Share

Bab. 22 - Pindah?

Author: Rira Syaqila
last update Last Updated: 2026-01-27 12:06:17

Nisa menghela napasnya secara perlahan. Haruskah dia menerima dan menandatangani surat perjanjian ini?

Tapi, apakah Nisa memiliki hak untuk menolak?

Nisa tersenyum kecil, saat mengingat di mana Fajar menolak keinginan Amelia. Siapa yang menjadi korban atas penolakan itu? Tentu saja dirinya.

Lalu? Bagaimana jika saat ini dia yang menolak? Siapa yang akan menjadi korban?

"Ma--"

Nisa mendengar samar suara Nabil yang memanggilnya. Detik selanjutnya, darah Nisa berdesir. Jantungnya berdetak lebih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   bab. 29

    Fajar menghela napasnya secara pelan. Dia hentikan motor dipinggir jalan. Matanya menatap kosong ke arah kendaraan yang berlalu lalang. "Di mana kamu, Dek?" Lirih Fajar, mencoba mencari sosok Nisa. Fajar mencoba mengingat siapa saja kerabat dekat mereka. Akan tetapi, semua hubungan telah putus, saat Nisa mencoba meminjam sejumlah uang dengan nominal yang besar karena dirinya. Ya, semenjak kejadian itu, Nisa dan ibunya seolah hidup tanpa saudara. "Gak! Gak mungkin Nisa pergi ke rumah mereka," gumma Fajar dan kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Ke mana kamu, Dek? Kenapa tidak ada kabar?" Fajar memutuskan untuk berkeliling, mencari keberadaan Nisa. Pria itu berpikir, jika Nisa pergi dari rumah rumah, karena tidak sanggup membayar uang sewa. Tapi, di mana mereka saat ini?Angin mulai berhembus, langit pun perlahan mulai menghitam. Udara yang menyentuh kulit Fajar, mulai terasa dingin. Semua tanda-tanda itu, menandakan jika sebentar lagi akan turun hujan. Sudah berjam-jam Fajar b

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   bab. 28

    Nisa menatap toko bunga yang ada dihadapannya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Amelia juga memberikan sebuah toko untuk dirinya membuka usaha. Apa ini artinya jika dirinya tidak boleh mengharap nafkah dari Fajar lagi? "Bagaimana? Anda suka?" Tanya Desi sambil tersenyum kecil. Nisa menoleh ke arah sumber suara. "I-ini beneran untuk saya?" Nisa rasanya gak percaya dengan apa yang dia lihat. Desi tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, toko bunga ini untuk Anda!" Nisa menutup mulutnya yang terbuka. Dia benar-benar tidak menyangka, jika mimpinya untuk memiliki sebuah toko bunga bisa terwujud. "Tap-tapi---" "Syaratnya masih sama," potong Desi membuat Nisa mengernyitkan kening. "Jangan membuat masalah dengan Buk Amelia," sambung Desi. "Jangan ulangi kesalahan seperti tadi!" Desi memperingatkan. "Kesalahan yang mana?" Nisa merasa tidak memiliki kesalahan. Kalau soal mengabaikan Fajar, sudah sewajarnya 'kan dia mengabaikan sang suami? Karen

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 27 - Gerai Ponsel

    Nisa mengernyitkan kening saat Desi membawanya ke sebuah toko handphone. Bukankah tadi Desi mengatakan jika mereka ingin pergi ke suatu tempat? Tapi kenapa malah pergi ke toko ponsel?"Berikan handphone keluaran yang terbaru," ucap Desi kepada si penjaga ponsel. Nisa diam berdiri memperhatikan di samping Desi. Wanita itu sedikit pun tidak pernah berpikir jika ponsel yang dibeli oleh Desi adalah untuknya. Jangankan berpikir, berharap pun Nisa tidak!"Apa Anda suka dengan model ini, Nona?" Tanya Desi membuat Nisa mengernyitkan kening sambil menatap handphone yang ada di atas meja. "Saya tidak punya uang untuk---""Ponsel ini juga pemberian Buk Direktur Amelia," ucap Desi memotong kalimat Nisa. Nisa diam, dia hanya menatap datar ponsel yang ada di tangan Desi saat ini. "Apa ada merk atau model ponsel lain yang Nona inginkan?" Tanya Desi mengambil perhatian Nisa lagi. "Hmm? Tidak ada," jawab Nisa sambil menggeleng pelan. Ya, dia tidak terlalu paham tentang handphone keluaran terbaru

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 26 - Hanya sebatas pekerjaan

    Fajar mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel yang Amelia berikan. Pria itu pun menatap sesaat ponsel mewah yang ada ditangannya saat ini. "Kenapa? Gak jadi mau menghubungi 'wanita itu'? Ujar Amelia membuat Fajar mengernyitkan keningnya. "Jangan panggil Nisa dengan panggilan begitu," tegur Fajar. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan panggilan yang kuucapkan?" Tanya Amelia tanpa merasa bersalah sedikit pun.Ya, lagi pula memangnya ada yang salah dengan panggilan yang Amelia ucapkan?"Aku tidak suka mendengarnya," jawab Fajar. "Namanya Nisa, panggil dengan namanya," saran Fajar. Amelia menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Kalau aku tidak mau?" Sahut Amelia. "Apa ada yang salah dengan permintaanku?" Ujar Fajar dengan tatapan dingin dan seriusnya. Seketika Amelia merasa kicut. Dia menelan ludahnya secara perlahan saat melihat wajah Fajar yang tidak ramah. "Baiklah, aku akan memanggilnya dengan panggilan madu," ucap Amelia. "Kali ini tidak ada yang salah 'kan dengan panggilank

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 25 - Merayu

    Fajar mencoba menyatukan kembali ponselnya yang sudah hancur berantakan. Tapi, usahanya hanya sia-sia saja, ponsel jadulnya benar-benar hancur dan tidak bisa dibenarkan lagi. "Bagaimana caranya aku menghubungi Nisa? Jika aku tidak memiliki ponsel?" Gumam Fajar sambil mengusap wajahnya. Fajar pun menyerah untuk membenarkan ponselnya, dia hanya bisa berdoa agar istri dan putranya saat ini baik-baik saja. Lagi, Fajar merasa seperti pria yang tidak berguna. Bahkan, untuk pergi menemui sang istri, Fajar tak mampu."Tuan Fajar!" Suara Nela mengambil alih perhatian Fajar. Dia mendongakkan kepala dan menatap wanita yang berdiri dihadapannya saat ini."Ya?""Nyonya memanggil, Tuan," ujar Nela memberitahu.Fajar mengangguk pelan. Dengan perasaan hampa, dia terpaksa harus menemui wanita yang tidak dia cintai, wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya. Fajar memasukkan semua kepingan ponselnya ke dalam kantong plastik, berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Amelia. Ya, se

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 24 - Apartemen

    "Apalagi selingkuh sama mantan istri kamu---"Sraakk ...Fajar tiba-tiba menarik kerah baju Dono, membuat pria itu terdiam dan ketakutan. "Kalau ngomong tuh gak usah ngasal," geram Fajar menatap tajam Dono. "Asal kamu tahu dan harus kamu ingat sampai kapan pun, aku gak akan pernah meninggalkan Nisa. Apalagi menjadikannya mantan istriku. Tidak akan pernah." Fajar menekan setiap kata-katanya dengan penuh amarah. Fajar melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Dono, sehingga membuat pria itu mundur dua langkah dan bernapas lega. "Kamu boleh berkata buruk tentang aku, tapi jangan pernah berkata buruk tentang Nisa." Ucap Fajar sambil menunjuk ke arah wajah Dono. "Nisa adalah istri sahku, dia adalah wanita terbaik dalam hidupku." Setelah mengatakan hal itu, Fajar pergi meninggalkan pria itu. Dono mengusap lehernya yang sedikit tercekik tadi, mengatur napasnya kembali yang terasa sesak. "Buset, kalau cinta sama bininya, kenapa selingkuh sama wanita kaya?" Cibir Dono menatap punggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status