Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 9 Anak yang Alena Pilih

Share

Bab 9 Anak yang Alena Pilih

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-07-24 11:22:07

Marfa terpaku di tempatnya berdiri. Tenggorokannya mendadak tercekat, menatap jalanan lengang di hadapannya dengan dada yang berdenyut nyeri.

Liam bahkan tidak menunggunya, pria itu pergi begitu saja dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Padahal Marfa sengaja terburu-buru hanya agar suaminya tidak menunggu lama.

​"Tidak apa-apa, Papa pasti sibuk. Kita pulang sendiri saja, ya? Nanti mampir ke toko mainan dan beli apa yang kamu suka," bisik Marfa menguatkan diri.

​Vian mengangguk patuh. Ia kembali tersenyum saat Marfa berjanji membelikannya mainan.

​Marfa menggandeng jemari putranya untuk keluar dari area sekolah dan berjalan menuju halte. Ia berniat naik kendaraan umum. Karena belum terbiasa dengan kehidupan kota besar, Marfa belum pernah mencoba aplikasi ojek atau driver online, sehingga ia tidak ingin mengambil risiko.

​Baru beberapa langkah mendekati gerbang, ponsel di tasnya berdering. Nama Liam tertera di layar, ia mengangkatnya.

Tanpa memberi kesempatan pada Marfa untuk menyapa, suara berat suaminya langsung terdengar.

​"Jangan pergi ke mana-mana. Nanti aku jemput," pesan Liam singkat, lalu mematikan panggilan secara sepihak.

​Langkah Marfa terhenti. Ucapan itu membuatnya membatalkan niat untuk pulang sendiri.

​"Vian, Papa bilang mau jemput. Bagaimana kalau kita tunggu saja?"

​Vian tersenyum antusias. Anak itu mengangguk cepat, lalu mereka kembali ke area sekolah dan duduk di salah satu kursi ruang tunggu dekat jalur masuk utama.

​Awalnya mereka menunggu dengan sabar. Namun, setelah setengah jam berlalu, Vian mulai gelisah dan kelelahan. Marfa merasa tidak tega. Suaminya sangat lama, tetapi instruksi Liam lewat telepon tadi menahannya untuk tetap bertahan di sana.

​Hingga satu jam berlalu dan Vian akhirnya tertidur pulas di pangkuan Marfa, mobil mewah milik suaminya baru muncul.

​Liam menghentikan mobilnya di dekat Marfa, memberi isyarat agar Marfa segera masuk dan duduk di kursi belakang.

Saat pintu dibuka, tumpukan barang yang sebelumnya memenuhi jok belakang sudah bersih hanya menyisakan jejak aroma parfum wanita yang masih kuat tertinggal.

​Marfa masuk dan duduk perlahan. Ia tidak sempat bertanya karena Liam langsung menginjak pedal gas dengan kencang. Namun yang pasti, sekarang Marfa mengerti ke mana suaminya pergi hingga membuatnya menunggu begitu lama. Liam baru saja mengosongkan mobil ini dan mungkin baru saja bertemu dengan Alena?

​"Kalau sibuk, harusnya Pak Liam tidak perlu memaksa dan bilang akan menjemput. Vian menunggu sampai ketiduran," ucap Marfa pelan. Namun, ada nada kecewa yang tak mampu lagi ia bendung.

Untuk orang seperti Liam yang selalu menuntut efisiensi waktu, seharusnya pria itu paham bahwa bagi Marfa, satu jam menunggu di tempat asing bersama anaknya adalah waktu yang juga berharga. Namun sepertinya, Liam sama sekali tidak peduli.

​Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil menjadi makin canggung dan mencekik. Marfa kembali bungkam, sementara Liam fokus menyetir tanpa niat mencairkan suasana.

​Vian terbangun saat mobil berbelok memasuki pekarangan rumah. Anak itu mengerjap, lalu melihat sekeliling.

​"Papa?" Suara mungil Vian terdengar saat menyadari papanya sendiri yang membukakan pintu mobil untuknya.

​"Kamu sudah bangun?" tanya Liam datar.

​Vian turun, tetapi senyum di wajahnya mendadak pudar saat tahu mereka sudah sampai di rumah. Anak itu sebenarnya masih berharap bisa berjalan-jalan dengan Liam.

​"Kenapa Papa jemputnya lama sekali? Vian jadi ketiduran, deh!" keluh anak itu sambil cemberut.

​Liam tidak menjawab keluhan itu. Ia berjalan ke bagasi dan mengeluarkan sebuah mainan mobil-mobilan berukuran cukup besar.

​"Wah... apa ini untuk Vian?" Binar di mata Vian kembali menyala. Rasa kesalnya menguap begitu saja.

​Liam menurunkan mainan itu ke lantai dekat kaki Vian. "Ya."

​"Warnanya merah... bukan biru," gumam Vian pelan. Raut kecewa sedikit terlihat karena warna itu bukan kesukaannya. Namun, Marfa buru-buru menyela.

​"Ini juga sangat bagus, Vian. Apa kamu sudah mengucapkan terima kasih pada Papa?" Marfa tersenyum. Untuk sejenak, ia melupakan rasa sesak di dadanya demi melihat binar bahagia di wajah putranya.

​"Papa, terima kasih! Ini tetap bagus kok!" ucap anak itu antusias kembali.

Seorang asisten rumah tangga segera datang membantu membawa mainan besar itu masuk ke dalam rumah.

​Setelah Vian masuk, Marfa menatap Liam. Ia berniat menyampaikan rasa terima kasih atas inisiatif suaminya. "Jadi... Pak Liam terlambat jemput karena membeli mainan ini dulu untuk Vian?"

​"Aku sudah membeli itu sejak lama untuk Lio. Alena yang dulu memilihnya, tapi barang itu lama terbengkalai di gudang," jawab Liam.

​Marfa tertegun. "Alena yang Pak Liam maksud... mantan istri Anda? Lalu siapa Lio?"

​Liam menoleh, menatap Marfa yang tampak terkejut namun berusaha menahannya.

​"Lio itu anak yang Alena pilih,” jawab Liam singkat. Tidak memberi banyak penjelasan tentang Lio--anak panti yang sempat ingin Alena adopsi saat mereka masih menikah.

"Kalau Vian suka, masih ada beberapa barang lain. Aku akan membawanya lain kali."

​Mendengar ucapan itu, senyum tipis di bibir Marfa benar-benar lenyap. Bukan hanya getir, Marfa kini makin bingung dengan posisinya di rumah ini.

Kenapa suaminya masih begitu terbuka dan dekat dengan sang mantan istri? Bahkan tanpa ragu mendiskusikan wanita itu di hadapannya?

​"Lio suka warna merah. Jadi semua mainan yang mereka pilih mungkin warnanya merah. Kalau Vian tidak suka, ajari dia untuk belajar menerima dan tetap berterima kasih," lanjut Liam tegas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ariana Diaz
sp lioooooo
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 82 Liam dan Pemikirannya

    ​Marfa meremas kuat-kuat ujung bajunya. Rasa tidak nyaman dan sesak kembali menyeruak, memenuhi rongga dadanya.​Ia memaksakan senyum getir. "Kamu yakin Mas? Kemarin kamu yang menolak ide itu."​Marfa menatap wajah suaminya yang mendadak tampak tegang dan tidak serileks biasanya.​"Sekarang aku hanya mempertimbangkan keinginan Ibu," jawab Liam seraya memalingkan tatapannya ke arah lain, seolah kehilangan aura dominan yang selalu ia tunjukkan. "Beliau sudah tua. Mungkin memang sebaiknya kita usahakan dulu untuk punya anak dengan cara itu."​Marfa berdeham pelan untuk menghalau rasa ganjal di tenggorokannya. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, namun siapa pun yang melihatnya bisa tahu bahwa senyum itu tidak menunjukkan kelegaan. ​"Baiklah. Mari kita coba," jawab Marfa pada akhirnya.​Ia tidak menolak sama sekali. Marfa memilih menerima tawaran itu, meski hatinya bertanya-tanya. "Besok jadwal dengan Dokter Alya. Tidak perlu datang, kamu bisa libur. Aku akan mengatur ulang jadwalny

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 81 Masalah Keturunan

    Setelah memastikan kondisi pasien stabil dan memindahkannya ke ruang perawatan, Liam keluar. Ia melepas sarung tangan medisnya lalu bergegas menuju meja perawat untuk mengambil map rekam medis yang baru saja diperbarui.​Matanya dengan cepat memindai baris demi baris informasi pribadi sang pasien hingga terhenti tepat di kolom identitas utama.​Nama Pasien: Angger Prastyo. ​Manik mata Liam membelak mendapati nama itu tertera dengan sangat jelas.​Liam mematung sesaat, pikirannya mulai berkecamuk. Teka-teki yang sejak semalam berputar di kepalanya akhirnya ia temukan jawabannya. Lelaki yang menyelamatkan Vian di mall, pria yang tak sengaja menyenggol pundaknya, dan pasien gagal jantung yang baru saja ia tangani dengan tangannya sendiri adalah orang yang sama-mantan suami Marfa. Liam yakin itu, bukan hanya kebetulan memiliki nama yang sama. Liam menutup map rekam medis itu rapat-rapat. Ekspresi wajahnya berubah drastis, ketegangan terpancar jelas dari rahangnya yang mengeras. Tanpa m

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 80 Angger Prastyo

    Di sepanjang perjalanan pulang, keheningan menelusup ke dalam mobil. Marfa duduk di samping kemudi, sementara anak-anak berada di jok belakang bersama Bi Ratih. Vian yang kelelahan mulai tertidur pulas, dan Lio hanya menatap luar jendela tanpa bersuara.​Marfa mencoba mengalihkan rasa gelisah di dadanya dengan membuka ponsel. Namun, saat jemarinya membuka aplikasi pesan dan mengklik status WhatsApp milik adik iparnya, sebuah foto membuat napas Marfa tertahan. ​Di status WhatsApp Hilya, terpampang foto gadis itu bersanding manja dengan Liam. Namun, bukan keberadaan Liam yang membuat napas Marfa tercekat, melainkan sosok wanita yang berdiri di sebelah mereka—Alena. Bertiga, mereka tersenyum ke arah kamera di dalam rumah keluarga Liam.​Secara refleks, Marfa menoleh ke samping. Pandangannya meneliti penampilan suaminya, pakaian yang dikenakan Liam sama persis dengan yang ada di foto. Marfa lalu mengecek keterangan waktu pada status WhatsApp itu, beberapa jam yang lalu. ​Waktu yang coc

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 79 Bertemu Om Baik

    Vian mengangguk polos. "Iya, Om Tyo. Nama Mamaku, Mama Marfa."​Belum sempat Tyo mencerna rasa kagetnya, pengeras suara mall berbunyi. Petugas keamanan menyampaikan pengumuman tentang anak hilang bernama Vian. Tyo tersadar dari lamunannya. Tanpa membuang waktu, ia bergegas menggendong Vian menuju pos keamanan terdekat.​Setibanya di sana, Tyo mendudukkan Vian di kursi tunggu. Petugas yang berjaga langsung menghubungi Marfa melalui radio panggil.​Di saat bersamaan, perasaan Tyo mendadak campur aduk. Nama Marfa terus berputar di kepalanya, memancing gejolak emosi yang belum siap ia hadapi.​"Vian, Om izin pergi dulu, ya. Kamu tunggu di sini sama Pak Satpam, sebentar lagi Mamamu datang," bisik Tyo lembut seraya mengusap kepala Vian.​"Kok, Om Tyo pergi? Tidak mau ketemu Mama?" tanya Vian polos.​"Om ada urusan mendadak. Kamu anak pintar, tetap tunggu di sini, ya," jawab Tyo dengan senyum tipis. "Lain kali, kita mungkin akan bertemu lagi. Sampai jumpa."Ia lalu berbalik dan bergegas per

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 78 Nama Mama Marfa!

    Langkah Hilya terhenti tepat di samping gadis yang sejak tadi memojokkan Marfa. Pandangannya menyapu Marfa dari atas ke bawah dengan meremehkan.​"Oh, ternyata ada Kak Marfa di sini," ujar Hilya dengan nada sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Kalian bicara soal apa tadi? Soal pernikahan kakaku?"​Wanita asing itu melirik Hilya, sedikit mengenali wajah adik dari dokter Liam. "Mbak ini adiknya Dokter Liam, kan? Bener kan, wanita ini yang bikin rumah tangga kakakmu hancur sama Dokter Alena?"​Hilya terkekeh pelan, tawa yang sarat akan cemoohan. Ia menatap teman-temannya lalu beralih lagi pada Marfa yang berusaha menahan diri demi anak-anak di dekatnya. Ia lalu menyuruh Ratih untuk membawa anak-anak menjauh lebih dulu. ​"Tuh, kan! Bukan cuma aku yang mikir gitu. Orang asing aja bisa menilai," ucap Hilya sengaja meninggikan suaranya agar orang-orang di sekitar gerai mendengar. Meski ia tidak menjawab secara blak-blakan namun kalimat tadi jelas menunjukkan jika Hilya tidak menyangka

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 77 Teguran untuk Marfa

    ​Liam menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Pria itu menghentikan langkahnya di dekat meja ruang tengah, mengusap tengkuknya dengan raut rumit.​"Sudah. Aku sudah menghubungi pihak pengurus asrama tadi siang," sahut Liam rendah. "Mereka bilang Lio tidak membuat masalah atau bertengkar. Hanya saja... anak itu mengurung diri dan menolak makan selama dua hari sebelum akhirnya kabur."​Liam menoleh ke arah Marfa, ekspresinya sarat akan rasa bersalah. "Tapi masih belum jelas apa alasan Lio melakukan itu." Marfa mengangguk paham. "Aku akan mencoba menanyainya perlahan. Kalau dia masih betah tinggal di sini, biarkan saja dulu Mas." Liam tidak menolak niat baik Marfa, ia setuju membiarkan Lio tinggal dan Marfa yang ingin berusaha dekat. * Di rumah itu semua berjalan seperti biasa, Marfa fokus pada anak-anak dan dunianya. Ia mungkin tidak terlalu menghiraukan apa yang terjadi di luar tertutama di dunia maya. Namanya masih sering disebut-sebut, masih menimbulkan pertanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status