تسجيل الدخول
“Wildan, tolongin Mbak Maya dong, kakakku. Saluran air di rumahnya mampet parah. Buruan ke sana ya, darurat ini!”
Telepon dari Mario, adik pemilik rumah elit tempat Wildan bekerja, membuat Wildan langsung tancap gas, bahkan sebelum ia sempat menghabiskan rokoknya.
Sesampainya di sana, pintu utama yang tidak dikunci langsung ia dorong masuk. Penampilannya sangat kontras dengan rumah itu karena Wildan hanya mengenakan celana jeans belel dan kaos hitam ketat berlumuran noda oli.
“Ah, sial,” umpat Wildan saat melihat genangan air sudah mulai merembes. Dengan cekatan, otot-otot lengannya yang kekar menegang saat memutar sambungan besi berkarat di langit-langit menggunakan kunci inggris.
Pekerjaan kasarnya selesai dalam belasan menit.
Namun saat Wildan melangkah ke koridor penghubung kamar mandi dalam untuk mengecek sisa rembesan, ia mendengar suara gemericik air. Melalui celah pintu kayu jati yang sedikit renggang, Wildan memberanikan diri untuk mengintip.
Dan .…
Yang Wildan lihat adalah Maya, istri dari pemilik rumah yang baru keluar dari bathtub.
Di dalam ruangan yang dipenuhi uap hangat itu, Maya hanya mengenakan jubah mandi sutra berwarna putih gading.
Jelas sekali, dari jubah mandi itu, postur Maya yang tinggi aduhai, body gitar Spanyol, sekaligus dengan rambutnya yang hitam panjang bergelombang seperti iklan Shampo.
Maya menunduk pelan untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, sehingga dua bukit kembarnya yang putih mulus sedikit menyembul jika dilihat dari tempat Wildan.
Wildan hanya bisa menganga, karena sudah pasti ukuran Maya jelas di atas rata-rata wanita pada umumnya. Terlebih, saat Wildan melihat di antara belahan itu. Arh, rasanya seperti mimpi saja, melihat bidadari selesai mandi siang.
‘Cobaan macam apa lagi ini di siang bolong? Mulus banget. Ah sial, aku nggak boleh kayak gini. Aku harus profesional!’ rutuk Wildan dalam hati.
Baru saja menjernihkan pikiran anunya, tiba-tiba .…
PRAAAK!
Pipa sambungan di langit-langit kamar mandi yang sudah rapuh mendadak pecah, sehingga semburan air bervolume besar langsung mengguyur telak tubuh Maya.
"SIAPA! Siapa di sana? Jangan coba ngintip aku lagi mandi!" jerit Maya kaget, sekaligus menutup bagian atas tubuhnya agar tidak terlihat.
Saat Wildan akan melarikan diri, dia melihat tubuh Maya refleks mundur, dan sialnya adalah lantai marmer yang licin oleh cairan sabun membuat kakinya kehilangan keseimbangan.
‘Semoga cobaan ini senikmat apa yang kubayangkan!’
Karena tidak mau istri pemilik rumah itu celaka, Wildan terpaksa masuk, mendorong pintu jati, dan menangkap pinggang ramping Maya tepat sebelum wanita itu menghantam lantai.
Bruk!
Wildan menarik tubuh basah itu masuk ke dalam dekapannya.
Dan sial, kenapa buah-buahan Maya terasa sangat kenyal! Argh, Wildan tidak menduga ini akan berakhir nikmat, walau cukup mendebarkan. Meski hanya singkat, fantasi Wildan tiba-tiba berganti ketika dia menoleh ke bawah.
Jubah putih yang tadinya sempat jadi halangan Wildan menikmati surga dunia, kini terlepas.
Posisi Maya jatuh memang menghadap ke bawah, tapi yang membuat Wildan tidak habis pikir adalah kenapa di usia Maya yang sudah kepala tiga, pinggangnya sangat ramping dan kulitnya mulus seperti setiap hari melakukan spa?
Sadar itu sudah kelewat batas, Wildan memilih untuk mencari alibi.
Satu-satunya cara agar Wildan bisa selamat dari tuduhan, dengan pura-pura menutup mata dengan tangan kiri, mengingat tangan kanannya masih merangkul bahu Maya.
"M-Mbak Maya tidak apa-apa?" tanya Wildan dengan suara serak, meski dia coba mengintip dari sela-sela jarinya.
Maya mendongak, menatap wajah Wildan dengan mata sayu yang basah. Tangannya refleks mencengkeram erat kaos hitam Wildan, lalu membenarkan posisi handuknya lebih dulu.
Di saat yang sama, tubuh mereka yang menempel rapat membuat Maya bisa merasakan dengan sangat jelas ada benda tebal, keras, dan sedikit melawan apabila disentuh.
"W-Wildan ... kamu kok ada di sini?" lirih Maya tertahan. Wajah cantiknya merona merah, tahu karena Wildan memiliki aset yang ukurannya sangat dia impi-impikan.
"Mbak Maya, sa-saya, mi-mi-mi, sa-saya tadi membenarkan pipa di luar. Maaf saya kelancangan masuk, terus tadi nggak sengaja liat Mbak Maya mau jatuh," balas Wildan terbata-bata.
Di bawah guyuran air yang masih deras, Maya justru semakin memajukan tubuhnya. Ia menyandarkan keningnya ke dada Wildan, membiarkan tubuh matangnya menempel semakin intim, seolah sengaja membiarkan gesekan di perut bawahnya terus terjadi.
Ciuman yang berawal dari upaya menenangkan itu dengan cepat berubah haluan. Napas Wildan kembali memburu panas, menerpa wajah Maya. Segala ketakutan Maya menguap, berganti menjadi kebutuhan fisik yang tak tertahankan. Tangan wanita itu meremas bahu telanjang Wildan, menariknya agar semakin merapat."Mbak Maya selalu bikin saya hilang kendali," geram Wildan tertahan di depan bibir wanita itu."Maka jangan ditahan, Wil. Ambil kendalinya," bisik Maya dengan mata setengah terpejam, seraya menantang dominasi pria itu.Tanpa membuang waktu, Wildan langsung mengangkat tubuh Maya dan membaringkannya perlahan di atas kasur busa. Pria itu melepaskan celana jeans-nya dengan sekali tarikan kasar, lalu kembali memposisikan dirinya di atas tubuh sang nyonya. Kaus kebesaran yang dipakai Maya disingkirkan begitu saja, mengekspos kulit lembutnya yang kini dihiasi bercak merah bekas cumbuan semalam.Wildan tidak terburu-buru. Ia membelai lekuk tubuh Maya dari pinggang hingga ke paha, memicu lengu
Wildan melepaskan ciumannya. Napas mereka masih memburu di atas kasur yang berantakan. Pria itu mengusap sisa saliva di bibir Maya dengan ibu jarinya. "Saya mandi dulu, Mbak. Badan saya lengket," kata Wildan sambil beranjak turun dari kasur. "Jangan lama-lama, Wil," balas Maya pelan. Wildan mengangguk dan berjalan ke kamar mandi kecil di sudut belakang. Suara keran air yang menyala langsung memecah kesunyian kamar kontrakan itu. Maya duduk bersandar di tembok dingin sambil menarik selimut menutupi dadanya. Tatapannya jatuh pada ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia merogoh ponsel itu dan membuka kuncinya. Melihat kalender di layar, Maya sadar masa suburnya sudah lewat. Tadi malam, Wildan juga sudah menuntaskan tugasnya secara langsung, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari kejaran orang-orang Indra. "Urusannya udah selesai. Aku harus bayar dia sekarang," gumam Maya. Maya membuka aplikasi mobile banking. Ia menggunakan rekening rahasia atas nama
"Aku … sekarang … aku pengin hamil bukan lagi demi warisan dari orang tua Mas Indra," ucap Maya tegas, matanya memancarkan amarah dan dendam yang selama ini ia pendam. "Dan aku juga udah nggak peduli lagi kalaupun akhirnya aku diusir dari rumah mewah yang rasanya kayak neraka itu.""Terus, buat apa Mbak bela-belain sejauh ini kalau bukan buat ngamanin posisi Mbak di keluarga itu?""Buat ngebuktiin ke mereka semua kalau aku nggak mandul, Wil!" desis Maya tajam. Jari-jarinya meremas seprai dengan kuat. "Selama ini ibu mertuaku selalu ngatain aku perempuan pembawa sial karena rahimku kosong. Mas Indra juga selalu mukulin aku buat nutupin kelemahannya sendiri. Sekarang, aku mau hamil buat ngebuktiin ke muka mereka kalau yang cacat dan bermasalah itu adalah Indra! Jaksa terhormat itu yang impoten, bukan aku!"Mendengar letupan amarah dan keputusasaan dari wanita di pelukannya, Wildan terdiam. Hatinya ikut mendidih membayangkan penderitaan mental yang harus ditanggung Maya bertahun-tahun.
Hujan badai yang sangat lebat akhirnya tumpah mengguyur ibu kota malam itu. Suara rintik air yang menghantam keras atap kontrakan menciptakan tirai suara alami.Di sudut dinding yang dingin, pagutan liar mereka terlepas sejenak. Keduanya terengah-engah, berebut meraup oksigen. Hawa dingin dari luar merembes masuk melalui celah ventilasi, namun hal itu justru berbanding terbalik dengan suhu tubuh mereka yang mendidih terbakar gairah."Kita pindah ke kasur, Mbak. Punggung Mbak bisa sakit kalau kelamaan nempel di tembok," bisik Wildan dengan napas berat.Maya menggeleng pelan, kedua kakinya masih melingkar erat di pinggang pria itu. "Bawa aku ke sana, Wil. Jangan lepasin pelukanmu."Tanpa membantah, Wildan berjalan memanggul tubuh Maya dan merebahkan punggung wanita itu perlahan di atas kasur busa. Gerakan Wildan sangat berhati-hati, seolah wanita di bawahnya ini adalah karya seni paling berharga yang tidak boleh tergores sedikit pun.Dengan sekali tarikan lembut, Wildan melepaskan kaus
Bunyi logam beradu dan deru mesin kendaraan memenuhi area bengkel yang sibuk. Di bawah kolong mobil SUV pelanggan, Wildan berusaha keras mempertahankan fokusnya pada mur dan baut yang sedang ia kencangkan. Namun konsentrasinya terus-menerus buyar.Alih-alih memikirkan mesin, otaknya justru terus memutar ulang bayangan wajah Maya. Sensasi ciuman panas mereka pagi tadi terasa begitu nyata, dan aroma manis vanila dari rambut sang nyonya seolah masih menempel kuat di ujung jari-jarinya."Woi, Wil! Kunci pas nomor dua belas mana?" teriak Diki dari kap mobil sebelah, membuyarkan lamunan Wildan.Wildan tersentak pelan. Ia menyodorkan kunci tersebut dari bawah kolong. "Ini, ambil."Diki mengambilnya sambil mendengus heran. "Lo kenapa sih dari tadi pagi? Bengong mulu, baut udah kencang masih aja lo putar. Kurang tidur lo?""Nggak apa-apa. Badan gue agak meriang aja," kilah Wildan, segera mengalihkan pandangannya kembali ke mesin.Rasa rindu yang mendadak membakar dadanya itu terpaksa ia pendam
Suasana pagi di dalam kamar kontrakan petak itu terasa sangat damai. Sinar matahari pagi yang mengintip dari celah jendela berdebu jatuh menyinari wajah Maya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Tidak ada suara bantingan pintu atau makian kasar yang biasanya mengawali paginya di rumah mewah sang jaksa.Terbuai oleh rasa aman yang diberikan oleh Wildan semalam, Maya menggeliat pelan di balik selimut tipisnya. Pandangan matanya yang masih sayu menangkap sosok tinggi besar di sudut ruangan.Wildan sudah bangun. Pria itu sudah mandi dan kini tengah sibuk mengancingkan kemeja seragam bengkelnya yang berwarna biru pudar. Wajah pria itu tampak serius, bersiap untuk kembali menghadapi hari yang penuh risiko di luar sana.Tanpa mengeluarkan suara, Maya beranjak dari ranjang kasur busa. Ia merapatkan kemeja kebesaran yang membungkus tubuhnya, lalu melangkah pelan menghampiri sang montir dari belakang."Sini, biar aku saja yang pasang," ucap Maya pelan.Tangannya yang lembut menepis pelan tanga







