تسجيل الدخولLangkah Wildan yang baru saja hendak membawa Maya pergi mendadak terhenti. Dari arah kerumunan tamu VVIP, sesosok pria tua berseragam militer lengkap dengan lencana penghargaan melangkah maju membelah jalan. Itu adalah Jenderal Soebroto.Melihat ayahnya mendekat, kepanikan Indra yang sejak tadi ia tahan kini meledak tak terkendali. Otaknya berasumsi bahwa ayahnya pasti melihat keributan kecil tadi dan akan mempertanyakan siapa pria yang berani menyentuh menantunya. Terdorong oleh rasa takut yang luar biasa, Indra bersiap memanggil ajudannya untuk menyeret Wildan keluar dari gedung."Penjaga! Cepat tangkap orang—""Tuan Wildan!"Suara bariton sang Jenderal yang menggelegar memotong ucapan Indra.Alih-alih memanggil pasukan pengaman untuk mengusir sang mantan montir, Jenderal Soebroto justru melangkah maju dengan senyum lebar. Tangan kanan pria berpangkat bintang dua itu terulur, menyambut Wildan dengan sebuah jabat tangan yang sangat hangat."Sebuah kehormatan besar Anda menyempatkan h
Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat berhenti mulus tepat di ujung karpet merah lobi hotel bintang lima. Kendaraan mewah itu langsung menyita perhatian barisan aparat militer yang berjaga di luar gedung.Berkat dana pelicin yang digelontorkan Sonia ke yayasan amal milik Jenderal Soebroto, nama Wildan resmi berada di urutan teratas daftar tamu VVIP. Uang tunai dengan jumlah banyak memang selalu bisa menembus pengamanan seketat apa pun.Petugas hotel bergegas membukakan pintu belakang mobil tersebut.Wildan melangkah turun. Mantan montir serabutan itu kini tampil seratus delapan puluh derajat berbeda. Ia mengenakan setelan jas bespoke Italia berwarna gelap yang membalut tubuh atletisnya dengan pas. Rambutnya disisir rapi. Tidak ada lagi sisa-sisa pria jalanan berkaus kusam. Wildan malam ini adalah perwujudan nyata dari seorang bos besar berharta.Aura yang dipancarkannya sangat dingin, tajam, dan mendominasi. Secara refleks, para petugas keamanan di sekitar lobi menunduk hormat
Malam akhir pekan yang sangat dinantikan oleh kaum elite ibu kota akhirnya tiba. Namun, kemegahan malam itu tak ubahnya seperti eksekusi mati bagi kewarasan Maya.Ballroom sebuah hotel bintang lima yang disewa khusus untuk perayaan ulang tahun pernikahan emas Jenderal Soebroto telah disulap menjadi tempat yang luar biasa megah. Lampu kristal raksasa membiaskan cahaya menyilaukan. Alunan musik klasik dari orkestra profesional mengalun lembut, menutupi obrolan politik dan bisnis kotor para tamu VVIP.Pengamanan di tempat itu benar-benar berlapis baja. Barikade aparat berseragam lengkap dan bodyguard berjaga ketat di setiap pintu masuk, melarang siapa pun tanpa undangan fisik dan verifikasi biometrik untuk melangkah masuk.Di depan pintu utama ballroom, Maya berdiri mematung.Karena ancaman mematikan dari Indra yang siap mendatangkan dokter ilegal untuk menggugurkan kandungannya malam itu juga, Maya tidak memiliki pilihan lain selain menelan mentah-mentah harga dirinya.Ia terpaksa memba
Tengah malam di markas Black Wolf, Jakarta, udara terasa sangat berat dan mencekam. Di lantai dua bangunan bengkel raksasa tersebut, terdapat sebuah ruang rapat VIP yang kedap suara, dihiasi sofa kulit asli dan meja marmer panjang. Ruangan itu menjadi saksi bisu dari eskalasi balasan yang kini tidak lagi menggunakan cara-cara bawahan.Wildan berdiri membelakangi meja, menatap keluar jendela kaca gelap yang mengarah ke jalanan ibu kota. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asap kelabu mengepul di udara. Di belakangnya, Beno duduk dengan wajah tegang, sementara Sonia—sang pengacara elite berpenampilan tajam, duduk menyilangkan kaki dengan anggun sembari menatap dokumen di tabletnya."Indra Wiguna udah bawa Maya kembali ke Jakarta pagi ini," suara bariton Wildan akhirnya memecah keheningan. Nadanya sangat datar, namun aura wibawa dan pemimpin, lugas menguar pekat dari setiap suku katanya.Beno langsung emosi. “Emang jaksa bangsat! Terus kita nunggu apa lagi di sini, Bos?!"
Malam itu, kemewahan kamar utama kediaman Indra tak ubahnya seperti sel tahanan isolasi kelas satu. Lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang Maya. Di atas ranjang king size berlapis seprai beludru, Maya duduk meringkuk di sudut paling gelap. Kedua tangannya tak henti-hentinya memeluk perutnya sendiri secara protektif, seolah tubuhnya adalah satu-satunya tameng baja yang tersisa di dunia ini untuk melindungi kehidupan kecil di dalamnya. Di luar pintu kayu jati yang kokoh itu, terdengar samar derap langkah sepatu lars dari puluhan pengawal bayaran yang berjaga bergantian. Maya terkurung total. Tidak ada ponsel, tidak ada akses telepon rumah, dan seluruh jendela telah dipaku mati serta dilapisi kaca gelap. Perasaan putus asa yang luar biasa pekat menelan kewarasan wanita itu bulat-bulat, menyisakan kekosongan yang menyesakkan dada. Tiba-tiba, suara putaran kunci dari luar mendad
Di teras paviliun sewaan itu, Wildan masih duduk membisu seperti patung es. Namun seiring dengan pudarnya cahaya matahari, ketenangan di wajahnya pun perlahan terkikis habis. Firasat buruk mulai menjalar dan mencekik rongga dadanya. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir empat jam berlalu sejak Bu Ningsih, sang pemilik kontrakan, mengatakan bahwa Maya pergi ke pasar. ‘Nggak mungkin ada orang yang butuh waktu empat jam cuma buat nitipin kue basah di pasar desa,’ batin Wildan. Otaknya yang cerdas mulai membunyikan alarm bahaya berskala penuh. "Ben," panggil Wildan, suaranya kini terdengar sangat rendah dan dingin. Beno yang tadinya bersandar santai di motor RX-King langsung berdiri tegak. "Iya, Bos?" "Siapin motor. Kita ke pasar sekarang," perintah Wildan tajam. Ia bangkit berdiri, menyambar helmnya dengan gerakan kaku. Karena rasa gelisah yang semakin mencekik kewarasannya, Wildan tidak bisa lagi bersikap pasif. Ia memutuskan untuk menyusul langsung ke area pasar tradisional. Set