MasukMendengar hal itu, perasaanku menjadi tidak tenang. Sebenarnya aku sudah menebak jika kecurigaanku selama ini tidaklah salah. Tapi, demi membuktikan semua itu, aku meraih berkas-berkas yang Selina berikan meski dengan tangan gemetar. Begitu melihat apa yang ada di lembar paling atas, seketika kurasakan air mata langsung menggenang.
Bagaimana tidak? Hatiku terasa ditikam ribuan pedang, disayat sembilu tajam, dan dihantam batu besar, hingga sebagian nyawaku terasa hilang. Lembar yang kulihat adalah sebuah foto di mana Mas Evan dengan mesranya mencium pipi seorang wanita yang sangat kukenal. Vania Priscilla, sekretaris pribadi Mas Evan. Foto lain menunjukkan bagaimana Mas Evan memeluk erat Vania sambil mencium kening wanita itu.
Air mataku luruh. Meski sudah berhari-hari kusiapkan diri menerima kenyataan ini, tapi tetap saja hatiku rasanya sakit sekali. Rasanya masih tak percaya jika Mas Evan tega mengkhianati.
“Apa aku tidak cukup baik menjadi seorang istri, Sel?” tanyaku dengan tatapan nanar. Pandanganku buram dipenuhi genangan air mata yang terus keluar.
“Apa aku tidak cukup cantik?”
“Apa aku adalah wanita yang tidak cukup menarik bagi seorang pria? Sampai Mas Evan tega mendua?”
Aku menangis terisak, kututup wajahku dengan kedua tangan setelah meletakkan semua bukti-bukti itu di atas pangkuan. Dapat kudengar Selina bangkit dan melangkah duduk di sampingku. Tangannya dengan lembut mengusap pundak dan punggungku.
“Bu Dinara sabar, ya. Yang tenang. Saya tahu ini pasti menyakitkan, tapi tolong jangan salahkan diri Anda sendiri,” ujar Selina padaku.
“Bahkan menurut saya, Bu Dinara sudah cukup sempurna untuk menjadi seorang istri. Cantik, menarik, perhatian dan berkelas. Bu Dinara juga mencintai Pak Evan dengan tulus. Jadi kalau Pak Evan selingkuh, saya rasa yang salah adalah dia, bukan Anda,” ujarnya lagi.
Aku tahu Selina mencoba menghibur dan menguatkanku, tapi tetap saja, aku belum bisa menerima kenyataan ini dengan mudah. Air mataku terus tumpah. Sakitnya menjalar pada aliran pembuluh darah. Hingga aku merasa tak sanggup menghadapi apa yang kualami saat ini.
Kuhela napas kasar demi mengurai sesak yang begitu menyiksa. Kusandarkan punggungku dan menatap kosong ke depan. Sementara Selina pun ikut diam sambil tetap mengelus lembut lenganku.
“Menurutmu apa yang harus aku lakukan pada mereka berdua?” tanyaku dengan nada bergetar. Tubuhku terasa lemas, seolah harapan hidup menguap entah ke mana.
Helaan napas keluar dari mulut Selina sebelum akhirnya menjawab, “Mungkin sebaiknya dibicarakan baik-baik dulu dengan Pak Evan atau pihak keluarga, Bu.”
Aku mendengkus. “Aku tidak yakin Mas Evan akan mengakui perbuatannya. Bahkan jika dia mengakui dan memohon maaf pun, suatu saat dia akan mengulanginya,” jawabku putus asa.
“Tapi bukankah lebih baik jika semuanya diselesaikan dengan bicara? Siapa tahu ada keajaiban yang membuat Pak Evan menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya.”
“Menurutmu begitu?” tanyaku dengan nada tak begitu yakin.
Selina menunduk. “Saya juga tidak sepenuhnya yakin, tapi saya rasa setiap masalah rumah tangga harus dibicarakan lebih dulu agar bisa dicari solusinya,” jawabnya bijak.
***
Aku terdiam di kamar. Mataku sembab bekas tangisan. Tapi, air mata yang terlanjur bercucuran tak serta merta membuatku merasa baik-baik saja.
Meski kini kepalaku bersandar pada headboard ranjang, tapi tanganku masih sibuk membuka lembar demi lembar bukti perselingkuhan Mas Evan. Namun, masih ada bukti video yang sampai sekarang belum kuputar. Aku ragu. Takut jika aku tak mampu menahan diriku. Melihat foto mesra mereka saja sudah membuatku merasa sangat terluka, bagaimana jika aku melihat langsung videonya?
Tak ingin mati penasaran, segera kunyalakan laptop dan memasukkan flasdisk untuk melihat video apa saja yang sudah berhasil direkam oleh orang suruhan Selina. Lagi-lagi jantungku bak genderang perang saat tanganku yang gemetar mulai sibuk membuat sentuhan di atas touchpad. Dan setelah beberapa kali sentuhan, sebuah folder yang berisi 3 video akhirnya terpampang di layar. Segera kuklik salah satu agar tak membuang waktu.
Video mulai berjalan dan memperlihatkan suasana di dalam mobil Mas Evan. Senyumnya merekah dengan tatapan ke luar jendela. Hingga saat pintu mobil terbuka, Vania masuk ke dalam dan duduk di samping Mas Evan dengan penampilan yang menawan.
“Ya Tuhan!” Aku menutup mulut bersamaan air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata. Mas Evan, dengan begitu posesif menarik Vania dan mencium bibir wanita itu dengan penuh gairah.
“Tahan dulu dong, Mas! Nanti keterusan lagi, main di sini,” ucap Vania sambil mendorong pelan tubuh Mas Evan. Dia juga tersenyum manja sambil membenahi blazernya yang sempat terbuka akibat perbuatan Mas Evan.
“Habisnya udah gak tahan, nih!” jawab Mas Evan. Tak ada keraguan sama sekali dari ucapan dan raut wajahnya.
Selama dalam perjalanan itu, tak ada percakapan serius yang mereka bahas, kecuali belanja, makan dan bersenang-senang.
Sejenak aku terdiam setelah video pertama selesai diputar. Namun sudah kepalang basah, aku pun melanjutkan pada video kedua. Jika video yang pertama berhasil membuatku menutup mulut dengan rasa tak percaya, justru pada video kedua membuatku tak sanggup melihatnya.
Di dalam ruang remang-remang yang aku yakini adalah sebuah kamar, Mas Evan dan Vania telah begulat di atas ranjang. Saling mencumbu dan memuaskan hasrat binatang. Mengecup dan memberikan sentuhan-sentuhan terlarang demi merasakan kenikmatan.
“Kamu sangat pandai memuaskanku, Sayang,” ucap Mas Evan dengan napasnya yang memburu setelah berhasil menyemburkan lava pijar.
Aku tak mengerti, apa yang ada dalam pikiran Mas Evan sampai dia begitu menikmati permainan itu. Apakah benar Vania lebih bisa memuaskannya daripada aku?
Seketika tanganku mengepal. Ingin sekali kuluapkan amarahku pada Selina yang sudah memberikanku video seperti ini. Tapi aku juga ingin berterima kasih atas keberaniannya yang mampu menyewa orang sampai bisa merekam aktivitas tak bermoral suamiku dengan selingkuhannya.
Cklek!
Aku terkesiap saat mendengar pintu kamarku terbuka. Begitu aku menoleh, Mas Evan sudah berdiri di sana.
“Mas, tumben kamu sudah pulang?” tanyaku gugup.
Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Menunggu seseorang yang kini terasa sangat penting bagiku. Seseorang yang kini menjadi harapan untuk kesembuhan anakku. Sementara Revan sudah mulai dipindahkan ke ruang operasi. Begitu Mas Evan datang, aku menatapnya penuh kelegaan. Namun, bibirku bungkam, tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengangguk, memintanya mengikutiku untuk bertemu dengan perawat. Proses itu terasa cukup panjang. Jarum akhirnya ditarik dari lengan Mas Evan. Perawat menempelkan kapas, lalu membalutnya dengan perban tipis. Mas Evan duduk diam beberapa detik, menatap lengannya sendiri seolah baru saja melakukan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami maknanya. Aku berdiri tidak jauh darinya. Tidak berani terlalu dekat. Tidak berani terlalu jauh. “Terima kasih,” ucapku pelan. Hanya itu yang sanggup kukatakan. Mas Evan menoleh. Tatapannya singkat, datar, tapi ada kelelahan yang jelas di sana. “Yang penting Revan bisa selamat.” Aku mengangguk, menjaga lidah untu
Kak Rafael dan Kak Ravindra sudah di sampingku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada Vania dan orang suruhannya. Mungkin saja orang-orang kakakku sibuk melawan para penculik itu. Kini di hadapanku yang ada hanya darah. Tubuh kecil yang terlalu ringan. Dan rasa bersalah yang menghantamku lebih keras daripada apa pun.Aku mendekap Revan erat-erat, mengguncangnya pelan. “Bertahan, Nak… Mama mohon… Mama mohon…”Di belakangku, suara teriakan dan langkah-langkah berlarian kembali pecah. Tapi dunia sudah runtuh lebih dulu. Karena kali ini, aku tidak tahu apakah pelukanku cukup kuat untuk menahannya tetap hidup."Kita tidak punya waktu. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Kak Ravindra, dan tanpa menunggu jawabanku, ia langsung menggendong tubuh Revan menuju pintu keluar.Aku mengikutinya bersama derai air mata yang terus tumpah. Begitu pula Kak Rafael. Ia berjalan di sisiku, menopang tubuhku saat langkahku hampir goyah, separuh jiawaku hampir menghilang dari raga. Aku
Bagaimana bisa orang itu ternyata bukan Vania?Aku mengedip beberapa kali. Memastikan aku tidak salah lihat. Orang yang berdiri di sana, adalah seorang wanita yang sangat kukenal, tapi sama sekali bukan orang yang kucurigai."Mbak Lani?" ucapku lirih, nada masih setengah tak percaya.Wanita yang selama ini sudah kupercaya merawat anakku, kenapa justru dia yang merupakan dalang dari penculikan itu. Apa yang sebenarnya dia inginkan?Dia tersenyum lebar, seolah sudah menang setelah mengalahkanku dengan menculik Revan."Apakah sesuai dengan dugaan Anda, Bu Dinara?" tanyanya sambil tertawa kecil.Aku menggeram. Tanganku mengepal. Mataku langsung menatapnya tajam."Apa-apaan ini, Mbak? Kenapa kamu yang di sini? Nggak... nggak mungkin kamu dalang dari penculikan ini, 'kan?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku.Dia masih tersenyum, lalu menggeleng kecil."Bu Dinara... Anda memang terlalu baik, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ancaman besar ada di dekat Anda se
Tanpa kata, aku menatap Kak Ravin dengan penuh kesungguhan. Kutunjukkan bahwa aku siap melakukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan mundur. Bahkan jika harus mengorbarkan nyawa, aku sanggup asalkan Revan dibiarkan hidup.Aku melangkah pergi, masuk ke mobil, menutup pintu, dan baru saat mesin menyala aku mengirim titik lokasi itu ke Kak Rafael. Setelahnya, aku kembali membuka dan memperhatikan pesan dari penculik.Pesan itu masuk pukul 17.42. Nomor yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi.[Datang sendiri. Gudang lama di ujung Pelabuhan Timur. Jangan bawa siapa pun. Anakmu masih hidup karena kami menepati janji.]Aku membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada foto. Tidak ada bukti. Seolah mereka sudah yakin satu hal—laku akan datang.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin mengulur waktu, meski aku tak yakin apakah orang-orang kakakku dan Kak Rafael sudah mengikutiku. Yang jelas, aku berusaha yakin jika mereka akan menolongku tepat waktu.De
Jalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg
Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya







