Mag-log inMalam akhir pekan yang sangat dinantikan oleh kaum elite ibu kota akhirnya tiba. Namun, kemegahan malam itu tak ubahnya seperti eksekusi mati bagi kewarasan Maya.Ballroom sebuah hotel bintang lima yang disewa khusus untuk perayaan ulang tahun pernikahan emas Jenderal Soebroto telah disulap menjadi tempat yang luar biasa megah. Lampu kristal raksasa membiaskan cahaya menyilaukan. Alunan musik klasik dari orkestra profesional mengalun lembut, menutupi obrolan politik dan bisnis kotor para tamu VVIP.Pengamanan di tempat itu benar-benar berlapis baja. Barikade aparat berseragam lengkap dan bodyguard berjaga ketat di setiap pintu masuk, melarang siapa pun tanpa undangan fisik dan verifikasi biometrik untuk melangkah masuk.Di depan pintu utama ballroom, Maya berdiri mematung.Karena ancaman mematikan dari Indra yang siap mendatangkan dokter ilegal untuk menggugurkan kandungannya malam itu juga, Maya tidak memiliki pilihan lain selain menelan mentah-mentah harga dirinya.Ia terpaksa memba
Tengah malam di markas Black Wolf, Jakarta, udara terasa sangat berat dan mencekam. Di lantai dua bangunan bengkel raksasa tersebut, terdapat sebuah ruang rapat VIP yang kedap suara, dihiasi sofa kulit asli dan meja marmer panjang. Ruangan itu menjadi saksi bisu dari eskalasi balasan yang kini tidak lagi menggunakan cara-cara bawahan.Wildan berdiri membelakangi meja, menatap keluar jendela kaca gelap yang mengarah ke jalanan ibu kota. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asap kelabu mengepul di udara. Di belakangnya, Beno duduk dengan wajah tegang, sementara Sonia—sang pengacara elite berpenampilan tajam, duduk menyilangkan kaki dengan anggun sembari menatap dokumen di tabletnya."Indra Wiguna udah bawa Maya kembali ke Jakarta pagi ini," suara bariton Wildan akhirnya memecah keheningan. Nadanya sangat datar, namun aura wibawa dan pemimpin, lugas menguar pekat dari setiap suku katanya.Beno langsung emosi. “Emang jaksa bangsat! Terus kita nunggu apa lagi di sini, Bos?!"
Bab 70Malam itu, kemewahan kamar utama kediaman Indra tak ubahnya seperti sel tahanan isolasi kelas satu. Lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang Maya.Di atas ranjang king size berlapis seprai beludru, Maya duduk meringkuk di sudut paling gelap. Kedua tangannya tak henti-hentinya memeluk perutnya sendiri secara protektif, seolah tubuhnya adalah satu-satunya tameng baja yang tersisa di dunia ini untuk melindungi kehidupan kecil di dalamnya.Di luar pintu kayu jati yang kokoh itu, terdengar samar derap langkah sepatu lars dari puluhan pengawal bayaran yang berjaga bergantian. Maya terkurung total. Tidak ada ponsel, tidak ada akses telepon rumah, dan seluruh jendela telah dipaku mati serta dilapisi kaca gelap. Perasaan putus asa yang luar biasa pekat menelan kewarasan wanita itu bulat-bulat, menyisakan kekosongan yang menyesakkan dada.Tiba-tiba, suara putaran kunci dari luar mendadak
Di teras paviliun sewaan itu, Wildan masih duduk membisu seperti patung es. Namun seiring dengan pudarnya cahaya matahari, ketenangan di wajahnya pun perlahan terkikis habis. Firasat buruk mulai menjalar dan mencekik rongga dadanya. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir empat jam berlalu sejak Bu Ningsih, sang pemilik kontrakan, mengatakan bahwa Maya pergi ke pasar. ‘Nggak mungkin ada orang yang butuh waktu empat jam cuma buat nitipin kue basah di pasar desa,’ batin Wildan. Otaknya yang cerdas mulai membunyikan alarm bahaya berskala penuh. "Ben," panggil Wildan, suaranya kini terdengar sangat rendah dan dingin. Beno yang tadinya bersandar santai di motor RX-King langsung berdiri tegak. "Iya, Bos?" "Siapin motor. Kita ke pasar sekarang," perintah Wildan tajam. Ia bangkit berdiri, menyambar helmnya dengan gerakan kaku. Karena rasa gelisah yang semakin mencekik kewarasannya, Wildan tidak bisa lagi bersikap pasif. Ia memutuskan untuk menyusul langsung ke area pasar tradisional. Set
Di teras paviliun yang sejuk itu, Wildan masih duduk bersandar pada kursi kayu panjang. Angin perbukitan Jasinga berhembus lembut, membelai rambutnya yang sedikit berantakan. Tanpa sadar, ia memejamkan mata, membiarkan kedamaian desa meresap ke dalam paru-parunya yang selama berhari-hari sesak oleh asap rokok dan amarah.Di kepalanya, Wildan terus merangkai ribuan kata maaf. Ia membayangkan bagaimana reaksi Maya nanti saat melihatnya. Apakah wanita itu akan menangis? Memukul dadanya? Atau justru berlari menghindarinya? Apapun itu, Wildan bersumpah tidak akan melepaskan pelukannya. Ia akan berlutut di bawah kaki wanita itu jika perlu, demi meyakinkan bahwa cintanya bukan bagian dari rencana balas dendam."Bos," panggil Beno dengan suara pelan, memecah lamunan Wildan. Tangan kanan yang setia itu menyodorkan sebotol air mineral dingin. "Udah mau lewat empat puluh lima menit. Mbak Maya belum kelihatan batang hidungnya. Mau gue suruh anak-anak nyusul ke pasar buat ngecek atau gimana?"Wil
Jantung Maya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Ia berdiri kaku di tengah semak belukar yang basah, dikepung dari tiga arah oleh pria-pria berbadan tegap bersenjata pistol revolver yang berada di balik kemeja mereka.Sebelum Maya sempat berbalik mencari celah pelarian lain, suara derap langkah sepatu kulit yang berat memecah keheningan, disusul oleh bunyi kokangan senjata api yang nyaring.CKLAK!Ujung gang yang membatasi semak-semak itu langsung terkunci. Dari balik bayangan rimbunnya pohon pisang, sesosok pria melangkah perlahan. Itu adalah Indra.Wajah sang jaksa korup itu masih memperlihatkan sisa-sisa lebam dan perban, namun sorot matanya yang memerah dipenuhi oleh kegilaan mutlak seorang psikopat.Indra menatap tajam ke arah wanita yang status resmi di catatan sipil negara adalah masih istrinya. Lalu tertawa hambar. Tawanya melengking sumbang, merobek udara pagi Jasinga."Hahaha! Hebat sekali kamu, Sayang," ejek Indra, suaranya bergetar menahan amarah yang mendidi