Share

Dipangku

Author: Risya Petrova
last update publish date: 2026-07-26 00:18:00

Wildan melepaskan ciumannya. Napas mereka masih memburu di atas kasur yang berantakan. Pria itu mengusap sisa saliva di bibir Maya dengan ibu jarinya.

​"Saya mandi dulu, Mbak. Badan saya lengket," kata Wildan sambil beranjak turun dari kasur.

​"Jangan lama-lama, Wil," balas Maya pelan.

​Wildan mengangguk dan berjalan ke kamar mandi kecil di sudut belakang. Suara keran air yang menyala langsung memecah kesunyian kamar kontrakan itu.

​Maya duduk bersandar di tembok dingin sambil menarik selim
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kuli Gagah Spesialis   Keras banget

    Ciuman yang berawal dari upaya menenangkan itu dengan cepat berubah haluan. Napas Wildan kembali memburu panas, menerpa wajah Maya. Segala ketakutan Maya menguap, berganti menjadi kebutuhan fisik yang tak tertahankan. Tangan wanita itu meremas bahu telanjang Wildan, menariknya agar semakin merapat.​"Mbak Maya selalu bikin saya hilang kendali," geram Wildan tertahan di depan bibir wanita itu.​"Maka jangan ditahan, Wil. Ambil kendalinya," bisik Maya dengan mata setengah terpejam, seraya menantang dominasi pria itu.​Tanpa membuang waktu, Wildan langsung mengangkat tubuh Maya dan membaringkannya perlahan di atas kasur busa. Pria itu melepaskan celana jeans-nya dengan sekali tarikan kasar, lalu kembali memposisikan dirinya di atas tubuh sang nyonya. Kaus kebesaran yang dipakai Maya disingkirkan begitu saja, mengekspos kulit lembutnya yang kini dihiasi bercak merah bekas cumbuan semalam.​Wildan tidak terburu-buru. Ia membelai lekuk tubuh Maya dari pinggang hingga ke paha, memicu lengu

  • Kuli Gagah Spesialis   Dipangku

    Wildan melepaskan ciumannya. Napas mereka masih memburu di atas kasur yang berantakan. Pria itu mengusap sisa saliva di bibir Maya dengan ibu jarinya. ​"Saya mandi dulu, Mbak. Badan saya lengket," kata Wildan sambil beranjak turun dari kasur. ​"Jangan lama-lama, Wil," balas Maya pelan. ​Wildan mengangguk dan berjalan ke kamar mandi kecil di sudut belakang. Suara keran air yang menyala langsung memecah kesunyian kamar kontrakan itu. ​Maya duduk bersandar di tembok dingin sambil menarik selimut menutupi dadanya. Tatapannya jatuh pada ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia merogoh ponsel itu dan membuka kuncinya. ​Melihat kalender di layar, Maya sadar masa suburnya sudah lewat. Tadi malam, Wildan juga sudah menuntaskan tugasnya secara langsung, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari kejaran orang-orang Indra. ​"Urusannya udah selesai. Aku harus bayar dia sekarang," gumam Maya. ​Maya membuka aplikasi mobile banking. Ia menggunakan rekening rahasia atas nama

  • Kuli Gagah Spesialis   Candu

    "Aku … sekarang … aku pengin hamil bukan lagi demi warisan dari orang tua Mas Indra," ucap Maya tegas, matanya memancarkan amarah dan dendam yang selama ini ia pendam. "Dan aku juga udah nggak peduli lagi kalaupun akhirnya aku diusir dari rumah mewah yang rasanya kayak neraka itu.""Terus, buat apa Mbak bela-belain sejauh ini kalau bukan buat ngamanin posisi Mbak di keluarga itu?""Buat ngebuktiin ke mereka semua kalau aku nggak mandul, Wil!" desis Maya tajam. Jari-jarinya meremas seprai dengan kuat. "Selama ini ibu mertuaku selalu ngatain aku perempuan pembawa sial karena rahimku kosong. Mas Indra juga selalu mukulin aku buat nutupin kelemahannya sendiri. Sekarang, aku mau hamil buat ngebuktiin ke muka mereka kalau yang cacat dan bermasalah itu adalah Indra! Jaksa terhormat itu yang impoten, bukan aku!"Mendengar letupan amarah dan keputusasaan dari wanita di pelukannya, Wildan terdiam. Hatinya ikut mendidih membayangkan penderitaan mental yang harus ditanggung Maya bertahun-tahun.

  • Kuli Gagah Spesialis   Cairan hangat

    Hujan badai yang sangat lebat akhirnya tumpah mengguyur ibu kota malam itu. Suara rintik air yang menghantam keras atap kontrakan menciptakan tirai suara alami.Di sudut dinding yang dingin, pagutan liar mereka terlepas sejenak. Keduanya terengah-engah, berebut meraup oksigen. Hawa dingin dari luar merembes masuk melalui celah ventilasi, namun hal itu justru berbanding terbalik dengan suhu tubuh mereka yang mendidih terbakar gairah."Kita pindah ke kasur, Mbak. Punggung Mbak bisa sakit kalau kelamaan nempel di tembok," bisik Wildan dengan napas berat.Maya menggeleng pelan, kedua kakinya masih melingkar erat di pinggang pria itu. "Bawa aku ke sana, Wil. Jangan lepasin pelukanmu."Tanpa membantah, Wildan berjalan memanggul tubuh Maya dan merebahkan punggung wanita itu perlahan di atas kasur busa. Gerakan Wildan sangat berhati-hati, seolah wanita di bawahnya ini adalah karya seni paling berharga yang tidak boleh tergores sedikit pun.Dengan sekali tarikan lembut, Wildan melepaskan kaus

  • Kuli Gagah Spesialis   26. Lanjut yang tadi pagi

    Bunyi logam beradu dan deru mesin kendaraan memenuhi area bengkel yang sibuk. Di bawah kolong mobil SUV pelanggan, Wildan berusaha keras mempertahankan fokusnya pada mur dan baut yang sedang ia kencangkan. Namun konsentrasinya terus-menerus buyar.Alih-alih memikirkan mesin, otaknya justru terus memutar ulang bayangan wajah Maya. Sensasi ciuman panas mereka pagi tadi terasa begitu nyata, dan aroma manis vanila dari rambut sang nyonya seolah masih menempel kuat di ujung jari-jarinya."Woi, Wil! Kunci pas nomor dua belas mana?" teriak Diki dari kap mobil sebelah, membuyarkan lamunan Wildan.Wildan tersentak pelan. Ia menyodorkan kunci tersebut dari bawah kolong. "Ini, ambil."Diki mengambilnya sambil mendengus heran. "Lo kenapa sih dari tadi pagi? Bengong mulu, baut udah kencang masih aja lo putar. Kurang tidur lo?""Nggak apa-apa. Badan gue agak meriang aja," kilah Wildan, segera mengalihkan pandangannya kembali ke mesin.Rasa rindu yang mendadak membakar dadanya itu terpaksa ia pendam

  • Kuli Gagah Spesialis   25. Ci uman basah di pagi hari

    Suasana pagi di dalam kamar kontrakan petak itu terasa sangat damai. Sinar matahari pagi yang mengintip dari celah jendela berdebu jatuh menyinari wajah Maya. Wanita itu perlahan membuka matanya. Tidak ada suara bantingan pintu atau makian kasar yang biasanya mengawali paginya di rumah mewah sang jaksa.Terbuai oleh rasa aman yang diberikan oleh Wildan semalam, Maya menggeliat pelan di balik selimut tipisnya. Pandangan matanya yang masih sayu menangkap sosok tinggi besar di sudut ruangan.Wildan sudah bangun. Pria itu sudah mandi dan kini tengah sibuk mengancingkan kemeja seragam bengkelnya yang berwarna biru pudar. Wajah pria itu tampak serius, bersiap untuk kembali menghadapi hari yang penuh risiko di luar sana.Tanpa mengeluarkan suara, Maya beranjak dari ranjang kasur busa. Ia merapatkan kemeja kebesaran yang membungkus tubuhnya, lalu melangkah pelan menghampiri sang montir dari belakang."Sini, biar aku saja yang pasang," ucap Maya pelan.Tangannya yang lembut menepis pelan tanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status