Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Aku Kembali (part 2)

Share

Aku Kembali (part 2)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-09-16 22:25:08

Wandi menangis. "Aku sayang Noval, Lestari. Aku sayang dia seperti anak kandungku sendiri."

"Aku tahu, Wandi. Dan aku berterima kasih untuk itu. Sekarang, kembalilah ke dunia. Kembalilah ke Arini dan Noval. Mereka membutuhkanmu."

Wandi mengangguk. "Aku akan kembali, Lestari. Aku janji."

"Selamat jalan, Wandi. Sampai kita bertemu lagi."

Lestari tersenyum sekali lagi, lalu mulai memudar. Seperti kabut yang ditelan matahari. Seperti bayangan yang hilang di siang hari.

Penjaga keris juga mulai memu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Aku Kembali (part 2)

    Wandi menangis. "Aku sayang Noval, Lestari. Aku sayang dia seperti anak kandungku sendiri.""Aku tahu, Wandi. Dan aku berterima kasih untuk itu. Sekarang, kembalilah ke dunia. Kembalilah ke Arini dan Noval. Mereka membutuhkanmu."Wandi mengangguk. "Aku akan kembali, Lestari. Aku janji.""Selamat jalan, Wandi. Sampai kita bertemu lagi."Lestari tersenyum sekali lagi, lalu mulai memudar. Seperti kabut yang ditelan matahari. Seperti bayangan yang hilang di siang hari.Penjaga keris juga mulai memudar. "Wandi, jangan lupa tugasmu. Jangan menyerah. Aku akan selalu bersamamu, melalui keris ini.""Terima kasih, Kakek."---Empat ratus kilometer di atas permukaan Bumi, di dalam pesawat alien berbentuk kristal hitam, suasana masih tegang. Layar holografik menampilkan gambar Wandi yang tergeletak di teras rumahnya, dengan Arini dan Noval yang menangis di sampingnya. Angka di atas kepala Wandi, angka sisa waktu kehidupan, kini berubah menjadi merah. Merah menyala. Merah yang menandakan bahwa kem

  • Kurir Pemilik Sistem   Aku Kembali (part 1)

    Wandi membuka matanya. Dia tidak lagi berada di teras rumahnya. Dia tidak lagi merasakan sakit di punggungnya. Dia tidak lagi mendengar tangisan Arini dan Noval.Dia berdiri di sebuah padang rumput yang luas. Rumputnya hijau segar, setinggi mata kaki, bergoyang-goyang ditiup angin yang sejuk. Langit di atasnya biru cerah dengan awan putih tipis yang bergerak lambat. Di kejauhan, terlihat sebuah gunung dengan puncak yang menjulang tinggi, ditutupi salju abu-abu. Udara sejuk dan segar, seperti di pegunungan. Burung-burung berkicau riang di pepohonan yang tumbuh di pinggir padang rumput.Wandi menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun. Hanya dia, rumput, langit, dan gunung."Di mana aku? Apakah ini... alam batin? Atau surga?"Dia berjalan perlahan, kakinya yang telanjang, dia tidak memakai alas kaki di sini, merasakan rumput yang lembut dan sedikit basah karena embun. Angin berhembus lagi, membawa aroma bunga liar dan tanah basah. Wandi menarik napas dalam-dalam. Udara terasa menyeg

  • Kurir Pemilik Sistem   Dalam Kegelapan (part 2)

    Andre menangis lagi. Tangis yang lebih dalam, lebih putus asa."Aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa memperbaiki apa yang telah aku lakukan. Aku hanya bisa... menunggu. Menunggu polisi menangkapku. Menunggu Tina dan Nila meninggalkanku. Menunggu... kematianku."Andre mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Jari-jarinya yang gemetar menekan nomor Tina.Tuut... tuut... tuut..."Selamat pagi, And!" suara Tina dari seberang terdengar ceria. "Kamu sudah di kantor?"Andre terdiam sejenak. Air matanya terus mengalir."Tin... aku...""Kenapa, And? Suaramu aneh. Kamu sakit?"Andre tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menangis di seberang telepon."Tin... maafkan aku... aku... aku telah melakukan sesuatu yang mengerikan...""Apa maksudmu, And? Kamu di mana? Kenapa kamu menangis?""Tin... aku... aku mencintaimu. Aku mencintai Nila. Maafkan aku...""Apa yang terjadi, And? Kamu membuatku takut!"Andre tidak menjawab. Dia menutup telepon, lalu mematikan ponselnya.Andre duduk di lantai gudang yang ge

  • Kurir Pemilik Sistem   Dalam Kegelapan (part 1)

    Gudang itu gelap. Hanya sesekali cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah atap seng yang bocor, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai beton yang retak. Debu-debu beterbangan di udara, berputar-putar dalam aliran cahaya, seperti jutaan bintang kecil yang menari. Bau apek, minyak tanah, dan tanah basah menyengat di setiap sudut. Di beberapa tempat, air merembes dari dinding yang lembab, menciptakan genangan-genangan kecil di lantai yang sudah usang. Beberapa tikus berlarian di sudut-sudut gelap, tidak peduli dengan kehadiran manusia yang baru saja masuk ke dalam wilayah mereka.Andre duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang dingin dan kasar. Kakinya terentang di depan, tidak bergerak. Tangannya yang masih gemetar, tergeletak di pangkuannya. Matanya yang tadinya penuh amarah dan kebencian, kini menjadi kosong, sayu, dan penuh dengan ketakutan. Wajahnya pucat pasi, tidak ada warna sama sekali, seperti orang yang baru saja melihat hantu. Ramb

  • Kurir Pemilik Sistem   Tikaman di Punggung (part 3)

    Di tengah kepanikannya, bayangan Tina dan Nila muncul di benak Andre. Tina yang tersenyum ramah setiap pagi. Tina yang memasak makan malam untuknya. Tina yang memeluknya sebelum tidur. Nila yang memanggilnya "Ayah" dengan penuh kasih. Nila yang tertawa ketika dia menggelitik perutnya. Nila yang memeluknya erat ketika dia pulang kerja."Tina... Nila... apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tahu? Apa yang akan mereka katakan jika mereka tahu bahwa aku menusuk Wandi? Apa yang akan mereka lakukan jika aku dipenjara?"Andre mengepalkan setir. Air matanya mulai mengalir."Aku tidak bisa kehilangan mereka. Aku tidak bisa kehilangan Tina dan Nila. Mereka adalah segalanya bagiku."Tapi kemudian, bayangan lain muncul. Bayangan Wandi yang tergeletak di teras. Bayangan Noval yang menangis di sampingnya. Bayangan Arini yang berteriak histeris."Aku sudah melakukannya. Aku sudah menusuk Wandi. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah... melarikan diri."Andre menge

  • Kurir Pemilik Sistem   Tikaman di Punggung (part 2)

    Andre berdiri di atas mereka. Pisau di tangannya masih berlumuran darah. Wajahnya yang tadinya penuh amarah, kini berubah menjadi dingin. Matanya menatap Wandi yang tergeletak."Wandi... akhirnya... kamu mati."Andre berlari ke arah mobilnya. Dia masuk ke dalam Innova, menyalakan mesin, dan melaju kencang meninggalkan kompleks perumahan. Suara knalpot Innova menghilang di tikungan.Noval masih berlutut di samping Wandi. Air matanya mengalir deras. Tangannya yang kecil mencoba menutup luka di punggung Wandi, tetapi darah terus mengucur."PA! PA! BANGUN, PA! PAPA JANGAN TIDUR!" teriak Noval, suaranya pecah, nyaris seperti jeritan.Arini berlari keluar rumah. Dia melihat Wandi yang tergeletak di teras, berlumuran darah. Dia melihat Noval yang menangis di sampingnya."WAN! WAN!" teriak Arini.Dia berlutut di samping Wandi, memegang kepalanya. "Wan, buka mata! WAN!"Wandi membuka mata. Matanya sayu, tetapi masih ada cahaya di sana."Rin... Noval... maafkan aku..." bisik Wandi. "Aku... gaga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status