Share

Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya
Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya
Author: Elodri

Bab 1 - Fitnah

Author: Elodri
last update Huling Na-update: 2025-10-03 01:39:43

Di tengah dinginnya malam, darah Tamara mendidih hebat dan uap-uap hitam bisa terlihat mengepul di atas kepalanya. Keringat dingin terus mengucur deras, membuat baju Tamara sedikit basah. Jari-jari Tamara mengepal keras hingga memutih. Kukunya menancap tajam ke dalam telapak tangan. Tanpa sadar, darah merah dengan cepat mulai mengalir keluar dan menetes ke lantai.

Amarah, kegugupan, kesedihan, dan ketidakberdayaan menggumpal menjadi satu.

"Apa maksud Bapak?!"

Bapak Wijaya menyeringai licik, memandang Tamara yang seperti akan meledak kapan saja. Ia menjilat bibirnya dengan santai yang dianggap Tamara sebagai bentuk provokasi.

Ingin sekali rasanya Tamara mencakar wajah sialan itu!

Sayangnya, Tamara tidak punya pilihan lagi, selain menahan diri dan menelan bulat-bulat semua kebencian ke dalam perutnya.

"Ckck. Keliatannya telingamu jadi tuli ya? Masa gitu aja nggak ngerti?"

Wajah Bapak Wijaya yang biasanya terlihat lemah lembut, kini menunjukkan rasa simpati yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya dengan pasrah, lalu menatap mata Tamara lekat-lekat.

"Saya, kan, sudah bilang kalau kamu dipecat karna kesalahanmu sendiri. Kenapa nggak percaya, sih?"

"Bagaimana saya bisa percaya?! Kesalahan macam apa yang saya lakukan?!"

Tamara nyaris tertawa kencang-kencang saking marahnya ia terhadap ketidakadilan ini.

Tamara adalah Eksekutif Manajer Keuangan yang mempunyai posisi tertinggi di kantor ini selain CEO yang berada langsung di atasnya. Setiap pekerjaan dilakukan tanpa cela. Dividen yang diterima pemegang saham selalu meningkat, pengeluaran perusahaan pun terkontrol dengan sangat baik. Karyawan-karyawan di kantor juga sangat menghormati Tamara karena mengagumi kinerjanya. Mereka selalu memberikan salam yang terlalu sopan setiap bertemu. 

Di mata mereka, Tamara bagikan seorang putri kerajaan yang tidak memiliki satupun kekurangan. Paras wajahnya cantik dan menawan, tetapi tetap lugu seperti gadis polos yang tidak tahu apa-apa.

Dia tinggi dan ramping dengan lekuk badan yang jelas-jelas sangat bagus—terbentuk indah, begitu berisi di tempat yang seharusnya. Rambut hitamnya terlihat berkilauan dikala tergerai panjang. Temperamennya arogan serta perfeksionis, tetapi tidak ada yang menyalahkan hal itu.

Bagaimana tidak?

Pintar dan cantik, tapi tidak arogan. Apa tidak takut diinjak orang-orang?

Tamara yang seperti itu selalu memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya. Apabila orang biasa hanya mengeluarkan 80-100% tenaganya dalam bekerja, maka tenaga yang Tamara keluarkan bisa dikatakan 150-200%.

Ketika para karyawan itu pulang, setiap hari Tamara akan tinggal hingga larut malam untuk mengecek pekerjaan hariannya dan milik bahawannya, memastikan dengan sedetail mungkin apakah ada kesalahan atau tidak.

Setiap saat, akan ada banyak koleganya yang meminta saran ketika mengerjakan sesuatu.

Setiap saat, akan ada dokumen-dokumen yang bukan bagian dari pekerjaannya tetapi harus ia kerjakan semata-mata karena gelar Tamara yang dapat diandalkan.

Setiap saat, ia tampil maksimal ketika meeting diadakan, menuai banyak tepuk tangan dan pengakuan dari pejabat-pejabat perusahaan lainnya.

Jadi, di mana letak kesalahan Tamara?

Mulai dari mana ia salah dan seberapa besar hal tersebut sampai-sampai membuatnya dipecat?

Bapak Wijaya merogoh-rogoh laci mejanya sebelum mengeluarkan setumpuk dokumen dengan stampel "Rahasia" ke atas meja.

"Kemari dan lihat sendiri."

Dengan ekspresi buruk, Tamara melangkah pelan. Ia meraih dokumen-dokumen tersebut dan membacanya perlahan.

Seiring dengan berjalannya waktu, ekspresi Tamara semakin menjadi-jadi. Tangannya bergetar keras, berusaha menahan diri untuk tidak merobek dokumen itu.

Tamara mendengus tak habis pikir, "Heh." 

Di dalam setumpuk kertas itu terdapat bukti-bukti penggelapan uang perusahaan yang telah Tamara lakukan. Uang yang dinyatakan "hilang" sudah mencapai satu miliar rupiah.

Perusahaan mengalami kerugian besar. Tidak hanya itu, terdapat pula bukti bahwa Tamara telah berkali-kali melawan atasannya dan menyinggung kolega lain. Hal ini membuktikan karakter Tamara sebagai karyawan yang perlu dievaluasi kembali.

Dalam hati, Tamara melontarkan ratusan hinaan kepada atasan dan kolega yang disebut di dokumen tersebut.

Tamara melawan karena sikap mereka yang kurang ajar! Karyawan laki-laki bajingan yang ingin menyetubuhinya kerap kali datang dan menggangu Tamara. Terang saja ia membela diri.

Permasalahannya adalah hal ini dijadikan bukti karakter Tamara yang harus dievaluasi?

Antara seluruh karyawan perusahaan ini buta, atau memang semua ini hanyalah senjata yang digunakan untuk menghabisi Tamara?

Jawabannya sudah pasti yang terakhir.

Tamara diam-diam berpikir. Otaknya berputar cepat. Tidak cukup untuk membuatnya dipecat hanya karena tuduhan karyawan terhadap dirinya, tuduhan penggelapan uang pun ditambahkan. 

Bukti-bukti yang terperinci dan meyakinkan ini tidak mungkin disiapkan dalam waktu singkat. Tanpa perlu berpikir, Tamara sudah tahu bahwa tuduhan ini direkayasa dengan matang oleh pelaku. 

Tetapi, siapa?

Melihat Tamara yang terdiam, Bapak Wijaya mengira Tamara ketakutan. Jadi dengan suara yang di buat-buat lembut, ia berkata, "Saya bisa bantu kamu, loh."

Tamara terdiam tak bergerak. Bapak Wijaya tak mau repot-repot menunggu reaksi Tamara dan melanjutkan kata-kata persuasi yang sudah ia siapkan.

"Kamu tau sendiri, kan, penggelapan uang itu nggak gampang. Bukan cuma bakal dipecat, kamu juga bakal dipenjara."

Setelah berkata demikian, Bapak Wijaya menghela napas berat. "Hahh ... Anggap aja kejadian ini sebagai bahan pelajaran, supaya kamu nggak serakah lagi untuk kedepannya. Sayang sekali kalo kamu harus masuk penjara."

"Kamu masih muda dan cantik. Tidak mudah juga untuk sampai ke titik ini. Daripada dipecat dan kehilangan semuanya, bagaimana kalau saya bantu?"

Senyuman aneh muncul di wajah Bapak Wijaya. "Tentu saja kalau saya sendirian nggak akan mampu bantu kamu. Jadi, saya bakal usahain untuk tanya temen-temen lainnya biar bantu kamu juga, ya?"

Sudut bibir Tamara melengkung ke atas. Hati Tamara terbakar dengan amarah, tapi tidak tampak sama sekali di wajahnya.

Haha, lucu sekali.

Tamara bertanya dengan suara kecil, "Bagaimana caranya supaya saya bisa balas kebaikan bapak?"

Wajah Bapak Wijaya langsung berseri-seri. Gadis ini sudah masuk ke perangkap!

"Ahh, itu mah gampang. Karena kamu masih gadis, saya dan yang lain nggak akan minta kamu ngelakuin hal-hal berat. Kamu cuma perlu menemani kita aja setiap malam. Bergantian."

"Menemani?" tanya Tamara.

"Betul. Nggak susah, kan?" balas Bapak Wijaya.

Seketika keheningan memenuhi ruangan. Bapak Wijaya masih beranggapan bahwa Tamara sebentar lagi akan berada dalam genggamannya. Matanya melengkung senang dan mulutnya tak berhenti tersenyum.

Bodohnya, ia terlalu naif.

Tamara mengangkat wajahnya, lalu melemparkan setumpuk dokumen tersebut ke arah Bapak Wijaya. Matanya memerah dan dengan kejam Tamara mengumpat, "Brengs*k!"

Namun, hal ini menjelaskan sesuatu.

Bukan dia pelaku yang memfitnah Tamara. Orang ini hanya peduli dengan nafsu bejatnya saja. 

Tamara segera beranjak pergi tanpa menghiraukan ekspresi Bapak Wijaya yang memerah, lalu membiru, menahan amarah.

"Tamara!! Dasar pelacur!! Nggak tau kebaikan diri sendiri!!" maki Bapak Wijaya. Dia menyumpahi lagi, "Bangs*t!"

Bapak Wijaya terus menghujani Tamara dengan berbagai kata hinaan yang tidak bisa lagi terdengar oleh Tamara. Lobi di depan ruangan Bapak Wijaya dipenuhi suara hujatan dan perkataan kasar yang sayangnya tidak seorang pun akan berbaik hati untuk menenangkan Bapak Wijaya.

Tamara bergegas memasuki lift dan menekan tombol lantai tertinggi dimana CEO Cahya berada.

Dibanding menghabiskan waktu berdebat dengan orang yang tidak signifikan, akan lebih baik untuk langsung mendatangi atasan tertinggi dan menjelaskan kesalahpahaman ini.

Saat Tamara tiba di depan ruangan CEO Cahya, ia menemukan Asisten Ren berdiri dengan tenang di depan pintu. Tamara seperti mendapat ilusi kalau Asisten Ren sedang menunggu kedatangannya, yang langsung dihapuskan begitu saja dari pikiran Tamara. Tidak mungkin. Itu pasti cuma halusinasi.

"Halo, Asisten Ren."

Asisten Ren mengangguk, lalu tersenyum. "Eksekutif Manajer Tamara."

Sejenak Tamara tampak menahan diri untuk mengajukan permohonan. Menyadari gerak-gerik tersebut, Asisten Ren segera mengatakan, "CEO Cahya sudah menunggu Eksekutif Manajer Tamara."

Tamara tersentak. "Menunggu?"

Sekali lagi Asisten Ren mengangguk pelan. "Betul. Sepertinya ada yang ingin didiskusikan dengan Eksekutif Manajer Tamara."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 22 - Menerobos Masuk (H)

    "Uuuu...."Kepala batang itu menggosok permukaan gia Tamara dan terkadang menyenggol buah kecil manis itu."Euhh ah...."Gesekan itu membuat gua Tamara gatal dan berair lagi. Ia menggeliat tidak nyaman di bawah Dmitri, berusaha mendapatkan penyelesaian.Dmitri terus menggesekkannya ke atas-bawah dan beberapa kali menekan nekan mutiara Tamara.Tubuh Tamara bergetar.Dmitri bertanya pelan, "Ada yang salah, Tamara?""Uhh.. hufft...! M-M-Ma..u.. Ah....""Hm?""Sial...! Mau! Aku mau...." Air mata Tamara berlinang saking dirinya tidak bisa menahan api yang meledak-ledak. Ia butuh! Ia ingin!Butuh... sesuatu masuk...Dmitri berpura-pura tuli dan tidak menanggapi. Ia mengendus leher Tamara dan meninggalkan kecupan-kecupan ringan. Tak lupa sesekali ia menjilat daerah sensitif Tamara di dekat telinga, mengakibatkan banjir yang terjadi di bawah sana kian deras."Masukin apa, huh?"Tamara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk menjawab.Kali ini Dmitri menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan ber

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 21 - Finally (H)

    Matanya sudah berair dan mulutnya kerap melontarkan desahan-desahan yang menggetarkan hati Dmitri.Ketika jarinya tidak bisa bergerak lebih dalam lagi, insting Tamara bermain. Tamara dengan resah mulai mengejar titik-titik g-spotnya lebih keras. Ia menghantamnya tanpa ampun dengan gencar.Dinding-dinding gua Tamara menyambut gembira, berkedut dan kian menyempit. Mengelilingi seluruh jari, hingga Tamara harus menaikkan lagi tenaga yang ia kerahkan.Lubang itu mengeluarkan banyak air seakan ingin membuat jalur Tamara makin lancar.Di tengah mabuk kenikmatan, Tamara mendapati Dmitri menatapnya seperti seekor serigala yang mengincar santapannya. Mata hitam itu menggelap dan jejak-jejak kebengisan mulai berenang ke permukaan, membuat sekujur tubuh Tamara menjadi lebih panas—membara.Napas Dmitri menjadi berat dan untuk keberapa kalinya ia menjilat bibir yang kering akibat 'haus'.Entah setan darimana, hati Tamara terusik ingin menggoyahkan pertahanan Dmitri lebih hebat lagi.Mata Tamara be

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 20 - Melayang (H)

    Setelah menunggu selama beberapa menit tanpa menerima instruksi jelas, dahi Tamara mengeryit. Berpikir bahwa ia yang harus memulainya.Tapi siapa sangka Dmitri mengayunkan tangan dan menunjuk bagian kasur di depannya.Jantung Tamara sekejap melompat tinggi. Dengan pernuh prasangka buruk, ia bertanya, "... Apa?"Kedua bola mata hitam Dmitri menggelap dan mulai berkabut. Ia memberikan isyarat untuk mendekat dan dengan kesabaran yang langka menjelaskan, "Merangkak kemari."Dmitri menatap wanita yang langsung merah padam itu, dengan tenang.Hendra dan seluruh pelayan lainnya telah undur diri semenjak Dmitri masuk ke kamar, jadi rumah itu terasa sunyi ketika tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua.Tamara merapatkannya bibirnya dengan marah. Alisnya bertaut kencang. Tamara menarik napas, memantapkan hatinya, lalu beranjak mendekati posisi Dmitri.Tamara berhenti di depan Dmitri yang berdiri elegan, sementara ia duduk berlutut dan harus mendongak jika ingin melihat Dmitri.Mata Dmit

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 19 - Pembukaan Malam Pertama

    Tatapan Tamara menyala-nyala terang. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas mandi dan luluran. Tamara membersihkan tubuhnya dan memakai wangi-wangian. Ia berdandan, memoleh riasan tipis. Tetapi, Tamara memberikan sentuhan ekstra pada kelopak mata dan bibirnya. Eyeshadow Tamara gelap dan berbentuk seperti sayap. Warna bibirnya merah gelap, segelap minuman anggur. Ia ingin menonjolkan gaya sensual dan penuh misteri untuk malam pertama mereka. Buat Dmitri merasa di atas angin ketika 'membuka' Tamara. Seolah-olah pria itu akan mengetahui semua rahasia Tamara, walaupun kenyatannya hanya tipu muslihat. Tamara memakai lingerie yang tersedia di ruang ganti bajunya. Pilihannya jatuh pada tipe lingerie yang tak sepenuhnya menerawang, cukup memunjukkan siluet nakal bagian tubuhnya. Namun pastinya cukup merangsang pria sekelas Dmitri sekalipun. Tamara yang sedang siap-siap belum mengetahui kalau Dmitri sudah pulang. Dmitri langsung memanggil Hendra melalui tatapan dinginnya yang sepintas le

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 18 - Menguji Kesabaran Tamara

    Tamara mengelap darah segar yang bercucuran dari hidungnya dengan buru-buru. Ia turun dari kasur dan berlari mengambil tisu demi mencegah darah itu menetes ke sprei, sebab ia tidak akan bisa menjelaskan kenapa ada darah di sprei bila Hendra bertanya. Tamara sangat sadar diri. Ia membawa kotak tisu itu, lalu menaruhnya di nakas meja sebelah tempat tidur. Tamara membulatkan tekad untuk terus menonton video yang masih berlangsung itu sampai habis, meski harus berdarah-darah!Mata Tamara melotot—menancap tepat pada layar ponsel tanpa beralih sedetikpun. Waktu berjalan cepat. Pagi berganti siang. Memasuki jam makan siang, pikiran Tamara baru muncul ke permukaan dunia nyata. Ekspresinya kosong melompong. Bibirnya terbuka sedikit. Tak ada cahaya di sepasang mata itu. Tamara cuma bisa bengong untuk sementara ini. Terlalu banyak adegan kotor yang berputar-putar di benaknya. Adegan itu acap kali terulang bagai kaset rusak. Tamara merasa dia harus menghirup udara segar sebelum pikirannya ru

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 17 - Nyaris Gila

    Bangun-bangun, Tamara berada di kamarnya. Tamara terbangun begitu merasakan panas menyengat sinar matahari di kulit putihnya. Sinar itu masuk melalui celah-celah tirai jendela balkon, menerobos dan menusuk tidur lelap Tamara. Kelopak matanya bergetar sejenak sebelum perlahan-lahan terbuka. Tamara mengerjap pelan. Matanya masih berkunang-kunang, menatap langit-langit kamar. Saat kesadarannya mulai terkumpul, hal pertama yang paling mengganggunya ialah rasa sakit di mulut dan tenggorokan. Tamara memegang lemah lehernya, lalu mencoba berbicara. "Uggh ...."Suara yang keluar terdengar sangat serak dan lirih. la seperti habis menelan seribu jarum pentul. Rasa sakitnya menikam seluruh bagian mulut dan tenggorokan Tamara. Ia pun merasa haus dan kering. Otaknya berpikir keras untuk mencari tahu penyebab tenggorokannya tidak enak. Di detik berikutnya, Tamara membatu. Telapak tangannya di leher gemetar samar. Kontan, Tamara bangun terduduk dengan gerakan mendadak. Ia menjambak dan mengacak-

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status