Share

Bab 4

Author: Dudu
Di hari operasi Layla, salju pertama tahun ini turun menyelimuti rumah sakit. Sebelum matahari terbit, Ayah, Ibu, dan Kakak sudah berjaga di luar ruang rawatnya.

Ibu menyisir rambutnya dengan telaten, Ayah berkali-kali memastikan tingkat risiko operasi kepada dokter.

Sementara itu, Kakak berjongkok di samping ranjang dan mengalungkan jimat keselamatan yang seharusnya milikku itu ke lehernya.

“Jangan takut. Kami semua akan menunggumu di luar.”

Aku berdiri diam di ujung lorong, memandangi mereka dari kejauhan. Tidak seorang pun menyadari bahwa aku juga mengenakan pakaian pasien.

Dini hari tadi, aku mengalami gagal jantung akut dan langsung dilarikan ke ICU.

Dokter mengatakan kondisiku sudah tidak memungkinkan dirawat di bangsal biasa dan meminta keluarga menandatangani surat kondisi kritis.

Namun mereka tidak berhasil menghubungi keluargaku. Akhirnya, perawat memintaku mencari mereka sendiri.

Baru berjalan beberapa langkah, dadaku sudah terasa sangat sesak. Setiap tarikan napas terasa seperti sebilah pisau berkarat yang perlahan mengaduk dadaku.

Ibu adalah orang pertama yang melihatku, dia segera menghampiri dan menopang lenganku.

Aku sempat tertegun.

“Claire, kebetulan sekali kamu datang. Layla ingin mendengarmu memaafkannya sebelum masuk ruang operasi.”

Aku menunduk.

Layla terbaring di ranjang dorong sambil menggenggam erat tangan Kakak. Dengan mata yang memerah, dia menatapku.

“Kak, aku tahu Kakak sebenarnya tidak rela melepaskan kesempatan operasi ini. Kalau masih sempat menunggu, aku juga tidak akan merebutnya darimu.”

Ibu semakin terisak karena iba, “Anak baik ... ini bukan salahmu.”

Ayah menoleh kepadaku sambil mengernyit, “Claire, jangan biarkan dia masuk ruang operasi dengan beban di hatinya.”

Dadaku begitu sakit hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Namun mereka mengira aku masih enggan memaafkannya.

Kakak berdiri dan menarikku ke samping dengan kasar, “Sampai sekarang pun kamu masih mau membuat masalah?”

Lenganku membentur dinding. Surat kondisi kritis yang kuselipkan di dada terjatuh ke lantai.

Pandangan Kakak langsung tertuju ke sana. Di bagian paling atas, nama lengkapku tercetak jelas.

Ekspresinya pun membeku, “Apa ini?”

“Dokter bilang ....”

Aku terengah-engah cukup lama sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan suara.

“Harus ditandatangani oleh keluarga.”

Kakak mengambil surat itu. Namun saat hendak membacanya lebih lanjut, Layla tiba-tiba menangis memanggilnya.

“Kak ... aku takut.”

Kakak pun langsung menoleh. Dokter pun kembali mengingatkan bahwa waktu operasi sudah tiba.

Dengan tergesa-gesa, dia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku.

“Kamu kembali ke kamar dulu. Begitu Layla masuk ruang operasi, aku akan menemui dokternya.”

Aku menatapnya, “Apa Kakak akan datang?”

Keningnya semakin berkerut, “Claire, kapan aku pernah membohongimu?”

Aku tidak ingin mengingatkannya.

Dulu dia pernah berjanji akan merayakan ulang tahunku yang ke-24, tetapi dia tidak pernah datang.

Dia pernah berkata akan membelikan gelang itu untukku, namun justru memberikannya pada Layla.

Kakak juga berjanji akan mengembalikan jimat peninggalan Nenek, tetapi kini benda itu tergantung di leher adik yang lain.

Janji-janjinya ... sudah lama bukan lagi untukku.

Perawat mendorong Layla masuk ke ruang operasi.

Begitu lampu merah menyala, seluruh keluargaku berkumpul di depan pintu operasi. Sementara aku hanya bisa berpegangan pada dinding, perlahan berjalan kembali.

Saat tiba di tikungan lorong, kudengar Ibu bertanya lirih, “Kertas yang dibawa Claire tadi ... apa itu surat kondisi kritis?”

Kakak terdiam beberapa saat, “Dulu dia juga pernah menerima surat seperti itu.”

Ayah menghela napas, “Sejak kecil kesehatannya memang buruk. Kelihatannya selalu parah, tetapi pada akhirnya dia selalu berhasil melewatinya.”

“Kita urus Layla dulu. Claire sudah terbiasa bertahan.”

Aku berhenti melangkah.

Detak jantungku terus menurun drastis. Rasa sakit membuatku hampir tidak bisa bernapas. Pandanganku mulai kabur. Defibrilator berkali-kali menghantam dadaku.

Dalam samar-samar kesadaranku, kulihat diriku saat masih kecil.

Aku duduk di bangku rumah sakit dengan elektroda menempel di dada.

Ibu memelukku sambil menangis. Ayah berjaga di samping ranjangku semalaman tanpa memejamkan mata. Kakak menggunakan seluruh uang jajannya selama 6 bulan untuk membelikanku boneka kelinci.

Waktu itu mereka semua hanya berkata, “Asal kamu bisa bertahan hidup, itu sudah cukup.”

Dan memang, aku berkali-kali berhasil bertahan. Lambat laun mereka pun terbiasa melihatku sakit.

Terbiasa melihatku kuat. Dan terbiasa ... memilih melepaskanku setiap kali harus menentukan pilihan.

Monitor jantung mengeluarkan bunyi panjang yang memekakkan telinga.

Kali ini ... tidak akan ada lagi yang memperebutkan kesempatan hidup dengan Layla.

Di luar ruang operasi, terdengar kabar bahwa operasi Layla berjalan sukses.

Ibu menangis haru. Ayah berkali-kali berterima kasih kepada dokter. Namun pada saat itulah, Kakak merasakan selembar kertas yang terlupakan di dalam sakunya.

Dia mengeluarkan lalu membukanya.

Saat membaca kalimat yang ditulis dokter di sana ... wajahnya pucat pasi seketika.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 9

    Setelah pemakaman selesai, ayah meminta Layla untuk pindah dari Keluarga Brown.Dia memberinya sebuah rumah dan sejumlah uang yang cukup untuk hidup, sebagai balas budi atas hubungan sebagai keluarga angkat selama bertahun-tahun.Ibu kembali membereskan kamarku.Dari gudang penyimpanan, dia menemukan piagam-piagam penghargaan semasa kecilku, kotak-kotak obat, dan boneka kelinci yang dulu diberikan kakakku.Salah satu telinga boneka itu sudah robek. Kakakku duduk di lantai, menjahitnya kembali dengan tangan yang canggung.Tiba-tiba dia teringat, setiap kali pergi ke rumah sakit, dulu aku selalu memeluk boneka itu, baru mau masuk ke ruang pemeriksaan.Namun belakangan mereka terlalu sibuk. Sampai-sampai tidak seorang pun menyadari bahwa selama dirawat di rumah sakit, aku bahkan tidak sempat membawa boneka kesayanganku.Sementara itu, Ayah membongkar seluruh album foto lama di rumah.Di setiap foto, aku selalu berdiri tepat di tengah.Namun setelah Layla datang ke Keluarga Brown, posisiku

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 8

    Ibu tiba-tiba teringat pada operasi pertamaku saat berusia 3 tahun.Waktu itu dokter mengatakan risikonya sangat besar. Ibu memelukku sambil menangis semalaman di lorong rumah sakit.Saat aku didorong masuk ke ruang operasi, dia mengejar ranjangku hingga jauh, berkali-kali berkata akan menungguku di luar.Ayah juga pernah membatalkan semua pekerjaannya hanya untuk mengantar dan menjemputku sekolah.Suatu kali aku pingsan di kelas. Karena terlalu terburu-buru hendak menjemputku, dia bahkan mengenakan sepatunya secara terbalik.Kemudian kakakku … sejak kecil, dia selalu melindungiku sepenuh hati.Saat teman-teman mengejekku sebagai anak yang tidak pernah lepas dari obat, dia langsung menghajar mereka.Saat aku kambuh di tengah malam, dia menggendongku berlari sejauh 3 kilometer ke rumah sakit. Bahkan ketika lututnya terjatuh hingga berdarah, dia tetap tidak mau berhenti.Dulu ... mereka begitu takut kehilanganku.Lalu kenapa ... mereka tidak takut lagi?Ibu tersungkur di samping laci pen

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 7

    Pisau kue di tangan ibu terlepas dan terjatuh ke lantai. Dia menatap kakakku dengan wajah tertegun.Bibir kakakku bergerak beberapa kali sebelum akhirnya berkata, “Rumah sakit bilang ... jenazah Claire belum ada yang mengambil.”Ibu sempat terpaku, lalu malah tertawa pelan.“Mana mungkin? Claire cuma pindah rumah sakit. Waktu usianya 18 tahun kondisinya jauh lebih parah dari sekarang, tetapi dia tetap bisa selamat, kan?”Wajah Ayah mengeras, “Ini pasti telepon penipuan. Kalau memang terjadi sesuatu di rumah sakit, kenapa baru menghubungi kita setelah setengah bulan?”Seolah teringat sesuatu, kakakku segera merogoh saku jaket yang beberapa kali dipakainya belakangan ini.Surat pemberitahuan kondisi kritis itu masih tersimpan di sana. Kertasnya sudah kusut karena diremas berkali-kali.Begitu melihat tulisan peringatan berwarna merah di atasnya, suara ayah langsung meninggi.“Kamu sudah menerima surat kondisi kritis ini, kenapa tidak menemui dokter?!”Kakakku membeku di tempat, “Kupikir d

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 6

    Selama setengah bulan Layla dirawat di rumah sakit, tidak ada seorang pun yang benar-benar mencariku.Ayah hanya menyuruh asistennya mencari tahu keberadaanku.Yang berhasil diketahui sang asisten hanyalah aku sudah tidak lagi berada di bangsal semula. Dari situ, mereka langsung menyimpulkan bahwa aku telah pindah ke rumah sakit lain diam-diam.“Dia sengaja menghindari kita.”Ayah membolak-balik berkas rencana pemulihan Layla dengan wajah dingin.“Dia pikir dengan begini kita akan merasa bersalah karena memilih melepaskannya.”Namun, Ibu diam-diam merasa gelisah, “Saat Claire pergi, kondisinya masih kritis. Apa dia benar-benar sanggup mengurus proses pindah rumah sakit sendirian?”Ayah tidak menjawab.Kakakku berdiri di dekat jendela, menatap layar percakapanku dalam diam.Pesan terakhir yang dia kirim adalah pertanyaan mengapa aku tidak mau memberikan gelang itu kepada Layla.Layla segera menggenggam tangan Ibu. Matanya memerah saat bertanya pelan, “Kak Claire ... masih menyalahkanku,

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 5

    [Pasien mengalami gagal jantung berat, sewaktu-waktu dapat terjadi henti jantung. Mohon keluarga segera datang ….]Kakak menatap kalimat itu tanpa berkedip, lalu hendak berlari.Namun tepat saat itu, pintu ruang operasi terbuka.Layla didorong keluar. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tetapi tanpa sadar jarinya mencengkeram ujung baju Kakak.“Kakak ....”Kakak menatap wajahnya yang pucat. Pada akhirnya, dia tidak sanggup melepaskan genggaman itu.Ibu melihat surat di tangan Kakak, lalu bertanya ragu, “Surat yang dibawa Claire tadi ... benar-benar surat kondisi kritis?”Tenggorokan Kakak terasa tercekat, “Dokter meminta keluarga untuk segera ke sana.”“Kalau begitu pergilah.”Ketika Ibu selesai berbicara, Layla tiba-tiba mengernyit kesakitan. Mereka yang baru saja sedikit tenang kembali mengerubunginya.Ayah menepuk bahu Kakak, “Dulu Claire juga berkali-kali menerima surat kondisi kritis, tetapi bukankah akhirnya dia selalu berhasil melewatinya?”“Ini operasi besar pertama Layla. Kal

  • Kurelakan Jantung Itu untuk Adik Angkatku   Bab 4

    Di hari operasi Layla, salju pertama tahun ini turun menyelimuti rumah sakit. Sebelum matahari terbit, Ayah, Ibu, dan Kakak sudah berjaga di luar ruang rawatnya.Ibu menyisir rambutnya dengan telaten, Ayah berkali-kali memastikan tingkat risiko operasi kepada dokter.Sementara itu, Kakak berjongkok di samping ranjang dan mengalungkan jimat keselamatan yang seharusnya milikku itu ke lehernya.“Jangan takut. Kami semua akan menunggumu di luar.”Aku berdiri diam di ujung lorong, memandangi mereka dari kejauhan. Tidak seorang pun menyadari bahwa aku juga mengenakan pakaian pasien.Dini hari tadi, aku mengalami gagal jantung akut dan langsung dilarikan ke ICU.Dokter mengatakan kondisiku sudah tidak memungkinkan dirawat di bangsal biasa dan meminta keluarga menandatangani surat kondisi kritis.Namun mereka tidak berhasil menghubungi keluargaku. Akhirnya, perawat memintaku mencari mereka sendiri.Baru berjalan beberapa langkah, dadaku sudah terasa sangat sesak. Setiap tarikan napas terasa se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status