Share

Bab 6 - Negosiasi

Auteur: Elodri
last update Dernière mise à jour: 2025-12-05 15:12:41

Kegilaan yang bersemayam di pandangan Dmitri bersinar. Kontrolnya di leher Tamara menguat. Ekspresinya datar, tapi menakutkan. Tatapannya menghunus penuh ancaman. 

Tamara berlinang air mata merasakan udara yang sedikit demi sedikit hilang dari rongga paru-parunya. Meski kuku-kuku Tamara menggores pergelangan tangan Dmitri yang mencekiknya, pria itu tak berkutik. Dia bahkan tak mengindahkan darah yang mengalir akibat tajamnya kuku Tamara. Yang ada, teror di tatapan pria itu kian menggelegak.

Dmitri berkata dengan suara sedingin salju, “Jawab.”

Tubuh Tamara gemetar dari tekanan itu. Terbesit kegelisahan dan kengerian bahwa Dmitri benar-benar akan membunuhnya. Tamara sempat terpikir untuk menjawab saja supaya bisa cepat lepas dari penyiksaan ini.

Namun, sepercik akal sehatnya yang tersisa mengatakan ini adalah kesempatan besar!

Tamara yang sebenarnya memegang kendali. Melihat seberapa inginnya Dmitri untuk mengetahui tentang gelangnya, Dmitri takkan berani membuat Tamara meregang nyawa. Pria itu pasti hanya berusaha menakut-nakutinya saja.

Maka dari itu, Tamara tidak menyerah, meskipun bola matanya sudah membengkak merah dan kesadarannya mulai melayang-layang. Tamara tetap menutup mulut rapat-rapat. Dia ingin lihat siapa yang akan bertahan pada akhirnya!

Tamara semakin melotot, sementara bibirnya memutih dan tertarik membentuk garis lurus. Tindakannya bagai menantang Dmitri untuk terus melanjutkan cekikannya bila pria itu berani.

Berani mempertaruhkan jawaban yang mungkin akan hilang, jika Tamara mati. 

Dmitri yang sensitif dengan perubahan orang lain, langsung menduga maksud Tamara. Matanya nyalang dan tangan satunya terangkat seakan ingin menghantam pipi Tamara. Dia sudah lama tidak merasa ditantang seperti ini dan sikap Tamara memancing seluruh kekejaman Dmitri yang telah terkubur. 

Tamara bergetar hebat di bawah bahaya yang akan datang. Air matanya mengalir dan memburamkan bayangan Dmitri. Hatinya diperas ketakutan. Tamara refleks mencakar-cakar tangan Dmitri dengan makin cepat dan ganas. Gelangnya ikut terayun, menggesek kulit Dmitri. 

Di kala genting tersebut, ketika pukulan Dmitri nyaris mengenai Tamara, dia berhenti.

Pandangan tajam Dmitri terjatuh pada gelang Tamara. Dia jadi tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dilakukan tadi. Tetapi, Dmitri tak segan-segan membanting punggung Tamara ke dinding sebelum melepaskan genggamannya—melampiaskan frustasinya. 

Tubuh lemas Tamara merosot dari dinding. Ia duduk terkulai di lantai dengan kedua kaki terlipat ke belakang. Tamara terbatuk-batuk hebat seolah ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

Penampilan Tamara kacau. Rambutnya berantakan dan basah, dengan beberapa helai menempel di pipi. Wajahnya dicucuri keringat dingin yang bercampur air mata. Matanya merah. Lipstiknya terhapus, bibirnya kini terlihat pucat pasi. Sekujur tubuhnya gemetaran.

Dmitri mengambil saputangan dari kantong celananya, lalu mengelap kedua tangannya secara saksama. Ketika dirasa sudah agak bersih, dia melempar saputangan itu ke muka Tamara. Matanya berpendar keji. Garis rahangnya mengeras dan kaku.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Dmitri seraya berjalan, lalu menghempaskan badan ke sofa. Ia menyalakan batang rokok baru dan menghirupnya dalam-dalam agar gejolak dalam dirinya dapat segera teredam.

Tamara menengadah, lalu memelototi Dmitri. Suaranya parau dan lemah saat ia berkata, "Kau ingin tau soal gelang ini? Aku akan bilang. Hah. Aku bahkan akan memberikannya padamu."

"Tapi ... kau harus penuhi tiga permintaanku," sambung Tamara.

Dmitri tak terpengaruh. Ia memiringkan kepala, kemudian melemparkan tatapan dingin pada Tamara. Dmitri tidak menyela, seakan memberi sinyal kalau Tamara bisa meneruskan ucapannya. 

Tamara tergoda untuk meminta Dmitri berlutut kembali. Namun dia tau ini bukan saat yang tepat. Merendahkan Dmitri tidak sebanding dengan melunasi hutangnya.

Tamara menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Pertama, aku ingin utangku lunas. Kedua, bebaskan aku dari tuduhan penggelapan uang itu. Dan terakhir, kau harus membersihkan nama baikku. Aku ingin reputasiku kembali seperti sedia kala."

"Terlalu banyak," ujar Dmitri. Apakah dia terlihat seperti orang yang menjalankan badan amal? 

Tamara mendelik. "Bagian mananya? Semua yang kuminta masih masuk akal!"

"Kau bisa dapat yang pertama dan kedua. Selebihnya bukan urusanku," tampik Dmitri. 

"Nggak bisa. Sudah sewajarnya kau buat reputasiku bersih lagi setelah semua yang terjadi."

Dmitri menajamkan tatapannya. "Kalau begitu, perjanjian ini batal."

Tamara mengepalkan tangan erat. Bola matanya bergetar tak percaya. Ia berkata dengan kemarahan yang tertahan, "K-kau ... maumu apa, sih? Aku bahkan mau memberikanmu gelangku!"

"Hm," Dmitri bergumam pelan. Ia bersandar seraya menancapkan perhatiannya pada Tamara. Sepasang mata yang luput akan perasaan itu terasa menyesakkan.

"Yang berharga darimu cuma gelang itu. Aku bisa cari tau sisanya dengan cara lain, meski harus menggunakan kekerasan," ungkap Dmitri tanpa belas kasihan. 

Intinya, Tamara tak memiliki keunggulan dalam bernegosiasi dengan Dmitri. Sebab pada akhirnya, Dmitri adalah orang berkuasa yang terbiasa menggunakan kekerasan dan paksaan untuk menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. 

Tamara mengerti, tetapi menolak untuk menerimanya. 

Tidak, bukan menolak, dia hanya denial. 

Tamara menggigit bibir bawahnya kencang-kencang sampai menimbulkan sedikit robekan di sudutnya. Bau anyir darah menyesapi indra perasanya. Pikirannya berkecamuk, bergulat dengan keputusan yang saling bertentangan. 

Sayangnya, Dmitri tidak pernah memiliki waktu untuk menunggu Tamara selesai berpikir. 

Pria itu mendengus, kemudian berujar telak, "Kau harus memberiku hal yang setara."

Jantung Tamara berdegup dalam sekejap. Tubuhnya berpindah ke mode bertahan hidup—tegang dan siaga. Ia bertanya waswas, "Kau mau apa?"

"Serahkan gelang itu dan ceritakan semua yang kau tau, lalu ...." ucap Dmitri sambil menggantungkan kalimat akhirnya.

Dmitri melirik sekilas tubuh gemulai Tamara yang tersungkur di lantai. Walaupun penampilannya agak kacau, hal itu tak berhasil menurunkan pesonanya. Justru malah semakin membuatnya tampak menggugah.

Rambut hitam legamnya yang terurai panjang, leher jenjang yang menjurus pada belahan dada mulus, serta kulit putih yang bercahaya. Semua melebur menjadi satu tatanan keindahan yang rupawan.

Telebih lagi, Tamara saat ini kelihatan lemah, tak berdaya. Pipinya semerah tomat yang siap dipetik. Bulu matanya tersibak lembut bagai sayap kupu-kupu. Bekas darah samar di ujung bibirnya terasa menggiurkan dahaga, bagai memancing Dmitri untuk menjilatnya habis. 

Tatapan Dmitri menggelap muram. Kondisi Tamara membangkitkan sesuatu yang gelap dari alam bawah sadar Dmitri. Sesuatu yang sangat kejam dan penuh kontrol.

Nafsu primitif seorang pria dewasa. 

Dmitri mempertimbangkan bagaimana wanita di hadapannya ini meminta dia berlutut, dan seketika dirinya tertawa mengejek. 

"Jadilah wanita simpananku," kata Dmitri, "Akan ku bereskan masalahmu." 

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 22 - Menerobos Masuk (H)

    "Uuuu...."Kepala batang itu menggosok permukaan gia Tamara dan terkadang menyenggol buah kecil manis itu."Euhh ah...."Gesekan itu membuat gua Tamara gatal dan berair lagi. Ia menggeliat tidak nyaman di bawah Dmitri, berusaha mendapatkan penyelesaian.Dmitri terus menggesekkannya ke atas-bawah dan beberapa kali menekan nekan mutiara Tamara.Tubuh Tamara bergetar.Dmitri bertanya pelan, "Ada yang salah, Tamara?""Uhh.. hufft...! M-M-Ma..u.. Ah....""Hm?""Sial...! Mau! Aku mau...." Air mata Tamara berlinang saking dirinya tidak bisa menahan api yang meledak-ledak. Ia butuh! Ia ingin!Butuh... sesuatu masuk...Dmitri berpura-pura tuli dan tidak menanggapi. Ia mengendus leher Tamara dan meninggalkan kecupan-kecupan ringan. Tak lupa sesekali ia menjilat daerah sensitif Tamara di dekat telinga, mengakibatkan banjir yang terjadi di bawah sana kian deras."Masukin apa, huh?"Tamara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk menjawab.Kali ini Dmitri menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan ber

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 21 - Finally (H)

    Matanya sudah berair dan mulutnya kerap melontarkan desahan-desahan yang menggetarkan hati Dmitri.Ketika jarinya tidak bisa bergerak lebih dalam lagi, insting Tamara bermain. Tamara dengan resah mulai mengejar titik-titik g-spotnya lebih keras. Ia menghantamnya tanpa ampun dengan gencar.Dinding-dinding gua Tamara menyambut gembira, berkedut dan kian menyempit. Mengelilingi seluruh jari, hingga Tamara harus menaikkan lagi tenaga yang ia kerahkan.Lubang itu mengeluarkan banyak air seakan ingin membuat jalur Tamara makin lancar.Di tengah mabuk kenikmatan, Tamara mendapati Dmitri menatapnya seperti seekor serigala yang mengincar santapannya. Mata hitam itu menggelap dan jejak-jejak kebengisan mulai berenang ke permukaan, membuat sekujur tubuh Tamara menjadi lebih panas—membara.Napas Dmitri menjadi berat dan untuk keberapa kalinya ia menjilat bibir yang kering akibat 'haus'.Entah setan darimana, hati Tamara terusik ingin menggoyahkan pertahanan Dmitri lebih hebat lagi.Mata Tamara be

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 20 - Melayang (H)

    Setelah menunggu selama beberapa menit tanpa menerima instruksi jelas, dahi Tamara mengeryit. Berpikir bahwa ia yang harus memulainya.Tapi siapa sangka Dmitri mengayunkan tangan dan menunjuk bagian kasur di depannya.Jantung Tamara sekejap melompat tinggi. Dengan pernuh prasangka buruk, ia bertanya, "... Apa?"Kedua bola mata hitam Dmitri menggelap dan mulai berkabut. Ia memberikan isyarat untuk mendekat dan dengan kesabaran yang langka menjelaskan, "Merangkak kemari."Dmitri menatap wanita yang langsung merah padam itu, dengan tenang.Hendra dan seluruh pelayan lainnya telah undur diri semenjak Dmitri masuk ke kamar, jadi rumah itu terasa sunyi ketika tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua.Tamara merapatkannya bibirnya dengan marah. Alisnya bertaut kencang. Tamara menarik napas, memantapkan hatinya, lalu beranjak mendekati posisi Dmitri.Tamara berhenti di depan Dmitri yang berdiri elegan, sementara ia duduk berlutut dan harus mendongak jika ingin melihat Dmitri.Mata Dmit

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 19 - Pembukaan Malam Pertama

    Tatapan Tamara menyala-nyala terang. Tanpa membuang-buang waktu, ia bergegas mandi dan luluran. Tamara membersihkan tubuhnya dan memakai wangi-wangian. Ia berdandan, memoleh riasan tipis. Tetapi, Tamara memberikan sentuhan ekstra pada kelopak mata dan bibirnya. Eyeshadow Tamara gelap dan berbentuk seperti sayap. Warna bibirnya merah gelap, segelap minuman anggur. Ia ingin menonjolkan gaya sensual dan penuh misteri untuk malam pertama mereka. Buat Dmitri merasa di atas angin ketika 'membuka' Tamara. Seolah-olah pria itu akan mengetahui semua rahasia Tamara, walaupun kenyatannya hanya tipu muslihat. Tamara memakai lingerie yang tersedia di ruang ganti bajunya. Pilihannya jatuh pada tipe lingerie yang tak sepenuhnya menerawang, cukup memunjukkan siluet nakal bagian tubuhnya. Namun pastinya cukup merangsang pria sekelas Dmitri sekalipun. Tamara yang sedang siap-siap belum mengetahui kalau Dmitri sudah pulang. Dmitri langsung memanggil Hendra melalui tatapan dinginnya yang sepintas le

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 18 - Menguji Kesabaran Tamara

    Tamara mengelap darah segar yang bercucuran dari hidungnya dengan buru-buru. Ia turun dari kasur dan berlari mengambil tisu demi mencegah darah itu menetes ke sprei, sebab ia tidak akan bisa menjelaskan kenapa ada darah di sprei bila Hendra bertanya. Tamara sangat sadar diri. Ia membawa kotak tisu itu, lalu menaruhnya di nakas meja sebelah tempat tidur. Tamara membulatkan tekad untuk terus menonton video yang masih berlangsung itu sampai habis, meski harus berdarah-darah!Mata Tamara melotot—menancap tepat pada layar ponsel tanpa beralih sedetikpun. Waktu berjalan cepat. Pagi berganti siang. Memasuki jam makan siang, pikiran Tamara baru muncul ke permukaan dunia nyata. Ekspresinya kosong melompong. Bibirnya terbuka sedikit. Tak ada cahaya di sepasang mata itu. Tamara cuma bisa bengong untuk sementara ini. Terlalu banyak adegan kotor yang berputar-putar di benaknya. Adegan itu acap kali terulang bagai kaset rusak. Tamara merasa dia harus menghirup udara segar sebelum pikirannya ru

  • Kupu-Kupu Malam Tuan Muda Cahya   Bab 17 - Nyaris Gila

    Bangun-bangun, Tamara berada di kamarnya. Tamara terbangun begitu merasakan panas menyengat sinar matahari di kulit putihnya. Sinar itu masuk melalui celah-celah tirai jendela balkon, menerobos dan menusuk tidur lelap Tamara. Kelopak matanya bergetar sejenak sebelum perlahan-lahan terbuka. Tamara mengerjap pelan. Matanya masih berkunang-kunang, menatap langit-langit kamar. Saat kesadarannya mulai terkumpul, hal pertama yang paling mengganggunya ialah rasa sakit di mulut dan tenggorokan. Tamara memegang lemah lehernya, lalu mencoba berbicara. "Uggh ...."Suara yang keluar terdengar sangat serak dan lirih. la seperti habis menelan seribu jarum pentul. Rasa sakitnya menikam seluruh bagian mulut dan tenggorokan Tamara. Ia pun merasa haus dan kering. Otaknya berpikir keras untuk mencari tahu penyebab tenggorokannya tidak enak. Di detik berikutnya, Tamara membatu. Telapak tangannya di leher gemetar samar. Kontan, Tamara bangun terduduk dengan gerakan mendadak. Ia menjambak dan mengacak-

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status