengacaranya dengan ketegasan yang tersisa.Hendarto membelalakkan matanya kaget, membetulkan letak kacamata tebalnya dengan jemari yang menegang. "Apakah Anda yakin,

  • Kudeta Sang Bodyguard   33. Sudah Mengendus Niat Sang CEO

    Antoni berdiri di balik kaca lantai mezzanine gedung utama Winata Group, mengawasi suasana lobi bawah tempat rapat direksi baru saja dibubarkan. Matanya yang membengkak akibat kurang tidur kini terpaku sepenuhnya pada sosok Harlan yang berdiri tegap di samping Brian.Di meja rapat tadi, Brian sempat memukau para investor senior dengan paparan taktik penyelamatan portofolio yang sangat presisi dan penuh perhitungan tajam.Namun, Antoni melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Harlan membisikkan setiap angka dan argumen itu ke telinga Brian dari balik sandaran kursi.Antoni menyandarkan tubuhnya yang kaku pada dinding marmer, mencengkeram tongkat kayunya hingga buku-buku jarinya memutih. Kecerdasan luar biasa, ketenangan di bawah tekanan, dan naluri bisnis yang tajam itu semuanya mengalir dari dalam diri pengawal pribadi tersebut.Selama ini, Antoni selalu mengira bahwa Brian mulai dewasa dan menunjukkan bakat kepemimpinan sebagai calon penerus tunggal keluarga Winata.Ketaatan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status