แชร์

Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku
Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku
ผู้แต่ง: Dudu

Bab 1

ผู้เขียน: Dudu
Setelah aku melepaskan jatah donor itu, ruangannya menjadi sunyi selama beberapa saat.

Yang pertama bereaksi adalah kakakku.

Dia mengernyit menatapku, seolah sedang memastikan apakah aku hanya sedang bersandiwara lagi.

“Benarkah?”

Aku mengangguk, “Ya.”

Begitu kata-kataku terucap, Ibu yang sedari tadi menguping di ujung lorong bergegas masuk.

Matanya masih memerah, tetapi wajahnya tidak mampu menyembunyikan kelegaan yang terlihat jelas.

“Claire, Ibu tahu kamu memang anak yang pengertian.”

Dia duduk di tepi ranjang dan hendak menggenggam tanganku. Namun aku refleks menghindar.

Tangannya membeku di udara, raut wajahnya seketika berubah canggung.

Ayah berdeham pelan berusaha mencairkan suasana, “Kalau sudah memutuskan, jangan berubah pikiran lagi.”

“Dokter bilang kondisi Layla sudah tidak bisa menunggu lagi. Surat persetujuan donor sebaiknya ditandatangani hari ini.”

Ternyata mereka bahkan sudah menyiapkan semua dokumennya. Setumpuk berkas tebal pun diletakkan di hadapanku. Di halaman paling atas tertulis jelas ….

[Surat Pernyataan Sukarela Melepaskan Hak sebagai Kandidat Penerima Donor Jantung]

Aku refleks tersenyum getir menatap kata “sukarela” itu.

Selama 3 bulan terakhir, mereka bergantian datang membujukku.

Ibu berkata adik angkatku masih sangat muda, dan sebagai kakak aku seharusnya mengalah.

Ayah berkata, hanya demi 1 jatah donor keluarga kami sampai ribut seperti ini. Jika sampai tersebar ke luar, nama baik Keluarga Brown akan tercoreng.

Sedangkan kakakku ....

Dia menghentikan biaya pengobatanku, menarik perawat yang selama ini menjagaku, bahkan membiarkan orang-orang di internet percaya bahwa akulah yang tega merebut kesempatan hidup adik angkatku.

Kini, setelah akhirnya aku menyerah ... mereka terburu-buru ingin memastikan semuanya tidak bisa diubah lagi.

Aku mengambil pena dan menandatangani setiap lembar dokumen satu per satu.

Kakakku berdiri di samping sambil mengawasi. Setelah goresan tanda tangan terakhir selesai, wajahnya yang tegang akhirnya sedikit mengendur.

“Nah, seharusnya memang begini.”

Dia mengambil kembali semua berkas itu, lalu nada bicaranya menjadi sedikit lebih lembut.

“Setelah Layla selesai operasi, Kakak akan mencarikan rumah sakit di luar negeri untukmu.”

Aku menatap surat kondisi kritis di meja samping ranjang, lalu bertanya lirih, “Bagaimana jika aku tidak sempat menunggu sampai saat itu?”

Kakakku terdiam sesaat.

Belum sempat menjawab, ponselnya pun berdering. Suara adik angkatku yang lemah dan penuh tangis terdengar dari seberang.

“Kak... dadaku sakit sekali ....”

Wajah kakakku langsung berubah, dia berbalik dan bergegas keluar. Ayah dan Ibu pun menyusul di belakangnya dengan panik.

Tidak seorang pun menoleh kepadaku ….

Tidak seorang pun mendengar alarm monitor jantungku yang tiba-tiba berbunyi nyaring ….

Saat dokter jaga berlari masuk, aku sudah meringkuk di atas ranjang karena menahan nyeri yang luar biasa.

Usai tindakan darurat selesai, dokter berdiri di samping ranjangku dengan wajah muram.

“Nona Brown, fungsi jantung Anda sekarang justru lebih buruk daripada Layla. Jatah donor itu sebenarnya diberikan kepada Anda berdasarkan tingkat kegawatan kondisi. Begitu melepaskannya, tidak ada yang bisa menjamin kapan akan ada donor yang cocok lagi.”

Aku menatap langit-langit ruangan yang putih bersih, “Berapa lama lagi aku bisa bertahan?”

Dokter terdiam cukup lama, “Paling lama, sekitar satu bulan.”

Tiba-tiba terdengar sorak gembira dari luar ruangan.

Suara Ibu yang menangis haru terdengar jelas menembus dinding, “Layla, jatah donor itu sekarang milikmu! Kamu akan selamat!”

Aku memiringkan tubuh, lalu membenamkan wajah ke dalam bantal.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-24.

Ayah, Ibu, bahkan Kakak juga lupa.

Namun tepat di hari ini ... mereka akhirnya mendapatkan hadiah yang paling mereka inginkan.

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Layla mengirimkan sebuah foto. Di dalam foto itu, dia berdiri di tengah dikelilingi Ayah, Ibu, dan Kakak.

Wajahnya masih pucat, tetapi senyum kemenangan di bibirnya begitu jelas.

[Terima kasih sudah memberikan kesempatan hidupmu kepadaku, Kak ….]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 9

    Setelah pemakaman selesai, ayah meminta Layla untuk pindah dari Keluarga Brown.Dia memberinya sebuah rumah dan sejumlah uang yang cukup untuk hidup, sebagai balas budi atas hubungan sebagai keluarga angkat selama bertahun-tahun.Ibu kembali membereskan kamarku.Dari gudang penyimpanan, dia menemukan piagam-piagam penghargaan semasa kecilku, kotak-kotak obat, dan boneka kelinci yang dulu diberikan kakakku.Salah satu telinga boneka itu sudah robek. Kakakku duduk di lantai, menjahitnya kembali dengan tangan yang canggung.Tiba-tiba dia teringat, setiap kali pergi ke rumah sakit, dulu aku selalu memeluk boneka itu, baru mau masuk ke ruang pemeriksaan.Namun belakangan mereka terlalu sibuk. Sampai-sampai tidak seorang pun menyadari bahwa selama dirawat di rumah sakit, aku bahkan tidak sempat membawa boneka kesayanganku.Sementara itu, Ayah membongkar seluruh album foto lama di rumah.Di setiap foto, aku selalu berdiri tepat di tengah.Namun setelah Layla datang ke Keluarga Brown, posisiku

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 8

    Ibu tiba-tiba teringat pada operasi pertamaku saat berusia 3 tahun.Waktu itu dokter mengatakan risikonya sangat besar. Ibu memelukku sambil menangis semalaman di lorong rumah sakit.Saat aku didorong masuk ke ruang operasi, dia mengejar ranjangku hingga jauh, berkali-kali berkata akan menungguku di luar.Ayah juga pernah membatalkan semua pekerjaannya hanya untuk mengantar dan menjemputku sekolah.Suatu kali aku pingsan di kelas. Karena terlalu terburu-buru hendak menjemputku, dia bahkan mengenakan sepatunya secara terbalik.Kemudian kakakku … sejak kecil, dia selalu melindungiku sepenuh hati.Saat teman-teman mengejekku sebagai anak yang tidak pernah lepas dari obat, dia langsung menghajar mereka.Saat aku kambuh di tengah malam, dia menggendongku berlari sejauh 3 kilometer ke rumah sakit. Bahkan ketika lututnya terjatuh hingga berdarah, dia tetap tidak mau berhenti.Dulu ... mereka begitu takut kehilanganku.Lalu kenapa ... mereka tidak takut lagi?Ibu tersungkur di samping laci pen

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 7

    Pisau kue di tangan ibu terlepas dan terjatuh ke lantai. Dia menatap kakakku dengan wajah tertegun.Bibir kakakku bergerak beberapa kali sebelum akhirnya berkata, “Rumah sakit bilang ... jenazah Claire belum ada yang mengambil.”Ibu sempat terpaku, lalu malah tertawa pelan.“Mana mungkin? Claire cuma pindah rumah sakit. Waktu usianya 18 tahun kondisinya jauh lebih parah dari sekarang, tetapi dia tetap bisa selamat, kan?”Wajah Ayah mengeras, “Ini pasti telepon penipuan. Kalau memang terjadi sesuatu di rumah sakit, kenapa baru menghubungi kita setelah setengah bulan?”Seolah teringat sesuatu, kakakku segera merogoh saku jaket yang beberapa kali dipakainya belakangan ini.Surat pemberitahuan kondisi kritis itu masih tersimpan di sana. Kertasnya sudah kusut karena diremas berkali-kali.Begitu melihat tulisan peringatan berwarna merah di atasnya, suara ayah langsung meninggi.“Kamu sudah menerima surat kondisi kritis ini, kenapa tidak menemui dokter?!”Kakakku membeku di tempat, “Kupikir d

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 6

    Selama setengah bulan Layla dirawat di rumah sakit, tidak ada seorang pun yang benar-benar mencariku.Ayah hanya menyuruh asistennya mencari tahu keberadaanku.Yang berhasil diketahui sang asisten hanyalah aku sudah tidak lagi berada di bangsal semula. Dari situ, mereka langsung menyimpulkan bahwa aku telah pindah ke rumah sakit lain diam-diam.“Dia sengaja menghindari kita.”Ayah membolak-balik berkas rencana pemulihan Layla dengan wajah dingin.“Dia pikir dengan begini kita akan merasa bersalah karena memilih melepaskannya.”Namun, Ibu diam-diam merasa gelisah, “Saat Claire pergi, kondisinya masih kritis. Apa dia benar-benar sanggup mengurus proses pindah rumah sakit sendirian?”Ayah tidak menjawab.Kakakku berdiri di dekat jendela, menatap layar percakapanku dalam diam.Pesan terakhir yang dia kirim adalah pertanyaan mengapa aku tidak mau memberikan gelang itu kepada Layla.Layla segera menggenggam tangan Ibu. Matanya memerah saat bertanya pelan, “Kak Claire ... masih menyalahkanku,

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 5

    [Pasien mengalami gagal jantung berat, sewaktu-waktu dapat terjadi henti jantung. Mohon keluarga segera datang ….]Kakak menatap kalimat itu tanpa berkedip, lalu hendak berlari.Namun tepat saat itu, pintu ruang operasi terbuka.Layla didorong keluar. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tetapi tanpa sadar jarinya mencengkeram ujung baju Kakak.“Kakak ....”Kakak menatap wajahnya yang pucat. Pada akhirnya, dia tidak sanggup melepaskan genggaman itu.Ibu melihat surat di tangan Kakak, lalu bertanya ragu, “Surat yang dibawa Claire tadi ... benar-benar surat kondisi kritis?”Tenggorokan Kakak terasa tercekat, “Dokter meminta keluarga untuk segera ke sana.”“Kalau begitu pergilah.”Ketika Ibu selesai berbicara, Layla tiba-tiba mengernyit kesakitan. Mereka yang baru saja sedikit tenang kembali mengerubunginya.Ayah menepuk bahu Kakak, “Dulu Claire juga berkali-kali menerima surat kondisi kritis, tetapi bukankah akhirnya dia selalu berhasil melewatinya?”“Ini operasi besar pertama Layla. Kal

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 4

    Di hari operasi Layla, salju pertama tahun ini turun menyelimuti rumah sakit. Sebelum matahari terbit, Ayah, Ibu, dan Kakak sudah berjaga di luar ruang rawatnya.Ibu menyisir rambutnya dengan telaten, Ayah berkali-kali memastikan tingkat risiko operasi kepada dokter.Sementara itu, Kakak berjongkok di samping ranjang dan mengalungkan jimat keselamatan yang seharusnya milikku itu ke lehernya.“Jangan takut. Kami semua akan menunggumu di luar.”Aku berdiri diam di ujung lorong, memandangi mereka dari kejauhan. Tidak seorang pun menyadari bahwa aku juga mengenakan pakaian pasien.Dini hari tadi, aku mengalami gagal jantung akut dan langsung dilarikan ke ICU.Dokter mengatakan kondisiku sudah tidak memungkinkan dirawat di bangsal biasa dan meminta keluarga menandatangani surat kondisi kritis.Namun mereka tidak berhasil menghubungi keluargaku. Akhirnya, perawat memintaku mencari mereka sendiri.Baru berjalan beberapa langkah, dadaku sudah terasa sangat sesak. Setiap tarikan napas terasa se

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status