Share

BAB 2

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-04-13 16:20:34

Ada rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.

Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang paling ia rindukan sekaligus ia takuti saat ini. Ombak.

“Tidak… tidak, kenapa begini?” paniknya saat menyadari tubuhnya tergeletak tengkurap di atas permukaan yang kering dan kasar.

Ia berada di daratan. Di tempat yang paling terlarang bagi bangsanya. Terlihat sekelilingnya gelap.

Maris mencoba mengibaskan ekornya sekuat tenaga untuk bergerak menuju ke laut. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Ia tak bergeser sedikitpun.

“Kenapa tidak berpindah?” Maris mengerang, napasnya memburu.

Dia mencobanya lagi dengan mengerahkan seluruh tenaganya hingga otot-otot punggungnya menegang dan tangannya mencengkeram erat pasir pantai. Tapi nihil. Bagian bawah tubuhnya terasa seperti beban mati yang tertanam di daratan.

“Bergeraklah! Kumohon bergerak!” teriaknya histeris. Suaranya pecah menjadi tangis yang memilukan. 

“Kumohon! Bergeraklah!” teriaknya histeris.

Suaranya pecah, berubah menjadi isak tangis yang pilu di tengah kesunyian pantai.

“Apa yang salah dengan ekorku?”

Menyerah—akhirnya Maris mencoba membalikkan tubuhnya hingga posisi terlentang. Ia melihat langit malam yang bertabur bintang—sangat indah.

Tapi untuknya sekarang, pemandangan itu mengerikan. Hal yang paling ia inginkan sekarang adalah kembali pulang.

“Aku benar-benar bodoh!” isaknya.

Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang dipenuhi pasir yang menempel.

“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa harus berakhir di sini?”

Ia kembali mencoba untuk menggerakkan ekornya—berenang di atas pasir. Hingga kekuatannya lenyap, tetap tak bergeser sama sekali. Tubuhnya kelelahan. 

“Ibu… Ayah…” Ucapnya lirih di sela tangisnya. “Maafkan aku.”

Maris memejamkan matanya. Mengingat kembali tindakan-tindakan bodohnya. Semua bermula dari rasa penasaran bodohnya tentang permukaan, tentang keputusannya menuruti rasa penasarannya.

Dan sekarang, Maris terdampar di tepian pantai yang asing, dengan ekor yang tidak bisa bergerak serta air mata yang tak berhenti mengalir—sendirian.

Maris mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia memutar tubuhnya ke posisi tengkurap. Menggunakan tangannya mencoba menarik tubuhnya ke arah suara ombak.

“Kenapa?” Maris frustasi, “Kenapa sulit sekali?”

Ia tidak mengerti padahal di air, ekornya bisa membawanya kemana saja—cepat, lincah. Tapi di atas pasir—di atas butiran-butiran kering dan kasar ini—ekornya sama sekali tak berguna.

Dia bisa mendengar ombak dengan jelas dan terasa dekat. Mungkin hanya beberapa meter saja. Tapi beberapa meter itu terasa seperti jurang yang tak bisa dilewatinya.

“Tolong...tolong aku, aku ingin pulang,” gumamnya lemah.

Ia menyeret tubuhnya lagi. Menggunakan tangannya sebagai tumpuan, ia menarik dirinya inci demi inci. Jari-jarinya memerah, lengannya gemetar hebat, dan ekornya yang berat terseret pasrah di atas butiran pasir yang kasar.

“Ayo bergeraklah.”

Ia frustasi. Di dalam air, ia adalah penguasa gerak. Di sini, ia bahkan lebih lemah dari seekor anak kepiting.

Akhirnya, kekuatannya benar-benar lenyap. Tubuhnya ambruk. Ia menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan, membiarkan wajahnya bersentuhan dengan pasir yang dingin.

“Mungkin ini memang hukumanku,” bisiknya pasrah.

Hukuman karena melanggar batas, karena mengabaikan suara-suara yang mencoba melindunginya.

Krak.

Suara ranting patah membelah kesunyian malam.

Maris tersentak. Kepalanya terangkat perlahan, matanya yang sembap mencoba menembus kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak yang berbatasan dengan pantai. Jantungnya berdebar kencang, menghantam rusuknya dengan liar.

“Ayah Ibu, aku takut,” batinnya saat melihat bayang-bayang dibalik pepohonan yang gelap.

Dua titik cahaya muncul. Sepasang mata berwarna emas berpendar redup, menatapnya tajam tanpa berkedip dari balik kegelapan. Makhluk itu diam, mengawasinya seperti pemangsa yang sedang menilai mangsanya yang tak berdaya.

Maris membeku. Ia ingin lari, ia ingin berenang jauh ke dasar samudra, namun di atas daratan ini, ia hanyalah seonggok daging yang menunggu nasibnya ditentukan oleh sosok bermata emas itu.

“Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 185

    Beberapa tahun telah berlalu sejak malam ketika dua kehidupan berakhir di dekat Teluk Mati.Hutan tempat Lycander pernah tinggal masih sama. Pohon-pohon tinggi masih berdiri mengelilingi wilayah itu, sungai kecil masih mengalir di antara bebatuan, dan angin malam masih membawa aroma tanah basah yang sama seperti dahulu.Namun bagi Robert, tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sama. Ia berdiri di depan sebuah cermin kecil di dalam rumahnya. Di lehernya tergantung sebuah kalung sederhana dengan satu Mutiara Merah di tengahnya.Robert menyentuh mutiara itu perlahan. Benda tersebut masih terlihat sama seperti ketika pertama kali ia memungutnya dari tanah. Merah pekat, halus, dan memantulkan cahaya dengan cara yang aneh ketika terkena sinar bulan."Sudah lama sekali..." Robert tersenyum tipis. "Seharusnya aku sudah terbiasa."Namun ia tahu dirinya berbohong. Ia masih mengingat hari ketika pertama kali membuat kalung itu. Tangannya gemetar ketika memasukkan Mutiara Merah ke dalam tali,

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 184

    Pintu ruangan Alpha terbuka menjelang dini hari, Robert masuk dengan langkah berat. Alpha yang masih berada di dalam ruangan langsung mengangkat wajah. Ia hanya perlu melihat ekspresi Robert untuk mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.“Robert.”Robert berhenti beberapa langkah di hadapannya. Alpha menatapnya cukup lama. “Kau tak melapor tadi malam, apa terjadi sesuatu?”Robert tidak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup memberi jawaban. Alpha perlahan berdiri.“Jawab aku.”Robert menundukkan kepala. “Lycander telah tiada.”Ruangan mendadak terasa sunyi. Alpha tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju kepada Robert, tetapi untuk beberapa detik seolah-olah ia tidak benar-benar mendengar kalimat tersebut.“...Bagaimana?”“Anak panah menembus jantungnya.” Robert menarik napas. “Dia sempat kembali sadar sebelum meninggal.”Mata Alpha sedikit berubah. “Dia kembali?”Robert mengangguk. “Untuk beberapa saat.”Alpha menundukkan pandangan. “Apakah dia mengatakan sesuatu?”Robert terdia

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 183

    Malam semakin sunyi setelah napas Maris benar-benar berhenti. Robert masih berlutut di samping tubuhnya dan Lycander, sementara beberapa mutiara merah berserakan di atas pasir di antara mereka. Ia menatap mutiara yang masih berada di telapak tangannya. Benda itu terasa hangat, seolah baru saja terlepas dari tubuh Maris beberapa saat lalu. “Ini bukan mutiara biasa...” Robert perlahan mengangkatnya mendekati cahaya bulan. Permukaannya memantulkan cahaya kemerahan yang lembut, begitu berbeda dari mutiara hitam yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia kembali teringat pada cerita tentang air mata duyung yang dapat berubah menjadi mutiara hitam ketika lahir dari kebahagiaan murni. Namun yang ada di hadapannya sekarang berwarna merah. “Air mata kebahagiaan menghasilkan mutiara hitam...” gumam Robert. “Lalu apa yang menghasilkan warna ini?” Tidak ada jawaban. Robert menatap Maris. Wajah duyung itu masih terlihat tenang meski beberapa saat sebelumnya tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Bahkan sete

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 182

    Teriakan Maris masih menggema di sepanjang pantai. Tubuh Lycander tetap berada dalam pelukannya, tidak lagi memberikan respons apa pun meski Maris terus memanggil namanya.“Lycander!”Maris mengguncang tubuhnya perlahan, seolah berharap pria itu hanya sedang tertidur. Namun tidak ada gerakan sedikit pun, bahkan napas yang tadi masih tersisa kini benar-benar telah berhenti.“Bangun...”Suaranya pecah. “Aku tahu kau masih bisa mendengarku.”Maris menundukkan wajahnya ke dada Lycander. Ia tidak peduli bahwa tidak ada lagi detak jantung yang bisa dirasakan di sana.“Kau tak boleh pergi.”Robert berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia ingin menghampiri Maris, tetapi kakinya terasa berat, seolah dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah melihat Lycander menghembuskan napas terakhir.“Maris...”Maris tidak menjawab. Ia justru memeluk Lycander semakin erat.“Aku sudah bilang...” bisi

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 181

    Tubuh Lycander terhuyung setelah anak panah menembus dadanya. Bulu-bulu yang menutupi tubuhnya perlahan menghilang, cakar di ujung jarinya memendek, dan taring yang memenuhi mulutnya kembali menjadi gigi manusia.Dalam beberapa detik, sosok makhluk buas itu benar-benar lenyap, yang tersisa hanyalah Lycander. Tubuhnya akhirnya roboh ke atas pasir. Anak panah masih tertancap di dadanya, darah perlahan merembes dari luka yang berada tepat di atas jantungnya.“Lycander!”Maris berusaha keluar dari air secepat yang ia mampu. Begitu tubuh bagian atasnya mencapai pasir, ia langsung meraih permukaan pasir dengan kedua tangannya dan menarik tubuhnya maju.Ekor duyungnya terseret berat di atas pasir, sementara setiap gerakan membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun Maris tidak berhenti, ia terus merangkak hanya dengan mengandalkan kedua lengannya menuju tubuh Lycander yang tergeletak beberapa langkah di depannya.“Lycander...”Sua

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 180

    Lycander bergerak perlahan ke arah Maris. Setiap langkahnya meninggalkan jejak dalam pasir, sementara tubuhnya yang telah sepenuhnya berubah menjadi makhluk buas peemanen membuat sosoknya nyaris tidak lagi menyerupai Lycander yang selama ini dikenal Maris.Maris masih berada di tempatnya. Ia melihat makhluk itu mendekat, tetapi bukannya mundur, justru tatapannya tetap tertuju pada mata Lycander yang dipenuhi keganasan.“Maris! Menjauh!”Suara Robert terdengar keras dari belakang.Maris tidak bergeming.“Maris!” Robert kembali berteriak. “Jangan dekati dia!”Maris menggigit bibirnya. Tubuhnya memang gemetar, tetapi ia tetap berada di tempat yang sama.Maris mengenal tatapan itu. Tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan Lycander yang sedang berusaha melawan sesuatu di dalam dirinya.“Lycander...”Makhluk buas itu berhenti, hanya sesaat. Kepalanya terangkat sedikit ketika mendengar nama tersebut. Namun beberapa detik kemudian, geraman rendah kembali keluar dari tenggorokannya.Ma

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 5

    “Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah se

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 4

    “Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   Bab 3

    “Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan teruku

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 1

    “Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status