Home / Urban / Kuli Gagah Spesialis / 15. Jemput aku

Share

15. Jemput aku

Author: Risya Petrova
last update publish date: 2026-07-22 02:26:58

Bab 15

Setelah berhasil meloloskan diri dari neraka rumah tangganya, Maya kini berada di luar kediamannya dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Di bawah terik matahari yang mulai senja dan angin dingin ibu kota yang sebentar lagi menusuk tulang, ia berlari tertatih-tatih tanpa arah menyusuri jalanan aspal kompleks perumahan elite tersebut. Kaki telanjangnya yang putih mulus kini tergores batu dan kerikil tajam, meninggalkan sensasi perih yang menjalar di setiap langkahnya. Baju mewahnya robek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kuli Gagah Spesialis   151. Akhir dari Indra?

    Bab 151“Wildan …,” panggil Maya lirih di sela-sela mengunyah makanan.“Hm .... Apa?” Wildan menatap Maya dengan lembut. “Ada yang ingin kamu katakan, May?”Maya menelan makanannya pelan, lalu menatap Wildan dengan mata bulatnya yang berbinar. "Aku cuma mau bilang makasih. Makasih karena kamu udah sangat sabar ngadepin semua sifat keras kepalaku belakangan ini. Aku tahu aku sering banget marah dan ngusir kamu, tapi kamu tetap nepatin janji kamu buat terus jagain aku sama calon bayi kita."Wildan tersenyum hangat. Ia meletakkan mangkuk bubur di atas meja, lalu mengusap puncak kepala Maya dengan sayang."Udah jadi tugasku sebagai laki-laki kamu, May. Kamu nggak perlu berterima kasih," jawab Wildan tulus. "Yang paling penting sekarang kamu rileks, sehat, dan dedek bayinya juga tumbuh kuat. Itu udah lebih dari cukup buat aku. Kalau kamu senang, aku juga tenang."Mendengar itu, Maya tersenyum lega. Hatinya kini benar-benar damai.Namun, sementara kebahagiaan dan kedamaian perlahan mulai me

  • Kuli Gagah Spesialis   150. Ada yang lain?

    Maya merasakan sapuan bibir Wildan yang maskulin. Sepasang matanya terpejam, dan kemudian ia sedikit berjinjit. Wajahnya mendongak menatap wajah Wildan dalam-dalam sebelum membalas ciuman tersebut.Ciuman itu awalnya sangat lembut, namun perlahan berubah menjadi lumatan yang dalam dan penuh kerinduan. Wildan menyalurkan semua rasa frustrasi dan cintanya, sementara Maya membalasnya dengan memeluk leher pria itu erat-erat. Hawa dingin dari perang emosional selama berhari-hari kini mencair sepenuhnya.Setelah beberapa saat, Wildan melepaskan ciumannya. Napas mereka berdua terengah-engah. Wildan menempelkan keningnya lagi ke kening Maya dan tersenyum hangat."Terima kasih sudah mau percaya sama aku lagi, May," bisik Wildan pelan.Maya mengangguk. "Maaf karena aku udah keras kepala dan suudzon sama kamu."Malam harinya, karena tembok kesalahpahaman telah hancur lebur tanpa sisa, keduanya kini bisa duduk bersama dengan tenang di ruang tengah. Televisi menyala menampilkan acara berita, namun

  • Kuli Gagah Spesialis   149. Godaan malam panas

    Sore itu, terdengar lagi suara obrolan santai dari lantai bawah. Maya tahu Dokter Sisca sedang berkunjung lagi. Didorong oleh ketakutan kehilangan yang kini jauh lebih besar daripada gengsinya, Maya akhirnya memutuskan untuk bertindak. Ia tidak mau lagi diam dan bersembunyi. Ia harus mengakhiri aksi mogok bicaranya sekarang juga.“Dia berusaha mengambil perhatian Wildan dariku,” ujar Maya sembari merapikan rambutnya sebentar di depan cermin, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah cepat dan tegas. Ia menuruni tangga dan langsung mengarah ke ruang tamu.Di sana, Wildan dan Dokter Sisca sedang duduk berhadapan. Wildan tampak sedang menjelaskan sesuatu, sementara Dokter Sisca mendengarkan sambil tersenyum.Bukannya berdiri diam di balik tembok seperti hari-hari sebelumnya, Maya melangkah masuk ke ruang tamu tanpa ragu. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat obrolan di antara kedua orang itu langsung berhenti."May?" sapa Wildan dengan wajah pura-pura kaget. Namun di dalam hatinya, langsun

  • Kuli Gagah Spesialis   148. Cemburu

    Benih kecemburuan yang perlahan mengakar dan mulai membakar dada Maya ternyata sama sekali tidak luput dari pengamatan tajam Wildan.Berkat insting liarnya yang sangat peka terhadap perubahan sikap wanitanya, Wildan menyadari satu hal yang menarik. Belakangan ini, Maya sering keluar dari kamarnya hanya untuk berdiri diam-diam di balik dinding tangga atau celah pintu. Mata bulat wanita itu selalu mencuri pandang untuk mengintip interaksi Wildan bersama Dokter Sisca di ruang tengah.Bukannya menjauh dari sang dokter atau meredakan situasi agar istrinya tenang, Wildan justru melihat momen ini sebagai senjata emas. Ia tahu ego Maya sangat tinggi. Oleh karena itu, Wildan mengubah taktik pasifnya menjadi sebuah permainan yang sengaja dirancang murni untuk memancing emosi Maya.Sore itu, Dokter Sisca baru saja selesai memeriksa Maya dan turun ke ruang tamu. Wildan menyambutnya dengan senyum lebar. Dari sudut matanya, Wildan menangkap ujung baju Maya yang sedang mengintip dari balik tembok dek

  • Kuli Gagah Spesialis   147. Agresifnya Dokter Sisca

    Kehadiran Dokter Sisca di dalam rumah mewah itu segera menciptakan dinamika baru. Berbeda dengan pelayan atau Wulan yang selalu terlihat mengasihani Maya, Dokter Sisca masuk ke dalam kamar utama dengan energi yang sangat positif dan netral.Maya yang sedang duduk melamun di pinggir kasur menatap curiga ke arah wanita asing yang baru saja masuk ke kamarnya."Kamu siapa? Orang suruhan Wildan lagi untuk mengawasiku?" tanya Maya ketus, menarik selimutnya.Sisca tersenyum hangat, sama sekali tidak tersinggung oleh nada bicara Maya. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja dan duduk di kursi yang agak berjarak dari kasur agar Maya tidak merasa terancam."Selamat pagi, Mbak Maya. Nama saya Sisca. Saya dokter kandungan yang akan memantau kesehatan bayi Mbak," ucap Sisca santai. "Dan tenang saja, saya bukan mata-mata suami Mbak. Saya di sini murni karena saya dibayar mahal untuk memastikan ibu dan bayinya sehat. Kalau Mbak Maya mau cerita atau mengeluh soal apa pun, silakan. Rahasia pasien itu

  • Kuli Gagah Spesialis   146. Dokter Sisca

    Pagi itu, suasana di markas besar bengkel Black Wolf terasa sangat tegang. Gempuran teror dari Jenderal Soebroto dan Geng Naga Hitam mulai berdatangan secara terang-terangan di ranah publik. Sang Jenderal menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk menekan bisnis Wildan dari segala arah.Beno masuk ke ruang kerja Wildan dengan wajah merah padam menahan marah. Ia membanting sebuah map dokumen ke atas meja bosnya."Bos, ini sudah keterlaluan!" lapor Beno dengan nada tinggi. "Rekening utama perusahaan kita resmi dibekukan pagi ini oleh pihak bank dengan alasan pemeriksaan aliran dana mencurigakan. Nggak cuma itu, anak-anak Geng Naga Hitam mulai bikin keributan di cabang bengkel kita yang di selatan. Mereka memancing anak buah kita buat berkelahi di jalanan."Wildan yang sedang duduk bersandar di kursinya hanya menatap map itu dengan tenang. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan."Lalu, apa reaksi anak-anak di selatan? Mereka terpancing?" tanya Wildan santai."Tentu saja mereka mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status