Share

Bab 2

Author: RIANNA ZELINE
last update Last Updated: 2025-03-19 15:33:27

Aku memasukkan lipstick itu ke dalam saku piyama. Lalu beralih menuju lemari pakaian untuk mengambilkan piyama Mas Evan. Rasanya pikiranku sudah tidak bisa lagi untuk tetap tenang. Bahkan aku juga gelisah dan tak sabar menunggunya keluar.

Begitu pintu kamar mandi terbuka, kulihat Mas Evan keluar dengan handuk putih yang melilit pinggang. Sementara tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah usai keramas dengan handuk lainnya.

Aku berdiri, menatapnya dengan beribu tanya yang memenuhi kepala. Rasanya terlalu sulit mengeluarkan pertanyaan tentang lipstick itu padanya. Bukan tak berani, hanya saja aku sedang menyusun kalimat yang tepat agar tidak membuatnya merasa dicurigai.

“Ada apa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan, Sayang?” tanya Mas Evan sambil mendekat padaku.

Aku tersenyum tipis. Lalu kuambil dan kuperlihatkan lipstick itu padanya. “Aku menemukannya jatuh dari saku tas kamu, Mas.”

Mas Evan menunduk, menatap lipstick di tanganku dengan ekspresi yang biasa. Tak ada kegugupan yang terlihat di raut wajahnya.

“Oh, ini tadi Mas nemu di parkiran. Mas pikir mungkin milik karyawan yang terjatuh, makanya Mas ambil. Rencananya besok Mas akan minta bantuan Vania untuk mencari pemiliknya,” jawab Mas Evan disertai dengan senyuman, seolah itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan.

Mas Evan melangkah mendekati ranjang dan mengambil piyama yang sudah kusiapkan. Tanpa ke kamar mandi, ia melepas handuk yang melilit di pinggangnya dan langsung memakai piyama di hadapanku saat itu juga. Sedangkan aku masih terdiam. Bukan karena terpaku melihat pemandangan yang sudah biasa Mas Evan lakukan, tapi aku masih memikirkan lipstick yang sampai saat ini justru membuatku semakin penasaran.

Setelah menggantung handuk, Mas Evan naik ke atas ranjang. Menatapku dengan senyuman hangat, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. Isyarat untuk memintaku berbaring bersamanya.

Aku tak bisa menolak. Kuukir senyum lembut lalu mengambil tempat untuk berbaring di sisinya. Dengan penuh kasih sayang seperti hari-hari biasanya, Mas Evan meletakkan lengannya untuk kujadikan bantal. Dan begitu kepalaku sudah berbaring di atas lengannya, tangan Mas Evan yang lain langsung melingkar di pinggangku dan memelukku dengan begitu erat.

“Kamu pasti kepikiran soal lipstick itu, ‘kan?” tebaknya.

Aku mengangguk kecil dalam dekapannya, seketika pelukan Mas Evan semakin erat kurasa.

“Apa kamu curiga, hm?” tanyanya sembari mengecup puncak kepalaku berkali-kali. “Atau kamu mau juga yang warna seperti itu?” tambahnya.

“Aku tidak suka warna seperti itu. Merah menyala, rasanya terlalu mencolok bagiku,” jawabku. Memang sejak dulu aku tidak menyukai warna itu, dan Mas Evan pun sudah tahu.

“Siapa tahu kamu ingin mencobanya,” ucapnya dengan kekehan kecil. “Kalau kamu penasaran, kamu bisa membawanya ke kantor dan bertanya langsung pada para staf,” lanjutnya. Terdengar tenang tapi sangat serius, seolah itu bukan masalah.

Aku tak menjawab. Kulingkarkan tanganku memeluk tubuhnya erat. Kuhirup aroma tubuhnya yang selalu membuatku merasa nyaman. Berharap hal itu bisa mengusir setiap kegundahan yang kurasakan. Namun, tetap saja hati dan pikiranku terus berperang meski mataku sudah terpejam. Antara curiga dan percaya, bagai dua mata uang yang saat ini sulit untuk kupisahkan.

***

Pagi ini masih seperti pagi biasanya, aku mengantar Mas Evan sampai di depan rumah saat ia akan berangkat bekerja. Sebagai CEO perusahaan, Mas Evan sangat rajin bekerja dan jarang absen kecuali untuk hal yang sangat mendesak. Sehingga hari-hari yang kujalani pun sudah terbiasa tanpanya.

“Hati-hati di rumah, ya? Kalau ingin pergi ke mana pun jangan lupa memberi kabar. Supaya Mas gak khawatir,” ujarnya seperti biasa. Lalu mengecup keningku dengan penuh rasa.

“Iya, Mas. Kamu juga hati-hati, ya? Jangan nakal!” sindirku, tetap dengan senyuman seolah sedang menggodanya.

Mas Evan tertawa kecil sambil mencubit hidungku gemas. “Iya, Sayang. Jangan khawatir,” ujarnya.

Ketika Mas Evan melangkah menuju mobil, aku memandang punggungnya dengan perasaan yang sulit kumengerti. Aku merasa tidak ada yang berubah darinya. Sikapnya tetap lembut, hangat dan penuh perhatian seperti biasa. Apakah tidak keterlaluan jika aku mencurigainya?

Setelah Mas Evan melambaikan tangan dan melajukan mobilnya keluar, aku segera masuk ke dalam rumah. Kuraih ponsel dan segera kuhubungi Selina, tangan kananku di perusahaan tempat Mas Evan bekerja. Perusahaan orang tuaku yang sudah kukembangkan hingga menjadi semakin besar seperti sekarang. Jadi, akulah Co-Founder pada perusahaan tersebut.

“Halo, Bu Dinara. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Selina dari seberang telepon.

“Temui saya di Junior Cafe jam sepuluh pagi ini,”kataku dengan nada tegas.

“Baik, saya akan ke sana. Ada lagi?”

“Tidak, itu saja. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu di sana.”

Aku mematikan panggilan begitu selesai bicara dengan Selina. Kugenggam erat ponsel di depan dada. Kuyakinkan diri bahwa aku harus menyelidiki semuanya, sebelum Mas Evan melangkah lebih jauh dari yang aku bayangkan.

Dalam perjalanan, aku lebih banyak diam. Menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Namun, pikiranku rasanya begitu sibuk dengan banyaknya praduga, juga menyusun rencana jika semua kecurigaanku benar adanya.

Ting!

Setelah pesan misterius kemarin, jantungku selalu berdebar setiap kali bunyi notifikasi terdengar. Namun rasa penasaran juga membuatku langsung mengecek siapa yang mengirim pesan. Dan benar saja, nomor asing itu mengirim sebuah foto yang memperlihatkan berbagai macam hidangan mewah di atas meja. Foto itu juga disertai dengan caption: [Makan malam romantis. Terima kasih, Sayang]

Kuhela napas panjang dan mengabaikan pesan. Bagaimanapun aku harus tetap bersikap tenang. Lalu kulihat jam di pergelangan tangan. Pukul 08.30 pagi. Aku sudah tiba di tempat tujuan pertama. Setelah turun dari mobil, aku menatap sopir pribadiku, Pak Edi, lalu berkata, “Tolong jangan beri tahu Mas Evan jika saya datang ke sini.”

“Baik, Bu. Saya mengerti,” jawabnya sambil mengangguk sopan.

Begitu masuk toko bunga, aku disambut seorang karyawan. Dia menyapaku dengan ramah dan sopan. Seperti biasanya dia akan menanyakan keperluan dan juga menawarkan beberapa koleksi bunga terbaru di sana. Namun, sebelum dia berbicara lebih jauh, aku segera memotong ucapannya.

“Begini, bisa saya bertemu dengan Bu Aura? Saya ada perlu dengannya.”

“Oh, jadi Bu Dinara ingin bertemu dengan Bu Aura. Kalau begitu mari saya antar, Bu Aura ada di ruangannya.”

Aku mengikuti langkah karyawan itu hingga tiba di dalam ruangan di mana Bu Aura bekerja. Melihat kedatanganku, wanita yang berusia empat puluhan tahun itu langsung berdiri dan menyambutku dengan senyum ramah.

“Wah, Bu Dinara! Apa kabar? Senang sekali bisa bertemu Anda langsung pagi ini,” serunya. Wajahnya tampak senang melihat kedatanganku.

Aku tersenyum, hampir terkekeh kecil. “Saya juga senang bisa bertemu Bu Aura. Rasanya sudah lama saya tidak datang ke sini, ya?”

“Tidak apa-apa, Bu. Saya tahu Bu Dinara juga sibuk. Oh ya, apa ada yang bisa saya bantu?”

Aku mengambil napas sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Begini Bu Aura, saya ingin tahu apakah suami saya membeli bunga di sini belakangan ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 72

    Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Menunggu seseorang yang kini terasa sangat penting bagiku. Seseorang yang kini menjadi harapan untuk kesembuhan anakku. Sementara Revan sudah mulai dipindahkan ke ruang operasi. Begitu Mas Evan datang, aku menatapnya penuh kelegaan. Namun, bibirku bungkam, tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengangguk, memintanya mengikutiku untuk bertemu dengan perawat. Proses itu terasa cukup panjang. Jarum akhirnya ditarik dari lengan Mas Evan. Perawat menempelkan kapas, lalu membalutnya dengan perban tipis. Mas Evan duduk diam beberapa detik, menatap lengannya sendiri seolah baru saja melakukan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami maknanya. Aku berdiri tidak jauh darinya. Tidak berani terlalu dekat. Tidak berani terlalu jauh. “Terima kasih,” ucapku pelan. Hanya itu yang sanggup kukatakan. Mas Evan menoleh. Tatapannya singkat, datar, tapi ada kelelahan yang jelas di sana. “Yang penting Revan bisa selamat.” Aku mengangguk, menjaga lidah untu

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 71

    Kak Rafael dan Kak Ravindra sudah di sampingku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada Vania dan orang suruhannya. Mungkin saja orang-orang kakakku sibuk melawan para penculik itu. Kini di hadapanku yang ada hanya darah. Tubuh kecil yang terlalu ringan. Dan rasa bersalah yang menghantamku lebih keras daripada apa pun.Aku mendekap Revan erat-erat, mengguncangnya pelan. “Bertahan, Nak… Mama mohon… Mama mohon…”Di belakangku, suara teriakan dan langkah-langkah berlarian kembali pecah. Tapi dunia sudah runtuh lebih dulu. Karena kali ini, aku tidak tahu apakah pelukanku cukup kuat untuk menahannya tetap hidup."Kita tidak punya waktu. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Kak Ravindra, dan tanpa menunggu jawabanku, ia langsung menggendong tubuh Revan menuju pintu keluar.Aku mengikutinya bersama derai air mata yang terus tumpah. Begitu pula Kak Rafael. Ia berjalan di sisiku, menopang tubuhku saat langkahku hampir goyah, separuh jiawaku hampir menghilang dari raga. Aku

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 70

    Bagaimana bisa orang itu ternyata bukan Vania?Aku mengedip beberapa kali. Memastikan aku tidak salah lihat. Orang yang berdiri di sana, adalah seorang wanita yang sangat kukenal, tapi sama sekali bukan orang yang kucurigai."Mbak Lani?" ucapku lirih, nada masih setengah tak percaya.Wanita yang selama ini sudah kupercaya merawat anakku, kenapa justru dia yang merupakan dalang dari penculikan itu. Apa yang sebenarnya dia inginkan?Dia tersenyum lebar, seolah sudah menang setelah mengalahkanku dengan menculik Revan."Apakah sesuai dengan dugaan Anda, Bu Dinara?" tanyanya sambil tertawa kecil.Aku menggeram. Tanganku mengepal. Mataku langsung menatapnya tajam."Apa-apaan ini, Mbak? Kenapa kamu yang di sini? Nggak... nggak mungkin kamu dalang dari penculikan ini, 'kan?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku.Dia masih tersenyum, lalu menggeleng kecil."Bu Dinara... Anda memang terlalu baik, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ancaman besar ada di dekat Anda se

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 69

    Tanpa kata, aku menatap Kak Ravin dengan penuh kesungguhan. Kutunjukkan bahwa aku siap melakukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan mundur. Bahkan jika harus mengorbarkan nyawa, aku sanggup asalkan Revan dibiarkan hidup.Aku melangkah pergi, masuk ke mobil, menutup pintu, dan baru saat mesin menyala aku mengirim titik lokasi itu ke Kak Rafael. Setelahnya, aku kembali membuka dan memperhatikan pesan dari penculik.Pesan itu masuk pukul 17.42. Nomor yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi.[Datang sendiri. Gudang lama di ujung Pelabuhan Timur. Jangan bawa siapa pun. Anakmu masih hidup karena kami menepati janji.]Aku membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada foto. Tidak ada bukti. Seolah mereka sudah yakin satu hal—laku akan datang.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin mengulur waktu, meski aku tak yakin apakah orang-orang kakakku dan Kak Rafael sudah mengikutiku. Yang jelas, aku berusaha yakin jika mereka akan menolongku tepat waktu.De

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 68

    Jalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 67

    Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status