登入"Yang aku tahu, sekarang, di sini, di dalam mobil ini, aku tidak bisa lagi memungkiri perasaanku. Aku mencintaimu, Arini."Air mata Arini jatuh.Bukan deras. Bukan isak tangis. Tapi tetes demi tetes, perlahan, mengalir di pipinya yang mulus. Dia tidak menyeka. Dia membiarkan air matanya jatuh, membasahi kemeja putihnya yang rapi."Mas Wandi..." suara Arini pecah, "aku... aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama. Sejak malam di tebing, ketika kamu bilang kamu mulai melupakan Tina. Sejak kamu bilang aku adalah alasan kamu tersenyum setiap pagi. Sejak kamu... menyelamatkan nyawaku."Arini meraih tangan Wandi dengan kedua tangannya. Dia menggenggamnya erat, seperti tidak mau melepaskan."Mas Wandi, aku juga cinta kamu. Aku cinta kamu sejak pertama kali kamu bilang, 'Mbak, angka Mbak merah. Mbak akan mati.' Waktu itu aku kira kamu orang gila. Tapi kemudian kamu membuktikan bahwa kamu tidak gila. Kamu menyelamatkanku. Dan semenjak itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu."Mereka ber
Arini menoleh. Matanya bertemu dengan mata Wandi."Rin, jangan dulu," bisik Wandi.Arini mengerjap. "Ada apa, Mas?"Wandi tidak menjawab. Dia menatap Arini dalam-dalam. Matanya yang hitam pekat itu menatap mata Arini yang juga hitam, seperti dua cermin yang saling berhadapan. Di balik matanya, ada kegelisahan. Ada keraguan. Ada ketakutan. Tapi juga ada tekad."Rin, aku... aku mau bilang sesuatu," ucap Wandi, suaranya sedikit serak.Arini melepaskan gagang pintu. Dia membalikkan badannya, duduk kembali menghadap Wandi. Tangannya yang masih dipegang Wandi, tidak dia tarik."Bilang apa, Mas?"Wandi menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Jantungnya berdebar kencang, seperti mau copot. Dia tidak pernah se-gugup ini. Bahkan ketika pertama kali bertemu Arini di taman, ketika dia harus menarik tangan Arini dan menyelamatkannya dari truk yang meluncur, dia tidak segugup ini. Bahkan ketika dia menjual gantungan kunci Majapahit senilai 215 juta, dia tidak segugup ini. Bahkan ketika dia mener
Mobil BMW melaju meninggalkan kompleks Arini, menuju kantornya di kawasan SCBD. Jalanan mulai sedikit ramai karena orang-orang yang pergi ke gereja atau sekadar jalan-jalan. Wandi mengemudi dengan tenang, sesekali menoleh ke Arini yang sedang sibuk membuka laptop dan membaca dokumen."Rin, kamu di mobil juga kerja mulu. Santai dikit," tegur Wandi."Santai? Meeting dengan investor itu nggak bisa santai, Mas. Mereka tipe orang yang kalau lihat satu angka aja salah, langsung cabut pendanaan.""Kamu pasti bisa. Kamu kan CEO hebat."Arini tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Makasih, Mas."Mereka berdua terdiam beberapa saat. Wandi menikmati perjalanan, sesekali melihat ke spion, sesekali melihat ke Arini yang sedang serius membaca. Dia teringat pada kejadian semalam. Pertemuan tak terduga dengan Tina. Rasa kacau yang sempat menghampiri. Dan keputusan yang dia buat untuk tidak lagi memikirkan masa lalu."Rin, aku mau cerita sesuatu," ucap Wandi akhirnya.Arini mengangk
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Wandi sudah bangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Biasanya di hari Minggu seperti ini, dia akan tidur lebih lama, bermalas-malasan di kasur, menikmati sepi tanpa agenda. Tapi hari ini berbeda. Hari ini dia akan menjemput Arini. Bukan untuk pergi ke tebing atau makan malam romantis, tapi untuk mengantarkannya ke kantor.Ya, kantor. Hari Minggu pun Arini tetap bekerja. Menjadi CEO startup tidak mengenal hari libur, katanya. Ada meeting dengan investor dari Singapura jam sembilan pagi, dan dia harus hadir dengan persiapan matang.Wandi bangkit dari kasur. Tubuhnya terasa segar, tidak seperti biasanya. Mungkin karena tidurnya nyenyak semalam. Mungkin karena pikirannya tenang setelah memutuskan untuk tidak lagi terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Atau mungkin karena dia tahu bahwa hari ini dia akan bertemu Arini.Dia berjalan ke kamar mandi, membuka keran air, dan membiarkan air hangat mengalir di atas tubuhnya. Uap air
Wandi menghela napas. Dia tidak ingin bercerita panjang lebar. Tidak ingin menjelaskan tentang kecelakaan, tentang kemampuan super, tentang meteorit, tentang NASA. Terlalu panjang. Terlalu rumit. Dan dia tidak ingin terlihat seperti orang gila di depan Tina."Ceritanya panjang, Tin. Lain kali saja."Tina terdiam. Dia merasakan ada dinding di antara mereka. Dinding yang dia sendiri yang membangun ketika memutuskan pergi. Sekarang, dinding itu tidak bisa dia tembus."Wandi, aku... aku minta maaf. Untuk semuanya.""Maaf buat apa?""Untuk dulu. Aku pergi. Aku memilih Andre. Aku meninggalkan kamu. Aku... tidak percaya dengan kemampuanmu."Wandi tersenyum tipis. "Tidak perlu minta maaf, Tin. Kamu memilih yang terbaik untuk dirimu dan Nila. Aku tidak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan saat itu. Andre bisa.""Tapi sekarang kamu....""Sekarang aku baik-baik saja, Tin. Aku sudah punya kehidupan baru. Punya kemampuan yang tidak kamu percaya dulu. Punya uang. Punya... seseorang."Tina mengerj
Wandi tidak sempat memproses semuanya karena pengemudi Innova, sudah mulai bersuara dengan nada tinggi."Gimana sih, Mas?! Bisa nyetir nggak, sih?!" Andre mengangkat kedua tangannya, gesture frustrasi. Wajahnya merah padam, mungkin karena marah, mungkin karena kaget. "Lampu sudah kuning, Mas! Harusnya Mas sudah siap-siap berhenti! Bukan malah jalan terus! Saya sudah klakson dari jauh! Saya kira Mas tidak lihat!"Wandi terdiam. Tidak menjawab. Matanya masih tertuju ke kursi penumpang, ke Tina yang masih duduk dengan mulut terbuka.Andre mengernyit. Dia menoleh ke arah tatapan Wandi, lalu mengikuti ke arah Tina. Wajah Tina yang pucat pasi membuat Andre bertanya-tanya."Tin? Kamu kenapa?" tanya Andre.Tina tidak menjawab. Dia malah membuka pintu mobilnya, perlahan, seperti orang yang berjalan dalam mimpi, dan turun. Kaki jenjangnya yang memakai sepatu pantofel hitam menginjak aspal. Dia berdiri di samping mobil, menatap Wandi dari ujung rambut sampai ujung kaki."Wandi..." suara Tina ham







