Beranda / Urban / Kuli Gagah Spesialis / 1. Pelukan basah

Share

Kuli Gagah Spesialis
Kuli Gagah Spesialis
Penulis: Risya Petrova

1. Pelukan basah

Penulis: Risya Petrova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 17:26:42

“Wildan, tolongin Mbak Maya dong, kakakku. Saluran air di rumahnya mampet parah. Buruan ke sana ya, darurat ini!”

Telepon dari Mario, adik pemilik rumah elit tempat Wildan bekerja, membuat Wildan langsung tancap gas, bahkan sebelum ia sempat menghabiskan rokoknya.

Sesampainya di sana, pintu utama yang tidak dikunci langsung ia dorong masuk. Penampilannya sangat kontras dengan rumah itu karena Wildan hanya mengenakan celana jeans belel dan kaos hitam ketat berlumuran noda oli.

“Ah, sial,” umpat Wildan saat melihat genangan air sudah mulai merembes. Dengan cekatan, otot-otot lengannya yang kekar menegang saat memutar sambungan besi berkarat di langit-langit menggunakan kunci inggris. 

Pekerjaan kasarnya selesai dalam belasan menit.

Namun saat Wildan melangkah ke koridor penghubung kamar mandi dalam untuk mengecek sisa rembesan, ia mendengar suara gemericik air. Melalui celah pintu kayu jati yang sedikit renggang, Wildan memberanikan diri untuk mengintip.

Dan .…

Yang Wildan lihat adalah Maya, istri dari pemilik rumah yang baru keluar dari bathtub.

Di dalam ruangan yang dipenuhi uap hangat itu, Maya hanya mengenakan jubah mandi sutra berwarna putih gading.

Jelas sekali, dari jubah mandi itu, postur Maya yang tinggi aduhai, body gitar Spanyol, sekaligus dengan rambutnya yang hitam panjang bergelombang seperti iklan Shampo.

Maya menunduk pelan untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, sehingga dua bukit kembarnya yang putih mulus sedikit menyembul jika dilihat dari tempat Wildan. 

Wildan hanya bisa menganga, karena sudah pasti ukuran Maya jelas di atas rata-rata wanita pada umumnya. Terlebih, saat Wildan melihat di antara belahan itu. Arh, rasanya seperti mimpi saja, melihat bidadari selesai mandi siang.

‘Cobaan macam apa lagi ini di siang bolong? Mulus banget. Ah sial, aku nggak boleh kayak gini. Aku harus profesional!’ rutuk Wildan dalam hati.

Baru saja menjernihkan pikiran anunya, tiba-tiba .…

PRAAAK!

Pipa sambungan di langit-langit kamar mandi yang sudah rapuh mendadak pecah, sehingga semburan air bervolume besar langsung mengguyur telak tubuh Maya.

"SIAPA! Siapa di sana? Jangan coba ngintip aku lagi mandi!" jerit Maya kaget, sekaligus menutup bagian atas tubuhnya agar tidak terlihat. 

Saat Wildan akan melarikan diri, dia melihat tubuh Maya refleks mundur, dan sialnya adalah lantai marmer yang licin oleh cairan sabun membuat kakinya kehilangan keseimbangan. 

‘Semoga cobaan ini senikmat apa yang kubayangkan!’ 

Karena tidak mau istri pemilik rumah itu celaka, Wildan terpaksa masuk, mendorong pintu jati, dan menangkap pinggang ramping Maya tepat sebelum wanita itu menghantam lantai.

Bruk!

Wildan menarik tubuh basah itu masuk ke dalam dekapannya.

Dan sial, kenapa buah-buahan Maya terasa sangat kenyal! Argh, Wildan tidak menduga ini akan berakhir nikmat, walau cukup mendebarkan. Meski hanya singkat, fantasi Wildan tiba-tiba berganti ketika dia menoleh ke bawah.

Jubah putih yang tadinya sempat jadi halangan Wildan menikmati surga dunia, kini terlepas.

Posisi Maya jatuh memang menghadap ke bawah, tapi yang membuat Wildan tidak habis pikir adalah kenapa di usia Maya yang sudah kepala tiga, pinggangnya sangat ramping dan kulitnya mulus seperti setiap hari melakukan spa?

Sadar itu sudah kelewat batas, Wildan memilih untuk mencari alibi.

Satu-satunya cara agar Wildan bisa selamat dari tuduhan, dengan pura-pura menutup mata dengan tangan kiri, mengingat tangan kanannya masih merangkul bahu Maya.

"M-Mbak Maya tidak apa-apa?" tanya Wildan dengan suara serak, meski dia coba mengintip dari sela-sela jarinya.

Maya mendongak, menatap wajah Wildan dengan mata sayu yang basah. Tangannya refleks mencengkeram erat kaos hitam Wildan, lalu membenarkan posisi handuknya lebih dulu.

Di saat yang sama, tubuh mereka yang menempel rapat membuat Maya bisa merasakan dengan sangat jelas ada benda tebal, keras, dan sedikit melawan apabila disentuh.

"W-Wildan ... kamu kok ada di sini?" lirih Maya tertahan. Wajah cantiknya merona merah, tahu karena Wildan memiliki aset yang ukurannya sangat dia impi-impikan.

"Mbak Maya, sa-saya, mi-mi-mi, sa-saya tadi membenarkan pipa di luar. Maaf saya kelancangan masuk, terus tadi nggak sengaja liat Mbak Maya mau jatuh," balas Wildan terbata-bata.

Di bawah guyuran air yang masih deras, Maya justru semakin memajukan tubuhnya. Ia menyandarkan keningnya ke dada Wildan, membiarkan tubuh matangnya menempel semakin intim, seolah sengaja membiarkan gesekan di perut bawahnya terus terjadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Risya Petrova
Makasih kak, lanjut baca yuk kakaa. Kelanjutannya makin seru loh
goodnovel comment avatar
Ongki Ongki
ceritanya seruuuuu dan bagus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kuli Gagah Spesialis   156. Dari mana?

    Hancurnya kekuasaan Jenderal Soebroto dan kebangkrutan total yang dialami Budiarto membawa perubahan yang luar biasa melegakan. Hawa tegang yang selama ini menyelimuti rumah mewah milik bos Black Wolf itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa damai yang sesungguhnya.Karena ancaman hukum dan tekanan militer telah musnah dari kehidupan mereka, Wildan kini bisa bernapas lega. Pria itu memutuskan untuk memusatkan seratus persen waktu dan energinya murni untuk memanjakan Maya. Kehamilan Maya yang kini semakin membesar jelas membutuhkan perhatian ekstra.Pagi itu, Wildan memanggil Beno ke ruang kerjanya."Ben, mulai hari ini, aku serahkan semua urusan operasional bengkel ke tanganmu," perintah Wildan sambil menyerahkan setumpuk dokumen. "Kamu pegang kendali penuh di lapangan. Aku akan lebih sering bekerja dari rumah. Aku nggak mau ninggalin Maya terlalu lama.""Siap, Bos Besar!" jawab Beno sambil tersenyum lebar. "Bos fokus aja jagain Mbak Maya dan calon ponakan gue. Kalau ada preman atau

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 155. Balutan

    Di sisi lain ibu kota, tepatnya di gedung pencakar langit milik Budiarto Group, suasana kepanikan yang sama sedang terjadi.Budiarto, sang konglomerat mafia tanah, berdiri mematung di depan televisi layar datar berukuran raksasa di ruang kerjanya. Keringat dingin bercucuran membasahi kemeja mahalnya. Matanya menatap ngeri pada tayangan berita live yang memperlihatkan Jenderal Soebroto diseret masuk ke dalam mobil tahanan militer."Sialan! Sialan! Sialan!" umpat Budiarto panik. Ia melempar remote televisi ke arah dinding.Budiarto tahu persis apa arti penangkapan itu. Jenderal Soebroto adalah tameng politik utamanya. Selama ini, ia berani menekan bisnis Wildan dan membeli tanah di sekitar cabang Black Wolf karena ia merasa aman di bawah perlindungan sang Jenderal. Kini, pelindungnya itu telah hancur lebur.Pintu ruangannya terbuka. Direktur keuangannya masuk dengan membawa setumpuk laporan, wajahnya sama pucatnya dengan Budiarto."Pak Budiarto, kita dalam masalah besar!" lapor sang di

  • Kuli Gagah Spesialis   154. Kehancuran

    Bab 154Sinar matahari pagi baru saja menembus jendela kaca di ruang kerja pribadi Jenderal Soebroto. Pria paruh baya dengan seragam militer lengkap yang dipenuhi bintang penghargaan itu sedang duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya. Ia merasa di atas angin. Baginya, menekan bisnis bengkel Black Wolf hanyalah masalah waktu sampai Wildan bertekuk lutut memohon ampun.Namun ketenangan pagi itu hancur berantakan saat pintu ruang kerjanya didobrak dari luar.Kolonel Herman, ajudan kepercayaannya, berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah. Ia bahkan lupa memberikan hormat militer."Jenderal! Gawat, Jenderal! Kita kebobolan!" lapor Kolonel Herman dengan suara bergetar panik. Ia meletakkan sebuah tablet digital di atas meja sang Jenderal.Soebroto meletakkan cangkir kopinya dengan kasar. "Jaga sikapmu, Herman! Ada apa pagi-pagi begini bikin keributan? Kebobolan apa?""Data rahasia Bapak ... semuanya bocor ke publik, Jenderal," jawab Herman menelan ludah. "Dokumen pen

  • Kuli Gagah Spesialis   153. Berbalik

    pagi itu, Wildan duduk di ruang komando markas bawah tanah Black Wolf. Di depannya, layar monitor berukuran besar menyala terang. Beno berdiri di sampingnya bersama kepala tim peretas siber mereka, seorang pemuda cerdas bernama Rio."Bos, Jenderal Soebroto masih terus menggunakan kekuasaan militernya. Dia nekan pihak bank untuk menahan rekening kita dan mempersulit izin operasi cabang-cabang bengkel kita di birokrasi pemerintahan," lapor Beno dengan wajah kesal. "Orang tua itu benar-benar mau bikin bisnis kita mati pelan-pelan.""Kalau kita serang markas preman Budiarto yang jadi kaki tangan Jenderal, itu sama aja bunuh diri, Bos," sahut Rio sambil mengetik sesuatu di laptopnya. "Jenderal Soebroto pasti bakal pakai alasan itu buat nurunin pasukan militer. Mereka bisa nangkep kita semua dengan tuduhan kekerasan dan premanisme jalanan."Wildan menatap layar monitor dengan rahang mengeras. Ia sadar betul bahwa membalas gempuran itu dengan premanisme jalanan adalah langkah yang sangat ber

  • Kuli Gagah Spesialis   152. Kembali

    Satu bulan berlalu sejak malam badai di pelabuhan tua itu. Perut Maya juga sudah lebih membuncit dan bayi di dalam rahimnya sudah mulai terasa tendangan kecilnya yang menggemaskan.Kehidupan di dalam rumah mewah Wildan terasa sangat damai, tetapi di luar sana, ancaman baru mulai bergerak dalam diam.Siang itu, suasana di ruang rapat markas Black Wolf terasa tegang. Wildan berdiri di depan meja besar yang penuh dengan cetak biru bangunan dan peta digital wilayah Jakarta. Beno dan tiga orang komandan inti geng motornya duduk mengelilingi meja tersebut."Gimana laporan dari cabang selatan, Ben?" tanya Wildan langsung pada intinya. Ia menatap asistennya dengan tajam.Beno membuka map di tangannya. "Situasinya makin aneh, Bos. Jenderal Soebroto memang masih terus menekan rekening kita, tapi sekarang ada pemain lama yang ikut campur. Budiarto, namanya.""Konglomerat tanah itu?" Wildan mengerutkan keningnya. "Bukannya perusahaannya lagi diselidiki polisi?""Benar, Bos. Tapi tiba-tiba dia bel

  • Kuli Gagah Spesialis   151. Akhir dari Indra?

    “Wildan …,” panggil Maya lirih di sela-sela mengunyah makanan.“Hm .... Apa?” Wildan menatap Maya dengan lembut. “Ada yang ingin kamu katakan, May?”Maya menelan makanannya pelan, lalu menatap Wildan dengan mata bulatnya yang berbinar. "Aku cuma mau bilang makasih. Makasih karena kamu udah sangat sabar ngadepin semua sifat keras kepalaku belakangan ini. Aku tahu aku sering banget marah dan ngusir kamu, tapi kamu tetap nepatin janji kamu buat terus jagain aku sama calon bayi kita."Wildan tersenyum hangat. Ia meletakkan mangkuk bubur di atas meja, lalu mengusap puncak kepala Maya dengan sayang."Udah jadi tugasku sebagai laki-laki kamu, May. Kamu nggak perlu berterima kasih," jawab Wildan tulus. "Yang paling penting sekarang kamu rileks, sehat, dan dedek bayinya juga tumbuh kuat. Itu udah lebih dari cukup buat aku. Kalau kamu senang, aku juga tenang."Mendengar itu, Maya tersenyum lega. Hatinya kini benar-benar damai.Namun, sementara kebahagiaan dan kedamaian perlahan mulai merajut kem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status