LOGIN"Kau ... bercanda ...." sangkal Tamara. Nadanya bergetar dan intonasinya lambat. Ia masih berusaha meresapi kalimat Dmitri yang menurutnya sangat di luar nalar.
Di saat bersamaan, Tamara tidak menunjukkan reaksi lain yang berlebihan—murni karena ia sudah tak sanggup merasa kaget setelah berkali-kali diberi 'kejutan' oleh Dmitri. Penilaian Tamara tentang Dmitri bukan sekadar 'gila' lagi, melainkan 'sinting'.
Bibir Dmitri balik seperti semula, datar tanpa seringai. Pandangan dinginnya seakan ingin menyergap Tamara. Ia berkata memperingati, "Waktuku tidak banyak."
Waktu Dmitri terlalu berharga untuk disia-siakan. Terutama bila itu menyangkut Tamara. Dmitri sudah memikirkan jika Tamara menolak, ia akan langsung memanggil bodyguard-nya untuk menginterogasi Tamara hingga wanita itu membuka mulut secara sukarela.
Tamara tiba-tiba bergidik ngeri. Rasa mencekam seperti dililit ular itu kembali menghantuinya. Ia tak yakin apakah ini ada hubungannya dengan tawaran Dmitri.
Kalau Tamara menerima tawaran itu, apakah dia akan terjerat ke dalam sesuatu yang berbahaya?
Sungguh, Tamara enggan mengiyakan Dmitri. Niat awalnya memang mencari laki-laki untuk melunasi utangnya. Tak peduli jika ia harus menjual diri sekalipun. Tetapi belum tentu juga orang yang ingin dikenalkan Serena itu mampu melunasi seluruh utangnya. Semisal dia tidak bisa, Tamara harus mencari pria lain sebaghai tambahan.
Jadi seharusnya, tak ada bedanya kalau ia tidur dengan Dmitri, bukan?
Malah lebih bagus, karena dia hanya perlu tidur dengan satu laki-laki saja. Tidak perlu berganti-ganti tidur dengan banyak pria cuma demi mengais uang.
Namun, sekali lagi, pria itu ... Dmitri.
Tamara berpikir lama dalam kesunyian. Kepalanya tertunduk, helai-helai rambutnya tersapu ke depan, menutupi ekspresinya dan perasaan yang bergumul di sana. Tak ada yang tahu pasti apa yang sedang ia pikirkan.
Namun, ketika ia mendongak dan menatap Dmitri, pandangannya berubah. Terdapat cahaya aneh yang berkilat di dalam matanya.
"Aku setuju," ujar Tamara dengan suara yang serak, tapi pasti.
Pada akhirnya, keuntungan yang akan ia dapatkan dari Dmitri lebih berbobot dibanding kekalahan yang harus ia telan, dan kerugian yang ia harus terima bila melewatkan kesempatan ini.
Tak apa.
Tamara itu wanita tangguh. Ia pasti akan mampu mengarungi ujian ini.
Setelah Tamara menetapkan pilihannya, ia tidak lagi ragu-ragu. Dengan sekali gerakan, Tamara melepas gelangnya, kemudian melemparkan gelang itu ke pangkuan Dmitri.
"Ambil," ujar Tamara. Suaranya rendah, seraya melanjutkan, "Untuk sementara, kau pegang dulu gelang itu. Soal informasi yang kau inginkan, aku akan memberitahukannya begitu semua permintaanku sudah dipenuhi."
Dmitri menangkap gelang itu, lalu mengamatinya dengan jeli. Gelang itu terbuat dari anyaman tali yang tampak berantakan dengan kombinasi warna hitam dan merah. Di tengahnya tergantung sebuah liontin berbentuk matahari. Ketika Dmitri membalik liontin tersebut, ia melihat tulisan "DNA". Terdapat satu garis panjang dan miring dari kiri ke kanan yang mencoreng tulisan itu.
Dmitri segera menyadari bahwa firasatnya tepat sasaran. Ia mengenali gelang ini dengan benar meskipun hanya sempat melihatnya sekilas. Dan, mungkin sebentar lagi ia akan menemukan gadis yang selama ini ia cari-cari.
Tangan Dmitri yang memegang gelang itu sepintas gemetar. Secercah cahaya menyala di kegelapan matanya. Ia tak ambil pusing dengan tuntutan Tamara tadi. Begitu menemukan gelang ini, Dmitri merasa kesabarannya meluas sedikit.
Ia masih bisa menunggu sebentar lagi untuk menemukan gadis itu. Saat ini ...
Pandangan Dmitri berubah kelabu ketika bertubrukan dengan tatapan serius Tamara. "Selagi menunggu, kau akan melayaniku."
Dmitri harus memastikan Tamara mendapat ganjarannya setelah berani menentang dia. Sebelum semua keinginan wanita itu terwujud, Dmitri akan membuatnya tunduk, membuat Tamara jadi penurut, dan mematahkan sayapnya hingga wanita itu takkan bisa berdiri sendiri lagi.
Setelah itu, Dmitri akan memaksa Tamara untuk memuntahkan seluruh informasi yang ia pegang. Saat Tamara tak lagi bernilai, barulah Dmitri membuangnya jauh-jauh.
Tamara tidak tahu rencana apa yang tersusun di kepala Dmitri.
Namun, intuisi Tamara tajam. Dia pernah berhasil memanjat karir sampai setinggi kemarin bukan dengan omong kosong. Ia cerdik dan sering mengandalkan intuisinya untuk memandunya ke jalan yang benar.
Kali ini Tamara dengan sadar melunak. Ia mengangguk dan tersenyum samar, "Aku tau. Bisa kupastikan, kau nggak menyesal dengan perjanjian kita."
Tamara diam-diam bertekad. Ia bersumpah untuk menjatuhkan Dmitri dari tahtanya. Ia akan membuat Dmitri jatuh cinta padanya dan benar-benar berlutut di bawah kakinya. Kesempatan tidur dengan Dmitri akan Tamara manfaatkan dengan baik.
Tamara yakin bisa menaklukkan Dmitri dengan godaan dan pelayanannya di ranjang.
Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Tamara bisa mendapatkan hidupnya kembali, sekaligus menghancurkan Dmitri.
Sumbu-sumbu peperangan memenuhi setiap sudut ruangan. Dua pasang mata saling berhadapan dengan akal bulus masing-masing.
Dmitri tersenyum sinis. "Kita lihat nanti."
Dmitri bangkit dan berjalan keluar ruangan. Ia pergi tanpa menoleh, hanya melemparkan satu kalimat acuh, "Kemasi barangmu."
"Uuuu...."Kepala batang itu menggosok permukaan gia Tamara dan terkadang menyenggol buah kecil manis itu."Euhh ah...."Gesekan itu membuat gua Tamara gatal dan berair lagi. Ia menggeliat tidak nyaman di bawah Dmitri, berusaha mendapatkan penyelesaian.Dmitri terus menggesekkannya ke atas-bawah dan beberapa kali menekan nekan mutiara Tamara.Tubuh Tamara bergetar.Dmitri bertanya pelan, "Ada yang salah, Tamara?""Uhh.. hufft...! M-M-Ma..u.. Ah....""Hm?""Sial...! Mau! Aku mau...." Air mata Tamara berlinang saking dirinya tidak bisa menahan api yang meledak-ledak. Ia butuh! Ia ingin!Butuh... sesuatu masuk...Dmitri berpura-pura tuli dan tidak menanggapi. Ia mengendus leher Tamara dan meninggalkan kecupan-kecupan ringan. Tak lupa sesekali ia menjilat daerah sensitif Tamara di dekat telinga, mengakibatkan banjir yang terjadi di bawah sana kian deras."Masukin apa, huh?"Tamara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk menjawab.Kali ini Dmitri menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan ber
Matanya sudah berair dan mulutnya kerap melontarkan desahan-desahan yang menggetarkan hati Dmitri.Ketika jarinya tidak bisa bergerak lebih dalam lagi, insting Tamara bermain. Tamara dengan resah mulai mengejar titik-titik g-spotnya lebih keras. Ia menghantamnya tanpa ampun dengan gencar.Dinding-dinding gua Tamara menyambut gembira, berkedut dan kian menyempit. Mengelilingi seluruh jari, hingga Tamara harus menaikkan lagi tenaga yang ia kerahkan.Lubang itu mengeluarkan banyak air seakan ingin membuat jalur Tamara makin lancar.Di tengah mabuk kenikmatan, Tamara mendapati Dmitri menatapnya seperti seekor serigala yang mengincar santapannya. Mata hitam itu menggelap dan jejak-jejak kebengisan mulai berenang ke permukaan, membuat sekujur tubuh Tamara menjadi lebih panas—membara.Napas Dmitri menjadi berat dan untuk keberapa kalinya ia menjilat bibir yang kering akibat 'haus'.Entah setan darimana, hati Tamara terusik ingin menggoyahkan pertahanan Dmitri lebih hebat lagi.Mata Tamara be
Setelah menunggu selama beberapa menit tanpa menerima instruksi jelas, dahi Tamara mengeryit. Berpikir bahwa ia yang harus memulainya.Tapi siapa sangka Dmitri mengayunkan tangan dan menunjuk bagian kasur di depannya.Jantung Tamara sekejap melompat tinggi. Dengan pernuh prasangka buruk, ia bertanya, "... Apa?"Kedua bola mata hitam Dmitri menggelap dan mulai berkabut. Ia memberikan isyarat untuk mendekat dan dengan kesabaran yang langka menjelaskan, "Merangkak kemari."Dmitri menatap wanita yang langsung merah padam itu, dengan tenang.Hendra dan seluruh pelayan lainnya telah undur diri semenjak Dmitri masuk ke kamar, jadi rumah itu terasa sunyi ketika tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua.Tamara merapatkannya bibirnya dengan marah. Alisnya bertaut kencang. Tamara menarik napas, memantapkan hatinya, lalu beranjak mendekati posisi Dmitri.Tamara berhenti di depan Dmitri yang berdiri elegan, sementara ia duduk berlutut dan harus mendongak jika ingin melihat Dmitri.Mata Dmit
Tatapan Tamara menyala-nyala terang. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas mandi dan luluran. Tamara membersihkan tubuhnya dan memakai wangi-wangian. Ia berdandan, memoleh riasan tipis. Tetapi, Tamara memberikan sentuhan ekstra pada kelopak mata dan bibirnya. Eyeshadow Tamara gelap dan berbentuk seperti sayap. Warna bibirnya merah gelap, segelap minuman anggur. Ia ingin menonjolkan gaya sensual dan penuh misteri untuk malam pertama mereka. Buat Dmitri merasa di atas angin ketika 'membuka' Tamara. Seolah-olah pria itu akan mengetahui semua rahasia Tamara, walaupun kenyatannya hanya tipu muslihat. Tamara memakai lingerie yang tersedia di ruang ganti bajunya. Pilihannya jatuh pada tipe lingerie yang tak sepenuhnya menerawang, cukup memunjukkan siluet nakal bagian tubuhnya. Namun pastinya cukup merangsang pria sekelas Dmitri sekalipun. Tamara yang sedang siap-siap belum mengetahui kalau Dmitri sudah pulang. Dmitri langsung memanggil Hendra melalui tatapan dinginnya yang sepintas le
Tamara mengelap darah segar yang bercucuran dari hidungnya dengan buru-buru. Ia turun dari kasur dan berlari mengambil tisu demi mencegah darah itu menetes ke sprei, sebab ia tidak akan bisa menjelaskan kenapa ada darah di sprei bila Hendra bertanya. Tamara sangat sadar diri. Ia membawa kotak tisu itu, lalu menaruhnya di nakas meja sebelah tempat tidur. Tamara membulatkan tekad untuk terus menonton video yang masih berlangsung itu sampai habis, meski harus berdarah-darah!Mata Tamara melotot—menancap tepat pada layar ponsel tanpa beralih sedetikpun. Waktu berjalan cepat. Pagi berganti siang. Memasuki jam makan siang, pikiran Tamara baru muncul ke permukaan dunia nyata. Ekspresinya kosong melompong. Bibirnya terbuka sedikit. Tak ada cahaya di sepasang mata itu. Tamara cuma bisa bengong untuk sementara ini. Terlalu banyak adegan kotor yang berputar-putar di benaknya. Adegan itu acap kali terulang bagai kaset rusak. Tamara merasa dia harus menghirup udara segar sebelum pikirannya ru
Bangun-bangun, Tamara berada di kamarnya. Tamara terbangun begitu merasakan panas menyengat sinar matahari di kulit putihnya. Sinar itu masuk melalui celah-celah tirai jendela balkon, menerobos dan menusuk tidur lelap Tamara. Kelopak matanya bergetar sejenak sebelum perlahan-lahan terbuka. Tamara mengerjap pelan. Matanya masih berkunang-kunang, menatap langit-langit kamar. Saat kesadarannya mulai terkumpul, hal pertama yang paling mengganggunya ialah rasa sakit di mulut dan tenggorokan. Tamara memegang lemah lehernya, lalu mencoba berbicara. "Uggh ...."Suara yang keluar terdengar sangat serak dan lirih. la seperti habis menelan seribu jarum pentul. Rasa sakitnya menikam seluruh bagian mulut dan tenggorokan Tamara. Ia pun merasa haus dan kering. Otaknya berpikir keras untuk mencari tahu penyebab tenggorokannya tidak enak. Di detik berikutnya, Tamara membatu. Telapak tangannya di leher gemetar samar. Kontan, Tamara bangun terduduk dengan gerakan mendadak. Ia menjambak dan mengacak-







