หน้าหลัก / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 16 Rencana Makan yang Menyakitkan

แชร์

Bab 16 Rencana Makan yang Menyakitkan

ผู้เขียน: Ratu As
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-08 08:40:49
Marfa sudah bersiap dengan pakaian yang cukup rapi meski sederhana. Wajahnya selalu cantik dengan dibalut kerudung warna soft yang membuatnya tampak kalem dan anggun.

Ia terduduk di depan meja rias, ada setitik senyum tipis yang terulas di wajahnya. Liam bilang akan mengajaknya makan malam berdua. Itu membuat Marfa gugup dan tidak bisa berhenti berdebar.

Marfa tahu, ia mungkin bodoh setelah dikecewakan, dengan sedikit perubahan sikap Liam langsung membuatnya luluh.

"Marfa," panggil Liam
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 38 Jamu Herbal

    Liam berdeham lagi sebelum akhirnya berdiri dan pamit pada Wati untuk masuk ke kamar. Di sana hanya ada Liam dan Marfa, sementara Vian bermain bersama teman-temannya di rumah Maryo. Marfa membuka jendela, udara segar masuk dari sana. Tanpa perlu AC, suasana di desa sudah dingin dan sejuk. "Tidurlah dulu, kamu pasti lelah." Marfa berbalik, niatnya hendak keluar, namun ia melihat Liam yang terduduk di tepi ranjang sambil memijat lengannya dan sesekali mengusap tengkuk. Liam terlihat kelelahan. "Mas Liam, tanganmu sakit? Atau pegal?" Dengan perhatian Marfa mendekat, bagaimana pun suaminya kelelahan karena menyetir lama untuk mengantarnya ke kampung. Jadi Marfa bertekat untuk membalas kebaikannya. "Mau aku bantu pijat?""Kamu bisa?" Liam tidak menolak, ia tetap tenang saat Marfa mengajukan diri. Marfa mengangguk. "Aku ambil minyak urut dulu di kamar Nenek." Ia keluar sebentar, ke lemari tua di lorong untuk mengambil minyak urut buatan neneknya. Begitu tutupnya dibuka, wangi aromate

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 37 Tempat yang Sudah Kusiapkan

    Orang-orang sekitar yang tadi sibuk merewang kini berhenti, mereka dengan serentak menyambut kedatangan Marfa dan suaminya. "Kakek, Nenek apa kabar?" sapa Vian manis, meski seperti biasa sepasang tua itu tidak terlalu menghiraukan kehadirannya. Maryo dan istrinya tersenyum dan mengusap kepala Vian sekilas, sekedar basa-basi. Fokus mereka tetap pada Liam. "Wah, beruntung sekali si Marfa sudah jadi janda gara-gara ditinggal pria mokondo sekarang malah dapat dokter." "Bener, nasibnya mujur." Beberapa orang yang melihat memuji, namun ada juga yang diam-diam menatap sinis. "Liam, silahkan masuk Nak. Bapak senang sekali kamu bisa datang." Maryo mempersilahkan. Liam berjalan masuk dengan ekspresinya yang biasa saja--datar dan terkesan dingin. Tentu saja orang-orang yang baru melihatnya hanya bisa membatin. "Suami Marfa sombong sekali," Mereka mulai saling berbisik. Kebiasaan di desa orang-orang saling beramah tamah, sikap Liam yang bahkan tidak membalas sapaan mereka dengan senyum te

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 36 Menantu Kebanggaan

    Setibanya di rumah, Marfa langsung bergegas membersihkan area rooftop. Tanaman-tanaman hias yang dibelinya tadi pagi ia angkut satu per satu ke lantai atas, lalu mulai menatanya serapi mungkin.​Butuh waktu beberapa jam hingga seluruh pot tersusun cantik memanjakan mata.​"Mama..."​Suara mungil si kecil mengalihkan perhatian Marfa. ​Vian berjalan menyusulnya, berdiri di ambang pintu rooftop sembari mengucek matanya yang masih lengket. Anak itu baru saja bangun.Begitu mendapati area rooftop yang kemarin kosong kini telah disulap menjadi taman asri, mata bulat Vian berbinar kagum.​"Wah... indah sekali, Ma!" seru Vian menghampiri ibunya antusias. "Apa Vian boleh bermain di sini nanti?"​Marfa tersenyum lembut sembari mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Nanti Mama beli meja, kursi, dan beberapa furnitur pelengkap. Tempat ini bisa jadi area bersantai kita."​Vian menyambut ide itu dengan gembira. Anak kecil itu lalu berjongkok tepat di sebelah Marfa yang masih sibuk mengurus sarung tangan,

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 35 Rengkuhannya

    "P-Pak Liam, sebenarnya aku datang kemari dan mau menunggumu karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" kata Marfa cepat sambil memalingkan wajahnya. "A-ku butuh bantuanmu," lanjutnya dnegan gugup, Berbeda dari Marfa beberapa detik lalu. Liam menatap Marfa dan memindai wajahnya dari dekat. Ketegangan di wajah cantik itu terlihat jelas, bahkan pipi yang merona. "Bantuan apa?" Liam memundurkan kepalanya lalu kembali berdiri tegak. "Sepertinya sangat mendesak sampai membuatmu mau menunggu cukup lama."Marfa berdeham, ia ragu Liam akan menuruti permintaannya. Namun ia tetap harus mencoba untuk bicara. "I-itu soal keluargaku. Bapak mengundang kita ke kampung, ada keponakanku yang akan khitan. Sepertinya beliau akan menggelar hajatan yang cukup besar," jelas Marfa sembari menunduk. Saat mengatakannya, dadanya terasa sedikit sesak dan teremas. Ingat bagaimana saat ia di kampung dulu, bapaknya yang selalu membanggakan si sulung bahkan anak dari masnya itu pun selalu mendapatkan pe

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 34 Chek-In

    Setelah melambaikan tangan pada Vian yang masuk ke ruang kelas dengan ceria, Marfa menghela napas panjang. Ada rasa lega yang menyusup di dadanya.Keberaniannya memanggil Liam dengan sebutan 'Mas' dan 'Sayang' di depan Alena tadi, terasa seperti kemenangan kecil. Ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan Liam, tapi ia cukup puas melihat raut wajah Alena yang mendadak masam.​Marfa kemudian memacu sepeda motornya menuju sebuah toko tanaman hias yang cukup besar di pinggiran kota. Ia sudah lama merencanakan ini, menyulap rooftop di rumahnya menjadi tempat yang asri dan menenangkan.​Begitu menginjakkan kaki di area toko, aroma tanah basah dan kesegaran daun-daun hijau langsung menyambutnya. Marfa merasa dunianya seolah berhenti sejenak. Ia sangat menyukai suasana ini.​"Cari apa, Mbak?" sapa seorang pegawai toko dengan ramah.​"Saya ingin cari tanaman yang cocok untuk rooftop. Saya butuh tanaman yang tahan panas matahari, tapi juga punya estetika yang cantik," jawab Marfa lugas. Ia berja

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 33 Sayang Hati-hati di Jalan

    Pertanyaan Marfa sontak membuat tatapan Liam menajam. Meski raut wajah pria itu tetap tenang, Marfa yakin perbandingannya tadi telah memaksa Liam berpikir keras.​"Apa kamu perlu mempertanyakan hal itu?" Liam mengulurkan tangan, meraih dagu Marfa dan menahannya sedikit menekan, memaksa istrinya agar terus menatapnya. "Kamu sendiri sudah tahu jelas jawabannya."​Marfa mengerutkan kening. Alih-alih memberikan ketegasan, Liam justru melemparkan beban jawaban itu kembali padanya.​"Aku?" Marfa tidak tahu apa yang sebenarnya berputar di dalam kepala suaminya, tetapi sorot mata Liam begitu penuh keyakinan seolah Marfa tahu jawabannya.​"Kalau menurutku ... Alena bahkan punya posisi yang jauh lebih penting bagimu dibanding aku," lirh Marfa dengan nada getir.​Sudut bibir Liam tertarik ke atas, membentuk senyuman miring yang sarat akan cibiran. Pria itu menunduk sedikit, merapatkan bibirnya ke telinga Marfa.​"Kamu tidak bisa berpikir jernih karena sedang cemburu, kan?" bisik Liam tenang, te

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status