Share

Serum?

Author: Risya Petrova
last update publish date: 2026-07-22 00:17:22

"Jawab, Mbak! Ini tabung apa?!" bentak Mario. Suaranya menggema keras, memantul di dinding kamar mes yang sempit itu. Ia mengacungkan tabung kaca steril dan tas pendingin kecil itu tepat di depan wajah kakaknya.

Napas Maya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup brutal menghantam tulang rusuk. Di dalam kepalanya yang berputar cepat, Maya sangat menyadari bahwa ia tidak ingin adiknya, Mario, mengetahui rencananya yang sebenarnya.

Otaknya dipaksa bekerja di luar batas normal untuk mencari j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kuli Gagah Spesialis   20. Nambah lagi?

    Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kamar kontrakan yang sempit, menyorot tepat ke wajah Maya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Tidak ada kasur king size berbalut seprai sutra, tidak ada suara pendingin ruangan yang senyap, dan tidak ada kemewahan. Namun, anehnya, ini adalah tidur paling lelap dan tenang yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.Maya menggerakkan tubuhnya yang masih terasa pegal. Ia mendapati dirinya masih berada di dalam dekapan hangat lengan kokoh Wildan. Kulit mereka yang bersentuhan di balik selimut tipis itu memicu seulas senyum tipis di bibir Maya yang masih sedikit membengkak akibat ciuman semalam.Kecanggungan yang biasanya muncul setelah dua orang asing bercinta sama sekali tidak terasa pagi ini. Sebaliknya, ada ikatan emosional baru yang kini mengakar kuat di antara mereka berdua. Maya menyandarkan kepalanya lebih dalam ke dada Wildan, mendengarkan detak jantung pria itu."Sudah bangun, Mbak?" Suara serak Wildan memecah keheningan pagi. Pria

  • Kuli Gagah Spesialis   19. Lebih dalam

    Ciuman pertama yang awalnya canggung dan dipenuhi kehati-hatian itu, dengan cepat berubah menjadi pagutan yang sangat dalam. Di bawah rintik hujan yang mengetuk atap seng kontrakan, Maya melingkarkan kedua lengannya di leher Wildan. Ia menarik tubuh pria itu lebih dekat, sarat akan kebutuhan emosional yang selama bertahun-tahun nyaris membunuhnya."Wil …," lenguh Maya di sela ciuman mereka, nafasnya memburu cepat."Saya di sini, Mbak. Saya nggak akan ke mana-mana," bisik Wildan dengan suara seraknya.Tangan besar Wildan yang kasar akibat oli mesin kini menangkup wajah Maya, memperlakukan sang nyonya dengan tingkat kehati-hatian yang nyaris menyerupai pemujaan."Buka bajuku, Wil. Sekarang," pinta Maya lugas, menatap langsung ke dalam manik mata pria itu.Wildan menghentikan gerakannya sejenak. "Mbak yakin? Badan Mbak masih penuh memar. Saya takut menyakiti luka-luka itu.""Aku lebih sakit kalau kamu berhenti, Wil. Tolong, sentuh aku."Mendengar permohonan putus asa itu, Wildan mengang

  • Kuli Gagah Spesialis   18. Langsung saja

    Menjelang dini hari, suasana di dalam rumah kontrakan kecil itu terasa semakin senyap dan terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Rintik hujan mulai turun, mengetuk pelan atap seng dan membawa hawa dingin yang menusuk tulang ke dalam ruangan.Di atas kasur busa, Maya belum sepenuhnya terlelap. Dari balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya, sepasang mata sembabnya terus menatap lekat-lekat ke sudut ruangan yang remang-remang.Di sana, Wildan memilih untuk tidur dalam posisi duduk, menyandarkan punggung lebarnya ke dinding. Pria itu hanya beralaskan karpet tipis yang kasar. Ia melipat kedua lengannya di dada, mencoba menahan hawa dingin yang menyengat kulitnya dari lantai semen. Wildan sengaja mengambil jarak sejauh mungkin dari kasur demi menjaga batas kesopanan dan kehormatan Maya.Melihat pemandangan itu, dada Maya berdebar aneh. Sikap penuh rasa hormat, penjagaan batas diri, dan pengorbanan diam-diam dari Wildan justru memicu gelombang yang tidak dimengerti olehnya sendiri.Sel

  • Kuli Gagah Spesialis   17. Runtuhnya ego

    Malam semakin larut. Di atas kasur busa tipis berbau apek, mata Maya tiba-tiba terbuka lebar. Napasnya tersengal. Ia baru tertidur beberapa jam, tapi bayangan kepalan tangan Indra di alam mimpi langsung membangunkannya paksa.Maya meraba sudut bibirnya yang lebam. Matanya menyapu sekeliling. Ruangan petak yang sempit, cat tembok yang mengelupas, dan lampu jalan yang menembus celah gorden usang. Otaknya akhirnya mencerna sepenuhnya kenyataan pahit itu.Ia kabur dari rumah. Ia tidak punya apa-apa sekarang."Ya Tuhan …," bisik Maya. Tubuhnya mulai gemetaran lagi karena trauma KDRT yang didapatkannya dari Indra juga rasa takut sendirian dengan kekurangan uang. Pikiran Maya berputar liar. Ke mana ia harus pergi besok? Ke rumah ibunya? Indra pasti akan datang ke sana dengan seragam jaksanya, tersenyum sopan di depan keluarganya, lalu diam-diam menyeretnya pulang untuk disiksa lagi. Keluarganya tidak akan ada yang berani melawan.Ke Mario? Sama saja. Adiknya itu bergantung pada koneksi Indr

  • Kuli Gagah Spesialis   16. Bobo berdua

    Suasana di dalam rumah kontrakan kecil itu terasa sangat hening. Ketegangan fisik akibat pelarian yang melelahkan mulai mereda, tergantikan oleh suara jangkrik dari luar gang padat penduduk. Namun, trauma psikologis masih membelenggu Maya. Wanita itu duduk memeluk lututnya di atas kasur busa tipis, tubuhnya sesekali bergetar gemetaran mengingat amukan suaminya."Mbak Maya, tunggu sebentar di sini. Saya mau mencari alat untuk mengobati luka Mbak," ucap Wildan memecah keheningan. Pria itu perlahan melepaskan dekapannya.Maya langsung mencengkeram erat kemeja montir itu. Matanya membelalak panik. "Jangan pergi, Wil! Bagaimana kalau orang-orangnya Mas Indra melacak dan menemukan tempat ini?"Wildan menatap mata sembab sang nyonya dengan sorot teduh yang menenangkan. "Saya cuma ke area dapur di belakang situ, Mbak. Nggak sampai lima langkah dari tempat Mbak duduk. Mereka nggak akan bisa menemukan kita di gang sempit ini. Saya jamin."Mendengar nada suara Wildan yang tenang dan tegas, ceng

  • Kuli Gagah Spesialis   15. Jemput aku

    Bab 15Setelah berhasil meloloskan diri dari neraka rumah tangganya, Maya kini berada di luar kediamannya dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Di bawah terik matahari yang mulai senja dan angin dingin ibu kota yang sebentar lagi menusuk tulang, ia berlari tertatih-tatih tanpa arah menyusuri jalanan aspal kompleks perumahan elite tersebut. Kaki telanjangnya yang putih mulus kini tergores batu dan kerikil tajam, meninggalkan sensasi perih yang menjalar di setiap langkahnya. Baju mewahnya robek di bagian bahu, menampilkan luka memar kemerahan yang perlahan berubah warna."Tuhan ... tolong aku … jangan biarkan Mas Indra menangkapku …," rintih Maya dengan nafas memburu dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang lebam.Maya terus menoleh ke belakang dengan kepanikan yang luar biasa. Setiap kali ada sorot lampu mobil dari kejauhan atau suara deru mesin, ia langsung bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan besar dan pilar lampu jalan karena ketakutan setengah mati jika suam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status