تسجيل الدخولGema sirine ambulans yang membawa Antoni Winata perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di lobi rumah sakit. Rinka bergegas pergi mengikuti mobil medis tersebut, sementara Brian ditinggalkan di lobi kantor dengan tubuh yang masih gemetar karena syok.
"Harlan, temani aku ke bar sekarang, kepalaku mau pecah mikirin semua kekacauan ini," perintah Brian, suaranya parau sambil buru-buru melangkah menuju basement tanpa memedulikan tatapan para karyawan.
Harlan hanya mengangguk pelan, melajukan mobil sport milik Brian membelah jalanan kota yang mulai diguyur gerimis tipis menuju kawasan distrik hiburan malam.
Pria muda itu sengaja memilih rute jalan pintas melewati gang-gang sepi di balik area bangunan-bangunan tua, memanfaatkan situasi kota yang remang untuk memancing sesuatu yang sudah dia prediksikan sejak awal.
Prediksi Harlan terbukti tepat, ketika sebuah mobil van hitam besar tiba-tiba melesat maju, memotong jalur mereka dan memaksa Harlan menginjak rem hingga ban mobil berdecit nyaring di atas aspal basah.
Dari dalam van tersebut, lima orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam melompat turun, masing-masing menggenggam pipa besi dan botol kaca tebal di tangan mereka.
"Sial! Itu orang-orang suruhan rival bisnis Ayah yang kemarin di klub!" teriak Brian panik, langsung meringkuk di bawah dasbor mobil dengan wajah pucat pasi.
“Siapa lagi rival bisnis ayahmu, Pak Brian?”
“Kali ini sepertinya keluarga Liem Sio Liong!”
Harlan tidak membuang waktu untuk menjawab, dia mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar dan langsung melangkah keluar menantang dinginnya gerimis malam. Pria pertama menerjang maju, mengayunkan pipa besi lurus ke arah kepala Harlan dengan kecepatan penuh yang mematikan.
Harlan menekuk lututnya sedikit, menghindar ke samping lalu melayangkan sebuah pukulan lurus yang telak menghantam rahang bawah penyerangnya hingga terdengar bunyi gemertak tulang.
Dua preman lain merangsek maju secara bersamaan dari arah kiri dan kanan, mencoba mengunci pergerakan tangan Harlan dengan sabetan pipa besi yang sangat bernafsu.
Dengan ketangkasan yang luar biasa, Harlan menangkap lengan salah satu penyerang, menjadikannya tameng hidup untuk menahan hantaman besi dari preman lainnya.
Sambil memutar tubuhnya, Harlan melepaskan tendangan tumit yang keras ke arah lutut lawan hingga pria bertubuh besar itu jatuh berlutut sambil melolong kesakitan di atas aspal.
Brian memberanikan diri mengintip dari balik kaca mobil yang gelap, matanya terbelalak menyaksikan bagaimana satpam pribadinya bertarung seperti monster yang tak kenal rasa takut.
Namun, situasi mendadak berbalik ketika seorang preman yang bersembunyi di balik bayangan mobil van melesat maju membawa sebatang balok besi tebal.
Harlan yang sedang menangkis serangan di depannya terpaksa membiarkan punggungnya terbuka, menerima hantaman balok besi itu dengan dentuman keras yang membuat tubuh tegapnya terdorong beberapa langkah ke depan.
“Brengsek...” geram Harlan.
“Siapa kau! Anjing bayaran Brian tolol itu, hah?!”
“Tutup mulutmu...” kata Harlan dingin.
Sudut bibir Harlan berdarah, namun dia sama sekali tidak mengerang, justru berbalik dengan tatapan mata yang semakin mengerikan dan sedingin es.
Preman terakhir memanfaatkan momentum itu untuk memukulkan sebuah botol minuman keras tebal tepat ke arah samping kepala Harlan hingga botol itu hancur berkeping-keping.
Darah segar berwarna merah pekat mulai mengalir dari pelipis Harlan, membasahi sebagian wajah dan kerah jaket hitam yang dikenakannya malam itu.
Melihat darahnya sendiri mengalir, Harlan justru mengeluarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat sisa penyerang yang berdiri perlahan melangkah mundur karena ketakutan.
Dengan satu gerakan kilat yang tak terbendung, Harlan menerjang pria pembawa botol, mencengkeram wajahnya lalu menghantamkannya ke kap mesin mobil van hingga pria itu pingsan seketika.
Sisa preman yang masih bisa berdiri segera menyeret teman-teman mereka yang terluka, melompat kembali ke dalam van dan memacu kendaraan itu pergi meninggalkan tempat kejadian dengan tergesa-gesa.
Harlan berdiri mematung di bawah guyuran gerimis, menyeka darah di pelipisnya dengan punggung tangan tanpa memedulikan rasa sakit yang menjalar di kepalanya. Brian perlahan keluar dari dalam mobil, melangkah mendekati Harlan dengan pandangan mata yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa bersalah sekaligus rasa hormat yang mendalam.
"Harlan... kau terluka parah karena melindungiku! Preman-preman bajingan! Tapi kau berhasil meruntuhkan orang-orang terkuat mereka... hey, kau dengar suaraku?“ suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, karena Brian pikir, tanpa ada Harlan, sudah pasti dirinyalah yang akan jadi target mereka, karena masalah yang sebenarnya dibuat sendiri olehnya.
"Ini adalah tugas saya sebagai pengawalmu, Pak Brian, keselamatanmu adalah prioritas saya. Bukankah begitu? Mami Pak Brian bisa memecatku, kalau sampai terjadi apa-apa denganmu..." jawab Harlan datar, suaranya tetap tenang meski napasnya terengah-engah.
“Tidak... perempuan itu...”
“Biar bagaimanapun, meski perempuan itu terkesan tidak menyukai Pak Brian, dia tetap ibu kandungmu...”
Brian meraba sakunya, mengeluarkan saputangan sutra mahalnya lalu menyerahkannya kepada Harlan untuk menutupi luka di pelipis pria itu yang masih terus mengalirkan darah. Rasa simpati dan utang budi kini telah mengakar kuat di dalam hati Brian, menghapus seluruh sisa kesombongannya di hadapan pria yang baru saja menumpahkan darah demi nyawanya.
"Kita tidak ke bar malam ini, aku sendiri yang akan mengantarmu ke klinik terdekat. Luka ini perlu diobati, " ucap Brian tegas, mengambil alih kunci mobil dari tangan Harlan. “Sial! Orang-orang bajingan itu...benar-benar tidak tahu waktu!”
“Mereka tidak akan menunggu, Pak.”
Harlan menerima saputangan itu, menekan lukanya sambil berjalan masuk ke kursi penumpang, menyembunyikan senyuman dingin di balik kegelapan malam yang kian pekat.
Penyelamatan berdarah ini berjalan sesuai dengan skenarionya, membuat putra mahkota Winata Group kini sepenuhnya berada di bawah kendali emosionalnya tanpa tersisa ragu sedikit pun.
Namun, saat mobil sport itu mulai melaju membelah malam, ponsel di dalam saku jaket Harlan bergetar, menampilkan sebuah pesan singkat berkode rahasia dari Randy yang memantau situasi rumah sakit pusat.
“Rinka baru saja keluar dari ruang perawatan Pak Antoni, sepertinya dia membawa dokumen bermaterai, dan dia baru saja menghubungi pengacara keluarga untuk mengubah hak kuasa penuh atas seluruh aset perusahaan malam ini juga. Padahal Pak Antoni belum dipastikan meninggal!”
Harlan menatap layar ponselnya tanpa berkedip, membiarkan darah segar dari pelipisnya menetes dan menodai saputangan pemberian Brian.
Rahangnya mengatup rapat, menyadari bahwa Rinka bergerak jauh lebih cepat dan licik daripada yang dia duga di awal permainannya.
Wanita itu jelas ingin memanfaatkan kondisi Antoni yang sedang sekarat untuk menyingkirkan semua pesaing, bahkan mungkin termasuk Brian, putra sulungnya, demi menguasai seluruh aset Winata Group sendirian. Mungkin ia akan memanfaatkan putra bungsunya, Ronald, yang baru sekolah untuk jadi pemegang hak waris.
"Ada apa, Harlan? Lukamu semakin parah?" tanya Brian cemas, matanya sesekali melirik Harlan dari balik kemudi sambil menginjak pedal gas lebih dalam.
"Bukan apa-apa, Pak Brian. Cuma pesan dari tim keamanan lobi," jawab Harlan datar, menyembunyikan badai taktik yang kini berkecamuk di dalam kepalanya.
“Berhenti panggilku, Pak di saat tidak bekerja! Kurasa kita seumuran. Atau bahkan kau lebih tua beberapa tahun dariku...”
“Tetap saja saya akan rikuh. Ini bagian dari caraku menghormati atasan.”
Harlan tahu dia harus segera bertindak sebelum Rinka menandatangani dokumen hak kuasa penuh tersebut, atau seluruh rencana balas dendamnya akan menguap menjadi abu.
Namun, di tengah kepanikan terselubung itu, ponselnya kembali bergetar pelan, memunculkan satu pesan lanjutan dari Randy yang jauh lebih mengerikan.
“Harlan, gawat. Rinka tidak hanya memanggil pengacara, tetapi dia juga menyewa orang untuk melacak keberadaan ibumu, Mirna, ke kontrakan lama kalian malam ini. Sepertinya dia sudah mengetahui kalau Mirna punya anak laki-laki!”
Harlan menepi ke bahu jalan beberapa ratus meter dari area pemakaman, menahan niatnya untuk meluncur kencang setelah melihat pergerakan di spion tengah. Sebuah sedan mewah berpelat nomor khusus berhenti tepat di belakang mobilnya, disusul pintu penumpang yang terdorong pelan.Brian melangkah keluar dengan langkah gontai, pakaian serba hitamnya tampak kusut dan matanya sembab memerah akibat duka yang tertahan. Harlan mematikan mesin kendaraan, melangkah keluar dan menyandarkan tubuhnya pada kap mobil sembari menantikan ledakan amarah yang biasa dilontarkan pria muda itu.Namun, tidak ada bentakan melengking atau tuduhan kasar yang keluar dari bibir Brian seperti hari-hari biasanya. Pemuda itu berjalan mendekat dengan bahu terkulai layaknya pria yang hancur total, menyandarkan tubuhnya di samping Harlan tanpa sepatah kata pun."Aku tahu dari awal perusahaan itu tidak akan pernah jatuh ke tanganku, Harlan," bisik Brian dengan suara serak yang bergetar pelan.Harlan tetap membisu, membiar
Langit di atas pemakaman komersial elite itu tertutup awan kelabu tebal, menumpahkan rintik gerimis yang membasahi rumput hijau. Dari jarak beberapa ratus meter di tepi jalan raya, sebuah sedan hitam terparkir tenang di bawah rindangnya pepohonan besar.Harlan melangkah keluar dari kabin, menyandarkan tubuh tegapnya pada pintu mobil sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya yang tajam menembus barisan payung hitam yang mengelilingi liang kubur Antoni Winata.Di dalam mobil, Randy menurunkan kaca jendela hingga batas maksimal, mengawasi iring-iringan pelayat elite melalui teropong jarak jauh. "Aktor-aktor utama dari faksi Soerja berkumpul lengkap di sana, Harlan.""Biarkan mereka menikmati momen kemenangan semu ini," sahut Harlan dengan suara bariton yang dingin dan tanpa emosi.Prosesi penguburan berjalan sangat megah, dihadiri oleh puluhan pejabat tinggi dan pengusaha kelas atas yang mengenakan pakaian serba hitam. Di barisan paling depan, Rinka Septiani Soerja berdiri anggu
Kabar pembatalan pernikahan secara sepihak oleh Agnes Tanuwijaya meledak seperti bom waktu di seluruh jajaran direksi Winata Group. Tanpa peringatan, Tanuwijaya Group resmi menarik seluruh suntikan dana dan kepemilikan saham mereka dari konsorsium Winata Group.Keputusan ekstrem itu seketika memicu kepanikan massal di lantai bursa dan meruntuhkan nilai saham perusahaan hingga ke titik terendah. Kerjasama dua klan raksasa yang sudah dibangun berbulan-bulan musnah dalam hitungan jam, menyalakan kembali api permusuhan lama yang jauh lebih membara.Di ruang rapat utama lantai atas gedung direksi, Rinka Septiani Soerja menggebrak meja kaca hingga retak halus. Wajahnya memerah padam oleh amarah yang meledak, dikelilingi oleh para petinggi faksi Soerja yang saling berteriak panik."Cari Agnes Tanuwijaya sampai dapat!" raung Rinka dengan suara melengking yang memotong riuh suasana ruangan. "Wanita bajingan itu sengaja mempermalukan keluarga kita dan menusuk kita dari belakang!"Damian Soerja
Agnes berjalan mendekati meja kayu di tengah ruangan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja sembari menunduk dalam. Keheningan merayap di antara mereka berdua sebelum Agnes kembali mendongak dengan tatapan mata penuh keputusasaan."Besok adalah hari pernikahanku dengan Brian Winata," ujar Agnes dengan nada suara datar namun menyimpan beban yang teramat berat.Harlan menatap Agnes tanpa berkedip, membiarkan kalimat tersebut menggantung di udara malam yang dingin. Rencana pernikahan politik antara keluarga Tanuwijaya dan keluarga Winata memang sudah dirancang jauh-jauh hari untuk memperkuat dominasi bisnis kedua belah pihak."Tapi aku bersumpah, bahwa aku tidak akan menghadiri altar itu," lanjut Agnes, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat akan penolakan. "Aku memutuskan melarikan diri dari pernikahan konyol ini besok pagi."Harlan mencerutkan keningnya, melangkah satu pijakan mendekati Agnes."Jika kau kabur, posisimu di Tanuwijaya Group akan hancur dalam sekejap.""Aku
Harlan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap layar ponselnya yang memancarkan pendar cahaya di dalam kamar yang remang. Panggilan video terhubung, menampilkan wajah Clara yang tersenyum manis dengan latar belakang kamar rumah susunnya.Hubungan jarak jauh ini menjadi jembatan tipis di antara kesibukan mereka, mengobati rasa rindu yang tertahan di dada Harlan."Aku merindukanmu, Harlan," bisik Clara lembut dari balik layar."Aku juga, Clara," sahut Harlan dengan suara bariton yang hangat dan dalam. "Bagaimana pekerjaanmu di supermarket minggu ini?""Lancar seperti biasa, hanya saja sepi tanpa kehadiranmu yang sering menjemputku sore hari," jawab Clara sembari terkekeh pelan. "Tenang saja, akhir pekan ini aku libur dan janji akan datang menyusulmu ke selatan Bandung."Harlan menyunggingkan senyum lega, membayangkan kepedihan pengasingan ini akan terobati oleh kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu. Mereka mengakhiri panggilan malam itu dengan janji manis yang menggantun
Harlan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menatap pemandangan perbukitan yang membisu dari jendela rumah kecilnya di selatan Bandung.Kekesalan membakar dadanya, menyadari bahwa pengasingannya ke kota kecil ini secara drastis mempersempit ruang geraknya untuk memantau pergerakan keluarga Winata.Harlan sangat yakin Rinka dan Damian Soerja kini sedang melancarkan eksekusi tahap akhir untuk melemahkan posisi Antoni Soerja di rumah sakit secara perlahan.Jarak yang jauh dari ibu kota membuat tangannya seolah terikat untuk mengintervensi konspirasi berdarah yang makin memuncak tersebut.Suara derum mesin kendaraan memecah keheningan sore, disusul suara pintu mobil yang ditutup dengan hentakan pelan di halaman depan.Randy melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu, meletakkan ransel hitam tebalnya di atas meja dengan napas terengah-engah.Randy melangkah ke jendela samping, menyapu pandangannya ke arah hamparan lahan luas yang tersembunyi di balik pepoh







