LOGINSebel nggak, sih, kalian sama Liam? 😫🫢🤨😡
Baginya Lio hanya anak panti, sampai kapan pun meski punya ayah dan ibu, statusnya tetap hanya anak angkat. Tidak bisa dibandingkan dengan Kenzo yang jadi kesayangan di keluarganya. "Tidak mungkin ada yang berani hukum aku! Papaku kan dosen! Bu guru kenal baik sama Papa," kata Kenzo percaya diri, gayanya tengil khas anak-anak orang kaya yang angkuh. Marfa tersenyum miring, tak menyangka respon anak itu memang sangat berani. "Kalo Tante ngadu, aku juga tidak takut! Papa pasti akan lebih percaya ucapanku ketimbang anak panti itu!" "Oh ya?" Marfa terkekeh. "Bagaimana jika Tante punya bukti yang bisa membuat Papamu marah?" Tanpa segan lagi Marfa menunjukan rekaman yang sebelumnya ia ambil saat Kenzo menghadang langkah Lio dan langsung mengejek, lalu temannya yang memukul dengan buku. "Kamu--" Marfa menunjuk Adam yang tadi menghantam kepala Lio dengan buku. "Kamu juga harus dihukum."Adam membulatkan matanya takut saat melihat layar ponsel Marfa. "Kalian pasti juga terlibat dalam pe
Marfa menyimak, membalas tatapan suaminya dengan jantung berdebar."Semuanya sudah siap untuk besok. Kamu tinggal datang ke rumah sakit dan kita bisa lakukan proses transfer embrio," ucap Liam yakin.Marfa tertegun, tidak menyangka tahapan yang mereka nantikan benar-benar tiba. Karena sebelumnya ia sudah setuju menjalani program ini, Marfa pun mengangguk. Mengingat desakan Lisya siang tadi, makin tidak ada alasan baginya untuk mundur."Baik, Mas.""Jangan takut, prosesnya sebentar dan tidak sakit kok. Aku akan menemanimu di dalam."Marfa mengangguk. Meski belum tahu pasti bayangan detail proses di dalam ruang tindakan nanti, ia percaya pada ucapan Liam.Setelah bicara, Liam kembali menarik tangannya ekspresi yang sebelumnya tenang saat melihat wajah Marfa yang gugup seolah membuatnya juga tersadar jika genggaman tangan itu tidak biasanya. ***Paginya, Liam dan Marfa lebih dulu mengantar anak-anak. Pertama mereka ke sekolah Vian, lalu Lio. Anak itu turun dengan ragu, setelah be
"Ya ampun, lalu bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan saat itu?" Lio menggeleng pelan. "Aku hanya duduk diam, pura-pura tidak dengar. Aku hanya merasa bukan siapa-siapa. Ayah dan Ibu mengangkatku sebagai anak hanya agar aku mendapatkan pendidikan dan hidup yang layak--" Wajah Lio berubah muram, Marfa mengerti pasti anak itu merasa asing. Ia lalu meraih jemari kecil Lio lalu menggenggamnya. Alena dan Liam mengangkat Lio sebagai anak mereka hanya agar terlihat dimuka umum, tapi di keseharian Lio bahkan dimasukan ke asrama. Marfa mungkin tidak paham kenapa mereka melakukan itu, yang ia sadar sekarang mungkin itu salah satu yang membentuk sikap Lio jadi anak yang pendiam namun berambisi. "Tante Marfa--" Lio menatap Marfa, kali ini seolah ada sesuatu yang ingin ia tanyakan namun ragu. "Kenapa Lio?" Lio terdiam sesaat lalu menggeleng pelan. "Tidak." Tak lama mereka mendengar suara langkah kaki. Keduanya terdiam dan menatap ke arah pintu. Tepat di sana, Liam berdiri. "Pap
"Ibu, soal itu.... ""Ibu tidak masalah," ucap Lisya cepat. Ia bahkan seolah tidak berniat mendengar penjelasan Marfa. "Uang itu sudah diterima orang tuamu. Aku tidak akan menyuruh Liam untuk mengambil atau menagihnya. Tapi--"Lisya mendekatkan duduknya. "Kamu tetap harus membayarnya."Ucapan Lisya terdengar sangat serius. Marfa menelan ludah, jumlah uang yang Liam berikan pada orang tuanya memang sangat banyak. Tapi sebelum ini, Liam bahkan tidak memberatkan Marfa sedikit pun. Lisya justru mengungkitnya seakan Marfa berhutang dan harus tahu diri membayarnya. "Bukan dengan uang. Kamu jelas tahu apa yang Ibu inginkan kan?" Setiap ucapan Lisya terlontar seperti sebuah desakan yang tak boleh Marfa tolak. Marfa menatap Lisya, mencoba mencerna apa maksud wanita paruh baya itu. "Anak. Kali ini Ibu sangat memohon Marfa! Bagaimana pun carannya, Ibu ingin kamu bisa mengandung cucuku!" "Ibu," Marfa gugup, ia kesulitan bicara. "Aku dan Mas Liam juga sudah pikirkan soal itu. Ibu tenang saja--
Liam bukan seseorang yang mudah diajak mengobrol, apalagi dengan tema di luar dari pekerjaannya saat bertugas menjadi seorang dokter, tentu saja keinginan Angger itu terbilang cukup berani. "Anda anak Pak Rusdi kan? Kebetulan saya rekan bisnis beliau--" "Kalau bukan urusan medis, itu berarti tidak ada kaitannya dengan tugas saya sebagai dokter," potong Liam cepat saat mendengar apa maksud Angger. Ia sempat tegang saat menyangka Angger akan bertanya soal Marfa. Ternyata, lelaki itu justru menanyakan hal di luar dari tebakan Liam. "Saat ini masih jam praktik, akan lebih baik jika Anda tidak menahan saya sekarang," lanjut Liam tanpa basa-basi. Kalimat Liam bisa Angger mengerti, pemuda itu tidak lagi berharap untuk bisa menyita sedikit waktu Liam untuk mengobrol. Mungkin lain kali di luar jam kerja ia bisa membuat janji temu. Angger menghela napas, menurutnya sikap Rusdi masih jauh lebih ramah ketimbang Liam. Padahal awalnya Angger pikir mengobrol dengan yang lebih muda akan lebih m
Marfa meremas kuat-kuat ujung bajunya. Rasa tidak nyaman dan sesak kembali menyeruak, memenuhi rongga dadanya.Ia memaksakan senyum getir. "Kamu yakin Mas? Kemarin kamu yang menolak ide itu."Marfa menatap wajah suaminya yang mendadak tampak tegang dan tidak serileks biasanya."Sekarang aku hanya mempertimbangkan keinginan Ibu," jawab Liam seraya memalingkan tatapannya ke arah lain, seolah kehilangan aura dominan yang selalu ia tunjukkan. "Beliau sudah tua. Mungkin memang sebaiknya kita usahakan dulu untuk punya anak dengan cara itu."Marfa berdeham pelan untuk menghalau rasa ganjal di tenggorokannya. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, namun siapa pun yang melihatnya bisa tahu bahwa senyum itu tidak menunjukkan kelegaan. "Baiklah. Mari kita coba," jawab Marfa pada akhirnya.Ia tidak menolak sama sekali. Marfa memilih menerima tawaran itu, meski hatinya bertanya-tanya. "Besok jadwal dengan Dokter Alya. Tidak perlu datang, kamu bisa libur. Aku akan mengatur ulang jadwalny







