INICIAR SESIÓNHarlan memutus sambungan radio taktisnya tanpa memedulikan tatapan menyelidik dari Agnes Tanujaya yang masih berdiri di hadapannya. Detak jantungnya yang biasa konstan kini berpacu liar setelah mendengar jeritan panik Randy tentang kondisi Clara yang terjebak di dalam ruang bawah tanah.Pria itu berbalik dengan gerakan kilat, mengabaikan dokumen pembatalan penggusuran yang sempat disodorkan Agnes ke arah dadanya beberapa detik lalu.Dia berlari menyusuri koridor belakang gedung komisi wilayah, menembus pintu darurat dengan kecepatan yang tidak menyisakan ruang untuk basa-basi."Harlan! Kau mau ke mana?! Urusan kita belum selesai!" teriak Agnes dari arah belakang, namun suaranya langsung teredam oleh dentum pintu besi yang tertutup rapat.“Telat! Preman-preman itu datang mau membakar toko!”“Apa?!”Harlan melompati pagar pembatas parkir VIP, langsung menaiki motor sport hitamnya dan menyalakan mesin hingga raungannya menggema membelah pelataran gedung.Dia memutar tuas gas secara maksi
Harlan memacu motor sport hitamnya membelah rintik hujan malam menuju kawasan pertokoan tua di sudut kota, tempat toko cokelat milik Clara berdiri.Laporan kilat dari informan jalanan mengenai pergerakan sekelompok preman bayaran di area tersebut memaksa pria itu melupakan sejenak jadwal tugasnya sebagai pengawal pribadi Harlan.Suara teriakan kasar dan benturan benda keras langsung menyambut kedatangan Harlan begitu dia menghentikan motornya di pelataran parkir yang gelap.Di dalam toko, beberapa pria berbadan kekar berpakaian preman tampak mengacak-acak etalase kaca dan melempar kursi-kursi kayu ke lantai dengan brutal."Keluar dari tempat ini sekarang juga sebelum kami membakar seluruh bangunan sialan ini!" bentak salah satu preman berambut cepak sambil mengacungkan balok kayu ke arah para pegawai.Clara berdiri di barisan paling depan dengan tubuh gemetar, mencoba melindungi seorang pegawai junior yang sudah menangis ketakutan di balik meja kasir.Gadis itu menatap papan pengumuma
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika mobil sport yang dikemudikan Brian memasuki gerbang besi tempa raksasa menuju kawasan mansion utama keluarga Winata.Harlan duduk di kursi penumpang dengan pandangan lurus ke depan, memperhatikan deretan pohon palem raja yang berjejer rapi menyambut kedatangan sang putra mahkota."Mulai hari ini kau tinggal di paviliun belakang, Harlan. Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar terbaik untukmu," kata Brian sambil memarkirkan kendaraannya tepat di depan pilar-pilar beton bergaya Eropa klasik.Harlan mengangguk tenang seraya melangkah turun, merapikan setelan jas hitam barunya yang pas membungkus tubuh tegapnya. Begitu dia melangkah melewati pintu utama yang dilapisi ukiran emas mewah, memori masa kecil tentang tangisan ibunya langsung berputar liar di kepala.Langkah kaki mereka menggema di atas lantai marmer impor yang berkilau, menuju ruang keluarga utama yang luasnya menyamai lobi hotel berbintang.Di sana, Rinka sedang duduk di sofa be
Mobil sport itu akhirnya berhenti di depan sebuah klinik 24 jam yang sepi di pinggiran kota. Dokter jaga dengan cekatan membersihkan luka di pelipis Harlan, memberikan beberapa jahitan tanpa banyak bertanya melihat setelan seragam satpam yang dikenakannya.Brian setia menunggu di ruang tunggu, mondar-mandir dengan gelisah seolah dirinya sendiri yang sedang berada di ambang maut. Begitu Harlan keluar dengan perban menempel di pelipisnya, Brian langsung menghampiri dan mencengkeram kedua bahu pria itu dengan erat."Harlan, aku tidak bisa membiarkanmu kembali ke pos satpam lobi bawah setelah semua yang terjadi malam ini," ujar Brian, matanya memancarkan kecemasan sekaligus ambisi besar."Saya hanya menjalankan tugas saya, Pak Brian, tidak perlu merasa terbebani," sahut Harlan, suaranya tetap datar walau kepalanya berdenyut menyengat."Tidak, dengarkan aku dulu. Mulai besok pagi, kau resmi menjadi kepala pengawal pribadiku dengan gaji lima kali lipat dari apa yang diberikan Winata Group u
Gema sirine ambulans yang membawa Antoni Winata perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di lobi rumah sakit. Rinka bergegas pergi mengikuti mobil medis tersebut, sementara Brian ditinggalkan di lobi kantor dengan tubuh yang masih gemetar karena syok."Harlan, temani aku ke bar sekarang, kepalaku mau pecah mikirin semua kekacauan ini," perintah Brian, suaranya parau sambil buru-buru melangkah menuju basement tanpa memedulikan tatapan para karyawan.Harlan hanya mengangguk pelan, melajukan mobil sport milik Brian membelah jalanan kota yang mulai diguyur gerimis tipis menuju kawasan distrik hiburan malam.Pria muda itu sengaja memilih rute jalan pintas melewati gang-gang sepi di balik area bangunan-bangunan tua, memanfaatkan situasi kota yang remang untuk memancing sesuatu yang sudah dia prediksikan sejak awal.Prediksi Harlan terbukti tepat, ketika sebuah mobil van hitam besar tiba-tiba melesat maju, memotong jalur mereka dan memaksa Harlan menginjak rem hingga ban mobi
Rahang Harlan mengeras saat membaca pesan tentang penyegelan toko cokelat tempat Clara bekerja, namun dia harus menekan amarahnya karena Brian tiba-tiba berdiri dengan wajah frustrasi. Pria manja itu menendang kaki meja kafe, mengutuk sikap dingin Agnes yang baru saja meninggalkannya begitu saja setelah makan malam yang kacau."Sialan! Dia pikir dia siapa berani menceramahiku soal bisnis?" umpat Brian sambil merapikan jasnya dengan kasar, lalu menoleh pada Harlan. "Harlan, malam ini batalkan semua jadwalku, aku butuh hiburan di tempat biasa dan kau harus mengawal sampai fajar."Harlan hanya mengangguk patuh, mengikuti Brian menuju mobil sport mewah yang melesat membelah jalanan Jakarta menuju sebuah klub malam eksklusif di dekat kawasan kantor pusat.Di dalam ruangan VIP yang remang-remang dan bising, Brian langsung menenggak minuman keras, mengelilingi dirinya dengan beberapa wanita malam demi melupakan rasa runtuhnya harga diri akibat ucapan Agnes.Namun hiburan itu tidak bertahan l







