MasukOmbak besar terus menggulung di tengah laut. Wildan berdiri mematung menatap lautan lepas dengan rahang yang mengeras tajam. Ia kini benar-benar tidak memiliki bukti untuk meluruskan kesalahpahaman Maya. Mulut Indra adalah satu-satunya kunci, dan kunci itu kini telah hilang ditelan ombak."Bos, kita udah sisir pinggiran pelabuhan. Tubuh Indra benar-benar hilang," lapor Beno yang berjalan menghampiri Wildan. "Semua sisa kekacauan di gudang juga udah dibereskan sama anak-anak. Koper barang bukti udah aman di mobil."Wildan menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar. "Pastikan nggak ada jejak yang tertinggal, Ben. Jangan sampai polisi nemuin bukti kalau kita pernah ada di sini malam ini.""Siap, Bos. Bos mau langsung pulang sekarang? Pakaian Bos basah kuyup, dan luka di pelipis Bos harus segera diobati," ucap Beno cemas."Aku harus pulang sekarang. Aku harus ketemu Maya," jawab Wildan dengan langkah gontai dan perasaan yang hancur lebur.Langit mulai berubah warna. Menjelang faj
Di bawah permukaan air laut yang gelap gulita, perkelahian itu berlangsung dengan sangat sengit. Keduanya saling memukul dan meronta. Sisa-sisa tenaga Wildan semakin terkuras habis. Pasokan oksigen di dalam paru-parunya menipis dengan cepat akibat tekanan kuat dari tangan Indra di kepalanya.Wildan membuka matanya di dalam air asin yang perih. Ia melihat bayangan wajah Indra yang penuh amarah dan keputusasaan. Indra benar-benar ingin menenggelamkannya dan mati bersama di dasar laut."Aku nggak akan mati konyol di sini," batin Wildan kuat.Karena udara di paru-parunya hampir habis, Wildan terpaksa menggunakan insting bertahan hidup liarnya. Sang predator jalanan itu berhenti memberontak sejenak untuk mengumpulkan seluruh sisa tenaganya. Ia menarik kepalan tangan kanannya ke belakang. Dengan dorongan tenaga penuh, Wildan melepaskan sebuah pukulan telak ke arah ulu hati musuhnya di dalam air.Pukulan itu mendarat sangat keras dan presisi. Indra refleks membuka mulutnya lebar-lebar di da
Di tengah badai pelabuhan yang mengamuk, Wildan akhirnya membuat keputusan. Akal sehat dan hati nuraninya menang. Ia menolak menjadi monster seperti pria yang kini sedang tenggelam di depannya. Ia harus membuktikan kepada Maya bahwa dirinya adalah pria yang bisa dipercaya, bukan pembunuh berdarah dingin."Sialan!" umpat Wildan dengan suara keras.Mengabaikan dendam masa lalu yang membakar dadanya, pria itu segera berlari ke sisi dermaga. Ia melihat sebuah gulungan tali tambang besar yang biasa digunakan untuk mengikat kapal berlabuh. Tali itu tergeletak tidak jauh dari tumpukan peti kemas.Wildan langsung menyambar gulungan tali tersebut. Ia mengikatkan salah satu ujungnya dengan cepat ke tiang besi beton di pinggir dermaga, memastikan ikatannya sangat kuat. Setelah itu, ia melemparkan ujung tali yang lain tepat ke arah tubuh Indra yang sedang gelagapan di tengah ombak."Indra! Tangkap tali itu!" teriak Wildan dari pinggir pelabuhan, suaranya mencoba mengalahkan gemuruh ombak. "Pegang
Akibat serangan mendadak tersebut, pandangan Wildan menjadi buta selama beberapa detik. Matanya terasa sangat perih dan berair. Memanfaatkan kelengahan tersebut, Indra berhasil lolos dari maut. Meskipun lutut kanannya sudah remuk, rasa takut mati memberikannya kekuatan di luar nalar. Pria itu langsung berlari tertatih-tatih keluar dari pintu belakang gudang, menuju area batas dermaga yang berhadapan langsung dengan perairan lepas."Bos! Dia kabur ke arah dermaga!" teriak Beno yang baru saja kembali berdiri, bersiap untuk mengejar."Biar gue yang kejar! Lo urus koper barang bukti itu! Jangan sampai ada yang hilang!" perintah Wildan dengan suara menggelegar.Menyadari mangsanya kembali melarikan diri, kemurkaan Wildan meledak seketika. Sang predator jalanan itu mengusap matanya dengan kasar menggunakan ujung kemejanya. Setelah pandangannya kembali sedikit jelas, ia segera mengejar langkah pincang Indra menembus guyuran hujan lebat di kawasan pelabuhan tua tersebut."Berhenti lo, Indra!
Terdorong oleh rasa sakit hati yang mendalam atas penderitaan Maya dan ingatan kelam mengenai ibunya yang tewas membusuk di penjara akibat fitnah pria tersebut, Wildan tidak lagi menahan dirinya. Ia menurunkan linggis dari dagu Indra, lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah lutut kanan sang mantan jaksa.KRAK!"ARGGGHHH!"Jeritan histeris Indra melengking tinggi, membelah kesunyian gudang tua pelabuhan itu. Hantaman benda tumpul yang keras dan presisi itu seketika meremukkan tempurung lututnya. Indra jatuh tersungkur di lantai semen yang basah, memegangi kakinya yang kini bengkok tak wajar sambil menangis meraung-raung."Kakiku ... Ya Tuhan, kakiku," rintih Indra tersengal-sengal di sela muntahan darah dan air liurnya.Wildan sama sekali tidak membiarkan musuhnya bernapas atau memohon ampun. Ia membuang linggis baja berkarat itu ke lantai hingga menimbulkan suara denting yang nyaring.TANG!Tanpa basa-basi, Wildan langsung mencengkeram dan mencekik leher Indra menggunakan tan
Di sudut ruangan yang remang-remang, Wildan akhirnya menemukan sosok musuh bebuyutannya. Indra tampak sedang berdiri mematung di dekat tumpukan kotak kayu. Wajah mantan jaksa itu terlihat sangat pucat pasi dan tubuhnya gemetaran.Indra baru saja menyadari bahwa pertahanan terakhirnya kini telah lenyap tak bersisa."Jangan mendekat, Wildan!" teriak Indra panik, suaranya bergetar hebat. Ia berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin gudang. "Aku peringatin kamu! Ayahku adalah seorang Jendral! Walau bagaimana pun kelakuanku, aku tetap anaknya dan orang tuaku akan selalu tetap menyayangi dan membelaku! Kalau kamu berani bunuh aku di sini, kamu bakal busuk di penjara seumur hidup! Kau akan berakhir tragis, Wildan! Jangan mendekat!!”"Penjara?" balas Wildan sambil tertawa meremehkan. Ia melangkah perlahan mendekati Indra, memutar linggis baja di tangannya. "Kamu pikir aku masih peduli sama penjara setelah apa yang kamu lakuin ke Maya? Ke keluarga ku hah?! Dasar pengecut! Kamu







