Share

Bab 3

Author: Riichan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-13 16:24:11

“Si-siapa di sana?” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.

Suara ranting patah terdengar semakin jelas.

Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan terukur.

“Ja… jawab aku, Siapa kamu?” teriak Maris tergagap. Jantungnya berdetak semakin cepat.

Semakin mendekat, tubuh tinggi yang dipenuhi bulu pekat berwarna perak yang berkilau samar di bawah cahaya bulan itu berdiri di depannya. Napasnya terdengar berat.

“Ayah, Ibu… aku takut,” gumamnya dalam hati.

Ia kembali berusaha menggerakan tubuhnya. Berharap bisa menjauh dari sosok yang kini semakin mendekat.

Tidak lama ada yang terjadi sesuatu yang mencengangkan. Tubuh berbulu itu perlahan menyusut. Bulu-bulu hitamnya menghilang sedikit demi sedikit. Sosoknya menjadi lebih ramping. Seperti manusia.

Dalam hitungan detik, yang berdiri di hadapannya kini adalah seorang pria. MembuatMaris menahan napas dengan mata tak berkedip.

“Makhluk apa itu…?”

“Di-dia… berubah? Kenapa bisa berubah?” gumamnya lirih.

Tubuh pria itu tinggi, berotot, dan rambut berwarna perak yang berantakan. Matanya—emas, menyala samar di kegelapan. Ia hanya mengenakan celana panjang, sementara bagian tubuh lainnya terbuka, memperlihatkan bekas-bekas luka samar yang memudar.

“Apa dia manusia serigala?” pikirnya, nyaris tak percaya.

Makhluk daratan yang selama ini hanya ia ketahui melalui kisah tragedi purba yang telah dipelajarinya. Makhluk yang harus dihindari.

Pria itu tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berjalan semakin mendekat. Tatapannya tajam, seolah sedang menilai, apakah Maris layak untuk hidup atau tidak.

“Apa dia… mengincarku?” ucap Maris semakin ketakutan.

Tubuh Maris menegang. Ia tak berani bergerak. Detak jantungnya semakin tak terkendali.

“Kalau aku kabur sekarang… sudah jelas aku tidak akan bisa,” batinnya gelisah.

“Dan jika aku melawan… itu juga mustahil,” lanjutnya.

“Apa ini akhir dari hidupku?”

Maris menelan ludahnya, ia telah menyiapkan diri jika hidupnya benar-benar akan berakhir dalam hitungan detik. Ia menarik napasnya dalam-dalam.

Pria itu berhenti tepat di depannya. Lalu ia berjongkok.

“Sedang apa makhluk laut berada di daratan?” tanyanya. Suara pria itu rendah, dingin dan tanpa emosi.

Mendengar ucapan itu, Maris sontak membuka kedua matanya.

"Ja-jangan mendekat…" suaranya bergetar, hampir tak terdengar.

Dia tak langsung merespon ucapan Maris dan hanya menatap terlalu lama. Tatapan emas itu bergerak perlahan, mengamati setiap detail tubuh Maris—ekornya, rambutnya, wajahnya yang pucat dan dipenuhi pasir.

Maris menundukkan kepalanya—pasrah. Tubuhnya gemetar.

"Daratan bukan tempatmu," ucapnya dingin.

Maris menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dengan ragu, ia kembali mendongakkan kepala.

"Sa-saya juga sangat ingin kembali pulang..." jawab Maris dengan ragu-ragu sambil napasnya bergetar, dan ia cepat-cepat menunduk kembali, berusaha menahan sesuatu yang sudah memenuhi tenggorokannya—air mata.

“Lalu kenapa masih ada di sini?” tanyanya lagi, datar.

Pertanyaan itu seperti menekan sesuatu dalam diri Maris. Ia tak mampu menahannya lagi. Tangisnya pecah.

Ia berusaha menutup mulutnya, mencoba menahan suara, namun isakan kecil tetap lolos. Bahunya bergetar.

“Kenapa kau malah menangis?" tanyanya manusia serigala.

“Saya... saya tak bisa kembali ke laut,” ucap Maris di sela tangisnya, “Saya sudah berusaha… sekuat tenaga."

“Apa usahamu?” ketusnya.

“Saya berenang…” jawabnya jujur, “tapi saya tak berpindah sedikitpun…”

Hening sejenak. Lalu—

“Haah…” dia sedikit tertawa sarkas. “Tentu saja tak berpindah”

Maris tersentak.

“Ini daratan”, lanjutnya dingin. “Ekor tak berfungsi di sini.”

Setiap kata yang terucap dari manusia serigala itu terasa seperti kenyataan pahit yang baru saja dilemparkan ke waja Maris.

“Seharusnya kau merayap untuk menuju ke air, ” imbuhnya.

“Me—apa?” Maris menatapnya bingung. “Bagaimana caranya…?”

“Gunakan tanganmu,” jawabnya singkat. “Seret tubuhmu ke air.”

Maris terdiam. Ia mencoba memahami perkataan manusia serigala itu.

“Bagaimana melakukannya…?” tanyanya lagi lebih pelan.

Kali ini, pria itu tak menjawab. Ia hanya menatap Maris beberapa detik. Lalu bergerak.

Tiba-tiba ia membungkuk dan mengangkat tubuh Maris begitu saja.

“Ah—!” Maris tersentak.

Tubuhnya terangkat dari pasir, ekornya menggantung begitu lemah di udara. Sensasi itu begitu asing hingga membuatnya panik. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa ringkih dirinya di daratan—tanpa air, tanpa arus yang menopang tubuhnya.

“Lepaskan!” berontaknya.

Maris langsung menggeliat, berusaha melepaskan diri. Namun tetap sia-sia. Pegangan pria itu terlalu kuat.

Jari-jarinya mencengkeram tubuh Maris dengan mudah, seolah ia tak memiliki bobot sama sekali. Maris bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Hangat yang berbeda dari yang pernah ia rasakan, hangat yang asing… dan mengganggu.

“Apa… apa yang kau lakukan padaku?” tanya Maris ketakutan.

Bersambung...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 185

    Beberapa tahun telah berlalu sejak malam ketika dua kehidupan berakhir di dekat Teluk Mati.Hutan tempat Lycander pernah tinggal masih sama. Pohon-pohon tinggi masih berdiri mengelilingi wilayah itu, sungai kecil masih mengalir di antara bebatuan, dan angin malam masih membawa aroma tanah basah yang sama seperti dahulu.Namun bagi Robert, tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sama. Ia berdiri di depan sebuah cermin kecil di dalam rumahnya. Di lehernya tergantung sebuah kalung sederhana dengan satu Mutiara Merah di tengahnya.Robert menyentuh mutiara itu perlahan. Benda tersebut masih terlihat sama seperti ketika pertama kali ia memungutnya dari tanah. Merah pekat, halus, dan memantulkan cahaya dengan cara yang aneh ketika terkena sinar bulan."Sudah lama sekali..." Robert tersenyum tipis. "Seharusnya aku sudah terbiasa."Namun ia tahu dirinya berbohong. Ia masih mengingat hari ketika pertama kali membuat kalung itu. Tangannya gemetar ketika memasukkan Mutiara Merah ke dalam tali,

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 184

    Pintu ruangan Alpha terbuka menjelang dini hari, Robert masuk dengan langkah berat. Alpha yang masih berada di dalam ruangan langsung mengangkat wajah. Ia hanya perlu melihat ekspresi Robert untuk mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.“Robert.”Robert berhenti beberapa langkah di hadapannya. Alpha menatapnya cukup lama. “Kau tak melapor tadi malam, apa terjadi sesuatu?”Robert tidak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup memberi jawaban. Alpha perlahan berdiri.“Jawab aku.”Robert menundukkan kepala. “Lycander telah tiada.”Ruangan mendadak terasa sunyi. Alpha tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju kepada Robert, tetapi untuk beberapa detik seolah-olah ia tidak benar-benar mendengar kalimat tersebut.“...Bagaimana?”“Anak panah menembus jantungnya.” Robert menarik napas. “Dia sempat kembali sadar sebelum meninggal.”Mata Alpha sedikit berubah. “Dia kembali?”Robert mengangguk. “Untuk beberapa saat.”Alpha menundukkan pandangan. “Apakah dia mengatakan sesuatu?”Robert terdia

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 183

    Malam semakin sunyi setelah napas Maris benar-benar berhenti. Robert masih berlutut di samping tubuhnya dan Lycander, sementara beberapa mutiara merah berserakan di atas pasir di antara mereka. Ia menatap mutiara yang masih berada di telapak tangannya. Benda itu terasa hangat, seolah baru saja terlepas dari tubuh Maris beberapa saat lalu. “Ini bukan mutiara biasa...” Robert perlahan mengangkatnya mendekati cahaya bulan. Permukaannya memantulkan cahaya kemerahan yang lembut, begitu berbeda dari mutiara hitam yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia kembali teringat pada cerita tentang air mata duyung yang dapat berubah menjadi mutiara hitam ketika lahir dari kebahagiaan murni. Namun yang ada di hadapannya sekarang berwarna merah. “Air mata kebahagiaan menghasilkan mutiara hitam...” gumam Robert. “Lalu apa yang menghasilkan warna ini?” Tidak ada jawaban. Robert menatap Maris. Wajah duyung itu masih terlihat tenang meski beberapa saat sebelumnya tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Bahkan sete

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 182

    Teriakan Maris masih menggema di sepanjang pantai. Tubuh Lycander tetap berada dalam pelukannya, tidak lagi memberikan respons apa pun meski Maris terus memanggil namanya.“Lycander!”Maris mengguncang tubuhnya perlahan, seolah berharap pria itu hanya sedang tertidur. Namun tidak ada gerakan sedikit pun, bahkan napas yang tadi masih tersisa kini benar-benar telah berhenti.“Bangun...”Suaranya pecah. “Aku tahu kau masih bisa mendengarku.”Maris menundukkan wajahnya ke dada Lycander. Ia tidak peduli bahwa tidak ada lagi detak jantung yang bisa dirasakan di sana.“Kau tak boleh pergi.”Robert berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia ingin menghampiri Maris, tetapi kakinya terasa berat, seolah dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah melihat Lycander menghembuskan napas terakhir.“Maris...”Maris tidak menjawab. Ia justru memeluk Lycander semakin erat.“Aku sudah bilang...” bisi

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 181

    Tubuh Lycander terhuyung setelah anak panah menembus dadanya. Bulu-bulu yang menutupi tubuhnya perlahan menghilang, cakar di ujung jarinya memendek, dan taring yang memenuhi mulutnya kembali menjadi gigi manusia.Dalam beberapa detik, sosok makhluk buas itu benar-benar lenyap, yang tersisa hanyalah Lycander. Tubuhnya akhirnya roboh ke atas pasir. Anak panah masih tertancap di dadanya, darah perlahan merembes dari luka yang berada tepat di atas jantungnya.“Lycander!”Maris berusaha keluar dari air secepat yang ia mampu. Begitu tubuh bagian atasnya mencapai pasir, ia langsung meraih permukaan pasir dengan kedua tangannya dan menarik tubuhnya maju.Ekor duyungnya terseret berat di atas pasir, sementara setiap gerakan membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun Maris tidak berhenti, ia terus merangkak hanya dengan mengandalkan kedua lengannya menuju tubuh Lycander yang tergeletak beberapa langkah di depannya.“Lycander...”Sua

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 180

    Lycander bergerak perlahan ke arah Maris. Setiap langkahnya meninggalkan jejak dalam pasir, sementara tubuhnya yang telah sepenuhnya berubah menjadi makhluk buas peemanen membuat sosoknya nyaris tidak lagi menyerupai Lycander yang selama ini dikenal Maris.Maris masih berada di tempatnya. Ia melihat makhluk itu mendekat, tetapi bukannya mundur, justru tatapannya tetap tertuju pada mata Lycander yang dipenuhi keganasan.“Maris! Menjauh!”Suara Robert terdengar keras dari belakang.Maris tidak bergeming.“Maris!” Robert kembali berteriak. “Jangan dekati dia!”Maris menggigit bibirnya. Tubuhnya memang gemetar, tetapi ia tetap berada di tempat yang sama.Maris mengenal tatapan itu. Tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan Lycander yang sedang berusaha melawan sesuatu di dalam dirinya.“Lycander...”Makhluk buas itu berhenti, hanya sesaat. Kepalanya terangkat sedikit ketika mendengar nama tersebut. Namun beberapa detik kemudian, geraman rendah kembali keluar dari tenggorokannya.Ma

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 7

    Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.“Membosankan,” gumamnya dalam hati.Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih la

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 6

    Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar s

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 5

    “Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah se

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 4

    “Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status