Share

Bab 4 Couple Goals

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-07-11 17:37:03

Mendengar nama Alena, Marfa seketika membeku. Ia tidak menyangka bahwa wanita itu adalah Alena--mantan istri suaminya yang membuatnya penasaran.

"Baiklah. Aku tunggu di tempat biasa," imbuh Alena, lalu memutar tubuh dan kembali berjalan ke arah pintu.

Sekarang Marfa bisa membatin, pantas jika semua orang memujinya. Alena memang cantik, apalagi dengan jas dokternya semakin membuat wanita itu tampak berkelas. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan Marfa yang hanya seorang ibu rumah tangga tanpa jabatan apa pun.

​"Kalau tidak ada yang mau ditanyakan, kalian bisa pulang."

"Ah--" Marfa kembali fokus, ia menatap Liam yang saat ini tampak terburu ingin keluar. ​"Pulang?"

​"Ini resep vitaminnya," kata Liam tanpa basa-basi atau pun menunggu Marfa tersadar dari keterkejutannya.

Liam benar-benar bicara sesuai porsinya--profesional layaknya seorang dokter. Tidak sedikit pun Marfa merasa bahwa lelaki kaku di hadapannya ini adalah suaminya. Bahkan, soal Alena, tidak tampak sedikit pun Liam ingin membahasnya.

"Papa?" Vian mendongak, mata bulatnya mengerjap seolah masih penuh harap bisa lebih lama dengan Liam.

"Kamu pulang dulu." Liam mengusap kepala anak itu agar tidak merengek dan mau mengikuti ibunya.

Melihat itu, Marfa menghela napas. Di antara banyaknya ketidakpastian, Vian yang butuh sosok ayah menjadi alasan terbesar Marfa saat ini.

"Vian, ayo kita pulang. Biarkan Papa bekerja." Marfa meraih tangan kecil Vian.

Meski anak itu masih terlihat berat, tidak ada pilihan lain Marfa tetap mengajaknya keluar tanpa sedikit pun bertanya soal Alena. Jika Liam tidak mau memberitahunya tentang itu, Marfa berniat mencari tahu lebih banyak sendiri.

Liam tetap duduk di tempatnya, ia menatap Marfa yang beranjak dan hendak menutup pintu. Sebelum pintunya benar-benar tertutup, Marfa mendongak dan matanya tepat bertemu tatap dengan manik tajam Liam.

Buru-buru ia memalingkan wajah dan menutup pintu, dadanya terasa sesak saat menatap wajah itu lalu ingat jika ada seorang wanita lain yang sedang menunggunya.

Ia sadar diri, posisinya sekarang tidak cukup berani untuk bertanya dan menuntut Liam sementara suaminya itu benar-benar menjaga jarak.

"Mama, kita pulang?" Vian mendongak, anak itu bicara dengan raut wajahnya yang tampak bahagia setelah bertemu dengan sang papa.

Marfa mengangguk pelan. Mereka berjalan menyusuri koridor. Namun, langkah Marfa terhenti sesaat ketika melewati nurse station. Suara bisik-bisik dari dua perawat yang sedang merapikan berkas resep menembus pendengarannya.

"Kamu lihat Dokter Alena? Ia datang, sepertinya mau bertemu dengan Dokter Liam," ucap seorang perawat yang berpapasan dengan Marfa.

Reflek ia memelankan langkahnya ketika mendengar nama suaminya disebut.

"Ah, mantan couple goals itu, kenapa sih mereka harus bercerai? Sampai sekarang aku bahkan masih tidak terima sebagai fans mereka."

"Benar, mereka sama-sama sempurna. Bahkan setiap kali dokter Alena berkunjung ke rumah sakit ini, aku merasa tatapan Dokter Alena pada Dokter Liam masih begitu dalam."

"Tujuh tahun menikah, sayang banget harus kandas. Katanya bukan karena orang ketiga atau apa pun, tapi kira-kira kenapa ya?"

"Entahlah, apa karena tidak punya momongan?"

Dua perawat itu saling tatap kemudian mengendikkan bahu. "Bisa jadi. Tapi semoga saja mereka masih berjodoh lagi dan bisa rujuk."

"Aku dukung itu! Rumah sakit ini akan sangat sukses kalau keduanya kembali bersama dan Dokter Alena juga bertugas di sini."

Marfa meremas ujung bajunya, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia merasa sangat asing sekarang, bahkan di rumah sakit tempat suaminya bekerja, ternyata ada banyak kenyataan yang Marfa tidak pernah tahu dan tidak ada seorang pun tahu tentangnya sebagai istri Liam sekarang. Semua orang bahkan mendukung Liam untuk rujuk?

Apakah mungkin setelah nanti Liam mendapatkan anak darinya, lelaki itu akan menceraikannya? Tapi… tidak, Marfa tidak boleh menjanda lagi untuk saat ini.

Vian pasti akan sangat sedih dan terpukul. Anak itu baru saja mendapat kebahagiaannya dengan punya ayah. Orang tua Marfa juga pasti akan marah besar jika Marfa kembali mempermalukan nama baik keluarganya dengan menjadi janda dua kali.

Orang-orang akan mulai mempertanyakan sikap dan sifat Marfa yang buruk sampai kawin-cerai dengan waktu yang hanya seumur jagung.

Saat Marfa menunggu mobil jemputan, ia duduk di lobi rumah sakit yang lebih nyaman untuk Vian. Di saat itulah ia lihat suaminya yang berjalan keluar dengan Alena.

"Mama, itukan Papa? Sama dokter yang tadi!" Tunjuk Vian tidak pangling. Sebelum sempat Marfa menahannya, anak itu lari lebih dulu mendekati Liam.

"Papa! Papa!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Ini sumpah, ya. Si Liam black flag banget!!! Benci aku sama dia
goodnovel comment avatar
Anidania
vian, kasian kamu nak
goodnovel comment avatar
Ariana Diaz
upsss papaaaaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 93 Kabar Bahagia

    ​"Aduh, Non Marfa kok tanya begitu, sih?" Bi Ratih tampak canggung. Ia bingung harus menjawab apa agar tidak salah bicara. ​Melihat raut ragu itu, Marfa langsung paham. ​"Sudahlah, Bi. Tidak usah dijawab." Marfa tetap tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman. ​"Non Marfa," Bi Ratih akhirnya memberanikan diri bersuara. "Saya tidak tahu pasti. Dari dulu, Pak Liam itu susah ditebak keputusannya. Tapi yang Saya lihat sekarang, Pak Liam perhatian sekali sama Non Marfa dan Vian. Hal yang jarang banget beliau tunjukkan ke orang lain." ​Benarkah? Marfa enggan terlalu percaya. Namun, kata-kata Bi Ratih pelan-pelan menerbitkan hangat dan harapan kecil di dadanya. *** ​Hari ini jadwal Marfa ke rumah sakit untuk memastikan keberhasilan program bayi tabungnya. Ia berangkat sendiri setelah mengantar Vian ke sekolah, sebab Liam sudah bertugas sejak pagi. ​Setibanya di sana, seorang perawat langsung menyapa dengan ramah. ​"Bu Marfa," perawat itu tersenyum hangat. "Sa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 92 Menceraikanku

    "Siapa nama anaknya Bu wiwit tadi?" tanya Marfa saat ia sadar nama itu cukup familiar. "Tyo, nama lengkapnya aku lupa. Empat tahun lalu kalo nggak salah Bu Wiwit jadiin anak muridnya sebagai anak angkat karena cukup berprestasi.""Oh." Marfa hanya mengangguk, ia ingat dengan seseorang yang menolong Vian saat di mall, namanya juga Tyo. Tapi nama itu bisa saja kebetulan sama. Sampai di rumah, ada mobil Lisya yang terparkir di halaman. Marfa menarik napas sebelum berjalan menuju pintu utama. Ia memenangkan diri lebih dulu, karena setiap kedatangan Lisya selalu saja membuat perasaannya tak enak. Pasti ada hal pedas yang akan dikatakannya. Begitu Marfa masuk, wanita paruh baya itu langsung menatapnya dengan tajam. "Marfa, kenapa kamu beraktivitas di luar? Bukankah sebaiknya banyak istirahat di rumah. " Lisya menatap Marfa dengan tatapan memindai. "Kudengar soal bayi tabung itu kalian sedang dalam proses melakukannya."Marfa mengangguk. "Benar, Bu. Aku pergi sudah seatas izin Mas Liam.

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 91 Pemilik Bonsai yang Membuat Marfa Penasaran

    "Yang itu?" Rayyan tampak berpikir, lalu melihat sekitar. Marfa tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ukiran samar itu. Rasa penasaran yang mendesak membuatnya memutar tubuh menuju Rayyan.​"Rayyan, tolong bantu aku. Bisakah kita cari tahu siapa pemilik bonsai ini?" pinta Marfa dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.​Melihat raut wajah Marfa yang begitu serius, Rayyan langsung mengangguk. Tanpa membuang waktu, ia membawa Marfa menuju stan panitia untuk mengecek data registrasi peserta pameran.​Tak butuh waktu lama bagi Rayyan untuk menemukan perwakilan dari pemilik bonsai tersebut. Namun sayang, sosok yang berjaga di dekat area pameran itu bukanlah sang pemilik asli, melainkan hanya seorang perwakilan atau orang suruhan.​Rayyan mendatangi pria bersetelan rapi itu dan bertanya mewakili Marfa. "Permisi, Pak. Bolehkah kami tahu siapa pemilik asli dari bonsai beringin ini?"​Pria itu tersenyum sopan sembari menggeleng pelan. "Maaf, Mas, Mbak. Majikan saya tidak bisa hadir la

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 90 Familiar

    "Eh, liat liat itu! Mereka udah pergi!" Nana menyenggol sikut Marfa yang sejak tadi bengong. Marfa kembali menoleh, ia lihat yang melabrak Hilya sudah pergi sedangkan Hilya dan temannya tampak sangat kesal dan menghentak-hentakan kaki. "Udah kita pergi ajah yuk! Kan niatnya mau belanja hari ini," ajak Nana kembali menggandeng lengan Marfa. Keduanya menghabiskan cukup waktu sampai jam pulang anak-anak. Nana bahkan bersikeras mengantar Marfa dan Vian sampai rumah. "Oh ya, ini undangan buat kamu. Rayyan bilang kamu harus datang karena Bu Wiwit kusus mengundangmu ke acara itu." Marfa melihat kertas undangan yang Nana sodorkan—sebuah acara pameran bonsai bertaraf internasional. Acara itu pasti sangat bergengsi dan dihadiri orang-orang dari berbagai mancanegara. Marfa tersenyum tipis, sejak kemarin ia bahkan lupa setiap kali ada acara seperti itu yang Rayyan katakan. Sepertinya kali ini ia benar-benar harus melihatnya. "Kalau Mas Liam mengizinkan aku pasti datang." Mendengarnya

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 89 Jago Edit Foto

    Mata Lio yang sudah memerah membulat takut, anak itu mencebik sedih-hampir menangis. "Bu Alena lepas. Kamu membuatnya takut!" bela Marfa mencoba melepas tangan Alena yang begitu kuat. "Lio tidak salah. Jika kamu takut semuanya akan berimbas padamu, itu masalahmu! Di sini Lio butuh keadilan!" Alena melirik sinis Marfa. "Kamu terus membelanya?" Ia menatap Marfa penuh benci, "Marfa! Kamu tidak perlu ikut campur!" Alena membentak, tidak hanya suaranya yang tinggi namun sentakannya juga kuat saat melepaskan tangan Marfa yang menghalangi. Marfa yang tidak dalam posisi siap terhuyung dan tubuhnya terdorong hingga jatuh membentur sudut meja. "Ah-!" pekik Marfa pelan, tangannya reflek mengusap perut. "Mama!" Vian mendekat dan langsung memegang lengan ibunya. "Mama tidak apa-apa?" Marfa menggeleng pelan meski matanya berkabut dan memerah menahan sakit. Ia rasakan perutnya tidak nyaman. "Apa yang kamu lakukan, Alena?" tegur Liam dari arah pintu. Entah sejak kapan ia pulang, namun meliha

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 88 Alena Melabrak

    ​Langkah kaki kedua perawat itu akhirnya menjauh dan pintu ruangan tertutup pelan. Begitu suasana benar-benar hening, Marfa perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar pemulihan dengan pandangan kabur oleh genangan air mata. Tak lama Liam masuk, ia berjalan seperti biasa, mendekati ranjang lalu duduk di kursi. "Kamu merasa ada yang tidak nyaman?" tanyanya memperhatikan kondisi Marfa. Marfa menggeleng pelan. "Tidak, hanya masih sedikit pusing, mungkin efek obat bius.""Kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku kembali bekerja, dua jam lagi aku ke sini," ujar Liam sembari melihat jam di tangannya. "Kalau ada sesuatu panggil saja," lanjutnya sebelum benar-benar pergi. "Baik, Mas." Marfa mengangguk patuh. Liam masih berdiri, beberapa detik ia hanya diam menatap Marfa seolah ragu hendak melakukan sesuatu, dan akhirnya ia lakukan sebelum melangkah pergi Liam membungkukkan badannya, tiba-tiba saja mengecup kening Marfa, seolah sedang menyalurkan ketenangan di sana. Mata Marfa m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status