MasukAda rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.
Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang paling ia rindukan sekaligus ia takuti saat ini. Ombak.
“Tidak… tidak, kenapa begini?” paniknya saat menyadari tubuhnya tergeletak tengkurap di atas permukaan yang kering dan kasar.
Ia berada di daratan. Di tempat yang paling terlarang bagi bangsanya. Terlihat sekelilingnya gelap.
Maris mencoba mengibaskan ekornya sekuat tenaga untuk bergerak menuju ke laut. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Ia tak bergeser sedikitpun.
“Kenapa tidak berpindah?” Maris mengerang, napasnya memburu.
Dia mencobanya lagi dengan mengerahkan seluruh tenaganya hingga otot-otot punggungnya menegang dan tangannya mencengkeram erat pasir pantai. Tapi nihil. Bagian bawah tubuhnya terasa seperti beban mati yang tertanam di daratan.
“Bergeraklah! Kumohon bergerak!” teriaknya histeris. Suaranya pecah menjadi tangis yang memilukan.
“Kumohon! Bergeraklah!” teriaknya histeris.
Suaranya pecah, berubah menjadi isak tangis yang pilu di tengah kesunyian pantai.
“Apa yang salah dengan ekorku?”
Menyerah—akhirnya Maris mencoba membalikkan tubuhnya hingga posisi terlentang. Ia melihat langit malam yang bertabur bintang—sangat indah.
Tapi untuknya sekarang, pemandangan itu mengerikan. Hal yang paling ia inginkan sekarang adalah kembali pulang.
“Aku benar-benar bodoh!” isaknya.
Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang dipenuhi pasir yang menempel.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa harus berakhir di sini?”
Ia kembali mencoba untuk menggerakkan ekornya—berenang di atas pasir. Hingga kekuatannya lenyap, tetap tak bergeser sama sekali. Tubuhnya kelelahan.
“Ibu… Ayah…” Ucapnya lirih di sela tangisnya. “Maafkan aku.”
Maris memejamkan matanya. Mengingat kembali tindakan-tindakan bodohnya. Semua bermula dari rasa penasaran bodohnya tentang permukaan, tentang keputusannya menuruti rasa penasarannya.
Dan sekarang, Maris terdampar di tepian pantai yang asing, dengan ekor yang tidak bisa bergerak serta air mata yang tak berhenti mengalir—sendirian.
Maris mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia memutar tubuhnya ke posisi tengkurap. Menggunakan tangannya mencoba menarik tubuhnya ke arah suara ombak.
“Kenapa?” Maris frustasi, “Kenapa sulit sekali?”
Ia tidak mengerti padahal di air, ekornya bisa membawanya kemana saja—cepat, lincah. Tapi di atas pasir—di atas butiran-butiran kering dan kasar ini—ekornya sama sekali tak berguna.
Dia bisa mendengar ombak dengan jelas dan terasa dekat. Mungkin hanya beberapa meter saja. Tapi beberapa meter itu terasa seperti jurang yang tak bisa dilewatinya.
“Tolong...tolong aku, aku ingin pulang,” gumamnya lemah.
Ia menyeret tubuhnya lagi. Menggunakan tangannya sebagai tumpuan, ia menarik dirinya inci demi inci. Jari-jarinya memerah, lengannya gemetar hebat, dan ekornya yang berat terseret pasrah di atas butiran pasir yang kasar.
“Ayo bergeraklah.”
Ia frustasi. Di dalam air, ia adalah penguasa gerak. Di sini, ia bahkan lebih lemah dari seekor anak kepiting.
Akhirnya, kekuatannya benar-benar lenyap. Tubuhnya ambruk. Ia menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan, membiarkan wajahnya bersentuhan dengan pasir yang dingin.
“Mungkin ini memang hukumanku,” bisiknya pasrah.
Hukuman karena melanggar batas, karena mengabaikan suara-suara yang mencoba melindunginya.
Krak.
Suara ranting patah membelah kesunyian malam.
Maris tersentak. Kepalanya terangkat perlahan, matanya yang sembap mencoba menembus kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak yang berbatasan dengan pantai. Jantungnya berdebar kencang, menghantam rusuknya dengan liar.
“Ayah Ibu, aku takut,” batinnya saat melihat bayang-bayang dibalik pepohonan yang gelap.
Dua titik cahaya muncul. Sepasang mata berwarna emas berpendar redup, menatapnya tajam tanpa berkedip dari balik kegelapan. Makhluk itu diam, mengawasinya seperti pemangsa yang sedang menilai mangsanya yang tak berdaya.
Maris membeku. Ia ingin lari, ia ingin berenang jauh ke dasar samudra, namun di atas daratan ini, ia hanyalah seonggok daging yang menunggu nasibnya ditentukan oleh sosok bermata emas itu.
“Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.
Bersambung...
Kesadaran Lycander kembali perlahan. Tubuhnya terasa berat dan nyeri di berbagai bagian. Bau darah yang samar masih tertinggal di indera penciumannya.Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah pondok kecil di wilayah kawanan. Cahaya sore masuk melalui jendela dan membuat ruangan itu tampak sunyi.“Kau akhirnya bangun.”Suara Robert terdengar dari sudut ruangan. Lycander menoleh dan melihat sahabatnya sedang duduk sambil menyilangkan tangan.“Apa kau yang membawaku kesini?” tanyanya. “Pertanyaan konyol macam apa itu? Siapa lagi yang membawamu kesini selain aku?” jawab Robert sarkas. “Ya kau benar. Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Lycander lagi.“Tidak terlalu lama.”Robert terdiam sesaat.“Tapi cukup lama untuk membuatku memikirkan banyak hal.”Lycander menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Robert.Keheningan turun selama beberapa saat sebelum Robert akhirnya kembali berbicara.“Kau mengalahkan lima beruang hitam sendiri
“Kenapa kau menjaga jarak, Lycander?” tanya salah satu rekannya.Beberapa rekan lain menoleh ke arah Lycander dan ikut mengangguk. Lycander masih terdiam, ia tetap kepikiran dengan mimpinya semalam. Perasaan tak nyaman atau lebih tepatnya bersalah masih membekas dalam dirinya.“Padahal hanya mimpi, tapi rasa bersalahku terasa sangat nyata,” batinnya. Robert yang juga berada di sana sesekali menatap ke arah Lycander. Memastikan tak ada perubahan pada dirinya.“Hey, Rob! Akhir-akhir ini kenapa kau selalu meminta dipasangkan dengan Lycander setiap kali mendapatkan giliran patroli?” tanya salah seorang rekan. Lycander mendengar obrolan itu, ia juga penasaran alibi apa yang akan dilontarkan oleh Robert pada rekan-rekan lain. Mengingat Robert masih diam-diam mengawasinya.“Lycander, satu-satunya rekan yang tak berisik seperti kalian,” jawab Robert. Jawaban Robert itu justru membuat Lycander sedikit tergelitik, sebab Robert pun juga seberisik rekan-rekan yang lainnya.“Konyol sekali, diri
Malam itu langit tampak cerah hingga bintang-bintang terlihat sangat jelas. Maris menikmati momen itu bersama dengan Lycander yang duduk di sampingnya.“Kau beruntung, Lycander!” ucap Maris. Lycander mengangkat alisnya sedikit terkejut mendengar pernyataan Maris itu. Melihat ekspresi Lycander yang seperti itu membuat Maris tersenyum sambil menatap langsung ke arah mata emas Lycander yang sedang menatapnya. “Ya, kau beruntung. Kau bisa menatap langit malam ini semaumu dan dari mana pun selama di daratan. Sedangkan aku…” sebelum Maris menyelesaikan ucapannya itu, Lycander memotong.“Shhhhhh,” bisiknya.Jari telunjuk Lycander tepat di depan bibir Maris seolah ingin menghentikan Maris bicara.“Kau lebih beruntung,” ucapnya akhirnya. Mata Maris sedikit membesar karena terkejut sekaligus penasaran dengan apa yg didengarnya itu.“Bagaimana aku lebih beruntung?” tanyanya.Pandangan Lycander beralih ke arah langit dan tersenyum lalu senyum itu sedikit menghilang saat ia memandang air laut y
"Aku harus melakukan sesuatu."Kalimat itu terus terngiang di dalam benak Seraphine selama beberapa hari berikutnya. Bahkan ketika ia sedang sendirian atau ketika ia berusaha mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain.Namun semakin ia mengingat pertemuan beberapa hari lalu, semakin sulit baginya untuk melupakan tatapan Nerion. Tatapan yang berubah semakin serius saat melihat kegugupan kecil Maris. Dan hal itu membuat hati Seraphine tidak tenang."..."Karena yang ia inginkan justru sebaliknya. Ia ingin Nerion berhenti melihat Maris.Selama ini, Seraphine selalu percaya bahwa jika Maris berubah, semuanya akan berubah pula. Ia mengira Nerion pada akhirnya akan berhenti memperhatikannya. Ternyata yang terjadi justru kebalikannya.Semakin ada sesuatu yang salah pada Maris… semakin Nerion terlihat memperhatikannya. Hal itu membuat dadanya terasa sesak."Kenapa?" pikirnya."Kenapa kau selalu melihatnya, Nerion?" gumamnya sendiri. Beberapa hari berikutnya, Seraphine kembali fokus memperhatik
Beberapa hari setelah mimpi yang bahkan tidak dapat diingatnya, Maris kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia masih bertemu Seraphine hampir setiap hari, dan seperti biasa pula, Nerion yang baru kembali dari penyelidikannya tanpa sengaja bertemu dengan keduanya."Hai, apa kabar?" sapanya. Suara tenang itu membuat keduanya langsung menoleh. Seraphine tersenyum kecil. "Nerion!" seru Seraphine."Kau akhirnya kembali," lanjutnya. Nerion mengangguk pelan."Ya, aku kembali."Namun setelah mengatakan itu, tatapannya justru berhenti pada Maris."..."Perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan yang sama yang telah beberapa kali mengganggunya akhir-akhir ini. Dan entah kenapa, Nerion merasa ia tidak bisa terus mengabaikannya.Selama beberapa hari terakhir, ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kebetulan. Anomali arus dan perasaan aneh yang muncul setiap kali melihat Maris tidak memiliki hubungan apa pun.Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk berpura-pura tidak
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam itu, ketika Maris menyadari bahwa ia tidak dapat mengingat salah satu kenangan masa kecilnya sendiri. Meskipun terus berusaha menganggap semuanya sebagai hal yang sepele, perasaan tidak nyaman itu belum juga menghilang.Ia beberapa kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri."Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir."Dan seperti biasa, Maris memilih untuk mempercayai penjelasan itu. Karena ia tidak tahu harus mempercayai apa lagi.Malam itu, laut terasa tenang seperti biasanya. Cahaya tumbuhan laut menerangi rumah mereka dengan lembut, sementara suara nyanyian laut kuno masih terdengar seperti biasa.Setelah diam-diam kembali dari menghabiskan waktu bersama Lycander di permukaan, Maris akhirnya kembali ke kamarnya dengan aman. Tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya."..."Ia berbaring sambil memandangi langit-langit rumahnya. Perasaan aneh itu masih tertinggal di dalam hatinya. Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuatnya sesekali terdiam.N
Arus laut malam itu bergerak jauh lebih tenang dibanding biasanya. Cahaya samar dari tumbuhan laut memantul lembut di antara pilar-pilar batu karang tua yang mengelilingi wilayah pemukiman duyung. Dan di tengah ketenangan itu, Nerion akhirnya kembali bersama kelompoknya.Beberapa duyung sempat meno
Malam demi malam berlalu tanpa benar-benar terasa berbeda bagi Maris dan Lycander. Pertemuan mereka di pesisir kini sudah menjadi sesuatu yang terlalu biasa untuk disebut kebetulan. Seolah tanpa sadar, mereka memang selalu kembali ke tempat yang sama.Dan malam itu pun demikian, Maris muncul perlah
Arus laut bergerak pelan di sekitar taman laut sore itu. Cahaya dari tumbuhan laut berwarna biru kehijauan memantul lembut di antara batu karang besar, menciptakan suasana tenang yang jarang berubah sejak dulu.Maris berenang perlahan di samping Seraphine sambil membawa rangkaian bunga laut kecil d
Hari-hari setelah itu berlalu tanpa terasa berbeda di daratan maupun di kedalaman laut. Laut tetap bergerak dengan arus yang sama. Duyung-duyung lain masih berlalu lalang memenuhi wilayah bawah laut seperti biasanya.Maris melihat pemandangan itu dari dalam kamar melalui kaca jendelanya. Perlahan,







